Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
23. Wisuda


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Pagi ini terasa sangat dingin di kota Apel ini, kabut pun menuruni pegunungan Panderman dan sampai di kakinya. Siapapun pasti enggan untuk untuk menyudahi pergulatannya dengan selimut yang terasa begitu menghangatkan. Walaupun udara sedingin ini tidak menghentikan gadis mungil itu untuk berkutat dengan sajadahnya. Semua keresahan dalam hatinya segera dicurahkan pada Penciptanya.


Tak lama berselang, dia menyudahi percintaannya dengan sajadah. Dia teringat sesuatu kemudian segera dia bergegas mengganti mukenanya dengan kemeja yang dibawanya. Terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya, dengan segera dia membuka pintu.


ceklek.....


" Assalamualaikum mbak "


" Walaikumsalam "


" Dengan mbak Tari ?, Kami dari Fatim*** MUA mbak, yang akan merias mbak pagi ini. Saya Zahra dan ini Dinar asisten saya " Ucap salah satu dari mereka memperkenalkan.


" Iya itu saya, Monggo mbak silahkan masuk " ucapnya seraya menuntun kedua tamunya untuk masuk ke kamar hotel yang dia tempati.


Kedua wanita itu masuk, dan mendudukkan tubuhnya di sofa kecil yang ada di kamar hotel itu. Sedangkan Tari berjalan menuju kulkas yang ada dipojok dalam ruangan itu dan mengambil minuman dan beberapa camilan untuk kedua wanita itu.


" Mari mbak, minum dan sedikit camilan "


" Terimakasih mbak, maaf jadi merepotkan "


" Tidak mbak, maaf hanya seadanya mbak "


" Bagaimana mbak apakah sudah siap ?, "


" Insyaallah sudah mbak "


"Tunggu sampai saya mempersiapkan peralatan saya, "


" Mari mbak ganti baju mbak menggunakan ini sehingga memudahkan saat berganti pakaian nanti " ucap asisten perias sambil memberikan sebuah kimono pada Tari.


" Iya mbak, " kemudian Tari berjalan menuju kamar mandi untuk menganti kemejanya dengan kimono panjang yang diberikan assiten mbak perias tadi ada perasaan kurang nyaman tapi hanya ada mereka bertiga dalam kamar.


" Mbak untuk hari ini, make upnya bertema bold ya karena menyesuaikan dengan baju yang mbak pakai. Dan kami juga sudah menyiapkan bajunya " sambil menunjukkan sebuah baju yang masih terbungkus rapi.


Dengan segera sang asisten berjalan mengambil baju yang tadi diletakkannya diatas kasur dan membawanya kearah Tari. Kemudian dengan segera dia membuka bungkusan itu dan memperlihatkan baju kebaya berwarna maroon lengkap dengan rok batiknya. Tari sedikit bingung karena dia sudah mempersiapkan bajunya untuk hari ini, baju yang digunakan pada saat lamaran.


" Mbak, sebenarnya saya sudah menyiapkan baju untuk hari ini "


" Sudah mbak, sebaiknya mbak menggunakan yang sudah kami siapkan, karena ini dipesan khusus untuk mbak Tari oleh mas Pandu "


" Baiklah mbak, Tapi saya ingin make upnya jangan terlalu tebal karena saya kurang nyaman dengan make up yang tebal "


" Percayakan pada kami mbak, "


Pandu mempersiapkan acara wisuda Tarindengan sangat baik, mulai menyediakan kamar hotel untuk tari menginap beserta keluarganya serta untuk urusan penampilan pun tak luput dari perhatiannya. Setelah satu jam mereka akhirnya menyelesaikan riasan itu, dan menyelesaikan kerudung yang dibuat menutupi bagian dada Tari seperti keinginannya. Tenyata riasan bertema bold itu sangat cocok untuk Tari yang begitu membuat dirinya semakin cantik.


" Mbak, coba mbak lihat hasil riasannya adakah yang kurang ? " Sambil memberikan cermin ke Tari.


" Iya mbak " Tangannya meraih cermin itu, lalu melihat bayangannya dalam cermin sejurus kemudian senyum tersungging di sudut bibirnya.

