Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
61. Rezeki Yang Tak Di Sangka


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


" Oek ..... oek ..... oek ..... "


" Cup, cup anak Ami sayang kenapa menangis, Mikha pipis ya ? "


Rina menghampiri putranya yang menangis di dalam box bayi, diraihnya tubuh gembul bayi itu ke gendongannya saat dilihat popoknya kering. Ditepuknya pelan bokong bayi gembul itu sambil menimangnya.


" Mbak Rin, kenapa Mikha menangis ? " Ucap Tari sambil melongongkan kepalanya ke arah dalam kamar.


" Biasa, atut Aounty kalau ditinggal sendiri. " jawab Rina dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.


" Aku di dapur langsung ke sini begitu mendengarnya. Ya sudah aku kembali ke dapur ya Mbak. "


" Memangnya belum matang Tar ? "


" Sebentar lagi Mbak. "


Tari kembali melangkahkan kakinya lagi ke dapur, sebab dia sedang membuat jenang grendul ( bubur yang terbuat dari tepung tapioka yang dimasak dengan gula merah dibentuk bulat - bulat dan memakannya menggunakan santan sebagai pelengkap. )


Tari sudah dua hari ini menginap di rumah Rina karena sekolah tempatnya mengajar sudah libur sejak seminggu yang lalu. Dia juga sudah menyelesaikan laporan akhir semester jadi sudah tidak ada beban pekerjaan maka dia dapat menikmati masa liburnya. Dan karena Gus Reyhan ada kepentingan di luar kota, dia diminta untuk menemani Rina.


Memasak merupakan salah satu hal yang dia suka, meskipun kenyataannya dia sama sekali orang yang suka makan. Saat di asrama Wardah lah yang selalu menjadi relawan yang siap sedia untuk menghabiskan makanan yang dimasak Tari.


" Nduk Ayu sudah matang apa belum ? "


" Eh Mbah Sri, sampun Mbah. Monggo jnengan icipi " ucapnya sambil menyodorkan semangkuk bubur grendul yang masih mengepulkan asap.


Wanita baya itu menerima mangkuk pemberian Tari dan mendudukkan tubuhnya di kursi makan. Meniup pelan bubur yang sudah di sendoknya.


" Enak nduk, semuanya pas. Kebutulan sekali sebentar lagi cah bagus datang pasti dia suka. "


" Alhamdulillah kalau begitu Mbah, saudaranya Gus Reyhan Mbah yang mau datang ? "


" Iya nduk, kakaknya Ning Nafisah. "


" Ternyata Ning Nafisah punya saudara Mbah ? "


" Punya nduk, orangnya bagus lo sholeh pula. "


" Enggeh Mbah Sri, kalau putranya Pakyai saya yakin mesti sholeh Mbah. "


" Belum tentu juga nduk, Lah saking enaknya ngak kerasa kalau sudah habis. " Wanita baya itu berdiri untuk menaruh mangkuk bekas buburnya di tempat pencuci piring.


Tari mengambilkan semangkuk jenang grendul lalu membawanya keruang tengah. Rina yang sedang mengendong putranya, duduk di sofa ruang tengah.


" Ini mbak sudah matang. Tole biar aku yang gendong. " Sambil mengangsurkan mangkuk yang dibawanya.


" Terima kasih ya, wah harumnya. "


Bayi gembul itu, tersenyum ketika berada di gendongan Tari. Tapi sedetik kemudian musiknya nampak memerah dan sedikit merengek, dan tari merasakan tangan yang memegang bokong bayi itu basah.


" Dapat rezeki Tar. "


" Alhamdulillah Mbak, Mikha terimakasih ya hadiahnya " Diiringi senyuman kecut olehnya, namun kemudian dia menciumi pipi gembul bayi itu.


" Sebentar biar aku ganti popoknya kamu taruh dia di atas kasurnya. "


" Sudah mbak sampean lanjutkan makannya, biar aku yang mengantikan. "


" Ya wes, itung - itung latihan ya Tar.


Tari meletakkan bayi gembul itu ke atas kasurnya, membuka popok bayi itu membersihkan bokong bayi itu menggunakan kapas basah yang sudah di basahi dengan air hangat. Tari membersihkan dengan telaten tak nampak rasa jijik.


" Sudah ganteng lagi dan wangi. "


" Iya donk anak siapa cobak, Sudah lulus training ini jadi ibu tinggal tunggu tanggal mainnya. "


" Tanggal apa Mbak ?

__ADS_1


Rina berdiri berjalan ke dapur untuk meletakkan mangkuk bekas jenang grendulnya. Tak lama dia kembali sudah membawa semangkuk pepaya yang membuat Tari menggelengkan kepala.


" Tar boleh aku menanyakan sesuatu ? "


" Apa Mbak ? "


" Bagaimana hubungan mu dengan Pak Fahmi ? "


Tari tampak terdiam, di menghembuskan nafasnya pelan mencoba memilih rangkain kata yang pas untuk menggambarkan hubungannya dengan Fahmi.


