
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Akhirnya hari itu datang juga, hari dimana Rizki dan Wardah mengikat hubungan mereka dengan sebuah status pertunangan. Sulit dimengerti sebab sampai kemarin pun mereka masih saja berdebat, entah mengapa mereka senang sekali mendebarkan suatu hal yang sepele. Sepanjang perjalanan pulang dari Kediri sampai Malang, Tari harus menjadi penengah di antara perdebatan mereka.
Semalam Tari ikut pulang ke rumah Wardah untuk ikut membantu acara pertunangan siang ini. Pagi ini rumah Wardah sudah ramai dengan beberapa tetangga dan saudaranya untuk membantu. Hal yang biasa di lakukan saat kita tinggal di desa. Rumah sudah di hias dan halaman sudah tertutup tenda kursi - kursi pun sudah ditata.
" Mbak Tar, aku gugup sekali. "
" Tidak apa - apa wajar kalau seperti itu. Banyak - banyak istighfar saja. "
Tari duduk di sebelah Wardah yang sedang dirias oleh seorang MUA, gadis kurus itu awalnya tidak setuju kalau dia harus dirias. Namun keputusan Rizki itu tidak bisa dibantahnya, meskipun mulut gadis itu tak henti - hentinya menggerutu.
Tari termenung, dia teringat peristiwa 1 tahun lalu di mana dia juga merasakan kegugupan yang sama seperti yang dirasakan Wardah. Saat itu dia merasa hanya selangkah lagi untuk dia membina sebuah mahligai pernikahan, namun Sang pencipta masih belum mengizinkannya. Dia menggeleng sambil tersenyum kecut, ketika mengingat semua itu.
" Kenapa Mbak menggeleng seperti itu ? "
" Tidak, hanya teringat kenangan masa lalu. Dulu aku sama gugupnya dengan sampean. "
" Jangan bersedih Mbak Insyaallah kedepannya akan diberikan jauh lebih baik. "
" Mbak, tolong jangan berkedip dulu matanya. " Keluh Mbak MUA karena Wardah tidak henti - hentinya mengedipkan mata.
" Ayo Dah diam dulu, tolong untuk hari ini tahan semua emosi kalau melihat Pak Rizki. Jangan mengacaukan sesuatu yang sudah direncanakan, duduk diam dan menerima semua keputusan. " Ucap Tari penuh dengan ancaman, karena dia tidak ingin sahabatnya itu mengacaukan semua mengingat sikapnya gampang terpancing emosi.
Tari pergi meninggalkan kamar Wardah, pergi keluar membantu ibu - ibu yang sedang menyiapkan hidangan untuk menjamu tamu. Kesibukan tampak di segala tempat apalagi waktu sudah semakin siang, karena rencananya keluarga Rizki akan datang selepas Dhuhur.
" Mbak, minta tolong jajannya ditata di piring ya. "
" Enggeh Bu, mana biar saya yang menatanya. "
" Mbak temannya Wardah ya ? Kok belum pernah melihat datang ke rumah Wardah. "
" Enggeh Bu saya teman kerjanya, kami sama - sama mengajar di Kediri. "
Tari terus menata kue basah yang lumayan banyak macamnya itu ke dalam piring oval, yang biasanya akan disuguhkan kepada tamu. Sementara orang - orang disekitar nampak memperhatikan kehadirannya.
" Oalah, orang mana Mbak ? "
" Saya asli Blitar Bu, "
" Makanya orangnya kalem, sudah menikah belum ? "
" Belum Bu. "
" Lah mosok se Mbak, wong Mbaknya cantik kok belum menikah. "
" Sebentar lagi Bulik, " Jawab Wardah yang tiba - tiba di belakang mereka.
" Lah itu, temanmu ayu nduk makanya Bulik ngak percaya kalau belum menikah. "
" Sebentar lagi Bulik itu, "
Tari hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, tak habis pikir bisa - bisanya sahabatnya itu mengatakan hal seperti itu. Menikah, sesuatu yang dibayangkan olehnya saja tidak.
" Enteng banget ngomongnya Neng. " Bisik Tari kepada Wardah.
" Anggap saja omongan adalah doa diamini saja " Jawab Wardah enteng.
Adzan Dhuhur berkumandang, di sela - sela kesibukan mereka menyiapkan acara siang ini. Semua orang sudah bersiap dengan sesuai perannya masing - masing. Tari membersihkan diri dan melakukan kewajibannya, Menganti pakaiannya dengan gamis brokat yang kemarin diberikan oleh Rizki. Menyapukan bedak tipis dan lip balm di bibirnya, menggunakan kerudung pashmina yang ditata sehingga menutup dadanya.
