
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Semua kelelahan untuk hari ini sepadan dengan semua dengan hasilnya. Sanak saudara dan para tetangga sudah banyak yang pulang hanya tinggal Pak Rudy dan istrinya. Mereka berencana akan pulang setelah Isyak, karena masih banyak hal yang ingin mereka bicarakan. Karena kesibukan Pak Rudy yang seorang pedagang membuatnya jarang bisa berkunjung kalau tidak ada hal yang penting seperti ini.
Mereka semua nampak berkumpul diruang tamu, yang baru selesai dibersihkan dari semua dekorasi yang digunakan dalam acara lamaran tadi. Hari ini pak Rudy hanya datang dengan istrinya sedangkan kedua anaknya yang kembar mondok di sebuah pesantren di Jombang. Tari hanya sesekali tersenyum mendengar obrolan kedua pasang orang tuanya itu, dia sedang berkutat dengan lap topnya menyusun materi untuk sidang terakhirnya.
" Nduk, kapan sampean wisudanya ?"
" Insyaallah, kalau lulus sidang terakhir ini bisa ikut wisuda gelombang pertama. Kalau tidak salah 3 bulan lagi Bulik. Itupun kalau lancar Bulik.
" Berarti hampir bersamaan dengan hari pernikahanmu ya nduk ? "
" Enggeh Pak Lik "
" Iya, nanti pas sudah sarjana juga sudah pas setatusnya berubah jadi istri juga nduk "
" La gimana dek memang jodohnya pas datengnya pada saat itu " jawab ibu.
" Bagaimana setelah menikah apa sampean berhenti dari pekerjaan sampean nduk ? "
" Kalau masalah itu semua Ijah serahkan sama Mas Pandu Pak Lik, seumpama diizinkan tetap bekerja ya saya akan tetap bekerja. Tapi kalau tidak diizinkan ya saya akan berhenti, sudah beda lagi Pak Lik kalau Ijah sudah berstatus seorang istri. "
Sebenarnya bukan hal yang mudah bagi keluarga Tari untuk membiayai pendidikan Tari sampai pada titik ini. Tapi karena keinginan Tari yang gigih untuk melanjutkan mimpinya sebagai orang tua keduanya hanya mampu mendukung keinginan putrinya itu. Karena biaya kuliah Tari membayar separuhnya karena mendapat beasiswa untuk siswa yang berprestasi. Sedangkan gajinya sebagai guru honorer tidak cukup besar, hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan kuliah yang lain dan sisanya Tari tabung untuk kebutuhan yang mendesak.
" Saya tidak pernah menuntut Ijah harus bekerja dik Yuli setelah menikah nanti. Karena sesudah menikah saya sudah tidak mempunya hak dan tanggung jawab terhadap anak saya. Semua akan saya pasrahkan sama suaminya, toh penerapan ilmunya gak selalu melulu di dunia kerja kan ?"
" Iya mas, bener itu. Apalah daya kita kalau anak gadis itu sudah di pinang kita itu terlepas dari beban berat tapi rasanya sesak ya mas di dada ? "
" Halah Rud, kayak kamu itu sudah pernah saja melepaskan anak gadismu, wong kenyataan anakmu itu Lo Lanang Kabeh "
" Memang mas, bapak itu kalau ngomong suka ngaco " ucap Bu Yuli sambil mencubit lengan pak Rudy yang duduk disebelahnya.
" Lah la sampean ki salah mas, masak sampean gak ingat semasa kecil itu Tari itu siapa yang momong. Sampai - sampai setiap ditanya anaknya siapa jawanya mesti anaknya ayah Udi. "
" Pak Lik, iya sampean tetep ayah udinya Ijah " seraya memandang Pak Rudy dengan tatapan yang hangat mengisyaratkan kasih sayang.