" Ehmsss......... Ya begini mbak. "


" Ya begini, bagaimana maksudnya. Aku lihat kalian sekarang cukup dekat dan kemanapun selalu bersama. "


" Entahlah Mbak, kami dekat karena ada Hawa. "


" Bukan tentang Hawa tapi tentang kalian berdua, aku hanya takut saja karena kalian sering terlihat bersama. Aku hanya tidak mau ada fitnah diantara kalian berdua, dan sebetulnya kurang baik juga kalian sering bersama tanpa suatu ikatan. Sejujurnya bagaimana perasaan mu padanya. "


" Aku tidak bisa berkata apapun Mbak, karena dia masih belum bisa berdamai dengan hatinya. Setiap dia ingin membuka hatinya ketakutannya terlalu besar Mbak, aku sendiri tidak bisa menyalahkannya. "


" Kalau seperti itu, sampean harus tahu memposisikan diri. Bagaimanapun sampean wanita yang belum berkeluarga. "


" Iya Mbak, tapi saya juga sulit Mbak untuk menjauhi Hawa. "


" Tidak harus menjauhi Hawa Tar, tapi kamu harus tahu posisi mu dan harkat mu sebagai wanita. Tak perlu aku jelaskan kan bagaimana hukumnya tentu kamu sudah fahamkan.


Tari terdiam dia berfikir memang benar ucapan Rina, mereka memang sering bersama. Meskipun Hawa yang menjadi alasan kebersamaan mereka tapi itu bukan hal yang bisa membenarkan. Tari tentu tahu dan sangat faham hukumnya bagaimana wanita dan laki - laki bersikap dan berperilaku.


Sejujurnya Tari tidak merasakan hal yang istimewa kepada Fahmi, karena sifat Fahmi yang sebenarnya benar - benar bertolak belakang dengan apa yang banyak di lihat orang. Orang - orang disekitar Fahmi dan Tari pasti akan selalu beranggapan bahwa Fahmi menaruh hati kepada Tari padahal kenyataannya tidak. Dibalik perlakuan hangat Fahmi pada Tari sebenarnya Fahmi sosok yang dingin. Kisah masa lalu kehilangan Ibunya Hawa benar - benar membuatnya trauma untuk memulai sebuah hubungan.


" Aku juga sadar dengan hal itu Mbak, makanya begitu Gus Reyhan menelfonku untuk menemani sampean aku langsung mengiyakan, setidaknya aku ada alasan untuk menghindari Hawa. Aku tidak kalau langsung menolaknya Mbak. "


" Iya Tar, setidaknya menghindarlah untuk kebaikanmu. Jangan patah semangat tentang jodoh. "


" Insyaallah Tidak Mbak, Allah sedang memantaskan kami Mbak. "


Sementara Tari kembali ke dapur untuk membantu Mbah Sri memasak beberapa makanan. Rencananya keluarga Kiyai Bahrudin datang karena belum sempat menjenguk anak Mm Bak Rina.


Semua bahan makanan sudah disiapkan di meja, sedangkan Mbah Sri sudah mulai mengupas bawang merah dan bawang putih. Tari menyiangi sayur daun singkong dan kacang panjang. Rencananya mereka mau memasak Ayam lodho, kulup krawu, oseng kates dan nasi ampok makanan khas kampung yang cukup menggugah selera.


" Nduk, Sampean bisa ngoseng kates ? "


" Bisa Mbah, "


" Ya sudah sampean masak itu dulu. "


" Tapi Mbah, nanti kalau rasnya kurang pas bagaimana ? "


" Wes to di coba dulu. "


Tari dengan terampil mengulek bawang merah, bawang putih, cabai rawit, dan lengkuas kemudian menumis bumbu yang sudah di ulek memasukan daun jeruk cambah kedelai dan yang terakhir potongan buah pepaya yang belum matang yang diiris seukuran korek api. Dan tak lupa dia menambahkan juga udang kering.


" Mbah coba dirasakan kurang apa. " Sambil menganggurkan sendok yang berisi oseng kates yang hampir matang. "


" Ehmz, tambah sedikit lagi kecapnya nduk, rasanya sudah sangat pas. "


Setelah menyelesaikan semua masakannya, dan menyiapaknya di meja makan. Tari bergegas kembali ke kamarnya yang terletak di lantai dua selama dia tinggal di rumah Rina. Dia membersihkan dirinya kemudian menunaikan kewajibannya.


Setelah selesai semua dia merebahkan dirinya diatas kasur, pandangannya menatap langit - langit. Dia teringat pembicaraannya dengan Rina yang dirasanya semua benar. Tanpa terasa matanya tertutup dengan sendirinya karena rasa lelah yang dirasakannya.


