
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Tari melihat pantulan dirinya di cermin, dia sedikit merasa aneh dengan apa yang dia kenakan saat ini. Orang - orang menyebutnya baju dinas untuk suami, nun bagi Tari baju ini benar - benar tak layak untuk dipakai, selain modelnya yang terlalu minim juga bahannya yang menerawang memperlihatkan jelas setiap lekuk tubuhnya. Ini baru pertama kalinya dia menggunakan baju seperti ini dan ini semua dia lakukan demi menyenangkan sang suami
Dia berusaha meyakinkan dirinya berulang kali, ketika melihat pantulan dirinya di cermin. Perkataan mbak Rina terus terngiang di pikirannya saat memberikan baju ini kemarin.
" Aku yakin Ghasan akan sangat berterimakasih padaku saat sampean mau mengenakan baju itu. "
Baju lingerie berwarna merah maroon dengan model dress di atas lutut dengan belahan dada rendah dengan tali kecil dan juga mengekspos punggungnya yang mulus. Namun sudah kepalang tanggung, dia sudah memakainya berarti dia harus berani menghampiri sang suami yang masih senantiasa menantinya.
Dibukanya ikatan rambutnya, kemudian menyisirnya menyemprotkan minyak rambut yang beraroma mawar. Tak lupa dia juga menyemprotkan parfum yang menjadi favorit sang suami di kedua pergelangan tangannya lalu mengusapnya di bagian tengkuknya.
Dengan pelan dia membuka walking closed, yang semula dia tutup rapat. Menyembulkan kepalanya mencoba mencari keberadaan sang suami, namun dia tidak mendapati sosok tinggi itu di kamar mereka. Melihat suaminya tidak ada dia berlahan menegakkan badannya lalu melangkah keluar. Baru satu langkah dia keluar Namun tiba - tiba badannya direngkuh oleh tangan kokoh yang melingkar erat di perutnya.
" Istriku cantik sekali malam ini. "
" Ma - Mas ...... " ucapnya terbata.
Tanpa melepaskan pelukannya Gus Syam menuntun sang istri ke tengah kamar. Wajahnya senantiasa menempel lekat di ceruk leher sang istri yang menimbulkan gelenyar aneh yang dirasakan oleh Tari.
" I love you Bidadari surgaku. "
" I love you too. "
Gus Syam mengecup kecil namun basah di tengkuk sang istri sampai belakang telinganya, memberikan tanda kepemilikan disana dengan jumlah yang cukup banyak.. Kemudian membalik sang istri untuk menghadap kearahnya, ditangkapnya wajah Tari dengan kedua telapak tangannya.
Kedua netra mereka saling memandang, nampak sekali keduanya memandang dengan pandangan saling mendamba satu sama lain. Dengan sedikit membungkuk Gus Syam menyatukan kening mereka, sembari mengelus tengkuk sang istri pelan begitu juga dengan Tari dia sudah mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
" Apakah aku boleh meminta hak ku sekarang ? " Ucap Gus Syam dengan suara parau.
Tari menatap mata sang suami yang sudah berkabut gairah, dia mengangguk kecil. Seperkian detik kemudian Tari mendekatkan wajahnya wajah sang suami yang langsung di sambut dengan penyatuan bibir oleh Gus Syam.
Ciuman, pelan penuh hati - hati namun penuh dengan kenikmatan yang dirasakan mereka berdua yang mampu menumbuhkan gelenyar aneh untuk keduanya.
Setelah melepas panggutan yang berdurasi cukup lama, Gus Syam mengendong sang istri menuju ranjang milik mereka. meletakkan sang istri dengan hati - hati tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri.
" Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa".
Artinya: Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.
Setelahnya dia mencium dalam kening, kedua pipi dan kemudian bibirnya dengan pelan ....
Kedua insan itu menikmati setiap sentuhan yang mereka lakukan tidak ada yang paling mendominasi namun mereka saling memanjakan satu sama lain. Meraih kenikmatan surga dunia bersama tanpa menuntut tanpa paksaan keduanya saling mengisi dan saling memuaskan satu sama lain.
Sampai meraih surga dunia bersama, dengan nafas yang masih terengah dan peluh yang membasahi keduanya seulas senyum mereka terbit secara bersama. Gus Syam mencium kening sang istri lama dan membawanya ke dalam pelukannya.
" Mas "
" Mas, sebentar lagi masuk waktu subuh. " Ucap Tari pelan sembari menggoyang bahu sang suami pelan.