" Sampean itu nduk dulu kalau belum digendong dek Rudy malam mesti rewel, nanti kalau sudah digendong sebentar sambil diajak sholawatan mesti langsung tinglur tidurnya "
" Enggeh buk, Ijah masih ingat kok buk pas Pak Lik mau foto dibuat nikah Ijah nangis pas mau ditinggal. Jadi dengan terpaksa Ijah diajak dibonceng dibelakang, badan Ijah diikat selendang sama Pak Lik. Eh masih setengah perjalanan rantai sepeda pak Lik putus, dengan terpaksa pak Lik berjalan sambil mengendong Ijah. "
" Makanya gitu kok katanya sampean bukan anak gadis Pak Lik itu Lo ayah mu lagi ngelantur, Nduk sebentar lagi sampean sudah jadi seorang istri Pak Lik hanya ingin sampean bahagia. " Sambil memeluk Tari yang sedari tadi duduk disampingnya. Rasa sayangnya terhadap Tari sama seperti kepada kedua nak kembarnya.
Suasana kembali haru, mereka mencoba mengenang masa kecil Tari yang dilalui dengan susah payah, walaupun keadan mereka sekarang masih serba pas - Pasan tapi jauh lebih baik dari keadan saat kecil Tari. Tari yang saat itu masih berumur 1 tahun harus dititipkan Ke Pak Rudy yang saat itu masih tinggal bersama Pak Rahmat. Sedangkan Pak Rahmat dan Bu Fatma harus bekerja di sawah dengan s bagai buruh harian. Sungguh keadan yang sangat kekurangan, tapi keluarga itu mampu melewati saat - saat tersulit itu.
Setidaknya mereka sekarang tidak bingung untuk apa yang akan dimakan esok hari, berbeda dengan pada saat Tari masih kecil. Untuk makan besok itu mereka mencari hari ini dan harus disisihkan sedikit untuk tabungan jaga - jaga. Tapi kesulitan hidup yang dilalui keluarga ini menempa semua anggota keluarga ini untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri dan kompak dalam segala hal.
__ADS_1
Tak terasa adzan Isyak berkumandang, Pak Rahmat dan Pak Rudy bergegas menuju mushola sedangkan para wanita lebih memilih untuk sholat dirumah. Buk Fatma sibuk menata makanan yang kan dibawa sebagai buah tangan untuk Pak Rudy dan Bu Yuli.
" Dek Yuli, tadi sudah saya tatakan sedikit makanan. Nanti sampean berangkat ke pasar tinggal dianterin sudah bisa buat bekal "
" Oalah mbak Fatma, sampean ngak usah repot wong dirumah cuma berdua saja mbak "
" Yo sampean nanti nyampek rumah biar bisa langsung istirahat dek, besuk kan mesti berangkat pagi "
" Bulik, sudah mau pulang ? "
" Iya nduk, besuk Bulik harus ke pasar subuh "
" Ijah kita Bulik menginap disini "
" Nanti kalau sampean jadi manten nduk, Bulik nginep yang lama disini "
" Mau nginep kok nunggu Ijah jadi manten to Bulik ?"
" Piye to nduk, la sampean mau nikah opo Bulik juga ngak butuh ngumpulne uang. Buat membelikan sampean sesuatu to. "
" Oalah Bulik, sampean Dateng saja Ijah sudah bahagia "
" Yo Ndak bisa nduk, lawong anak gadis.e Bulik mau nikah Lo Yo setidaknya Bulik harus membelikan sampean sesuatu "
" Buk, ayo apakah sudah siap " Teriak bapak yang berjalan dari teras samping menuju ruang tengah.
Pak Rudy membawa semua barang yang akan dibawa menuju teras depan, agar memudahkan ketika memindahkan ke mobil pickup nya. Mobil yang digunakannya untuk berjualan di pasar subuh, mobil yang dibelinya dengan susah payah. Barang yang mereka bawa tenyata lumayan banyak, sampai - sampai memenuhi separoh bagian pick up itu.
" Rud, sampean itu datang kesini apa mau merampok to perasaan tadi pagi kesini cuma bawa di kantong kresek sekarang pulang kok separoh dari pick up mu sudah penuh. "
" Yah namanya juga saya pinter mas bersih - bersih, sekiranya ada barang yang ngak keurus ya saya bersihkan hehehehe, bukan begitu mbak Fatma ? "
" Wez ngak usah dipikir dek Rud, kok heran sama masmu. Tadi katanya mau bawa tanaman yang di polibag apa ngak sekalian ? "
" Oalah buk, kok ngak sekalian si jenggot surah bawa dia sekalian " Pak Rahmat mencoba meledek adiknya dengan menyuruh membawa kambing kesayangannya juga.
