
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sebuah pernikahan adalah fase awal dalam sebuah tahap suatu kehidupan. Menyatukan dua raga dalam satu ikatan suci yang berlandaskan rasa cinta dan kasih sayang. Terlebih untuk keyakinan yang kita yakini sebuah pernikahan bukan hanya saja sebuah ikatan antara dua orang semata. Banyak hal di dalamnya, tanggung jawab, hak, serta kewajiban juga di dalamnya. Maka dari itu sebuah pernikahan adalah suatu hal yang memerlukan kehati - hatian dalam memutuskannya. Sebab pernikahan adalah ibadah terlama yang kita lakukan.
Seperti yang kita tahu jodoh adalah suatu rahasia, dan hal itu pasti. Namun tidak ada salahnya jika kita tetap meminta kepada Sang Pemilik kehidupan agar dipertemukan dengan jodoh yang terbaik. Dan sesungguhnya jodoh adalah cerminan diri kita.
Setelah dari peternakan mereka langsung pulang ke rumah mereka, dan esoknya mereka melakukan sidang nikah untuk kedinasan. Dan hasilnya sudah pasti sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Sesuai peraturan yang berlaku setelahnya mereka baru bisa mencatatkan pernikahan mereka secara sipil. Semuanya di beri kemudahan sehingga mereka Minggu depan sudah bisa mendapatkan dua buku yang berlambang burung Garuda itu.
Pagi - pagi sekali Tari dan Gus Syam sudah meninggalkan rumah mereka, menuju arah barat selatan. Suasana jalanan masih sepi, jadi perjalanan yang mereka lakukan tak memerlukan waktu yang lama.
" Mas, ..... "
" Dalem dek. "
" Ehm ....... "
" Mau ngomong apa Dek ? " Tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.
" Mas, nanti pasti kita ketemu sama ...... " Tari kembali menjeda kalimatnya,
" Sudah tau Dek, dan Mas harap sampean baik - baik saja. " Ucapnya sembari mengambil tangan miliknya kemudian menciumnya.
" Insyaallah Mas, aku baik - baik saja. Tapi aku takut jika kalian bertengkar Mas. "
Ya hari ini hari pernikahan antara Wardah dan Rizki, mereka datang pagi - pagi karena mereka diminta untuk membantu keduanya. Dan Pandu merupakan WO yang disewa Wardah dan Rizki jadi kemungkinan mereka pasti akan bertemu sangat besar. Membuat Tari sedikit khawatir, jika akan terjadi sesuatu antara suami dan mantan tunangannya itu. Dia takut jika keduanya akan merusak acara pagi ini. Apalagi sang suami dia akan terlihat emosi jika membahas tentang Pandu.
Mobil mereka tepat terparkir di depan gang rumah Wardah. Keduanya disambut keluarga Wardah yang sudah mengenal akrab Tari. Gus Syam berbincang dengan beberapa keluarga Wardah, sedangkan Tari dia menemui Wardah yang sedang di rias oleh MUA.
" Assalamualaikum, Wah cantiknya pengantinnya. "
" Walaikumsalam, Mbak Tari ...... "
" Wah pangling aku Dah, ya ampun cantik banget. Wah kalau kayak gini Pak Rizki jelas ngak ngenali. "
" Lah Iyo to nduk sampean Jan mangklingi, Yo to mbak ? " Ucap seorang wanita paruh baya yang baru saja datang.
" Enggeh Buk, saya saja juga pangling. "
" Nduk nok ngarep onok Mas nguanteng, potongane koyok pak tentara jan gagah tenan, wonge putih, kalem sampean kenal ? "
" Sopo to Bulik ?, perasaan Batur manten Yo durung teko. "
" Tak pek mantu arepan Dah, lah Jan nguanteng tenan. gagah gedhe dhuwur potongane koyok tentara, lah kae lo lungguh nang ngarep karo bapakmu. Tunjuknya sembari melongokkan kepalanya kearah ruang tamu, disana terlihat Gus Syam dan Bapak Wardah yang sedang mengobrol.
" Wes sampean ki Lik, lek enek wong nguanteng jan mesti ndang faham. "
" Lah Yo normal kuwi, ealah Ki mau mbak ayu to sampek lali ra takon sangkek eroh wong nganteng. Sudah dari tadi to Mbak. "
" Belum Buk, nembe dugi kulo. "
" Beh Mbake kok jan tambah ayu to ? "
" Lah Yo mesti Dek Ten, Wong Mbak Tari tas nikahan Lo Yo mesti tambah ayu. " Ucap Ibu Wardah yang baru saja masuk ke dalam kamar Wardah.