__ADS_1
Sementara Wardah yang sedang duduk di kasurnya nampak gugup, sedari tadi dia memainkan handphonenya yang hanya dilakukan untuk menutupi kegugupannya.
" Istighfar jangan seperti itu. tarik nafas perlahan, tahan buang secara perlahan. "
" Iya Mbak, kenapa aku gugup sekali. "
" Wajarlah, ini belum acara akad lo Dah bagaimana kegugupan sampean kalau akad. "
" Ih, Mbak Tari, kayak udah pernah aja wong sama - sama belumnya aja. Awas ya besuk kalau sampean di posisiku ...... Heran aku yang jadi calon istrinya siapa yang dibelikan baju siapa. " Wardah mencoba menggoda sahabatnya itu, padahal dia tau betul baju yang dikenakan Tari itu dari siapa.
" Lah apa ngak ihklas, Tak lepas Lo nanti. " Tari berpura - pura marah dan hendak melepas bajunya.
" Gitu aja ngambek Mbak. " Wardah segera memeluk sahabatnya itu dari samping.
" Lah dari pada membuat sampean cemburu, mending tak lepas aku masih punya baju yang lain. "
Iring - iringan mobil berjumlah 7 mobil sudah terparkir di pinggir jalan di dekat rumah Wardah. Jumlah yang cukup banyak untuk ukuran acara pertunangan, karena Rizki bilang hanya mengajak keluarga inti dan teman dekatnya saja.
Semua wanita dalam iring - iringan itu membawa seserahan dalam kotak - kotak kaca yang jumlahnya cukup banyak. Semua orang sudah memposisikan diri pada posisinya mereka masing - masing. Acara dimulai dengan MC yang membuka acara dilanjutkan sambutan dari kedua keluarga.
" Ayo Dah, saatnya sampean keluar. Tidak usah gugup, santai saja. "
" Insyaallah Mbak Tar. "
Semua mata kini tertuju pada gadis kurus itu tak terkecuali Rizki sedari Wardah mulai masuk sampai sekarang duduk dihadapannya pandangannya tidak bisa lepas dari calon istrinya itu. Gadis kurus itu nampak berbeda dengan kebaya yang berpotongan longgar berwarna hijau muda dengan kain jarik yang bermotif sama dengan kemeja yang dikenakannya. Dia tidak habis pikir akhirnya hatinya tertambat gadis yang sama sekali bukan tipenya, sungguh cinta tidak bisa memilih dimana dia akan berlabuh.
" Asodatul Wardah AZ - Zahra maukah kamu menjadi penyempurna hidup saya menjalani sisa hidupmu untuk menjadi makmum ku ? "
Sejenak keadaan menjadi hening, semua perhatian terpusat kepada kedua pasang yang sedang berhadapan itu. Rizki yang biasanya tegas dan tenang pun terlihat gugup, sedangkan Wardah gadis yang biasanya bawel kali ini hanya tertunduk dengan pipi yang merona.
" Bismillahirrahmanirrahim, Insyaallah saya bersedia. "
Acara dilanjutkan tukar cincin yang dilakukan masing - masing ibu dari calon pengantin untuk memasangkan cincin ke jari manis masing - masing calon pengantin. Kemudian pembicaraan dilanjutkan dengan penentuan tanggal akad nikah. Pihak Rizki menginginkan segera dilakukan akad karena ini permintaan dari Rizki. Sebenarnya Wardah ingin menyela tapi pandangan Rizki terhadapnya mampu menutup mulut gadis kurus itu.
" Alhamdulillah semua lancar Dah. "
" Iya Mbak, tidak habis pikir aku mbak belum sah jadi istrinya saja aku sudah terintimidasi dengan hanya dia menatapku. Seperti bukan aku saja huuh ......... "
" Memang harus belajar dari sekarang sampean patuh sama suami, itung - itung sekarang sedang masa training. " Ucap Tari seraya dengan senyum yang seolah mengejek.
" Coba Mbak Tari yang di posisi ku ? "
" Tidak boleh mengeluh, apapun yang dilakukan istri selagi itu menyenangkan hati suami jatuhnya tetap berpahala. Ingat itu ..... !!!!! "
Mereka duduk berdua di sebuah meja yang tidak jauh dari tempat prasmanan sementara tamu yang lain masih menikmati makanan dan ada yang masih berbincang.
