
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Ibarat menyatukan kembali pecahan - pecahan kaca yang sudah terlanjur hancur seperti itulah ketika kita mencoba menghapus kesalahan yang telah kita lakukan kepada orang lain. Sama - sama akan menyakitkan untuk kedua belah pihak.
Tidak ada satupun kesalahan yang tidak bisa dimaafkan, tetapi sebuah goresan akan tetap menjadi sebuah goresan yang akan selalu membekas selamanya. Memaafkan bukan perkara yang sulit tetapi menerima dan mengikhlaskan adalah sebuah hal yang besar.
Kualitas seseorang diuji ketika dia harus mampu menerima dan mengikhlaskan apa yang menjadi tujuan hidupnya tetapi Allah belum mengijinkan dia untuk meraihnya. Bukan kah jodoh adalah cerminan dari diri kita ........
" Mbak Tar kenapa diam ? "
Wanita itu duduk di sebelah jendela kamarnya menatap langit yang tertutup mendung sehingga cahaya bulan dan bintang tak sampai menyentuh permukaan bumi.
" Tidak apa - apa Dah ....... " Tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
" Semenjak tadi pagi Mbak Tari tidak keluar kamar, tadi pun tidak kerumah singgah ? "
" Sungguh tidak terjadi apapun padaku. "
Wanita bertubuh jangkung itu berjalan duduk dengan menekuk kedua kakinya. Mengenggam tangan wanita yang baru dikenalnya tiga bulan terakhir ini, seakan ingin merasakan sesuatu yang sedang dirasakan temannya itu. Tari menatap Wardah dengan pias, hatinya ingin mengatakan segala keluh kesahnya tapi mulutnya tak sanggup untuk berucap.
Dengan susah dia mencoba menahan butiran kristal bening itu agar tidak jatuh, mengatur nafas mencoba mengurangi sesak di dadanya. Wardah mengusap tangan yang melepuh karena tersiram air panas tadi pagi itu dengan pelan. Untuk mengurangi rasa sesak yang dialami temannya itu.
" Mbak ada kalanya kita harus menangis agar sakit di hati kita bisa hilang. "
Dan seketika itu pula butiran kristal bening itu jatuh membasahi pipi mulus gadis itu. Bahunya naik turun terisak tanpa suara, mengisyaratkan betapa dalamnya sakit yang dia rasakan. Tangis tanpa suara tapi terasa begitu sakit bagi orang yang melihatnya.
Wardah prihatin dengan keadaan temannya itu, tapi tidak ada suatu hal yang bisa dia lakukan dia tidak berani untuk ikut campur dalam urusan temannya itu. Yang bisa dia lakukan hanya menggenggam tangannya untuk sedikit mengurangi beban yang ada dalam hati temannya itu.
****************
Keluarga Gus Reyhan kedatangan anggota keluarga baru yang sudah di tunggu kedatanganya selama 9 bulan ini. Seorang bayi lucu berkulit bersih berhidung mancung dengan rambut yang lebat. Yang mampu membawa kebahagiaan untuk keluarga kecil itu.
" Sayang kenapa ya semuanya mirip sama sampean kok aku ngak ada mirip - miripnya dengan ku ? " Sembari menatap putra mereka yang berada di gendongannya.
" Allah sungguh Maha Adil Gus, biar pun tidak mirip sampean setidaknya dia laki - laki seperti Abinya. Dan semoga sifatnya sesholeh Abinya. Amien ...... "
" Terimakasih istri Sholehah ku sudah menyempurnakan agamaku terutama hidupku. " Sembari mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh cinta
" Terimakasih juga suamiku sudah menjadikan ku bidadari surga mu ...... "
Kedua pasangan suami istri begitu bahagia dengan apa yang Allah berikan pada rumah tangga mereka. Pasangan suami istri yang saling melengkapi satu sama lain, yang saling mengingatkan dalam hal kebenaran, berjalan bersama menuju Jannah-Nya.
