Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
43. Kediri


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


" Dimana pun Ijah sudah bisa menerima Yah, Insyaallah Ijah siap. "


" Alhamdulillah nduk kalau begitu, sampean ditempatkan di Kediri " Ucap Pak Rahmat seraya memberikan kertas yang dipegangnya kepada Tari.


" Nduk benar sampean tidak apa - apa ?


" Insyaallah mboten buk, banyak sekali orang yang menginginkan pekerjaan ini buk dan Ijah termasuk orang yang beruntung buk karena Ijah bisa mendapatkannya. "


" Kalau begitu Ibuk merasa tenang, kapan mulai mengajarnya ? "


Tari membaca kertas yang tadi diberikan oleh Ayahnya, dibacanya dari atas sampai bawah. Dahinya berkerut, dan menghela nafas panjang.


" Hari Senin besuk sudah mulai masuk buk, berarti besuk Ijah sudah harus berangkat ke Kediri. "


" Nanti Ayah akan antar sampean nduk, "


" Enggeh yah, kita berangkat sehabis dhuhur saja Yah. Pak Fahmi akan menjemput Hawa sebelum dhuhur.


" Kalau begitu, ibuk akan siapkan makanan yang bisa sampean bawa nduk. "


" Uti Wawa itut "


" Ayo sini mau bantuin Uti juga ya ? "


" Ya, Wawa au intel acak aya Uti ama Unda. "


Bu Fatma seraya mengandeng tangan Hawa pergi ke dapur rumah kecil itu. Sedangkan Tari dan Pak Rahmat masih duduk di ruang tamu.


" Nduk tadi sampean jadi kerumah sakit ? "


" Jadi Yah, "


" Bagaimana pemeriksaannya ?, apakah semuanya baik - baik saja ? "


" Alhamdulillah Yah, semuanya baik tidak ada yang perlu dikhawatirkan yah. Kata dokter hal seperti itu biasa terjadi kepada banyak pasien pasca operasi yah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. " Tari berusaha menutupi yang sebenarnya terjadi kepadanya. Karena dia tidak ingin membuat kedua malaikatnya itu khawatir.


" Ya sudah sampean harus lebih berhati-hati lagi nduk kedepannya. Sudah sana sampean bersiap - siap biar besuk tinggal berangkat saja. "


" Enggeh Yah "


Tari meninggalkan Pak Rahmat di ruang tamu, menuju kamarnya. Dia mengambil beberapa pakaian, dan perlengkapannya lalu dimasukkan ke dalam tas besarnya. Dan tak lupa dia juga membawa beberapa buku serta kitab - kitab yang dirasa diperlukan. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk mempersiapkan barang yang akan dia bawa. Diambil handphone yang berada di saku gamisnya, terlihat beberapa pesan dari aplikasi bergambar telefon warna hijau.


✉️ Assalamualaikum mbak Tari, saya Wardah.


Dengan cepat jari jemari gadis mungil itu membalas pesan dari gadis yang baru di kenalnya siang tadi.


✉️ Walaikumsalam mbak Wardah.


✉️ Mbak Tari apakah sampean sudah tahu akan ditempatkan dimana ? Kalau saya ditempatkan di Kediri Alhamdulillah sesuai dengan keinginan saya mbak.


✉️ Selamat kalau begitu mbak, Saya juga ditempatkan disana. Alhamdulillah ya mbak kita ditempatkan di tempat yang sama..


✉️ Seneng sekali mbak bisa satu tempat sama sampean.


Dua wanita terus saja berkirim pesan, membicarakan tentang keberangkatan mereka besuk. Sampai suara ketukan pintu di kamar Tari terdengar.


Tok, Tok, Tok,


" Masuk saja pintunya tidak dikunci "


Hawa memutar kenop pintu dengan bersusah payah, setelah beberapa kali percobaan akhirnya pintu itupun terbuka juga. Dengan langkah kaki yang sedikit terseret gadis kecil itu menghampiri Tari yang duduk di kasurnya.


" Unda mau ana, kok nyak tas ? " mimik wajah gadis itu tiba-tiba berubah.

__ADS_1


Saat melihat mimik wajah gadis itu berubah dengan segera Tari merengkuh badan gadis kecil itu, mendudukkannya di sebelahnya. Kemudian membelai pelan pucuk kepala gadis kecil itu.


" Sayang, Bunda mau cerita sama Hawa tapi Hawa harus janji kalau Hawa harus mendengarkan semua cerita Bunda sampai selesai."


