Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
97. Mencintainya


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


" Sebenarnya apa yang sampean inginkan dari ku. "


" Aku tidak pernah ihklas jika kamu sampai di miliki orang lain, kenapa disaat keluargaku bisa menerima kamu malah menolak ku. Dan yang tidak bisa ku terima kenapa mesti dia. "


" Semua ini adalah takdir yang telah digariskan untuk ku, dan sampean. Kita tidak punya sedikitpun untuk menolaknya. "


" Setidaknya, juga bukan dia ......... "


" Bisakah kita menolak sesuatu yang sudah dipastikan semenjak perjalanan hidup kita mulai di tulis ? " Tanyanya pada sosok laki - laki yang duduk di depannya. Wajahnya sudah sembab dengan bekas air mata yang mengering.


" Sudah jangan bicara apapun, karena itu tidak akan merubah keputusanku. Kamu makan dulu aku tidak mau kalau kamu sakit karena perjalanan kita baru di mulai esok pagi. " Ucapnya sembari menyodorkan sekotak makanan.


Laki - laki itu berdiri dari duduknya, meninggalkannya yang masih duduk di lantai sembari memeluk lututnya. Dia keluar ruangan itu meninggalkannya sendiri, dan menguncunya dari luar. Dia semakin memeluk erat lututnya, sisa air mata yang mengering itu kini kembali basah. Perasaan takut menguasai pikirannya saat ini, sehingga membuatnya hanya mampu menangis.


Ya Allah lindungilah hamba, bukalah pintu hati dan pikirannya sehingga dia menyadari apa yang dia lakukan ini salah. Mas aku disini aku takut sekali Mas, cepat temukan aku. Aku takut sekali ........


*********


Setelah Gus Syam dan Gus Reyhan menemukan handphone milik Tari yang terjatuh di gang belakang rumah Wardah terjadi kehebohan disana. Semua orang yang semula menikmati hiburan orgent tunggal dengan penuh gembira, menjadi berbalik. Acara yang harusnya selesai sebelum Mahgrib itu, dihentikan oleh pihak keluarga Wardah karena kejadian itu.


Semua orang bahkan dilibatkan untuk mencari, namun sampai selepas ashar tetap tidak ada hasilnya. Hampir satu desa sudah ditelusuri namun hasilnya tetap sama, Tari hilang bagaikan ditelan bumi. Tidak ada yang melihat dia pergi kemana dan juga tidak ada petunjuk sama sekali.


" Kita sepertinya harus lapor polisi Shan, biar aku yang melapor. "


" Bagaimana baiknya Mas, aku rasa tidak bisa berfikir. "Jawab Gus Syam lirih.


Semenjak menemukan handphone milik sang istri dia seperti orang ling lung, perasaan khawatir dan kehilangan menguasai pikirannya saat ini. Sehingga membuatnya, menjadi sosok yang terlihat sangat rapuh, jauh dari sosoknya yang biasa terlihat tenang. Mereka masih belum meninggalkan rumah Wardah karena berharap masih mendapatkan petunjuk atau setidaknya sang istri pergi untuk suatu kepentingan dan akan kembali kesana.


" Yak apa Rek, gang loro wes di sisir tah ? "


" Uwes Cak, tapi ganok asile. "


" Coba gang papat karo enem, iku mau lak durung se ? "


" Arek - arek isek nyisir saiki cak. "


Obrolan beberapa pemuda di sekitar rumah Wardah yang membantu ikut mencari keberadaan Tari, namun hasilnya tetap sama. Gus Reyhan dan Pak Rizki tak kalah bingung mereka berdua nampak mondar mandir dengan handphone yang senantiasa menempel di telinga mereka. Nampak menghubungi kenalan mereka untuk membatu mereka mencari Tari. Suasana pesta tadi siang masih tersisa di rumah itu, namun sedikit tegang karena semua orang di rumah itu sedang merasa khawatir.


" Sudah nduk sampean minum dulu, "


" Gimana to buk, Nabi Tari kemana aku ngak bisa tenang Buk. Kemana ya perginya Mbak Tari ngak biasanya Buk Mbak Tari pergi tanpa pamit seperti ini. "


" Semua orang sedang mencari nduk, semoga segera ditemuka. Semoga ngak terjadi apa - apa ya Nduk, semoga saja. "


" Sebentar Buk, saya tak keluar dulu Mas Rizki di luar kan Buk ? "


" Iya suamimu di luar bersama yang lain. "


Wardah keluar dari kamarnya, menghampiri sang suami yang masih berdiri mondar mandir. Suasana di teras rumah itu masih menegangkan, ada banyak orang tapi tidak ada satupun obrolan. Hanya sesekali suara Gus Reyhan yang sedang menghubungi seseorang yang terdengar. Gadis itu memegang pelan lengan sang suami, yang membuat Pak Rizki langsung menoleh kearahnya.