" Gus sampean sudah memberi kabar pada Tari ? "
" Sudah kemarin, pas pertama sampean masuk sini. " Sambil meletakkan putranya ke dalam books bayi kemudian berjalan duduk di sebelah istrinya yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
__ADS_1
" Tumben dia ngak ada pesan kepadaku sejak kemarin, ngak tahu kenapa ya tiba - tiba fikiranku merasa tidak enak. "
" Mungkin dia sedang sibuk, besuk pagi - pagi sampean bisa menghubunginya ini sudah malam cepat lah tidur. " Sambil membetulkan selimut istrinya lalu mengecup kening istrinya dengan penuh sayang.
***************
Gadis itu sudah tertidur dengan meringkuk memeluk gulingnya dengan erat. Wardah menatapnya dengan pandangan penuh tanya apa hal yang membuat wanita seperti Tari bisa seperti ini. Memang Tari sosok yang pendiam dan cenderung menutup diri terhadap orang lain tapi tidak pernah dia melihat Tari seperti ini, seperti menanggung beban yang teramat berat
Diambilnya Handphonenya yang berada diatas nakas , mengusap benda pipih itu untuk mencari kontak seseorang. Yang mungkin bisa menjelaskan suatu hal yang dialami teman sekamarnya itu.
✉️ Assalamualaikum, maaf malam - malam begini mengganggu, ini tentang Mbak Tari. Seharian ini dia terlihat tidak baik hanya diam dan menyendiri dan terakhir dia menangis sampai - sampai tertidur. Dia terlihat begitu terluka, aku sangat menghawatirkannya.
Dikirimkannya sebuah pesan kepada sebuah kontak melalui aplikasi berikon telefon berwarna hijau. Setelah terkirim dia meletakkan handphonenya ke tempat semula.
" Mbak sebenarnya apa yang terjadi, semenjak kejadian tadi pagi sampean jadi begini. Sebenarnya ada apa antara sampean sama laki - laki tadi. Tidak mungkin kalau tidak apa - apa sampean jadi seperti ini. Selama kebersamaan kita tidak pernah sampean seperti ini. Bukan seperti Mbak Tari yang aku kenal, Sampean begitu rapuh dan juga terlihat menyimpan rasa yang begitu sakit. "
Dddrrrrtttttttttt
Handphonenya berbunyi nampak notifikasi pesan masuk dari aplikasi berikon telefon berwarna hijau itu. Segera dia mengambil handphonenya kemudian membaca pesan itu.
✉️ Walaikumsalam Mbak Wardah, Bagaimana keadaan Mbak Tari sekarang ? Apa dia merasakan sakit pada kepalanya Mbak ?
Dengan cepat wanita bertubuh kurus itu membalas pesan yang dia dapat setelah membacanya.
✉️ Mbak tolong jaga Mbak Tari untuk malam ini, besok kami pagi - pagi sekali kami akan kesana.
✉️ Iya pasti tanpa kalian pinta pun aku akan melakukannya. Assalamualaikum .....
✉️ Terimakasih, Walaikumsalam
Wardah beranjak dari tempat tidurnya menuju pintu, dia merasa kehausan dan ingin mengambil air putih ke dapur. Dia melangkahkan kaki menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu. Dan keadaan disana masih ramai karena masih sekitar jam 20 : 00, banyak penghuni asrama yang tidak pulang Minggu ini. Menjadikan suasana malam Sabtu kali ini menjadi sedikit ramai.
Wardah terus berjalan menuju ruang makan, membuka kulkas mengambil botol air besar dan segera menuangkan air ke dalam botol yang ukurannya lebih kecil. Belum selesai menuangkan air ke dalam botol yang dibawanya dia kaget karena ada suara deheman yang cukup membuatnya kaget.
" Ehemm....... "
" Astaghfirullah .......... " Ucapnya karena kaget.
" Kenapa harus kaget seperti itu, aku bukan hantu. "
" Tapi Pak Rizki itu membuat saya kaget, kalau saya kena serangan jantung bagaimana. Heran deh seneng banget ngusulin saya. " Ucapnya sembari menutup pintu kulkas kemudian duduk di kursi meja makan.