" Wawa dandi "


" Sayang, Bunda waktu masih kecil seperti Hawa Bunda punya cita-cita. Kalau besar nanti Bunda ingin menjadi guru. Dan Alhamdulillahnya Bunda kemarin diterima menjadi guru. "


" Napa dak dadi gulu kolah Wawa ?, Unda mau lali dali Wawa agi ? "


" Ngak sayang, Bunda ngak akan kemana - mana. Di tempat Wawa sekolah sudah ada gurunya, jadi Bunda tidak bisa mengajar disana lagi. "


" Api kok awa tas besal - besal ? "


" Iya karena Bunda harus menginap disekolah Bunda yang baru, seperti Hawa sekarang kalau menginap di rumah Bunda kan mesti bawa tas besar juga. " Tari sambil menunjuk tas milik Hawa.


" Alau Wawa tangen Unda dimana ? "


" Hawa kan sudah tau rumah Bunda, kalau Hawa kangen suruh Ayah mengantarkan Hawa kesini. Ayah kan juga punya nomer handphone Bunda, Hawa juga bisa telefon sama Bunda. "


" Wawa yayang Unda, Wawa dak mau Unda lali Dali Wawa agi. " Gadis kecil itu memeluk Tari dengan erat.


" Bunda juga sayang sama Hawa. " Tari memberikan ciuman beberapa kali di pucuk kepala gadis kecil itu.


Sementara di kamar sebelah Tari dua pasang paruh baya itu, belum juga menutup mata mereka. Mereka sudah merebahkan tubuh mereka diatas kasur, tetapikantuk belum juga menghampiri dua pasang paruh baya itu.


" Yah, kok belum tidur ? "


" Masih belum ngantuk buk, sampean kok juga belum tidur buk ? "


" Entah Yah, harus bagaimana seneng apa susah " Sambil menghela nafas panjang.


" Kok gitu to buk, apa yang mengganjal di fikiran sampean ? " Laki - laki paruh baya itu memiringkan tubuhnya menghadap istrinya.


" Sampean kok makek nanya to yah, anak kita itu selalu terlihat tegar di luar tapi dalamnya ngak sekuat itu yah. "


" Semoga ya yah, Ibuk harap Ijah bisa setegar yang kita lihat. "


" Insyaallah buk anak kita akan kuat. "


Pagi ini terasa begitu berbeda di rumah kecil itu, kehadiran gadis kecil itu membawa kebahagian untuk semua penghuni rumah. Sejak sholat subuh tadi Hawa sudah menempel erat dengan Pak Rahmat, entah mengapa Hawa senang sekali dengannya. Kemanapun laki - laki paruh baya itu pergi dia selalu mengikutinya. Sampai - sampai dia terjatuh karena di tubruk oleh anak kambing karena mengikuti Pak Rahmat yang sedang memberi makan kambing. Tak henti-hentinya dia berjalan kesana kemari karena begitu banyaknya hewan peliharaan keluarga Tari.


" Nduk, Ibunya Hawa kemana ? "


" Ibunya sudah meninggal buk, pada saat melahirkan Hawa. Karena kehamilan yang kurang sehat, hingga akhirnya Hawa terlahir dengan keadaan yang seperti sekarang buk. "


" MasyaAllah, La terus Pak Fahmi apa ngak berniat mencari Ibu ya buat Hawa ? "


" Ijah kurang tahu Buk kalau soal itu, "


" Unda, Wawa elani gang yayam. Unda ini ..... " Teriak gadis kecil itu dari kandang ayam dibelakang rumah Tari.


Dengan segera Tari keluar dapur, pandangannya mencari sosok gadis kecil yang sedari tadi memanggilnya. Ternyata gadis kecil itu sedang berada di kandang ayam dengan Ayahnya, wajahnya begitu gembira ketika dia berhasil memegang seekor ayam. Dengan lembut tangan kanannya membelai ayam itu sedangkan tangan kirinya menggenggam jagung untuk makanan ayam yang dipegangnya.


" Rupanya Wawa disini ya, pinter ya sudah berani pegang ayam. "


" ya Wawa Intel, Unda oto acih Yayah ya "


" Iya eksyen dulu donk, satu, dua, tiga ....... cekrek, cekrek, nanti Bunda kirim ke ayah ya " Tari segera mengambil handphone dari saku gamisnya, kemudian mengambil beberapa foto Hawa.


" Unda, Wawa antik ya .... "


" Iya Hawa cantik sekali. Ayo Hawa cuci tangan setelah ini kita makan. Uti sudah selesai masak soto buat Hawa. Ayah, ayo kita sarapan dulu sarapannya sudah siap. "


Keluarga kecil itu menikmati sarapan pagi mereka bersama - sama, diiringi celotehan Hawa yang masih sibuk membahas berbagai hewan peliharaan keluarga Tari. Setelah selesai sarapan keluarga itu kembali kepada aktifitas mereka masing - masing. Pak Rahmat berangkat ke sawah, sedangkan Tari, Bu Fatma, dan Hawa dirumah menyelesaikan membuat Sambel Pecel yang rencananya akan dibawa sebagai bekal untuk Tari. Terdengar ketukan pintu dari arah ruang tamu, dengan segera Bu Fatma menuju ruang tamu.

