
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Beberapa saat lalu tamu yang mengunjungi rumahnya telah pulang. Hanya menyisakan Bu Fatma, Irsyad dan Irhas yang akan menginap di rumah mereka. Bu Fatma menempati kamar di lantai bawah, yang sudah Gus Syam siapkan sebelumnya. Sedangkan Irsyad dan Irhas masih belum beranjak dari ruang tv karena mereka sedang asik bermain PS dengan sang pemilik rumah.
Sementara Tari naik ke atas dilantai dua tempat dimana kamarnya dan Gus Syam berada. Kamar yang cukup luas yang terbagi lagi menjadi dua ruangan. satu ruangan yang hanya berisi kasur berukuran besar dengan sprei berwarna putih dan ruangan yang lain sebagai walking closed yang menyatu dengan toilet.
Tari menyusuri kamar yang akan dia tempati, memperhatikan setiap detail dalam ruangan itu dia berjalan ke arah walking closed. Lemari setinggi atap yang dipenuhi dengan cermin, memenuhi sisi dinding ruangan itu, sementara sisi dinding yang lain dipenuhi lemari kaca dengan sekat - sekat sehingga memperlihatkan isi di dalamnya.
Jauh dari ekspektasi yang dia bayangkan memiliki semua hal seperti ini sekarang. Kemudian dia membuka toilet yang berada satu ruangan dengan walking closed itu. Seperti yang sudah dia perkirakan melihat kamar dan walking closed, kamar mandi dengan fasilitas seperti kamar hotel yang berada di depannya.
" Bagaimana sampean suka ? "
" Mas. " Ucapnya kaget ketika suaminya itu sudah di belakangnya, meletakkan dagunya ke atas pundak miliknya.
" Apapun yang sampean siapkan, saya akan suka mas. " Jawab Tari.
" Dek gantilah bajumu, ini sudah malam sudah saatnya sampean istirahat. "
Gus Syam menuntun istrinya itu, kearah walking closed. Menggeser salah satu pintu lemari, sudah terisi beberapa baju panjang miliknya. Dia mengambil salah satu dari baju yang digantung, kemudian memberikan kepada istrinya.
" Ayo cepat ganti bajunya, yang ini bau rumah sakit. " Ucapnya sembari menutup hidung mancungnya dengan muka meringis.
Tari menerimanya, kemudian berlalu meninggalkan Gus Syam yang tengah sibuk mencari baju miliknya.
Ketika dia sudah menemukan apa yang dia cari, dia berbalik dan menyadari bahwa istrinya itu sudah meninggalkannya. Dia hanya tersenyum ketika menyadari, jika istrinya itu ke toilet untuk Menganti bajunya. Ketika Tari keluar dari kamar mandi dia sudah berada diatas tempat tidurnya, duduk bertumpu di kepala ranjang.
" Sebentar Mas, saya tadi belum sholat Isyak. " Saat dia melihat suaminya itu menunjuk sisi ranjang yang kosong.
Segera digelar sajadah dan dia melakukan kewajibannya, sementara sang suami matanya enggan beralih sedetikpun darinya. Sejujurnya Tari merasa sangat gugup, ini pengalaman pertamanya satu ruangan bersama sang suami. Tak tahu apa yang harus dia lakukan, sedari tadi dia hanya berusaha mengulur waktu berharap sang suami terlelap lebih dahulu. Namun keinginannya itu sepertinya hanya isapan jempol belaka, buktinya sedari tadi sang suami menatapnya dengan wajah yang sulit diartikan.
" Dek, ini sudah waktunya tidur sampean mau kemana lagi. "
" Aannu Mas, tenggorokan saya kering. Saya ambil minum di bawah dahulu. "
Gus Syam menghentikan langkah istrinya, saat dia sudah menggenggam gagang pintu. Mengambil tangannya kemudian menuntunnya kearah ranjang dan menyuruh istrinya untuk duduk. Kemudian membuka nakas yang berada di sisi ranjang, nampak beberapa botol air mineral berjajar disana dia mengambil salah satunya. Membuka tutup botol itu sebelum memberikan ke istrinya. Tari meminum air yang diberikan suaminya hampir setengah, berharap dapat menghilangkan kegugupannya.
" Dek " Ucapnya lembut, sembari berjongkok di depan Tari yang terduduk di pinggir ranjang.
" Iiya Mas. "
" Ada yang sampean fikirkan ? "
" Ti ..... tidak Mas. "
" Aku mengerti, namun aku akan setia menunggu sampai sampean siap. " Dia berkata sembari menggenggam tangan istrinya dan menatapnya lembut.
Tatapan Gus Syam seakan mengisyaratkan bahwa tidak ada hal yang harus dia sembunyikan dari suaminya.