" Sedang membicarakan ku ? " Tanya Rizki yang tiba - tiba duduk disebelah Wardah.
" Tidak memangnya tidak ada topik lain membicarakan sampean. " Jawab Tari sembari tersenyum melihat ke arah Wardah yang sudah tertunduk berusaha menghilangkan kegugupannya.
" Besuk kita kembali jam berapa, ? "
" Terserah, yang penting aku harus tetap menjadi satpam yang mengawasi kalian sampai halal. Takutnya ni adek ku uang yang canteek banget ini curi start. "
" Mbak Tari apa sih. "
" Ya sudah kalian bicara, aku mau membantu dibelakang. "
Tari berdiri dari duduknya berjalan, menjauhi mereka berdua membantu beberapa ibu yang sedang membawa kardus yang berisi beberapa makanan ringan sebagai buah tangan. Sementara dua orang itu terlihat canggung satu sama lain tanpa ada yang berniat ingin memulai pembicaraan.
__ADS_1
" Kenapa tanggalnya tidak sesuai dengan perkiraan awal ? "
" Niat baik, harus disegerakan. "
" Tapi bagaimana kita belum membicarakan semuanya. "
" Tidak usah terlalu dipikirkan, sampean cukup fokus ke diri sampean sendiri mempersiapkan hati pikiran dan pastinya tenaga. "
" Apaan pakek tenaga segala, ngak ada sangkut pautnya kali. "
" Kalau sudah waktunya pasti sampean paham, tenaga sangat diperlukan. " Sambil tersenyum penuh arti.
" Tari nanti pulang sendiri ? "
" Iya nanti naik bis, setelah acara dia langsung pulang dari tadi orangtuanya sudah menghubungi. Memangnya ada apa ? "
" Jangan biarkan pulang sendiri, nanti biar diantar saudaraku. Bisa berabe kalau itunya tau Tari naik Bis. "
" Kalian semua aneh, bisa terus menyembunyikan kenyataan itu ? apa ngak curiga lama - lama Mbak Tari kalau sampean kayak gitu. Sudah biar dia nanti pulang naik Bis, Mbak Tari itu sudah gede pasti bisa jaga diri. "
" Masalahnya, sampean tahu kan seberapa pencemburunya dia. Terlebih lagi rumah singgah taruhannya. Jangan bilang Sampean cemburu ? "
Selepas Ashar Tari sudah bersiap untuk pulang, karena sedari tadi ibunya sudah menelfon untuk dia agar cepat pulang bila acaranya sudah selesai hal yang jarang ibunya lakukan. Sebenarnya tadi Rizki menawarkan untuk diantar oleh saudara sepupunya namun dia menolaknya karena tidak ingin merepotkan.
Perjalanan dari rumah Wardah ke rumahnya tidak sampai satu jam apabila lancar bisa lebih kalau ada kendala. Dan ternyata perjalanan sore ini akan cukup lama karena ada truk tebu yang oleng, sehingga m timbulkan kemacetan yang cukup panjang.
ddrtt...... ddrrtt...... dddrttt......
📞 Assalamualaikum
📞 Walaikumsalam ,
📞 Nduk sampai mana ?
📞 Sudah sampai Sumber Pucung Buk, sebentar lagi sampai
📞 Ya sudah Sampean hati - hati, Assalamualaikum
📞 Enggeh, Walaikumsalam.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi kenapa ibu terlihat cemas tidak biasanya ibuk seperti ini. Kenapa perasaan ku menjadi tidak enak. Ya Allah semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk lindungilah kedua orang tuaku dari segala mara bahaya Amien.
Setelah tiga puluh menit terjebak kemacetan akhirnya bis yang ditumpangi Tari berhasil lolos dari kemacetan. Dia turun di pertigaan, bersama beberapa orang kemudian berjalan untuk sampai ke rumahnya.
" Tar, dari mana ?"
" Bude, dari Malang selesai menghadiri acara pertunangan teman. "
" Tak kira sampean di rumah, dirumah sepertinya ada tamu. "
Tari segera mempercepat langkahnya, entah mengapa perasaannya tidak tenang. Dilihatnya sebuah mobil terparkir tepat di depan halamannya. Nampak dari luar beberapa orang sedang berada di ruang tamunya.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam " Jawab mereka serempak.
Tari nampak kaget mengetahui tamu yang sedang duduk diruang tamunya, namun sebisa mungkin dia tidak menampakkan keterkejutannya.
" Ayah " ..................
__ADS_1
Bersambung ............