
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Nampak sesosok pria berkemeja batik, dengan bucket mawar besar ditangannya dengan lesung pipi yang bertahta di wajahnya. Seketika semua pandangan semua orang tertuju pada sosok itu, dia berjalan menghampiri Tari yang masih berdiri terpaku.
" Assalamualaikum, adek "
" Walaikumsalam, mas "
Sungguh binar kebahagian yang sangat terasa diantara mereka berdua, waktu 6 bulan yang terasa begitu lama. Pertemuan yang tidak pernah difikirkan oleh Tari, seseorang yang mampu membuat harinya kembali berwarna setelah peristiwa itu.
" Bagaimana, apakah kejutan mas yang terakhir sudah berhasil membuat adek senang ? " Sambil menyodorkan bucket Bungan mawar yang dia bawa kepada Tari.
" Lebih dari yang mas bayangkan, kenapa tidak mengabariku kalau mas bisa datang " tangannya terulur menerima bucket bunga yang diberikan Pandu, lalu mencium aroma bunga itu sehingga senyum di wajahnya begitu merekah.
" Namanya tidak kejutan dek kalau mas bilang, tapi adek suka kan ?"
" Waduh dunia serasa milik berdua yang lain ngontrak semua ini sampai - sampai ibuk disini tak terlihat olehmu nak ? " Ucap Bu Darmi mencoba menggoda putranya, yang nampak begitu berbinar.
" Nak Pandu kapan datang ? "
" Saya sudah sejak tadi malam yah datang, dan saya menginap di seberang kamar yang Tari tempati. "
" Ya sudah kalian mengobrol dulu kami mau ngopi di sana dulu "
" Terimakasih pak, sampean memang tau maunya Pandu "
Suasana kebahagian ini terasa canggung untuk mereka berdua, untuk masalah hati jangan ditanya Tari sudah bisa menerima Pandu. Setelah 6 bulan ini pertemuan mereka yang pertama dengan setatus yang lebih dari sekedar pacar melainkan adalah calon pendamping hidup. Tanpa sadar pandu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, untuk mengusir kecanggungan diantara mereka.
" Dek, sampean cantik sekali "
" Mulai lagi mas gombalnya"
" Gombal gimana to dek, mas ngomong apa adanya mesti dibilang gombal "
" Kenapa mas bisa datang hari ini ? "
" Ya ini hari terpenting untuk calon istriku, aku harus datang memberi selamat lewat telefon itu kurang afdol bagiku dek "
" Kemarin saja aku dilamar juga via telefon mas, kok jadi mengkambing hitamkan telefon "
" Karena terpaksa dek mas melakukan itu, sebenarnya sakit itu, sakitnya itu disini " Tangan Pandu sambil menunjuk dada bagian kirinya.
" Benarkah ? "
" Perlu bukti ? "
Dengan segera Pandu berlutut di depan Tari, kemudian dia mengambil sebuah kotak bludru di sakunya. Dia membuka kotak itu nampak sebuah gelang, kemudian dia mengucapkan sesuatu dengan lantang.
" Wahai bidadari surgaku, Nyimas Khodijah Bramastari maukah engkau menjadi permaisuri di dalam istana hatiku " Dengan suara yang lantang.
Orang yang semula lalu lalang, tidak perduli satu sama lain kemudian memperhatikan mereka berdua kita mendengar ucapan Pandu. Mereka mengira ini adalah lamaran pertama kalinya untuk Tari, mereka bersorak riuh dan bertepuk tangan.
" Mas Pandu ada apa lagi ini, " Wajah Tari memerah dengan perlakuan Pandu.
" Will you marry me ? "
" Ayo Tari diterima " jawab salah satu teman Tari,
Kemudian suasana hening kembali, tapi tatapan mereka tidak teralihkan dari Tari dan Pandu. Tatapan seolah menginginkan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan Pandu.
" yes, i Will "
" Bolehkah aku memakaikannya "
" iya "
" hore, diterima "
" Alhamdulillah sah "
__ADS_1
" Ditunggu undangannya.
Suasana begitu riuh, entah apa yang dirasakan mereka karena yang jelas semua orang disana merasa bahagia melihat pemandangan yang baru saja mereka saksikan. Setelah Pandu memasangkan gelang ditangan Tari, mereka memulai membubarkan diri. Tari masih berdiri memaku sambil memeluk bucket bunga mawar miliknya, andai saja hari ini dia tidak memakai riasan pasti pipinya sudah terlihat sangat merah.