__ADS_1


" Bagaimana Mas ? "


" Belum ada titik terang. " Jawabnya sambil menggeleng.


Pandangan mereka langsung mengarah pada sosok laki - laki yang kini tengah terduduk dengan lunglai, wajah yang biasanya berseri itu sekarang seolah redup. Mukanya sudah kusut sekali, bahkan kancing kemeja batiknya sekarang sudah di buka. Air matanya memang tidak sampai menetes tapi sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam.


" Shan, sebaiknya kita pulang dulu. Aku tadi sudah membuat laporan dan temanku itu bisa diandalkan. "


" Tidak Mas, nanti kalau dia datang aku tidak disini bagaimana kalau dia mencari ku. "


" Disini kan ada Rizki, kalau dia datang kemari Rizki pasti akan menghubungimu. Sebaiknya kita pulang dulu Buk Fatma dan Abbah juga sudah sampai dirumah. "


" Tapi Mas. "


" Sudah kamu pulang dulu Shan, kalau Tari nanti datang kemari aku pasti menghubungimu. " Rizki menghampiri sahabatnya itu dan menepuk bahunya pelan.


" Iya Gus Syam nanti kalau Mbak Tari datang kami pasti akan memberi tahu sampean. " Wardah juga ikut membujuk agar Gus Syam mau diajak pulang terlebih dahulu oleh Gus Reyhan.


Gus Reyhan sudah melaporkan kejadian yang dialami Tari kepada kenalannya yang seorang Intel kepolisian, bukan saja mereka melepaskan tanggung jawab untuk mencari Tari. Namun melihat keadaan sepupunya sekarang, lebih baik jika kembali ke rumah terlebih dahulu. Setelah beberapa orang meyakinkan dan membujuknya akhirnya Gus Syam pun mau diajak pulang. Sepanjang perjalanan dia menatap jalanan dengan pandangan kosong, semua benar - benar diluar kuasanya.


" Kenapa benar - benar tidak ada petunjuk. Apa mungkin dia, tapi selama aku disana aku tidak melihatnya sama sekali. " Gumam Gus Reyhan pelan sembari memperhatikan jalan di depannya.


" Kenapa aku bisa seceroboh ini Mas ? "


" Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri Shan, semoga saja semua ada titik temunya. "


Mobil mereka berhenti di depan pagar rumah, karena carport miliknya tengah terisi. Pintu rumahnya nampak terbuka, menandakan sedang ada orang di dalamnya. Gus Reyhan merangkulnya, mereka berjalan beriringan ke dalam rumah. Rumah yang biasanya sepi itu sekarang sedang ramai karena keluraganya datang dan menginap disini untuk menghadiri resepsi pernikahan Rizki.


" Assalamualaikum "


Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Bu Fatma dan Ummi Salamah yang sedang duduk bersebelahan dengan tangan yang saling menggenggam. Kedua paruh baya itu nampak menitipkan air mata, keduanya nampak saling menguatkan satu sama lain. Sementara Abbah duduk bersama Nafisa dan Rina yang sedang memangku baby Mikha.


Semua orang nampak terdiam ketika mereka masuk, tidak ada satupun kata yang mereka katakan.


Gus Syam datang menghampiri kedua wanita paruh baya itu, lalu berjongkok di depan mereka. Kemudian dia Menggenggam tangan Bu Fatma, yang dibalas rengkuhan oleh sang mertua.


" Maafkan Syam Buk, tidak bisa menjaga Dek Tari. " Tangis yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah juga.


" Tidak Nak, kita sedang diuji jangan mempersalahkan diri sendiri. "


Mereka berdua, menangis dengan berpelukan dalam waktu yang cukup lama. Sementara Bunyai Salamah yang menyaksikan kesediaan putranya hanya bisa mengelus punggung putranya itu pelan. Rasanya begitu sesak, apalagi jika mengingat janjinya pada sang mertua untuk selalu melindungi istrinya itu, menambah rasa sesaknya semakin dalam.


" Sudah Nak, sampean harus kuat Ibuk percaya sampean bisa menemukan Ijah. "


" Maafkan Syam Buk. "


" Jangan bicara seperti itu, Ibuk sangat percaya sama sampean. "


***********


Suara adzan berkumandang, membangunkannya dari tidurnya. Matanya mengerjap - erjap mencoba mengumpulkan kesadarannya, namun nyatanya matanya terasa berembun mungkin karena dia tadi terlalu lama menangis. Ruangan yang ditempatinya sekarang bertambah gelap, dengan hawa dingin yang menusuk hingga tulangnya.

__ADS_1


Di tengah kegelapan dengan keterbatasan penglihatan dia terus berusaha menemukan sesuatu yang bisa dia jadikan jalan keluar dari tempat ini. Namun usahanya sia-sia karena sejauh ini dia tidak menemukan papun. Saat dirasa menemukan knop pintu, dia segera membukanya dengan paksa, dia sedikit menghentakkan tubuhnya ke pintu berharap pintu itu bisa dibuka.


