
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
POV. Fahmi
Aku sungguh tidak bisa berpaling dari wajahnya, bagiku wajahnya mengingatkanku dengan seseorang yang menjadi masa laluku. Semenjak pertama putriku bersekolah disini aku diam - diam selalu memperhatikannya. Saat aku mengantar dan menjemput putriku tak pernah sekalipun aku melewatkan kesempatan untuk melihatnya. Namun karena waktuku yang tak banyak dengan kegiatanku di Kodim, aku tak pernah sempat mencaritahu tentangnya.
Gadis itu, tidak ada yang istimewa darinya, namun bagiku ada sesuatu hal yang mampu menarik perhatianku. Sampai - sampai aku selalu menanyakan tentangnya kepada putri kecilku, yang selalu dijawabnya penuh dengan semangat. Nyimas Khodijah Bramastari ya itulah namanya.
" Sayang, tadi di sekolah Hawa belajar apa ? " Tanyaku kepada putri semata wayangku.
" Ajal, ikin byoss Yah, mama Utal. Utal acih Wawa ni. " Jawab putriku sembari memberikan Bros bergambar kupu dari kain flanel.
Iya dia adalah guru disekolah putriku, kebetulan sekali di mengajar di kelas putriku. Bagiku ini bukan hanya kebetulan semata, namun aku masih belum bisa berdiri dari semua hal yang sudah 8 tahun ini membelengguku.
Pada suatu pagi tiba tiba aku dikagetkan dengan deringan telfon dari handphone pribadiku, dengan segera aku angkat. Karena hanya orang tertentu saja yang mengetahui nomer handphone pribadiku ini. Seketika aku terkaget saat telefon itu datang dari sekolah putriku yang mengabarkan bahwa, putriku tak sadarkan diri.
Duniaku seakan runtuh saat aku mendengar kabar itu, putriku memang berbeda dengan anak biasa. Tapi tak pernah membuat ku rasa cinta dan sayangku berkurangnya untuknya, terlebih lagi tak pernah dia sekalipun mengenal sosok ibu yang telah mengandung dan melahirkannya.
Ku pacu langkahku menyusuri lorong - lorong rumah sakit, bayangan wajah putriku memenuhi pikiranku rasa khawatir dan kecewa berkumpul menjadi satu. Yang merubahnya menjadi emosi, bagaimana bisa putri ku terjatuh apalagi masih jam pelajaran. Bagaimana gurunya bisa seceroboh itu dalam mengawasi murid mereka.
Aku sampai di depan kamar putriku dirawat, ku lihat kepala sekolah menunggu kedatanganku di depan pintu. Tanpa memperdulikan perkataan wanita paruh baya itu ku terobos pintu karena ku ingin cepat mengetahui keadaan putriku.
" Assalamualaikum pak Fahmi, saya Tari ibu guru Hawa "
" walaikumsalam " jawabku sembari ku ulurkan tanganku.
" Maaf pak" Jawabnya sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
" Iya tidak apa - apa Bu Tari, Bagaimana tadi Bu kejadiannya sampai Hawa bisa kejang ,? "
" Begini pak tadi kami sedang berbaris akan mencuci tangan, tiba - tiba saja Hawa terjatuh dan langsung kejang" Ucapnya menjelaskan.
Kenapa aku menjadi tidak fokus padahal putriku masih belum sadar, jujur saja aku gugup sekali. Ini bukan pertama kali aku melihatnya, namun ini pasti pertama kali baginya melihatku. Kulihat dari sorot matanya penuh kekhawatiran, yang membuatku tak bisa melepaskan pandanganku dari gadis itu.
Beberapa hari pun berlalu, putriku sudah melawati masa kritisnya. Tidak sekalipun aku melewatkan satu hari tanpa menemaninya.
__ADS_1
"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam" Jawabku sambil menoleh ke arah pintu dimana suara itu berasal.
"Pak Fahmi, bagaimana kabar Hawa ?"