***********


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam, Monggo yai, Bulik ...... "


Tamu yang ditunggu sedari tadi pagi akhirnya sudah datang tapi orang yang paling ditunggu tak menampakkan hidungnya.


" Monggo Yai, Bulik ...... Gazzan tidak ikut Bulik ?

__ADS_1


" Enggak Ning, kan ikut suamimu. "


" Loh masak Bulik, Mas Reyhan tidak cerita apapun. "


" Iya Ning, ada masalah yang harus segera mereka selesaikan. Masak lupa Ning sama kebiasaan mereka berdua. " Bu Nyai Salamah mencoba menjelaskan.


" Oalah Bulik, faham sekali dengan mereka berarti ada masalah yang serius. "


" Ning Rina, adek bayinya mana ? " Tanya Nafisa.


" Adiknya masih bubuk Ning Fisa, sebentar ya saya lihat dulu. Owh iya Mbak Tari sekarang disini Lo Ning Nafisa. "


" Mbak Tari ? ....... "


" Iya, sepertinya sedang di kamarnya. Ning Fisa naik saja ke lantai 2 disana kamarnya Mbak Tari. "


Terang saja gadis itu segera menaiki tangga menuju kamar Tari, nampak pintu kamar tidak tertutup rapat. Nafisa melihat dari celah pintu yang terbuka, nampak Tari yang sedang tertidur diatas kasur.


" Yah Mbak Tari sedang tidur, sebaiknya aku menutup rapat pintunya. " Gadis itu menutup pintu itu dengan pelan.


Tari yang merasa ada suara hanya meregangkan otot tubuhnya, kemudian melihat jam didinding. Karena waktu Ashar masih lama dia memutuskan untuk kembali tidur.


Sedangkan Kyai Baharudin beserta keluarganya sudah berpindah ke ruang tengah yang tempatnya lebih luas untuk mengobrol. Sementara Mikhail sudah bangun dan sedang dalam gendongan Bu nyai Salamah.


" Kok bisa pelek ketiplek Gus Reyhan ya Ning. "


" Enggeh Bulik, saya hanya bagian penitipan saja bulik. Njenengan mboten kepingin cucu ..... ?


" Ora kepingin piye to Ning, yo kepingin tapi sampean Yo faham to Karo bocah siji kae. Emboh seng digoleki seng piye, padahal mbak - mbak santri Yo akeh, koncone yo akeh. "


" Wes to mi, bene. Biar dia memilih sesuai kemauannya jodoh ngak bisa diminta maupun ditolak kalau sudah waktunya akan datang sendiri. "


" Yo ngak gitu Bah, usianya itu sudah pas sudah 30 kalau ditanya soal jodoh jawabnya mesti masih tak titipkan di orang tuanya. Kan njengkelne kalau kayak gitu. "


" Kemarin sebelum berangkat dengan Gus Reyhan dia minta doa sama Abah untuk melancarkan usahanya. Tapi Yo ngak tau usaha untuk apa, wong apa pernah dia itu ngomong yang jelas kalau punya niatan sama kita. "


" Makanya Ning, Bulik suka khawatir dia itu sebenarnya apa kira - kira ada trauma sehingga tidak mau menikah. "


" Bulik, kok berfikir seperti itu ? " Tanya Rina sambil mengerutkan dahinya.


" Lah tiap ada putri dari teman abahnya datang menanyakan, selalu ditolak, belum lagi teman - teman di tempatnya dinas ada yang datang katanya semua hanya teman. Terus ini yang bikin Bulik khawatir dia pernah bilang " aku ngak akan pernah menyukai sesuatu yang belum halal untukku. " La gimana bisa halal wong dia aja belum mau menghalalkan seseorang. "


" Lah ya bener Mi kata anakmu itu. "


" Wez embuh bikin kesel bocah siji kuwi. "


Rina mempersilahkan para tamunya untuk menyantap hidangan yang telah disiapkan dengan dibantu oleh Mbah Sri. Mereka nampak menikmati semua hidangan, sampai - sampai semua makanan yang dimasak habis.


Saat bersamaan Tari bangun dari tidurnya dan betapa kagetnya saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 16:00. Dengan segera dia membersihkan diri kemudian menjalankan kewajibannya. Baru setelah itu dia turun ke lantai bawah.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam "


" Mbak Tari, " Gadis kecil itu segera menghampirinya.


Tari segera menyalami Kiyai Baharudin dan Bunyai dengan takzim, kemudian ikut duduk di meja makan.


" Ayo Mbak Tari ikut makan dengan kami. "


" Monggo Bunyai, ngapunten saya sedang perlu. " Jawabnya sambil tersenyum.


" Oalah, kalau begitu maaf kami makan. "


" Monggo Kiyai, Bunyai, "


" Sekeco ngeh Bunyai masakannya, Mbak Tari Lo ini yang masak. " Ucap Mbah Sri.


Bersambung ..........

__ADS_1


__ADS_2