__ADS_1


" Bagaimana mbak ? "


" Apakah warna lipstiknya tidak terlalu mencolok mbak ? "


" Saya rasa tidak mbak, malahan mbak Tari terlihat fresh dan memancarkan aura mbak Tari "


Tari masih saja memandang bayangan wajahnya pada cermin, kali ini penampilannya benar - benar berbeda sungguh tangan ajaib perias yang mampu membuat dirinya berbeda. Kemudian, Handphone nya berbunyi sebuah panggilan masuk. Tenyata nama Pandu dalam layar handphonenya dengan segera dia menggeser tombol hijau pada ponselnya.


📞 Assalamualaikum.


📞 Walaikumsalam.


📞 Pasti saat ini bunga mawar pun cemburu melihat kekasihku, yang cantiknya mengalahkannya.


📞 Mulai lagi mas, sesi gombalnya ? sampean sedang apa, Tadi sudah makan belum ?.


📞 Adek ini, setiap kali mas bilang jujur selalu bilang mas bohong. Mikirin sampean dek, rasanya mas sudah tidak sabar.


📞 Harus sabar mas, karena kita sebagai seorang muslim tidak boleh memiliki sifat tidak sabar.


📞 Iya adek sayang, insyaallah mas akan selalu sabar saat sampean ada disamping mas. Bagaimana suka dengan pilihan mas ?


📞 Terimakasih mas, banyak hal yang sampean berikan padaku.


📞Ngomong apa to dek, semua milikku itu akan menjadi milik sampean juga. Bahkan hidup dan diriku ini juga milik sampean.


📞 Insyaallah mas, setelah janji suci itu terucapkan.


📞 Iya adek, hati - hati disana ya dan semoga acaranya berjalan dengan baik. Dan tunggu kejutan terakhir yang akan membuat mu bahagia.


📞 Memangnya apa mas,


📞 Kalau diberitahu sekarang namanya bukan suprise donk.


📞 Owh begitu, baiklah jaga diri ya mas.


📞 Pasti sayang, semoga sukses acaranya.


📞 Assalamualaikum.


📞 Walaikumsalam.


Panggilan pun diakhiri, Dengan segera Tari bersiap - siap untuk meninggalkan kamar hotelnya dan menuju gedung tempat acara berlangsung. Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu - tunggu Tari, 4 tahun dihabiskannya untuk menyelesaikan program S1nya, hari dimana dia akan mendapat gelar sarjananya.


Dengan langkah yang pasti dia keluar kamarnya, dan menemui orangtuanya yang berada di kamar sebelah kamar Tari menginap. Ternyata kedua orangtua serta kedua calon mertuanya sudah menunggu di depan kamar milik Tari.


" Biyuh, ayune anak wedhokku ? "


" Ancen pinter Pandu Ki milih istri, kayak bapak.e "


" Ayune nurun dari saya Lo Mas Yadi, hehehehe " ucap Bu Fatma.

__ADS_1


Tari tertawa melihat tingkah konyol kedua pasangan paruh baya itu yang selalu mendebat suatu masalah yang tidak penting. Orang tua Pandu semenjak lamaran sudah dilaksanakan selalu saja memenuhi kebutuhan Tari, termasuk hari ini yang ikut juga dalam acara wisuda.


" Ayo kita segera berangkat takutnya jalanan macet dipagi hari "


" Tenang saja nduk sopirnya Saudah handal ini " terlihat pak Yadi sumbawa dengan kemampuannya dalam menyopir.


" Iya wez percaya sama kemampuan sampean Mas Yadi "


" Ayo sudah, kita berangkat kalau berdebat sama bapak ngak ada habisnya. Ayo Mbak Fatma, ayo nduk "


Mereka pun pergi meninggalkan lantai 4 dimana kamar mereka berada, menuju lobby hotel dilantai dasar. Mereka menaiki lift, dan itu tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke lobby. Mobil sudah terparkir di depan hotel dengan rapi, dengan segera mereka bergegas menuju mobil dan masuk kedalamnya. Sejurus kemudian Pak Yadi menghidupkan mesin mobil, dan secara berlahan mobil itu mulai berjalan meninggalkan parkiran hotel menuju jalan ramai yang sudah dipenuhi berbagai macam kendaraan.


Setelah berkendara selama 45 menit, mereka sampai pada gedung yang akan digunakan dalam acara hari ini, yang letaknya masih dalam lingkungan kampus. Suasana dalam parkiran itu sudah nampak banyak mobil berjajar dengan rapi, nampak beberapa keluarga mahasiswa yang sudah datang.