Namun Gus Syam tak nampak tak sedikitpun bergeming dari tidurnya. Tari hanya menggeleng dengan mengulas senyum di wajah ayunya, kejadian semalam langsung saja memenuhi ingatannya bagaimana sang suami memperlakukannya dengan penuh kelembutan dengan penuh damba. Bukan hanya sekali mereka melakukan penyatuan namun beberapa kali yang membuat dirinya cukup kelelahan.
" Mas. "
" Sebentar lagi sayang. " Jawabnya tanpa membuka matanya.
" Sebentar lagi masuk waktu subuh Mas, ayo bangun aku sudah menyiapkan air panas untuk sampean mandi. "
Dengan susah payah Gus Syam membuka matanya, mengedip - ngedipkan matanya berharap dapat menghilangkan rasa kantuk yang enggan pergi. Ditatapnya wajah sang istri yang sudah nampak segar dengan berbalut mukena.
" Wah istriku ini tangguh sekali, "
Yang hanya mendapat tanggapan senyuman oleh sang istri.
" Ayo mandi dulu kita sholat subuh berjamaah di rumah saja. "
__ADS_1
Sebelum beranjak dari kasur dia tak lupa mengecup kening sang istri dalam, kemudian menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Berjalan dengan malas ke arah kamar mandi.
" Dek, hari ini aku ngantor "
" Iya kah Mas, tunggu sebentar aku akan menyiapkan pakaian sampean. "
" Ngak papa kan aku tinggal di rumah sendiri ? Kemarin Ndan Fahmi menghubungi ku ada sesuatu yang ingin Beliau sampaikan. "
" Benarkah Mas ? "
" Kenapa memangnya .... " Gus Syam mengalihkan pandangannya ke arah sang istri saat mendengar nada suara sang istri berubah ketika dia menyebutkan nama komandannya itu.
Gus Syam melipat koran yang semula dia baca dan menaruhnya di atas meja di depannya kemudian menghampiri istrinya yang sedang berada di walking closed.
" Idih rupanya ada yang ..... " Ucapnya menggantung sembari memeluk sang istri dari belakang.
" Ish ...... ngomong apa coba. Aku kangen Hawa Mas sudah lama aku tidak bertemu dengannya. "
" Kangen Hawa apa kangen Ayahnya Hawa ni. "
" Apa sih Mas. "
Gus Syam menaruh kepalanya di ceruk leher sang istri yang tidak tertutup oleh kerudung. Menghirup aroma tubuh istri yang menjadi candu baginya. Dia tersenyum ketika melihat banyaknya tanda merah di leher sang istri.
" Dek mau lagi. "
" Ingat Mas puasa, dan ini masih terasa sedikit sakit. "
Deru nafas Gus Syam yang terasa oleh Tari sukses membuat tubuhnya meremang.
" Awas nanti malam, .... " Ucap Gus Syam dengan senyum penuh arti.
" Lagi ? "
" Mana bisa Dek melewatkan satu malam tanpa itu kalau aku sudah merasakan kenikmatannya. " Jawab Gus Syam santai, namun tidak dengan Tari wajahnya sudah Semerah udang rebus mengingat kejadian tadi malam.
" Mas, aku akan pergi ke rumah Tari ya ? "
" Tapi aku tidak bisa menemani lo, sampean tahu kan aku ada janji dengan Ayah. "
" Iya ngak papa, tapi antarkan aku ya semenjak kejadian kemarin aku belum mengunjunginya. "
" Baiklah, tenag saja aku akan mengantarkan sampean. " Ucapnya sambil menagncingakan kemejanya.
Wardah yang mengetahui sang suami sedang mengancingkan kemeja miliknya langsung mengambil alihnya. Pasangan pengantin baru itu, sekarang menjadi pasangan yang sangat kompak dalam segala hal. Mengingat dulu sikap mereka satu sama lain sebelum menikah sungguh berbanding terbalik.
Wardah yang dulu cenderung ketus dan semau sendiri, sekarang berubah menjadi istri yang penurut dan lemah lembut. Mengutamakan suaminya dalam segala hal, suaminya adalah pusat dunianya sekarang.
" Aku juga ada hal yang akan aku bicarakan dengan Ghasan sebenarnya. "
" Tentang ? "
" Usaha baru, yang kita rencanakan bersama tapi karena masalah kemarin jadi kepending. "
" Wah rajin bener suamiku ini, " Ucap Wardah sembari mengusap pipi sang suami.
" Jelas donk kan udah berani nge halalin anak orang, belum lagi nanti kalau sampean hamil dek. Apalagi sampean kan makannya banyak, kalau ngak rajin megawe lah dapure ora ngebul engko. " Ucapnya sembari mengecup kening sang istri.
