
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Ternyata pihak WO sudah mempersiapkan tenda untuk acara besuk siang itu. Beberapa orang tengah memasang tenda yang menutupi seluruh halaman depan rumah kecil itu. Sedangkan yang lainnya mempersiapkan teras samping sebagai tempat makan. Nampak Pak Rahmat dan Pak Rudi juga ikut membantu dan beberapa orang tetangga mereka.
Sedangkan Bu Fatma dan Bu Yuli dan beberapa tetangga menggoreng pisang untuk teman teh yang akan dihidangkan, dan mempersiapkan beberapa hal untuk acara besuk. Tetangga disekitar rumah Fatma sudah berdatangan untuk membantu mempersiapkan besuk. Karena mereka tinggal di desa sudah menjadi tradisi tetangga akan datang untuk membantu tanpa diminta. Dou kembar tak henti - hentinya membuat suasana dapur di sore itu menjadi ramai dengan tingkah mereka. Sedangkan Tari masih belum keluar dari kamar setelah kedatangannya dari pantai tadi.
" Mbak Yuli, saya tidak habis fikir kenapa ya anaknya sampean itu kok bisa kayak anaknya orang Arab. Padahal kan Yo ngak ada keturunan orang Arab sama sekali. "
" Saya juga heran Lo Bude Ani, kok bisa lahirnya seperti itu saya dulu pas lahiran tak kira tertukar ternyata tidak. "
" Laiyo kok bisa Yo Mbak Ani. " Ucap Bu Tias ikut menimpali.
" Dulu pas saya hamil mereka mbak, saya naik kereta la saya duduk berseberangan sama bapak - bapak yang ternyata orang Arab. MasyaAllah ganteng sekali mbak orangnya, Lah tiba - tiba Itu Lo saya pengen dielus - elus perut saya sama orang itu. Akhirnya saya beranikan diri untuk minta dielus, ternyata orangnya mau Bude Ani mengelus perut saya. Bahkan bukan hanya mengelus, dibacakan saya surat Yusuf sambil beliau mengusap perut saya. "
" Oalah mbak begitu ceritanya, lucu Yo mbak keluar kok Yo jadi Arab tenan. "
" Iya mbak, saya juga bingung. Dulu waktu masih kecil setiap kami pergi ke mana saja saya dikira ngasuh anak majikan mbak. "
" Hayo ngomongin siapa ? " Tanya Irsyad yang baru saja datang dari depan mengantar kan pisang goreng dan teh.
" Ngomong ke bocah Nganteng kilo " Ucap Bude Ani sambil menjebak pipi Irsyad.
" Bude bisa saja, gimana bude mau dijadikan calon mantu apa tidak ? " Merasa dipuji Irsyad hanya tersenyum dengan lebarnya.
" Kalau bude yo mau - mau saja, siapa ngak seneng dapat mantu Nganteng pinter ngaji pula. Memangnya sampean mau nunggu Icha gede dulu le ? "
" Tenang saja Bude tak tungguin Ichanya, biar kata nanti aku jadi jaka tua hehehehe "
" Bang Irsyad, Bang Irhas mana ? " Tanya Bu Yuli.
" Didepan bu, sama Ayah, " sambil bergelendot manja bersender di bahu Bu Fatma.
Sementara itu di dalam kamar Tari baru saja selesai dengan kewajibannya sebagai seorang muslim yang sedikit terlambat karena dia pulang dari pantai sudah sore. Kemudian dia membuka laptop yang berada diatas meja dibukanya email, barangkali ada email masuk dari Pak Anton mengenai laporannya kemarin. Setelah dari laptop dia beralih ke handphone, dia membuka aplikasi bergambar telefon berwarna hijau itu. Benar saja ada beberapa pesan yang masuk dari grup chat maupun chat pribadi. Dia membuka ruang chat milik Mbak Rina, karena beberapa hari ini mereka tidak berkomunikasi.
✉️ Assalamualaikum
Sepi bener calon manten satu ini ......
✉️ Walaikumsalam
Kalau ngak ada apa - apa terus teriak - teriak kan malah lucu mbak. Tumben - tumbenan chat, Gimana keadan dedek sudah bisa melek belum ?
Tari menatap layar handphonenya, kemudian tersenyum ketika mengingat bagaimana kehamilan Mbak Rina yang sangat lucu. Tidak pernah bisa membuka mata, yang ada hanya tidur seharian penuh. Dan masih ada lagi dan juga tidak bisa mandi, sekalinya mau mandi itupun harus di rumahah orang lain. Tak lama berselang handphonenya kembali berbunyi menandakan sebuah pesan masuk.