" Maafkan aku Mas, Biarlah semua ini menjadi jelas terlebih dahulu bukan saya meragukan sampean. Namun sebagai wanita saya ingin semua jelas. "
" Sampai kapanpun aku akan siap menunggu sampean Dek, Selama 2 tahun ini saja aku sanggup apa lagi yang hanya menunggu hitungan hari. "
" Saya harap, sampean tidak kecewa mas. "
" Jelas tidak Dek, aku ingin yang terbaik untuk sampean tidak mungkin aku menyakiti orang yang paling aku cintai. " Sambil diciumnya tangan istrinya itu.
Gus Syam menuntun Tari untuk merebahkan diri sebelumnya menata Bantal yang akan Tari gunakan terlebih dahulu. Merebahkan istrinya itu, kemudian menyelimutinya sampai dada. Kemudian dia tidur di sisi ranjang sebelah Tari, sampai lama keduanya terus terjaga sampai pada akhirnya Tari memiringkan tubuhnya menghadap suaminya.
" Ada apa, "
" Rasa kantuk ku entah kemana. " Di iringi senyum sambil menatap ke arah suaminya.
" Jangan menatapku seperti itu. "
" Baiklah kalau begitu. " Tari memutar tubuhnya sehingga kini membelakangi sang suami.
__ADS_1
Gus Syam menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya, tangan kanannya menelusup memeluk perut Tari. Sedangkan tangan kirinya perlahan melepas kerudung yang masih Tari kenakan.
" Biarkan ini menjadi ladang pahala sampean dek, " Ucapnya ketika kerudung milik istrinya itu sudah terbuka.
Dengan gerakan pelan, Gus Syam membalik tubuh istrinya itu sehingga menghadap kearahnya. Sehingga pandangan mereka bertemu, tangannya menyingkirkan beberapa anak rambut istrinya.
" Cantik sekali. "
" Mas, "
" Dek, sebelumnya aku tidak pernah bermimpi bisa seperti ini. Namun aku meyakini bila sampean adalah jodohku, di setiap sujudku aku memintanya. Dan betapa beruntungnya aku, Allah mengabulkan permintaanku. "
" Yang beruntung itu aku Mas, sampean mau menerima ku tanpa syarat apapun. "
" Karena sampean sudah memenuhi syarat yang aku pinta pada-Nya. Terimakasih ya Dek, ingat jangan pernah lepaskan genggaman ini apapun yang terjadi. "
" Insyaallah Mas. "
Keduanya pun akhirnya terlelap dengan saling memeluk, ketenangan dan kedamaian malam itu terasa berbeda mereka rasakan. Dengan hadirnya orang yang dicintai dalam sisi kita akan membawa hal baru dalam kehidupan.
**********
Tari terbangun seperti biasanya, dia tersenyum ketika dia menyadari dia tertidur di dalam pelukan suaminya. Laki - laki yang mencintainya dengan caranya sendiri, yang menghalalkan dia dengan caranya sendiri pula. Harum nafas cendana mengisi indera penciumannya, bahkan memenuhi relung hatinya yang sumula kosong. Dia menyusuri rahang kokoh suaminya itu menggunakan jemarinya, terasa kasar karena mungkin si pemilik beberapa hari belum mencukurnya. Yang memancing sang pemilik untuk mengeliat.
" Mas, ayo kita sholat Tahajud dulu. "
" Sebentar lagi Dek. "
Tari meninggalkan suaminya yang masih enggan bangun, membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah selesai dia mempersiapkan keperluan suaminya, dan segera membangunkannya.
" Ayo Mas. "
" Sebentar lagi Dek. "
" Aku sudah mempersiapkan air hangat nya, serta baju dan sarung sampean. "
" Baiklah sampean tunggu sebentar ya dek. "
Gus Syam menyelesaikan bersih - bersihnya dengan cepat karena tak ingin istrinya menunggu lama. Setelah selesai bersiap dia segera menghampiri istrinya yang sudah menunggunya.
Allahu Akbar .......
*************
Semenjak turun tadi senyum keduanya tak pernah hilang, bahkan Gus Syam selalu mengikuti kemana istrinya itu pergi. Seperti saat ini yang ikut membantu Tari memasak di dapur.
" Ibuk lihat tadi di kulkas ada banyak bahan makanan lo nduk, masak apa kita hari ini ? "
" Memanfaatkan yang ada di kulkas saja Buk, "
" Tanya Masmu mau dimasakkan apa. "
" Saya makan semuanya Buk, apa saja doyan asalkan tidak pedas saja. " Jawab Gus Syam yang berdiri di samping Tari yang sedang mencuci beras. "
" Jadi ngak Suka pedas Le ? "
" Mboten Buk. "
" Kebalikannya Ijah berarti, Ijah ngak akan makan kalau tidak pedas. "
Tari membuka kulkas yang ternyata isinya lumayan lengkap, sungguh suaminya itu sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Bahkan pada hal - hal sekecil itupun tidak luput dia persiapkan.
