
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
POV. TARI
Betapa besar rasa syukur yang tak henti-hentinya aku ucapkan pada Sang Pemilik Kehidupan. Atas kesempatan yang Dia berikan padaku, hamba-Nya yang penuh dengan dosa ini. Sungguh dibalik suatu musibah ada hikmah yang kita dapat ungkapan seperti itu memang benar adanya.
Peristiwa kemarin membuat ku sadar betapa kita harus benar - benar berhati - hati dalam bersikap, bertindak dan berucap. Kadang suatu hal yang kita kira hanya sebuah masalah yang kecil bisa jadi itu masalah yang besar untuk orang lain. Suatu hal yang kita kira sudah usai namun masih berjalan untuk orang lain. Ya begitulah manusia kita tidak bisa menerka apa yang ada dalam hati dan pikirannya.
Sejujurnya, aku kasihan dengan Mas Setyo aku tidak habis pikir dia bisa melakukan hal seperti kemarin. Namun aku tidak menyalahkan tindakan yang dia lakukan kepada ku, karena aku berpendapat karena setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Tapi tidak dengan suamiku, Beliau tidak bisa menorelir tindakan sepupunya itu.
Sekarang semuanya telah kali pada tempatnya masing - masing, begitupun dengan kami berdua. Kembali ke rumah kami di Malang untuk menyusun lembaran baru dalam hidup kami setelah peristiwa pahit yang terjadi kemarin.
Kadang kala bila malam tiba, dan disaat aku mulai terjaga bayangan buruk kejadian kemarin itu datang menyapa kembali. Yang membuatku terbangun dengan nafas terengah dan butiran keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhku.
Namun sebisa mungkin hal ini aku sembunyikan dari suamiku, berharap aku segera bisa mengatasinya sendiri. Aku tak ingin membuatnya khawatir dengan apa yang terjadi padaku. Setiap kali hal itu terjadi dan aku terbangun dengan segera aku bangun, lalu mensucikan diriku dan menunaikan sholat malam. Ya hal itu sedikit banyak mampu mengurangi rasa takutku.
" Dek, kenapa setiap malam sholat malamnya ngak bangunin Mas. "
Pertanyaan dari suamiku, yang membuatku susah untuk menjawabnya. Mencari alasan yang tepat agar Beliau tidak menaruh curiga.
" Maaf Mas, aku tidak tega membangunkan sampean. " Jawabku.
Hubungan kami sekarang sudah sangat dekat, baik batin maupun fisik. Peristiwa kemarin seperti mengikis jarak yang kemarin ada diantara kami. Jujur saja sebelum peristiwa kemarin aku terkadang masih sedikit meragukan tentang perasaan diantara kami. Namun rasa ragu itu hilang lenyap tak tersisa ketika aku melihat tangisnya karena ku.
" Dek. "
" Enggeh Mas. "
" Aku punya kejutan untuk sampean. " Ucapnya tepat di telingaku, yang membuatku meremang karena kurasakan nafasnya yang beraroma mint memenuhi indera penciumanku.
" Apa Mas ? " Tanya ku tanpa menghentikan kegiatanku yang sedang membuatkannya nasi goreng Jawa kesukaannya.
" Ra-ha-si-a ......... " ucapnya sembari mengigit kecil telinga ku yang tertutup kerudung namun gigitan itu masih bisa kurasa.
" Ya sudah kalau ngak mau ngomong. " Jawabku, sambil mematikan kompor karena nasi goreng yang aku buat sudah matang.
" Namanya juga kejutan Dek, kalau diberi tahu itu namanya bukan kejutan donk. " Dia masih saja menempel di belakangku dengan kepala yang dia sandarkan di pundak ku yang membuat pergerakan ku agak sulit.
Malam ini kami di rumah hanya berdua, Ummi dan Nafisa Kemabli ke Kediri pagi tadi sedangkan Ibuk kembali ke rumah karena akan ada saudara Beliau yang menggelar hajatan.
" Mas sebentar aku ambil piring dulu, katanya tadi sudah lapar. "
" Masih pengen nempel. " Ucapnya santai tanpa sedikitpun niat melepaskan pelukannya.