" Dah, Tari kemana tidak biasanya dia tidak datang ke rumah singgah tanpa memberitahu sebelumnya. Saya kirim pesan pun tidak di balas. "
" Ehms, .......... Mbak Tari ada Pak, cuma ...... kurang enak badan saja. "
__ADS_1
" Apa dia sakit ? "
" Bagaimana ya Pak, mungkin sedikit kurang enak badan. "
" Apa dia baik - baik saja ? atau sebaiknya kita bawa kedokter ? "
" Tadi sudah minum obat Pak, Pak Rizki tidak perlu khawatir kalau besuk belum ada perubahan. Pasti aku akan membawanya ke dokter. "
" Kalau ada apa - apa segera hubungi aku ya. "
" Siap Bos ...... ;!!!!!! "
" Besuk - besuk kerudung itu sering - sering di cuci biar baunya ngak kayak gini " Ucap Pak Rizki sambil berlalu sembari menutup hidungnya.
" Pak Rizki ....... !!!!!!! " Teriak gadis kurus itu bersungut - sungut.
Dia tak habis fikir kenapa atasannya itu senang sekali meledeknya, tidak waktu jam sekolah maupun jam bebas seperti sekarang. Gadis kurus itu menggerutu sepanjang langkah kakinya meninggalkan ruang makan.
Mendudukkan tubuhnya di sofa panjang yang masih belum terisi. Dia terdiam sejenak sambil memainkan botol minum yang telah terisi penuh air putih. Mencoba mencerna kejadian yang terjadi beberapa hari belakangan ini. Sikap Tari yang berubah membuatnya bertanya - tanya apa yang sebenarnya terjadi pada wanita yang sudah dianggapnya sebagai saudara itu. Setelah sekian lama berfikir dan tidak mendapatkan jawaban akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
***********
Sementara di tempat lain nampak sepasang laki - laki dan perempuan sedang duduk berseberangan entah apa yang sedang dibicarakan. Makanan serta kopi di depan mereka pun tak tersentuh walaupun menguarkan aroma yang menggugah selera. Tak mampu menggoda indera pengecap mereka untuk sekedar mencicipinya.
Pembicaraan yang mereka lakukan terlampau serius sehingga tak mampu mengalihkan perhatian mereka.
" Sebelumnya tidak pernah terfikir olehku, kalau lagi - lagi takdir mempertemukan kami kembali. "
" Siapa kita yang bisa menentang Takdir -Nya ? " Sambil jari jemarinya bertautan mencoba mengalihkan rasa gugupnya.
" Sungguh ini memang diluar kendali ku. "
" Apalah daya kita, memang ini jalan yang harus kita lewati. Aku berharap ini semua tidak merubah keputusan yang Mas ambil. Dan Mas juga memperjuangkan aku sama sepertiku yang juga memperjuangkan Mas. "
" Semoga saja semua sesuai dengan keinginan kita. " Jawabnya sambil meraih cangkir kopi yang asapnya sudah mulai berhenti mengepul. ........
" Andai saja aku boleh memilih aku ingin dipertemukan lebih dahulu dengan mu dari pada dirinya Mas. Agar aku bisa mendapatkan rasa cintamu terlebih dahulu. "
Laki - laki itu meletakkan gelas cangkirnya kembali keatas meja, seraya memandang lekat wanita yang ada didepannya. Berusaha mengahalau perasaan yang menggangunya selama ini dan berusaha meyakinkan pada dirinya bahwa ini adalah hal yang dipilihkan takdir untuknya.
" Sungguh itu perkataan yang tidak harus sampean katakan, bukan yang lebih awal atau yang pertama pada akhirnya, yang menjadi utama adalah yang halal di hadapan-Nya jangan pernah meragukan ketatapan yang sudah menjadi takdir kita. "
Keadaan kembali sunyi, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing - masing. Mencoba memahami takdir kemana membawa mereka ketujuan selanjutnya sampaikah ketujuan yang mereka berdua inginkan ataukah harus berhenti ditengah jalan.
Bersambung ............
__ADS_1