Seperti inikah rasanya dicintai, batin Tari
" Dek rencananya setelah ini kita akan langsung ke Stodio foto ya "
" Buat apa mas "
" Ya biar kayak pasangan yang lain dek, apa itu namanya ya "
" Haruskah seperti itu mas ? sebenarnya kan hal seperti tidak dianjurkan dalam agama kita karena kita bukan muhrim dan biasanya dalam setiap foto yang seperti itu kan ada sentuhan dan ...... "
" Kan kita bisa memilih konsep yang tanpa bersentuhan dek, mas sudah mengatur semuanya adek tinggal ngikut saja "
" Mas sekarang beralih profesi jadi EO ya ? "
" enggak donk sayang, mas tetep jadi nahkoda. Cuma sekarang kapalnya saja yang berbeda "
" ehmz berbeda, apakah mas berhenti dari pekerjaan mas ? "
" Iya dek, mas resign makanya ini mas bisa datang ada pekerjaan lain yang menanti "
" Mas haruskah sampai resign ? "
" Karena mas mau menjadi nahkoda untuk bahtera kita berdua, makanya mas resign.
Tari tertunduk berusaha menyembunyikan wajah malunya, dari Pandu. Pandu yang mengetahui hal itu malah memandang tali dengan lekat tanpa berniat melepaskan pandangan itu.
" Kayaknya mas haru sering - sering membuat sampean malu dek, sungguh sampean terlihat cantik sekali ketika malu "
" Karena mas terus - terusan menggodaku " sambil membuang pandangannya ke arah lain.
" Ayo sayang, kita temua orang tua kita dulu, setelah itu kita ke stodio foto "
Mereka bergegas meninggalkan parkiran mobil di depan gedung itu, berjalan menuju kedai kopi yang berada diseberang jalan. Terlihat dua pasang paruh baya itu sedang mengobrol diselingi dengan candaan mereka. Pandu dan Tari berjalan menghampiri meja yang terletak di pojok ruangan.
" Walaikumsalam "
" Sudah selesai nduk acaranya ? "
" Sampun buk, tinggal pulang saja "
" Kok pulang sih dek, kita mau ke studio foto dulu "
" ouw iya mbak Fatma, kita mau ngajudan dua boss besar ini karena mau foto - foto anak muda sebelum nikah itu Lo mbak. Apa ya namanya saya lupa "
" pre -wedding to Bu ?, "
" Iya bener pak, tumben bener "
" Sampean itu, kok ngak sadar punya suami pinter trus gantenge kebangetan kayak gini. "
" Sampean ngak maem dulu nduk ?
" Mboten buk, "
" Ya sudah kalau semua sudah cukup mari kita bergegas kesana, tadi fotografernya sudah menghubungi Pandu. "
" Iya le, ayo Mbak Fatma. Owh iya le meja kasirnya sebelah sana " Bu Darmi bergegas mengandeng Bu Fatma untuk keluar dari kedai kopi itu. Tapi sebelum keluar Bu Darmi terlebih dahulu memberi kode untuk anak satu - satunya itu untuk membayar kopi yang mereka minum.
" Iya buk tenang saja "
Sementara semua orang terlihat bingung dengan maksut Bu Darmi tapi tidak dengan Pak Yadi yang sudah hafal dengan kelakuan istrinya itu. Dengan senyum kuda Pak Yudi mengikuti langkah kaki kedua wanita paruh baya itu dan diikuti Pak Rahmat yang mengandeng Tari dibelakangnya. Sementara itu Pandu berjalan ke arah kasir untuk membayar semua tagihan orang tua serta mertuanya.
Perjalanan dilanjutkan ke arah stodio foto, yang terletak tidak begitu jauh, tapi karena ini di kota jadi mereka harus berputar arah. Sepanjang perjalanan itu banyak yang mereka obrolkan, terlebih kedua orang tua Pandu sedikit kaget dengan keputusan putra tunggalnya yang resign dari pekerjaannya. Mereka tidak kecewa dengan keputusan putranya itu tapi mereka hanya terkejut saja karena putranya tidak memberitahu mereka untuk keputusan sepenting ini.
" Bapak tidak kecewa le dengan keputusan sampean, cuma terlalu mendadak jadi Bapak kaget hehehehe, kalau boleh tau apa yang menjadi alasan sampean untuk resign ?"