" Makan dulu, sebentar lagi pasti adzan Isyak lo Mas. "
Dengan malas Dia melepaskan tangannya yang sedari tadi melingkar di perutku. dengan wajah yang ditekuk
Aku hanya mampu menggelengkan kepala dengan ulahnya itu. Dengan segera aku mengambil dua piring di rak yang berada di sisi lain dapur untuk tempat nasi goreng yang aku buat.
Aku sedikit terkejut ketika aku kembali dan nasi goreng yang aku masak telah hilang bersama wajannya. Namun ku lihat tv di ruang keluarga yang letaknya di depan dapur sudah menyala. Segera aku melangkah ke ruang tv. Pemandangan yang sama yang sering aku lihat akhir - akhir ini.
Suamiku sudah duduk bersila di atas karpet dengan wajan di depannya menyendok nasi goreng dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Ya ini kebiasaan Beliau yang kurang ku mengerti dibalik sifatnya yang begitu tenang, pendiam dan berkharisma ada sisi lain yang seperti ini.
" Awas saja sampai wajanku lecet. " Sindir ku padanya.
Yang hanya dibalasnya dengan sebuah senyuman, yang kemudian menyendok kan nasi goreng itu dan menyuruhku untuk membuka mulut.
" Aakkk...... "
Ya ini selalu terjadi ketika kami sedang makan berdua, Dia selalu melarang ku ketika aku akan makan sendiri. Dia akan menyuapiku sampai kami berdua kenyang, bahkan kadang dia akan mendahulukan menyuapiku setelahnya dia baru akan makan.
Kami menyelesaikan makan malam kami tepat saat adzan Isya berkumandang. Segera aku mengangkat wajan dan menaruhnya ke tempat cuci dan bersiap untuk mengikuti Beliau pergi ke Masjid di kompleks perumahan kami. Karena di malam Jum'at ini biasanya diadakan kajian dan kemarin Pengurus Masjid meminta Beliau untuk mengisi kajian.
" Mau kemana " Dia menghentikan langkahku saat aku akan melangkah ke tangga menuju kamar kami di lantai dua.
" Mau ganti baju Mas, sekalian menyiapkan baju untuk Sampean. "
" Sudah aku siapkan di kamar depan, ganti bajunya disana saja. "
Aku mengerutkan kedua alisku karena tidak paham apa yang sedang di maksud oleh Dia.
" Ayo, " Dia menuntunku masuk ke kamar depan.
Benar saja di atas kasur aku sudah melihat gamis syar.i dan mukena milikku di atas kasur dan di sampingnya baju Koko beserta sarung miliknya.
__ADS_1
" Benar kan mau pakek yang itu ? " Tanyanya padaku.
Aku hanya mengangguk dan segera membawa baju milikku ke dalam kamar mandi, aku masih malu jika harus berganti pakaian di depannya. Maafkan aku yang masih belum bisa menunaikan kewajiban ku sebagai istri.
*************
Suasana Masjid sudah mulai rame dipenuhi jamaah yang akan mengikuti kajian rutin di malam Jum'at yang sudah menjadi agenda rutin. Gus Syam dan Tari menaiki motor matic untuk menuju ke Masjid karena letaknya yang cukup jauh apabila ditempuh dengan berjalan kaki. Sampai disana mereka berpisah di parkiran, Gus Syam pergi ke arah jamaah laki - laki sedangkan Tari bergabung dengan jamaah wanita.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam, " Jawab pemuda masjid yang sedang berkumpul di pelataran Masjid saat mendengar ucapan salam dari Gus Syam.
Satu persatu dari mereka bersalaman dengan Gus Syam, dan nampak sekali menaruh hormat padanya. Mereka pun segera masuk ke dalam Masjid, dan menunaikan sholat Isyak dengan Gus Syam sebagai imamnya.
empat rakaat selesai dilaksanakan, mereka rehat sejenak dan nampak semua jamaah masih senantiasa duduk ditempatnya untuk mendengarkan kajian yang akan dilaksanakan malam ini.
" La, taungak kajiannya malam ini beda loh. Udah kita disini aja jangan pulang dulu. "
" Apanya yang beda ? "
" Yang ngisi kajian Ustadznya masih muda ganteng pula, dan....... " Ucap gadis itu menggantung
" Apaan jangan bikin orang penisirin. "
Tari yang mendengar dua remaja disebelahnya yang sedang membicarakan suaminya hanya tersenyum dan menggeleng kan kepala.