"Alhamdulillah Bu Tari sudah banyak sekali perubahannya "
Tenyata tamu yang tak pernah ku sangka kehadirannya, sejujurnya kehadirannya sudah ku nanti beberapa hari. Ku lihat dia menghampiri brankar dimana putriku sedang tertidur, dengan penuh kasih sayang dia mengelus dan mencium putriku dan hal itu membuat ku tak bisa mengalihkan pandanganku.
" Mas Pandu "
Langsung saja aku menoleh kearah pintu, dimana ada sesosok laki-laki disana. Mereka terlihat akrab sekali gadis itu sama sekali tak terlihat canggung saat mereka berbicara lain sekali saat berbicara denganku. Bahkan dia tidak pernah mau menatapku saat berbicara dengan ku.
" Om calon suami Bu Tari sayang. "
Ucapan laki - laki itu cukup membuat ku terkejut, kekecewaan menguasai ku dengan segera Namun sebisa mungkin ku kuasai diriku.
Setelah kejadian itu, aku tak lagi mencari tau tentangnya, namun dari kabar yang aku dengar dia mengundurkan diri dari sekolah putriku karena dia kan segera menikah. Kecewa itu yang kurasakan saat ini, kenapa setelah sekian lama saat aku akan bisa bangun namun sekali lagi keadaan tak memihakku.
Betapa aku terkejut saat ku dapati sosok itu yang sekarang ada di depanku, meskipun wajahnya tertunduk tapi aku tahu itu dia.
" Maaf saya tidak sengaja. " Ucapnya tanpa mau mengangkat wajahnya.
" Bu Tari, apa benar ini anda ? " Tanya ku padanya.
" Pak Fahmi ? "
" Bu Tari sedang apa disini ? kenapa anda sendiri, dimana suami anda Bu ?" Pertanyaan itu lolos begitu dari mulutku.
" Saya sedang ingin ke apotik pak, " Diiringi senyumnya yang hambar sembari menundukkan kepala.
Sejenak kami larut dalam pikiran kami masing-masing, sampai kedatangan putriku memecah keheningan dari kami berdua. Putriku terus saja menempel padanya, tanpa mau melepaskan tangganya, hilangnya sosok Bu Tari dari hidupnya cukup membuat putriku kehilangan. Banyak hal yang kami obrolkan sore itu selama perjalanan kami, ya aku akan mengantarnya pulang.
" Ternyata kami belum berjodoh Pak, "
__ADS_1
Kata itu lolos dari bibirnya yang sontak menimbulkan dua rasa dalam hatiku. Satu rasa kasihan dan satu lagi rasa bahwa aku masih memiliki kesempatan. Dan itu membuatku memiliki sebuah harapan baru
Setelah itu pertemuan kami semakin intens, Putriku sering menginap dirumahnya. Kalau tidak begitu aku akan menyusulnya ke Kediri, iya dia sekarang beralih mengajar di Kediri. Hingga pada suatu moment, aku berani mengungkapkan isi hatiku.
" Tari sejak pertama saya bertemu denganmu saya sudah merasakan hal lain. Tapi saat itu kamu datang dengan laki - laki itu dan saat itu pula saya menutup rasa itu. Kenyataan berkata lain kita dipertemukan lagi dengan keadaanmu yang seperti sekarang. Dan aku berniat untuk melanjutkan rasaku yang dahulu, tetapi aku tidak yakin terhadap diriku sendiri dan juga terhadapmu. Sejak kepergian Ibunya Hawa hatiku selalu ingin membuka lembaran baru, tetapi rasa bersalahku terlalu besar sehingga selalu menghalangi setiap langkahku. Untuk saat ini aku ingin kamu membantuku untuk melangkah dari rasa sakit ku ini. "
" Saya tidak tahu harus menjawab apa Mas, sedangkan saya sendiri masih harus mengobati luka yang kembali menoreh pada hati saya. "
" Saya tidak minta kamu menjawab iya atau tidak atas pertanyaan saya. Hanya saya ingin kamu mengetahui kalau saya memiliki satu rasa untukmu, dan saya sedang mencoba melawan rasa takut yang ada dalam diri saya. Saya mengungkapkan ini karena saya tidak ingin ada kesalah pahaman diantara kita berdua. Saya tidak ingin kamu merubah sikap dan perhatian kamu ke Hawa. "
Semenjak itu kami semakin dekat hampir setiap Minggu kami bertemu.Terlepas dari itu semua ada hal yang terasa aneh, disaat kesempatan datang menghampiriku namun trauma itu datang kembali menghampiriku. Setiap malam peristiwa memilukan itu datang menghampiriku, disaat aku mengembangkan rasaju terhadap gadis itu. Sampai - sampai aku harus datang ke Kiyai yang selama ini menjadi guruku untuk mendapat nasihat darinya.