✉️ Alhamdulillah Baek semua Tar, entahlah hari ini berbeda aku saja ini habis mandi. Bagaimana persiapannya ? dedeknya ngerti kalau mau diajak ke kondangan jadinya pinter 🤭🤭.
✉️ Alhamdulillah akhirnya mandi juga, iya dedeknya pinter bangat semoga seterusnya begitu ya mbak. Alhamdulillah persiapannya lancar mbak, tendanya juga sudah mulai dipasang.
✉️ Alhamdulillah semoga lancar sampai hari H ya, Insyaallah pas acara nikah kami akan datang.
✉️ Iya mbak, semoga pas dedeknya ngak rewel aku seneng banget kalau sampean bisa datang.
__ADS_1
Setelah berbalas chat dengan Mbak Rina dia pun merebahkan tubuhnya diatas kasur, tidak lama terdengar nada telefon dari Handphonenya. Dia mengambil dari atas meja kemudian menggeser tombol hijau.
📞 " Assalamu'alaikum " tidak ada suara menjawab sampai beberapa detik setelahnya.
📞 " Halo, "
📞 " Halo, dengan siapa ? "
📞 " Mas atau mbak, baiklah akan saya matikan kalau tidak ada jawaban. " kemudian terdengar suara isakan dari ujung telefon.
📞 " hiks, hiks, hiks ......... "
📞 " Halo mbak ini siapa " Kemudian Tarin mengalihkan handphone menempel di telinganya dan melihat siapa yang sedang menelfonnya.
📞 " hiks, hiks, Ijah Ijah tolong aku. "
📞" Dinda, ada apa ? kenapa kamu menangis ?"
📞" Ijah aku hancur tolong aku jah, tolong aku hiks, hiks "
📞 " Kamu dimana sekarang, aku akan tempatmu "
📞 " Aku dialfa****, hiks, hiks "
📞 " Tunggu disitu jangan kemana - mana aku akan kesana, tunggu akau. "
Ijah terlihat khawatir tidak biasanya Dinda menelfonnya dalam keadaan sefrustasi itu sebenarnya apa yang telah terjadi pada temennya itu. Dengan tergesa - gesa dia mengambil jaketnya dan berjalan keluar kamarnya. Dia melangkah keruang tamu didapatinya Irhas yang sedang membaca.
" Bang Irhas ayo anterin Mbak sebentar saja ke alfa****, keadaan mendesak. "
" Iya Bang keadaan darurat ayo, "
" Ayo Mbak, " berdiri sambil mengambil kunci yang ada di atas meja.
Mereka berdua berjalan keluar rumah dengan sedikit tergesa - gesa, dengan segera Irhas mengambil kunci sepeda motornya dan menjalankannya membelah jalan raya yang mulai gelap. Sepeda itu berjalan sedikit ngebut sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ketempat tujuan. Sampailah mereka di depan sebuah mini market, nampak terparkir sebuah mobil berwarna merah. Tari yang mengetahui itu milik temennya langsung menghampiri mobil itu dan mengetuk kaca jendela bagian pengemudi.
Sejurus kemudian pintu terbuka, nampak seorang gadis dengan keadaan yang memprihatinkan. Matanya sembab, karena sepertinya sudah lama menangis dan nampak sekali mukanya yang lelah dan putus asa. Tari yang melihat temannya itu dengan keadaan demikian, dengan segera menarik temannya ke dalam pelukannya. Tangis gadis itu pecah kembali ketika Tari memeluk dan menepuk punggungnya perlahan.
" Kamu sudah makan Din ? " Tari bertanya sambil melepaskan pelukannya dan bertanya kepada Dinda.
Gadis itu hanya mengeleng mendengar pertanyaan Tari. Sementara butiran kristal bening masih setia berjatuhan di mata yang sudah sembab itu.
" Baiklah kita makan dulu ya, ayo ikut aku. Kita makan bakso disana, bakso kesukaan kamu. " Tari menuntun temannya itu dan menunjuk warung Bakso yang berada diseberang mini market.
Tari mengandeng tangan Dinda, untuk menyeberangi jalan raya yang sedang sepi diwaktu menjelang Maghrib ini. Sedangkan Dinda hanya menurut dengan semua perlakuan yang diberikan temannya itu. Air mata yang tadi mengalir kini mulai mengering. Mereka masuk kedalam warung dan memesan 3 porsi bakso sepesial, menu favorit mereka ketika berkunjung kesini.