" Tu liat kan, tu mulai naik mimbar tu ...... Beh auranya mak beda kayak ada manis - manisnya gitu ya. "
" Masak sih, "
" cobak deh Lo liatnya yang bener ngapa. "
Gadis yang duduk tepat di sebelah Tari memang lebih pendek dari temannya jelas saja dari tempatnya duduk mungkin saja tidak begitu terlihat. Gadis itu agak merubah posisi duduknya sehingga mampu melihat Gus Syam dengan jelas yang berdiri di atas mimbar.
" Beh ini mah om - om yang hooot banget. "
Sontak Tari yang mendengar celetukan gadis itu, tertawa kecil. Sebegitu memukaunya sang suami di mata orang lain. Namun hal itu lantas tidak membuatnya cemburu.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam " Jawab semua jamaah secara bersamaan.
" Boleh banget tadz. " Jawab jamaah berusia belasan tanpa rasa sungkan dengan nada suara yang cukup tinggi.
" Perkenalkan saya M. Ghasan Fariq As-Syamimi. Bisa dipanggil Ghasan atau Syam sekerso panjenengan sedoyo enaknya gimana. "
" Setatusnya donk tadz. " Sebuah pertanyaan dari deretan ibu - ibu yang duduk di depan.
" Hu ..... Hu ..... Hu ...... ingat suami Bu, masak ada yang beningan dikit langsung nanya setatus. "
Suasana sedikit riuh karena jamaah yang terlibat argumen, namun keadaan masih terbilang kondusif. Sejurus dengan Gus Syam yang memandang dengan kearah Tari, yang disambut juga dengan Tari yang memandang ke arahnya. Keduanya saling melempar senyuman dengan pandangan penuh cinta.
" Yey, siapa bilang buat saya barangkali bisa jadi menantu saya. " Jawab ibu yang tadi melempar pertanyaan.
Yang hanya disambut senyuman dengan Gus Syam, tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri.
" Kalau setatus pekerjaan, Alhamdulillah saya sudah bekerja Buk. Dan saya rasa cukuplah untuk membiayai seorang istri ........ "
" Wah mantab ...... " Sahut seorang jamaah ibuk - ibuk lagi.
" Alhamdulillah juga saya bersetatus ...... " Ucap Gus Syam menggantung.
Yang membuat semua jamaah wanita dalam kajian itu penasaran, bukan hanya gadis ataupun anak remaja bahkan ibuk ibuk pun dengan sabar menunggu perkataan Gus Syam selanjutnya.
" Not available, alias sudah laku "
" Huu ....... huu ...... huu ..... "
Nampak sekali wajah - wajah kecewa karena mengetahui setatus Gus Syam yang sudah beristri.
" Masak saya yang bisa dibilang 'ganteng ' begini belum laku kan Yo mboten etis to Bu. " Ucap Gus Syam bercanda.
" Baiklah kita kembali ke jalur ya setelah sesi perkenalan sudah selesai semuanya sudah kenal saya kan sekarang. Baiklah dikesempatan yang berbahagia ini saya akan sedikit membahas hal yang akhir - akhir ini menjadi topiknya anak muda. "
" Saya yakin mas - mas dan mbak - mbak disini semua pasti pernah cinta atau suka terhadap lawan jenis kan ? "
__ADS_1
" Pernah lah tadz ....... "
" Halal atau Haramkah cinta itu sebelum adanya ijab qobul, dan tentu saja ....... "
" Haram ........ " jawab mereka serentak ......
Hampir sembilan puluh menit Gus mengisi kajian itu dengan gayanya yang khas, menyampaikan pokok bahasan dengan gaya dan pemilahan bahasa yang mudah di cerna oleh jamaah dengan banyak candaan namun tetap terarah pada pokok bahasan.
Tari menunggu sang suami tempat di sebelah motor matic milik sang suami. Sedangkan Gus Syam masih di serambi Masjid nampak sedang berbincang dengan Pak Kyai dan berberapa pemuda masjid.
" Assalamualaikum, " Sapa serombongan ibuk - ibuk yang lewat di depan Tari.