" Buk, sudah matang ...... " Ucap Irsyad yang baru saja masuk dari halaman belakang. Tubuhnya nampak berkeringat dan nafasnya nampak terengah-engah.
" Sebentar lagi, sudah sana sampean bersih - bersih dulu. "
__ADS_1
" Sudah bangun Gus, ? " Tanya Irhas yang langsung duduk di sebelahnya.
" Hari ini ada acara apa ? "
" Tidak ada Gus, nanti kami akan pulang ke rumah. Ada apa memangnya ? "
" Kenapa kalian pulang, seharusnya kalian disini saja dulu. "
" Ada hal yang harus kami urus Gus, Insyaallah kalau ada waktu luang kami pasti akan datang. "
" Sepertinya Jumat saya harus kembali ke Jakarta, saya ingin kalian tetap disini menemani Mbak kalian. Aku tidak tega kalau meninggalkan mereka hanya berdua disini. "
" Mbak Tari sudah tau Gus kalau sampean mau ke Jakarta lagi ? "
" Saya belum bisa memberitahunya. " Ucapnya sembari menghembuskan nafas panjang.
Setelah kejadian yang dialami istrinya, dia seperti tidak tega jika harus meninggalkan istrinya itu. Meskipun Bu Fatma selalu mendampingi kemanapun istrinya pergi, tapi perasaan khawatir itu tetap ada. Terlebih lagi Tari sering sekali melamun dan pada akhirnya akan meneteskan air mata. Dia berfikir mungkin saja kehadiran sepasang kembar itu bisa menghibur istrinya.
" Mas, Monggo sarapan dulu makanannya sudah siap. " Ucap Tari yang menghampirinya.
Gus Syam meletakkan tablet yang semula dia baca ke atas meja, kemudian menggenggam tangan istrinya hal yang menjadi kebiasaan barunya.
" Dek, sampean jangan memaksakan untuk masak atau melakukan pekerjaan rumah dulu. Nanti ada Lek Parti yang membantu pekerjaan rumah. Jadi sampean biar bisa beristirahat, Oiya setelah ini sampean bersiap ya nanti kita laporan ke kantor ya.
" Enggeh Mas, ayo kita makan dulu. "
Mereka semua sudah berkumpul di meja makan, beberapa menu sudah tersaji diatas meja. Tari mengambilkan nasi ke dalam piring suaminya, memenuhi dengan semua lauk yang tersedia.
" Monggo Mas, " Ucapnya sembari menganggsurkan piring kearah suaminya.
" Buk, Irhas mau perkedel tahunya. "
" Irsyad juga Buk "
Mereka saja selalu menjadi anak laki - laki kesayangan Bu Fatma, meskipun mereka sudah beranjak dewasa namun tidak mengurangi sifat manja mereka kepada wanita paruh baya itu.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam. " Jawab mereka serentak.
Nampak Rina berjalan sembari mengendong Mikhail yang diikuti oleh Gus Reyhan di belakangnya.
" Pas sekali, masih ada kan sarapan buat kami. "
" Ada nduk, ayo sini duduk kita sarapan bersama, monggo Gus " Bu Fatma segera berdiri dan menyiapkan peralatan makan untuk kedua tamunya itu.
" Niat sekali sampean Mas pagi - pagi sudah bertamu. " Sindir Gus Syam pada kakaknya itu. Yang hanya ditanggapi dengan senyum oleh Gus Reyhan.
" Namanya juga punya tetangga baru, jadi harus sering dikunjungi biar semakin akrab. " Jawab Gus Reyhan santai, yang sudah duduk di meja makan dengan piring yang sudah penuh terisi.
Baby Mikhail langsung merentangkan kedua tangannya saat dia melihat Tari, dengan muka yang seolah akan menangis. Untung saja Tari sudah menyelesaikan sarapannya, lalu segera mencuci tangannya dan menghampiri bayi gembul itu.
" Sini sayang, sama Nda. " Tari mengambil alih bayi gembul itu dari gendongan Aminya.
" Mikhail, pagi - pagi sudah mengakuisisi istriku. " Gerutu Gus Syam.
Tari hanya bisa menggeleng ketika melihat tingkah laku suaminya, sejak kemarin dia pasti akan tak henti - hentinya menggerutu saat dia mengendong Mikhail. Namun bayi gembul itu malah tertawa riang saat Tari menggodanya, membuat Gus Syam tambah semakin cemberut. Dia kemudian duduk di samping istrinya, meletakkan kepalanya di pundak istrinya.
" Dek, Jumat depan aku sudah harus kembali ke Jakarta. "
Tidak ada jawaban dari Tari, namun dari wajahnya nampak keterkejutan. Namun sebisa mungkin dia menyembunyikan rasa terkejutnya dengan seulas senyum.
" Tidak akan lama, ........... "
Bersambung ..........
__ADS_1