Dihadapan dua orang ayah dan anak itu ku ceritakan semua tentang keluh kesah ku, kekhawatiran dan ketakutan ku saat ini benar - benar menguasai hati dan pikiranku. Kekhawatiran gadis itu akan merasakan rasa sakit yang sama seperti di alami Almarhum Ibunda Hawa dan ketakutan akan kehilangannya benar - benar menghantuiku.
" Pastikan perasaan sampean dulu baru mengambil keputusan selanjutnya. Sembuhkan trauma itu dulu, jangan grusa - grusu ini menyangkut kehidupan seseorang. "
Jangan ditanya bagaimana hubunganku dengannya, kami hampir setiap Minggu bertemu karena putriku yang memintanya. Sedangkan hubungan ku dengannya tidak ada perkembangan apapun aku masih terlalu takut. Dan rasa takut itu benar - benar tidak bisa mengalahkan rasa sukaku kepadanya.
" Tar maafkan saya yang tidak bisa mengalahkan rasa takut ini. "
Hanya kata itu yang mampu aku katakan, menjadi isyarat bahwa saya sudah melepaskannya, agar dia tidak mengharapkan sebuah hubungan pasti diantara kami. Sungguh kejam memang namun hal ini harus saya lakukan karena saya tidak ingin menyakitinya. Hubungan kami tetap baik - baik saja seperti biasa dan rasa sayangnya kepada Hawa sama sekali tidak berubah. Suatu sikap yang sangat dewasa menurutku, yang berarti dia menyayangi putriku dengan tulus.
Sebodoh apa aku bisa melepaskan gadis seistimewa itu, namun aku rasa memang kami tidak ditakdirkan untuk bersama. Ya memang takdir yang tidak mengizinkan, dan rasa itu sekarang sudah menguap bersama datangnya hari yang baru. Rasaku terhadapnya sekarang tidak lebih dari rasa seorang kakak laki - laki untuk nya.
Di pagi itu seperti biasa aku berangkat ke kantor setelah aku mengantarkan putriku terlebih dahulu. Mobil yang aku supiri sudah sampai di parkiran kantor dinas ku. Segera aku naik kelantai dua tempatku berkantor membalik beberapa map yang berada diatas meja. Tak lama ajudanku datang bahwa ada seseorang yang ingin menemui ku, tentu saja aku terima dan memintanya untuk segara masuk.
Tok .... Tok .... Tok .....
Pintu terbuka menampilkan dua sosok yang cukup aku kenal dengan baik. Ku persilahkan mereka duduk di sofa yang berada di ruanganku kemudian kami membicarakan banyak hal. Dan sosok yang berpakaian sama denganku mengungkapkan maksudnya ketika mendatangi ku, membuatku sedikit kaget.
" Apa kamu benar - benar yakin dengan yang kamu ucapkan barusan. "
" Siap, Insyaallah saya yakin Kap "
Setelah kepergian kedua orang itu, aku hanya bisa menatap layar handphone ku yang masih bergambar putriku dengannya. Ku usap tepat dimana gambar wajahnya disana, dengan menghela nafas panjangku. Lega sekali rasanya ketika dia akan berjodoh dengan orang yang tepat.
__ADS_1
Bersambung ........