" Walaikumsalam Buk, "
" Masih menunggu Gusnya Mbak ? "
" Enggeh Buk, Beliau masih di dalam. Ibuk - ibuk sudah mau pulang ? "
" Iya mbak, Kalau ada waktu besuk pagi bisa membantu kami di sini Mbak ? Selepas Jum'at disini ada acara Jum'at berkah membagikan makanan gratis untuk saudara kita yang kurang mampu. $
" Insyaallah ya Bu, saya akan izin suami dulu. " Ucapnya sopan.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam "
" Ibuk - ibuk sudah mau pulang ? "
" Enggeh Gus, "
Setelah mengobrol cukup panjang lebar dengan segerombolan ibuk - ibuk tadi akhirnya mereka berboncengan kembali menuju rumah mereka.
" Beneran Mas besuk boleh bantu - bantu di Masjid ? "
" Boleh asalkan sampean bisa jalan. "
Karena mereka sedang menaiki sepeda motor Tari tidak begitu jelas dengan apa yang dikatakan oleh sang suami.
* Apa mas. ? "
" Ngak papa, akhirnya sampai juga. "
Tari turun terlebih dahulu dan membuka pintu gerbang rumahnya, kemudian langsung membuka pintu rumah mereka. Sedangkan Gus Syam sedang memarkirkan sepeda motornya di garasi.
Tari sedikit terkejut dengan keadaan rumahnya yang berbeda dengan saat dia meninggalkannya tadi. Apalagi ketika dia melangkah ke ruang tengah beberapa lilin temaram ada disana. Bahkan seluruh anak tangga menuju lantai dua rumah mereka sudah di penuhi kelopak bunga mawar merah. Dan di kanan kiri lengkap dengan lilin kecil dengan aroma khas Cendana yang wangi.
Tari tetap berdiri terpaku ditempatnya, melihat pemandangan di depannya. Tanpa dia sadari sang suami sudah ada dibelakangnya, merapatkan tubuhnya tepat dibelakangnya. Sedetik kemudian sang suami sudah berada di depannya dengan sebuah bucket mawar merah ditangannya.
" Terimakasih sudah mau menerimaku " Ucapnya sembari mengansurkan bucket bunga itu kearah Tari
Tari tidak menjawab perkataan sang suami, hatinya sedang membuncah bahkan butiran kristal bening memenuhi kedua kelopak matanya. Sungguh saat ini hatinya begitu terharu dengan apa yang dilakukan sang suami. Diterimanya bucket bunga yang diberikan oleh sang suami dan berhambur kepelukan sang suami yang selalu menenangkan untuknya.
" Tetaplah menjadi bidadari surga ku sayang, jangan pernah berubah. " Ucap Gus Syam sembari menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya.
Tanpa di sadari Tari mendekatkan wajahnya pada sang suami kemudian mencium bibir sang suami cukup lama, yang langsung di sambut Gus Syam dengan memegang tengkuknya.
Ciuman lembut diantara keduanya mengalir begitu saja tanpa adanya tuntutan. Yang lama kelamaan berubah menjadi lu**tan kecil dengan hi**pan yang mampu membuat keduanya kehabisan nafas.
Dilepasnya panggutan yang sangat melenakkan itu, kemudian Gus Syam mengusap bibir sang istri dengan jempol miliknya. Menuntun sang istri meniti satu persatu anak tangga menuju kamar mereka.
Dan suasana kamar sudah berubah, di penuhi dengan kelopak bunga mawar di seluruh penjuru lantai dan juga lilin kecil yang membuat cahaya temaram namun terasa indah.
* Dek, "
Tari menutup bibir sang suami dengan jari telunjuknya, entah keberanian dari mana dia bisa seberani itu.
" I love you M. Ghasan Fariq As-Syamimi. "
Tanpa menunggu jawaban sang suami, Tari mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami kemudian mengecup kembali bibir sang suami, bukan hanya sekedar kecupan bahkan gadis itu berani me**mat bibir sang suami. Gus Syam menyambut apa yang dilakukan istrinya dengan hati yang suaka cita.
Setelah keduanya merasa kehabisan oksigen, mereka baru melepaskan panggutan mereka. Dengan nafas yang tersengal Mereka menyatukan kedua kening mereka saling menatap tanpa satu ucapan cukup mata mereka saja yang bicara.
" I love you Nyimas Khodijah Bramastari. "
" I love you too M Ghasan Fariq As-Syamimi. "
__ADS_1
" Aku punya satu kejutan untukmu Mas. " Ucap Tari sambil berlalu kearah walking closed.
Bersambung .......