" Mana saya punya waktu mas, untuk mencari makan si jenggot. "
" Wez ayo pak, kita berangkat kalau berdebat terus kapan kita berangkatnya,l. Mas Rahmat, Mbak Fatma saya terimakasih ya, insyaallah kalau ada waktu saya akan lebih sering kesini. "
" Iya dek, terimakasih ya atas kedatangannya. Maaf GK bisa ngasih apa - apa "
" Buk, itu Separoh pick up Lo sudah penuh kok ngak ngasih apa - apa to " Tangan pak Rahmat menunjuk pick up yang terparkir dihalaman ya.
" Sedekah mas sama adiknya, kok pakek itung - itungan hehehehe "
__ADS_1
" Nduk Pak Lik pulang dulu, terus berkonsentrasi lah pada sidangmu ya berikan nilai yang terbaik. Dan ini sedikit untuk wisuda mu " mengeluarkan amplop dari saku celananya, lalu memberikannya kepada Tari.
" Mboten Pak Lik Tari sudah ada buat persiapan wisuda, " Tari menolak pemberian Pak Lik nya secara halus.
" Nduk, bagaimanapun Pak Lik dan Bu Lik ini juga orang tuamu jadi sepatutnya sampean menerimanya. "
" Terima kasih Pak Lik, Bulik biar Allah yang membalasnya " ucap tari dan menerima amplop itu.
" Mas, Mbak kami permisi. Jaga kesehatan jangan terlalu capek dan berfikir yang santai saja. "
" Iya dek Yuli, sampean juga hati - hati ya dijalan "
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam "
Mobil pickup itu pun berjalan meninggalkan halaman yang dipenuhi dengan berbagai tanaman. Ketiga orang itu masuk kerumah kembali dan mendudukkan tubuh lelah mereka di sofa tua dalam ruang tamu. Nampak sekali wajah kedua malaikat itu nampak lelah tapi kebahagian yang mereka rasakan menutupi semua rasa lelah itu.
" Akhirnya ya buk, satu langkah sudah terlewati tinggal satu langkah yang pasti lebih berat lagi, tapi insya Allah akan ringan kalau kita bersama - sama "
" Iya pak, rasnya lega sekali yah "
" Alhamdulillah ya buk, acaranya berjalan dengan lancar " ucap Tari sambil menatap cincin di jari manisnya.
" Nduk setelah ini sampean harus lebih berhati - hati lagi dalam segala hal, baik perkataan dan perbuatan karena sampean sekarang sudah ada yang mengikat. Biasanya sebelum hari ijab qobul itu banyak sekali cobaanya, semoga sampean mampu melewati hal ini nduk "
" Enggeh yah, insyaallah Tari akan selalu ingat dengan pesan ayah "
" Nduk sampean tadi bukanya kok sedikit sekali to ? nasi ampoknya masih Lo ayo makan lagi sekalian temani ibuk makan. "
" Ndak tau buk, saya sudah kenyang walaupun makan hanya sedikit "
" Ibuk itu kayak GK pernah muda saja, mbok Yo faham tanpa dijelaskan secara detail. "
" Apa to pak, sungguh jangan membuat ibuk bingung "
" Kalau orang jatuh cinta bawaannya selalu kenyang buk "
" Ayah itu ngomong apa to aduh kok ngelantur, ya sudah mau sholat Isyak dulu."
Dengan senyum yang mengembang dia melangkah menuju kamarnya untuk menganti gamisnya. Sebelum sampai dikamar handphone yang ada di dalam saku gamisnya bergetar, dilihatnya layar ponselnya terlihat nomer baru menghubungi. Tapi Tari enggan mengangkatnya karena dirasa itu bukan nomer dari Indonesia, sampai panggilan itu berulang sampai 3 kali. Di panggilan yang ketiga akhirnya Tari menggeser tombol hijau.
📞 Assalamualaikum.
📞 Halo, maaf dengan siapa ini.
__ADS_1
📞 Halo, kok malah diem.
Bersambung.......