" Mbak apakah tidak apa - apa jika sampean harus menunggu disini ? "


" Memangnya kenapa, Mbak Fatma ? saya rasa menunggu disini tidak begitu buruk. Coba sampean lihat banyak juga yang menunggu diluar seperti kita Apalagi disini juga STAN makanan . "


" Maaf ya Mbak, tidak bisa mengajak sampean ke dalam "


" Tidak apa - apa Mbak Fatma, hari ini hari yang sangat brarti buat Tari mbak dan juga buat sampean berdua. Jadi sampean patut menikmati acara hari ini dengan nyaman.


" Lagian ya mbak kenapa kok pihak universitasnya itu kok pelit banget hanya menyediakan 2 kursi untuk pendamping, "


" Ya harus dibatasi mbak, nanti kalau tidak dibatasi bisa - bisa jumlah anggota pendampingnya memenuhi ruangan. Dan acara yang harusnya berjalan dengan hikmat pasti akan terganggu dengan kehadiran orang yang terlalu banyak. " Ucap Bu Darmi mencoba menjelaskan sekenanya.


" Pak, Bu, maaf ya tidak bisa mengajak kalian masuk. Saya minta izin untuk segera masuk sepertinya acara akan segera dimulai "


" Iya nduk sampean masuk, ngak usah menghiraukan kami "


Sebenarnya keluarga Tari begitu tidak enak hati, karena peraturan dalam wisuda hari ini hanya memperbolehkan 2 orang pendamping untuk setiap mahasiswa. Tapi mau bagaimanapun ini momen sekali dalam seumur hidup bagi keluarga kecil ini, setelah 4 tahun perjuangan Tari dalam menempuh pendidikannya hari ini adalah puncaknya. Perjuangan dalam menggapai gelar sarjana yang tidak mudah, banyak hal yang dia kobarkan demi mengejar gelar ini.


Tapi tiada hasil yang yang mengkhianati proses, hari ini Tari masuk dalam 3 besar lulusan terbaik dalam fakultasnya. Sungguh prestasi yang membanggakan, mengingat kuliah yang dijalaninya di tengah - tengah dia harus membagi waktunya. Belum lagi masalah biaya yang begitu berat bagi keluarga seperti Tari, tapi semua bisa terlewati dengan hasil yang sangat baik.


Mereka segera melangkahkan kaki menuju dalam gedung, namun sebelumnya mengisi buku hadir yang sudah terjajar tapi di depan pintu masuk. Para wisudawan duduk di depan panggung, sedangkan para pendamping duduk dibelakangnya. Tari memilih duduk dibelakang, menurutnya dia lebih mudah mengawasi kedua orangtuanya yang memilih bangku yang terletak di depan untuk barisan pendamping. Bukan tanpa alasan mereka memilih duduk bagian depan, karena mereka ingin melihat prosesi ini dengan jelas.


Tak lama berselang gedung yang semula sepi itu, sekarang sudah penuh. Acara pun segera dimulai saat jam menunjukkan pukul 08:30, dan beberapa sambutan mengawali acara di pagi hari ini. Tiba pula saat yang ditunggu - tunggu. Saat nama Nyimas Khodijah Bramastari disebut, dengan pasti gadis itu melangkah menuju panggung. Kedua malaikat itupun tak kuasa membendung butiran kristal bening itu, raut bahagia begitu menyeruak di mata mereka yang sudah basah.


" Alhamdulillah ya yah buk akhirnya Ijah bisa lulus juga "


" Iya nduk, Alhamdulillah nduk ibu masih belum percaya kalau anak ibu sudah bergelar sarjana "


" Terimakasih ya yah, buk, tanpa dukungan dari kalian Ijah tidak bisa mendapatkan ini semua."


" Terimakasih juga ya nak sudah menjadi gadis ayah yang selalu membuat ayah bangga. " Ucap pak Rahmat seraya mengusap pelan pucuk kepala putrinya.


Keluarga kecil itu nampak bahagia sekali, mereka berpelukan tanpa mempedulikan ada sepasang mata yang mengawasi mereka. Mata mengawasi itu dengan pandangan yang begitu begitu tajam seolah - olah menguliti orang yang sedang dipandangnya. Tapi kebahagian yang mereka rasakan tak mampu mengalihkan perhatian mereka terhadap hal lain. Sampai suatu deheman besar terdengar yang berhasil membuat perhatian mereka terpecah dengan segara menoleh kesumber sakura tersebut,....


" Eehhheemmmm "..


" Mas .......... "

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2