Bbbrrruukkkkkk ........


" Percuma, apa yang sedang kamu lakukan itu malah akan menyakitimu hentikan !!!..... " Suara seseorang yang sangat dikenalnya dari arah pojok ruangan itu.


Lampu begitu saja menyala, setelah laki - laki itu menyalakannya,. Nampak dia sedang duduk di sebuah kursi dengan tangannya yang bersedekap. Memandang kearahnya dengan tatapan yang sulit dia artikan.


" Saya sedang berusaha " Jawabnya tanpa menghentikan apa yang dia lakukan.


Tari benar - benar sungguh kecewa dengan apa yang di lakukan laki - laki itu. Bagaimana dia bisa dia sampai bertindak sejauh ini, sama sekali bukan seperti laki - laki yang pernah dia kenal dulu.


" Aku tidak suka kamu menyakiti dirimu seperti ini. " Ucapnya sembari meraih tangan Tari, dan menariknya menjauh dari pintu.


" Sampean berkata apa, sampean tidak suka melihat ku menyakitiku sendiri ? " Tanyanya dengan penuh emosi, di sana nampak wajahnya sampai memerah dengan mata yang berkaca - kaca.


Mengetahui bahwa wanita yang sangat dia cintai ini marah, laki - laki itu pun melepaskan genggaman tangannya. Dalam hatinya dia juga tidak suka dengan cara yang dia lakukan namun ini satu - satunya hal yang bisa dia lakukan agar Tari kembali ke dalam pelukannya. Meskipun dia menyadari sepenuhnya, apa yang dilakukan ini adalah hal yang salah.


" Cara sampean yang seperti ini jauh menyakitkan bagiku, melebihi rasa sakit karena fisik yang terluka. "


" Bagaimana bisa sampean bisa melakukan ini padaku, dengan setatus ku sebagai istri. "


" Apa ***** sudah benar - benar menguasai seluruh pikiran sampean, sampai - sampai sampean tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah hah ....... "


Laki - laki itu hanya terdiam dengan semua apa yang di katakan oleh Tari, akal sehatnya benar - benar sudah tidak bisa mengalahkan hawa nafsunya. Sedangkan Tari dia terus saja terisak, bahkan nafasnya saja terlihat tersengal - dengan karena begitu sesaknya dia menangis.


" Kenapa sampean setega ini pada ku, apa salah ku ...... ,? " Dia beteriak sambil menangis.


" Aku akan membawa mu jauh dari semua ini, dan aku akan selalu membahagiakan mu jadi kamu tidak akan pernah menyesali keputusan yang aku buat. "


" Apa, apa sampean bilang, siapa sampean ? Bahagiaku hanya bersama suamiku ...... ," Dia mengatakan itu dengan sedikit berteriak.


Laki - laki itu kaget ketika mendengar apa yang diucapkan Tari, karena yang dia tahu Tari menikah dengan sang suami karena di paksa oleh almarhum sang Ayah. Mendengar itu dari mulut wanita yang dicintainya seperti tersambar petir di siang yang terik. Laki - laki itu kemudian Kemabli mendekat dan mencekal tangan Tari dengan erat.


" Jawab pertanyaan ku, apa kamu mencintainya ? "


Tari berusaha berontak karena laki - laki itu menyengkeram erat lengannya, memaksanya untuk menatap wajahnya. Hal itu enggan Tari lakukan karena menatap orang lain selain suaminya adalah yang dia hindari.


" Pandang aku " Bentaknya lagi.


" Apa kamu mencintainya ? "


" Ya aku sangat mencintainya " Jawanya dengan yakin dengan pandangan penuh keyakinan dengan apa yang sedang dia ucapakan adalah sebuah kebenaran.


Bersambung..........


Assalamualaikum wr. wb.


Tadinya, mau dikasih jeda ngak up dulu untuk hari ini, eh ngak taunya jari jemari dan otak sinkron. Alhamdulillah satu bab terselesaikan 🤭, yey walaupun ...........


Mungkin hari - hari ke depan upnya ngak bisa setiap hari, karena anak - anak sudah mulai masuk sekolah lagi. Dan anak bontot memerlukan perhatian ekstra pas masuk sekolah jadi bisa mempengaruhi waktu untuk menulis. Tapi Insyaallah kalau ada waktu saya usahakan Up

__ADS_1


Terimakasih atas perhatiannya Gus Syam dan Tari sudah sampai bab ini. Jangan lupa like dan komen apalagi kalau diberi hadiah saya kan berterimakasih sekali.


Semoga kita selalu dalam lindungan Allah. 🙏🙏🙏


__ADS_2