__ADS_1
" Loh pas lamaran wingenane mbake kan durung rabi to, jarene yora nduwe pacar. Lah saiki kok malah wez nikahan, lah dalah. "
" Lah jenenge jodoh Bulik, "
Jam menunjukkan pukul 09:00 pagi sebentar lagi acara akad nikah akan segera dilaksanakan. Rizki beserta dengan keluarganya sudah datang dengan beberapa mobil. Gus Reyhan juga ikut serta dalam rombongan keluarga Rizki sebagai wakil keluarga dalam acara sambutan nanti. Semua orang kini segera sudah pada posisi masing - masing, sebentar lagi akad nikah akan dilaksanakan.
Wardah menunggu dalam kamarnya dengan perasaan yang mulai tegang. Tari, adik, dan beberapa saudara yang lain menemaninya. Sedangkan Rizki dia sudah duduk di depan wali nikah. Suasana sudah mulai tenang, Gus Syam sekarang sedang membacakan khotbah nikah. Diiringi dengan tatapan penuh tanya beberapa orang di sana.
" Wez nguanteng pinter, ngajine yo joss. "
" Wez nduwe bojo durung yo, lek dipek mantu jan pantes. "
Beberapa ibu - ibu sedang menjadikannya buah bibir, karena melihat sosoknya yang menurut mereka sosok yang pas dijadikan menantu.
" Bismillahirrahmanirrahim, ananda Aditya Rizky Danurmadja saya nikahkan dan kawinkan engkkau dengan putri pertama saya. Asodatul Wardah Az-Zahra binti Tarmudji dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan emas putih dibayar tunai. "
" Saya terima nikah dan kawinnya Asodatul Wardah Az-Zahra binti Tarmudji dengan mas kawin tersebut Tunai ..... "
" Bagaimana para saksi ? "
" Sah "
" Sah "
" Alhamdulillah, "
Dengan satu tarikan nafas Rizki sukses melafazkan qobul, yang langsung di jawab dengan kata Sah para saksi. Setelahnya Rizki mengucapkan sidat tahligh pernikahan, di susul dengan Wardah yang masuk ke tempat ijab kabul dilakukan yang dituntun Tari dan Ibunya. Kemudian Wardah di dudukkan di sebelah Rizki, keduanya nampak gugup sehingga tak ada yang mampu menatap satu sama lain.
" Dek, "
Gus Syam sudah berdiri di sebelah istrinya menautkan jarinya dengan jari milik istrinya. Tari sedari tadi terlihat terharu ketika menyaksikan prosesi ijab kabul sahabatnya itu. Matanya sekarang sudah berkaca - kaca butiran kristal bening itu mulai memenuhi kelopak matanya merangsek akan keluar. Tangisnya ini tangis bahagia, melihat sahabatnya yang pada akhirnya telah menemukan jodohnya. Terlebih dari itu dia teringat almarhum ayahnya, yang masih sempat melakukan kewajiban beliau meskipun dengan keterbatasan yang ada.
" Kok sampai terharu seperti ini, ingin Ayah ya ? " Bisiknya ditelinga sang istri.
Ketika sang suami mengucapkan itu, butiran kristal bening itu jatuh tanpa bisa dihentikan. Meluncur begitu saja, ada rasa sakit disana bila mengingat setiap hal tentang ayahnya. Gus Syam yang melihat itu, dirangkulnya bahu sang istri sambil membelainya pelan.
" Maaf ya Dek, ngak bisa ngasih acara seperti ini. Tapi insyaallah Mas akan membahagiakan sampean dunia akhirat. " Ucapnya pekan sembari menghapus air mata di pipi istrinya dengan jempolnya.
" Aku bersyukur Mas, sampean datang di saat waktu yang tepat. Disaat aku benar - benar membutuhkan sampean, tetaplah di sampingku apapun yang terjadi. "
" Insyaallah pasti Dek, Mas tidak akan pernah meninggalkan sampean. "
Setelah acara inti selesai, sekarang tiba saatnya sambutan dari kedua belah pihak keluarga. Dan sebuah kajian yang akan diberikan Gus Reyhan secara singkat tentang pernikahan. Kedua mempelai sudah duduk di pelaminan dengan senyum yang masih terus tersungging dari keduanya. Gus Reyhan sudah memulai kajian dari tadi, yang kadang kala isi kajiannya menggoda kedua mempelai.
" Ngapunten Bu, saya sudah sold out kalau anak - anak muda bilang. Jadi not available meskipun nyonya saya kali ini ngak datang. "
" Mboten punya adik Gus ? "
" Adik ada, kebetulan hari ini juga ikut bagaimana apa disuruh maju ke depan ? " Nanti sampean bisa menanyakan sudah sold out apa belum........ "
" Iya Gus, suruh maju adeknya. "
" Maju, "
__ADS_1
" Maju, "
Sementara Gus Syam yang sedang menemani istrinya makan hanya bisa menggeleng melihat kelakuan kalanya itu. Gus Reyhan akan selalu memanggilnya apabila mereka berada dalam satu kesempatan yang sama. Dengan dalih bagi - bagi ilmu biar ilmunya bermanfaat bagi orang lain.