" Ayo Din, dimakan dulu baksonya nanti keburu dingin Lo, Pasti kamu lapar. " Jujur saja Saat Tari memeluk Dinda tadi dia mendengar suara perut Dinda yang menandakan bahwa yang punya perut sedang lapar.
" Mbak Tar, sudah lama ya kita ngak makan disini ?, memang rezeki anak Sholeh dari tadi ditraktir terus. Semoga rezekinya barokah ya mbak ku yang paling syanteeeeeekkkkkk kayak Syahroni. "
" Apa sih bang Sudah ayo cepat dimakan Bang. " jawab Tari, bisa - bisanya anak ini bercanda di waktu seperti ini fikirnya.
__ADS_1
Mereka bertiga makan dengan hening karena ketiganya larut dalam fikiran mereka masing - masing. Hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan mangkok, tak membutuhkan waktu yang lama mereka menyelesaikan malamnya.
" Alhamdulillah, kenyang juga. " Ucap Irhas, mencoba mencairkan suasana.
" Din, ayo kita pulang. "
Dinda hanya tertunduk, bahunya terguncang Pelan dan terdengar suara isakan. Tari merasa heran sebenarnya apa yang sedang terjadi, kenapa sahabatnya itu seperti ini. Padahal Dinda adalah anak yang ceria, kepadanya sekarang benar - benar sangat memprihatinkan.
" Din sebenarnya ada apa, kenapa kamu seperti ini ?"
" Aku, .......... "
" Kalau kamu percaya sama aku silahkan kamu berbagi sedikit saja apa yang menjadikan kamu seperti ini. Barangkali dengan kamu berbagi dengan ku akan mengurangi rasa sakitmu. "
" Entahlah Jah aku harus mulai dari mana dulu " Dinda berusaha untuk menyampaikan suatu hal, tapi dia bingung apakah temannya itu akan mempercayai ucapannya atau tidak. Setidaknya itu yang dia rasakan sekarang,.
" Ya sudah pelan - pelan saja aku akan mendengarkan semua cerita mu, Insyaallah aku juga akan percaya kepadamu. "
" Mbak aku Sholat Maghrib dulu ya di Masjid dekat polsek itu ya, setelah selesai aku langsung kesini. Ini nitip handphone ku. " Karena adzan Maghrib sudah berkumandang dan Irhas merasa kalau kedua teman akrab itu akan membicarakan hal yang penting alangkah baiknya jika dia pergi.
" Iya ati - ati bang setelah selesai langsung kesini. "
" Siip mbak, Assalamualaikum " Ucap Irhas yang sudah meninggalkan dua wanita itu.
"Walaikumsalam, Ayo Din, sekarang kamu sudah bisa bercerita. "
" Aku tidak tahu Jah, kenapa aku bisa melakukan ini jujur saja aku tidak siap dengan semua ini. Dan kami pun melakukannya pun tidak sengaja. " Dengan air mata yang kembali membasahi pipinya.
" Iya, melakukan apa Din ? " Tari benar - tidak tahu dengan maksud Dinda.
Dinda pun kembali terisak lebih dalam, Tari pun segera menggenggam tangannya. Mencoba memberi kekuatan kepada temannya itu,
" Jah, aku membuat suatu kesalahan, aku sudah hancur Jah. " Sambil memegang perutnya.
" Din tidak ada suatu masalah tanpa jalan keluarnya, pasti setiap masalah ada jalan keluarnya. Coba kamu cerita yang jelas pokok dari masalah yang sedang kamu alami. " Masih dengan menggenggam tangan temennya itu, serta menatapnya dalam berharap temannya itu mau sedikit membagi bebannya.
" Aaaaakuuu, aku hamil Jah, "
Seketika Tari tertegun dengan pengakuan Dinda, dirinya tak habis fikir bahwa temannya itu mampu melakukan hal tak terpuji semacam itu. Sampai dia tidak sadar butiran kristal bening jatuh membasahi pipinya. Dipandangnya lekat sosok yang ada dihadapannya itu, seraya mempererat genggaman tangannya.
" Apa aku tidak salah dengar Din ? "
" Tidak, " jawab Dinda sambil menggeleng lemah.
" Dengan siapa Kamu melakukannya ? "
" Kami tidak sengaja melakukannya Jah sungguh. "
" Sengaja atau tidak Din itu sudah kalian lakukan, dan seharusnya kamu tahu kosekuensi perbuatan mu itu. Bagaimana kamu semudah itu menyerahkan kehormatan mu dengan mudah. "
" Aku salah jah, " Dia kembali terisak.
__ADS_1
" Siapa orangnya, dia harus bertanggung jawab Din ? Ucap Tari dengan serius ...........
Bersambung ........