__ADS_1


Tok, Tok, Tok ........


Ceklek,


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam, mari masuk Pak Fahmi. Mari masuk pak, silahkan duduk saya panggil Hawa dulu ya. " sambil membuka pintu.


" Iya Bu, Maaf Bu ini sedikit oleh - oleh dari saya. " Sambil menyerahkan dua kantong besar kresek bertuliskan Al**mart.


" Oalah Pak Fahmi, jangan repot - repot seperti ini. Sebentar ya saya kebelakang. " Sambil menerima dua kantong kresek itu.


Wanita paruh baya itu, segera menuju dapur rumahnya untuk memanggil Hawa dan Tari. Sementara di dapur Hawa dan Tari sedang mengemas sambel pecel itu menjadi beberapa plastik kecil.


" Nduk, Ayahnya Hawa datang. " Ucap Bu Fatma sambil menepuk bahu putrinya lembut.


" Pak Fahmi Bu ?, kata beliau mau datang sebelum dhuhur. Tapi sekarang sudah datang ternyata. Hawa ayo sayang cuci tangannya dulu, Ayah sudah datang ayo. "


" Yayah, atang Unda .... ? "


" Iya, ayo cepat sini tangannya Bunda cuci dulu ya "


Setelah selesai mencuci tangan Hawa, mereka segera berjalan menuju ruang tamu. Tari mengandeng tangan Hawa, gadis kecil benar - benar tidak mau jauh dari Tari.


" Akum, Yayah. "


" Walaikumsalam, aduh anak Ayah wajahnya kok seneng banget. Maaf ya Bu Tari sudah merepotkan Anda. "


" Tidak papa Pak Fahmi, malah kami senang karena ada Hawa di rumah ini menjadi rame Pak. "


" Anak Ayah ngak mau peluk Ayah, kok duduknya disana ayo sini Salim dulu sama Ayah. "


Hawa yang sedari tadi duduk dipangkuan Tari terlihat ragu ketika Ayahnya meminta untuk dipeluknya. Gadis itu kemudian menatap Tari, Tari yang sadar dengan tatapan gadis kecil itu mengangguk sambil tersenyum. Gadis itu turun dari pangkuannya, dan berjalan menuju Ayahnya.


" Ayah kangen sekali sayang, Ayah tadi malam tidak bisa tidur karena Hawa tidak ada disebelah Ayah. " Ucap Pak Fahmi ketika memeluk tubuh gadis kecil itu seraya menghujani wajah Hawa dengan beberapa kecupan.


" Wawa idul dak angis, dak inum cucu dodot inum cucu akek geyas. "


" Masak tadi malam minum susunya ngak pakek dot lagi sayang ? "


" Iya, anya Unda Wawa dak mawu akek dodot agi ata Atung anti alau akek dodot itu dedek ayi. Wawa tan dah esal inumna akek delas.


" Pinternya anak Ayah, " Sambil mengecup pipi gembul putrinya.


Bu Fatma datang dari belakang dengan membawa teh dan camilan ubi jalar goreng dan pisang goreng.


" Mari Pak Fahmi minumnya "


" Bu, tidak usah repot-repot. Maaf ya kalau Hawa merepotkan Anda. "


" Pak Fahmi kami tidak merasa direpotkan dengan kehadiran Hawa. Saya senang rumah jadi ramai kalau ada anak kecilnya."


" Pak Rahmat dimana Bu ? "


" Ayahnya Ijah masih di sawah Pak, Sebentar lagi pulang karena akan mengantarkan Tari ke Kediri. "


" Oh begitu Bu, "


" Unda au kelja jauh yah, bawa tasna besal - besal. Wawa ditindal agi, Unda dak tayang ama Wawa." Sambil membentuk bulatan besar dengan tangannya. Dan seketika wajahnya murung mengingat kepergian Tari.


" Kan tadi malam Bunda sudah bilang ke Hawa Bunda ngak kerja jauh sayang, nanti kalau Hawa sekolahnya pas libur dan Ayah tidak sibuk Hawa bisa meminta ayah mengantarkan Hawa kesini kan Hawa sudah tau rumah Bunda. "


" Maaf Bu Tari kalau boleh tau Bu Tari kenapa harus pindah dari sekolah Hawa yang dulu ? "


" Sudah ada guru pengganti Pak disekolah Hawa, dan kebetulan saya memasukkan lamaran di yayasan Al-Az**r Alhamdulillah saya diterima Pak. Dan saya ditempatkan di Kediri Pak "

__ADS_1


Bersambung .......


__ADS_2