" Dek, Ghasan monggo empun mojok mawon. Ayo berbagi ilmu dulu, biar Mas Rizki dan Mbak Wardah juga mendapatkan ilmu dari sampean juga. "
Mendengar namanya sedari tadi, dipanggil - panggil oleh sang kakak membuatnya berdecih. Ada hal yang dia khawatirkan ketika meninggalkan istrinya, takut bila tiba - tiba Pandu mendatangi istrinya.
" Dek Ghasan, ayo ojo singitan tah. "
Tari mengangguk, sebagai tanda bahwa dia akan baik - baik saja. Dengan berat hati dia berdiri meninggalkan istrinya yang tengah menyantap hidangan. Tepuk tangan kian riuh dikala dia mulai berjalan kearah pelaminan. Hari ini dia mengenakan kemeja batik panjang yang sesuai dengan rok yang dipakai Tari, di padukan dengan celana bahan warna hitam. Yang menambah aura kegantengannya berkali - kali lipat.
" Ya ini adek saya, yang tadi saya ceritakan kebetulan kami bertiga saya, Ghasan, dan Rizki itu teman sepermainan, kalau kata anak sekarang konco kenthel. Banyak hal yang kami lalui semenjak kecil karena kami selalu bersama, dan ketika kami mulai beranjak dewasa kami mulai terpisah karena ingin mengejar mimpi kami masing - masing. "
Gus Reyhan menjeda kalimatnya, tiba - tiba matanya memanas ketika mengingat masa kecil yang mereka habiskan bersama. Kemudian dia memberikan microfon kepada Gus Syam, Yang langsung disambut riuh para hadirin semua.
" Assalamualaikum wr.wb. Banyak hal yang kami lalui bersama senang dan susah tentu keduanya selalu beriringan. Banyak hal yang kami lakukan, entah itu hal terpuji atau tidak, yang jelas pada saat itu kami masih mencari jati diri. Ki selamat menempuh hidup baru semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah dan maslahah, keluarga yang selalu dipenuhi dengan keberkahan dan kebaikan dan dijauhkan dari segala hal buruk. "
Tari menatap suaminya, dengan penuh bangga banyak hal yang mulai dia tahu dari sosok tegap yang sekarang sedang menatapnya intens, walaupun jarak mereka cukup jauh. "
" Iku lo Mbak, seng tak omongno nganteng yo sampean delok tah beh jan yak apa ngunu ya. Wong tuwek ae seneng nyawange ndahneo rek seng arek enom. "
" Iyo se Mbak, ancen yo adike Gus Mbak. "
" Mugo - mugo durung nduwe bojo ya. "
Obrolan yang terdengar dari beberapa orang ibu - ibu, Tari hanya bisa tersenyum dan menggeleng ketika mendengar suaminya menjadi bahan pembicaraan ibu - ibu disini.
" Sudah menikah apa belum Mas ? " Teriak dari seseorang ibu - ibu
" Wah ini pertanyaan sensitif ini, Alhamdulillah Buk sampun baru saja menikah saya tapi kalau ka*innya belum. hehehehe ........ " jawabnya sembari tersenyum jenaka.
" Bocah semprul. " Jawab Gus Reyhan sembari memukul pundak Gus Syam keras yang diiringi gelak tawa semua orang.
" Hu...... hu ......... "
" Wah patah hati donk, "
" Wez ngak jadi love you. "
Teriak beberapa wanita dan Ibu - ibu yang tadi begitu antusias, namun mengetahui jika dia sudah menikah mereka langsung tak bersemangat.
" Yah, kalau seganteng saya terus ngak laku - laku ya dikira gimana to Buk, Mbak. Alhamdulillah sudah sold out, jadi sudah tidak merasakan rasanya ngenes jadi jomblo fisabilillah. "
Gus Syam memberikan materi dengan gaya khasnya yang kekinian dengan sedikit humor dan istilah - istilah jaman now. Sehingga yang mendengarnya menjadi mudah untuk menerimanya, sampai dia selesai memberikan kajian orang - orang tetap antusias. Setelah itu dia kembali menghampiri istrinya yang tidak beranjak dari duduknya.
" Duh yang banyak fansnya. " Ucap Tari menggoda sang suami
" Biasa Dek, orang ganteng ya begini sampean harus sabar - sabar lo ya nggak boleh cemburuan. "
" Insyaallah tidak Mas, karena aku tau hati Sampean untuk siapa. Sampean minum dulu ini. " Ucapnya sembari memberikan teh hangat ke arah sang suami.
" Nyimas Khodijah Bramastari benarkah itu kamu ? " Ucap seseorang yang baru saja datang kearah mereka dengan suara yang pelan tenang dan penuh penekanan.
__ADS_1
Bersambung .........