__ADS_1
" Hanya Pandu ingin lebih berkonsentrasi pada rumah tangga yang Pandu bina pak, berat rasanya kalau harus meninggalkan Tari sendiri. Selain itu Pandu juga mendapat tawaran pekerjaan yang lebih baik "
" Iya itu keputusan terbaik le, bapak akan selalu mendukung keputusan sampean "
" Pokoknya harus gas pol lo le, ibuk pengin cepat punya cucu, benar to mbak Fatma ?"
" Amien, semoga ya mbak kita orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk putra putri kita mbak"
" Saya berencana bekerja dirumah saja pak buk, kebetulan saya juga sudah memulai usaha dengan teman di sini. Sudah berjalan dan Alhamdulillah nya usaha yang saya lakukan mulai berkembang. "
" Kalau Bapak itu tidak pernah memaksa soal pekerjaan le, yang penting sampean nyaman dan tidak melupakan kewajiban pada keluarga. Sejujurnya bapak senang kalau sampean resign dari pekerjaan sekarang terlebih kalau sampean sudah nikah le "
" Iya pak, Alhamdulillah sekarang sudah resign dan uang pesangon saya cukup untuk membuka usaha "
Keputusan Pandu untuk resign dari pekerjaannya sebenarnya karena dia ingin fokus dengan rumah tangganya dengan Tari. Dia merasa pekerjaan terlalu menyita waktunya, sementara dia sudah membuka usaha yang dirasa cukup menghidupi kehidupannya dan Tari kelak.
" Maaf ya yah sebelumnya, Nanti setelah Tari sudah menjadi istri saya. Saya ingin dia hanya menjadi seorang ibu rumah tangga "
" Begini nak Pandu, kalau sekarang Tari masih menjadi tanggung jawab Ayah. Tapi setelah dia sah menjadi istrimu, maka dia sepenuhnya jadi tanggung jawab sampean. Untuk masalah itu sebaiknya kalian bicarakan berdua. Kami orang tua hanya mendukung dan memberikan restu."
" Terima kasih yah atas pengertiannya, Adek bagaimana dengan sampean seumpama mas tidak mengizinkan adek bekerja setelah menikah ? "
" Sejujurnya aku sangat senang dengan pekerjaan ku sekarang mas, tapi sebagai istri saya tidak akan melakukan suatu hal yang tidak diizinkan oleh suami saya. Karena ridho Allah terletak pada ridho suami, Insyaallah Tari akan menerima semua keputusan sampean mas "
" Hanya aku ingin sampean fokus sama rumah tangga kita dek, "
" insyaallah aku mengerti mas "
Obrolan mereka terhenti ketika mobil berwarna putih memasuki, rumah dengan halaman yang cukup luas dengan beberapa mobil yang terpakir. Dengan segera Pandu menghentikan mobil itu dan memarkirkanya, dan dengan segera semua penumpang turun satu persatu.
" Mari semua kita masuk, teman saya sudah menunggu didalam "
" Tempatnya bagus ya Mbak Darmi, ?"
" Iya mbak, "
Kemudian suara panggilan masuk ke handphone Tari, dengan segera dia mengambil handphone dalam tasnya. Dilihatnya panggilan dari nomer tidak dikenal, dan sepertinya juga panggilan dari luar negeri. Tari hanya menatap handphonenya tanpa keinginan untuk mengankatnya, karena banyak pertanyaan dalam benaknya tentang siapa sebenarnya penelpon ini.
Pandu yang mengetahui hal itu, menghampiri Tari yang masih berdiri dan menatap handphone dalam tangannya.
" Kenapa ngak diangkat dek, kok malah cuma dipandangi saja "
" ehmz, Mas Pandu, entahlah mas aku tidak mengenal nomer ini " Sambil memperlihatkan handphone nya ke Pandu.
" Mungkin dari teman baru dek, yang nomernya belum adek simpan "
" Entahlah mas, Tari merasa tidak punya teman dari luar negeri karena nomer ini bukan seperti nomer biasa "
" Coba lihat sini dik, "
" Iya kan, mas ini berdering lagi " sambil memperlihatkan handphone nya sekali lagi yang berdering menandakan ada panggilan masuk.
" Iya dik ini nomer luar, Hayo adek punya penggemar rahasia ya ? Udah diangkat dulu dari pada penasaran, siapa tahu penting dek "
📞 Assalamualaikum
📞 Halo dengan siapa ini ?
" Iya kan mas, ngak ada jawaban "
" Coba sini dek " Pandu mengambil handphone dari tangan Tari.
📞 Halo dengan siapa ini ?
📞 Halo
📞 Tut Tut Tut Tut..........
" Panggilannya diputus dek, siapa ya kira - kira ........
__ADS_1
Bersambung .........