" Lah, makan sedikit salah makan banyak salah. " Ucap Wardah sambil mengerucutkan bibirnya, saat seng suami mengatakan dirinya banyak makan.
" Wah pagi - pagi sudah nantangin ini ya ..... "
" Apa sih, " Dengan muka yang dibuat seolah sedang marah.
" Tu kenapa mulutnya kayak gitu, kan bikin aku ngak tahan kalau ngak nyium kamu. "
__ADS_1
Dengan cepat Rizki menyambar bibir sang istri, me**matanya pelan dengan sedikit menyesapnya sembari menekan tengkuk sang istri agar memperdalam panggutan mereka.
************
✉️ Assalamualaikum Mbak, Insyaallah aku ke rumah sampean hari ini. Sampean di rumah kan ?
Wajah Tari langsung sumringah saat membaca pesan dari sahabatnya itu. Apalagi hari ini suaminya akan pergi ke kantor jadilah dia di rumah dengan Mak Tun orang yang biasa membersihkan rumahnya.
✉️ Walaikumsalam Dah, aku di rumah aku sangat senang bila sampean akan berkunjung kesini.
Setelah mengirim beberapa chat dengan sahabatnya itu dia kembali ke aktivitasnya semula. Menyiapkan keperluan sang suami sebelum berangkat bekerja.
" Nanti Wardah akan datang Mas. "
" Benarkah ? "
" Iya, baru saja dia mengabariku Mas.
" Syukurlah Dek sampean jadi ada temannya.
Mereka berdua keluar kamar menuruni tangga menuju lantai bawah rumah mereka. Nampak di bawah Mak Tun sedang membersihkan sisa kejutan tadi malam yang lumayan membuat wanita paruh baya itu sibuk di pagi ini.
" Assalamualaikum Mak. "
" Walaikumsalam Gus, Mbak Tari aduh sumringah bener ya. "
Sejak tadi mereka memang tak henti mengulas senyum di wajah keduanya. Ya apa yang mereka lakukan tadi malam membawa banyak perubahan bagi keduanya.
" Mbak Tar mau sarapan apa atau mau ngopi dulu ? "
" Kami sedang puasa Mak, jadi tidak usah repot menyiapkan sarapan untuk kami. Mak saja masak untuk Mak makan. "
" Baiklah Mbak Tar. "
Jam masih menunjukkan jam 06 : 30 masih ada sekitar tiga puluh menit lagi untuk Gus Syam berangkat. Gus Syam nampak duduk di sofa ruang tengah dengan melihat siaran tv yang menayangkan berita. Sedangkan Tari membantu Mak Tun membersihkan rumah memunguti sisa lilin yang masih berserakan di tangga rumahnya.
Setelah selesai membantu Mak Tun dia segera membawa sepatu milik sang suami dan menaruhnya di depannya. Namun Karena terlalu asik melihat siaran berita sang suami tidak memperhatikan jam yang sudah hampir pukul tujuh pagi. Tanpa berkata apapun dia langsung berjongkok di depan sang suami memakaikan kaos kaki selanjutnya memasang sepatu yang dia bawa tadi.
Sementara itu Gus Syam hanya memasang wajah jenaka saat sang istri memakaikan sepatu kepadanya. Tanpa Tari sadari pandangan sang suami tak lepas menatapnya, yang kemudian mencuri satu ciuman di bibirnya.
cup
" Ih Mas, ..... ngak enak dilihat Mak Tun nanti. " Keluh Tari pada sang suami, yang menurutnya tidak tahu tempat.
" Salah sendiri, sampean itu selalu membuatku ingin selalu mencium sampean. "
" Mana bisa begitu, aku lupa mas bila aku berjanji pada ibuk - ibuk di masjid semalam bila aku akan datang untuk menyiapkan acara Jum'at berkah bersama mereka. Bagaimana ini mas sedangkan Wardah sudah dalam perjalan kemari Mbak Rini juga dalam perjalanan juga. "
" Ya semuanya saja diajak ke sana Dek. "
" Tapi aku belum menyiapkan sesuatu untuk di bawa kemana mas. "
" Kalau masalah itu, sampean nanti bisa berbelanja terlebih dahulu terserah mau membawa apa. "
" Boleh kah Mas ? "
" Tentu saja boleh Dek, kenapa mesti tanya terlebih dahulu. " Ucapnya sambil mengusap puncak kepala sang istri yang di tutupi kerudung.
Tepat pukul tujuh Gus Syam berangkat mengendarai mobil SUV miliknya meninggal kan rumahnya menuju kantor yang letaknya tidak jauh dari kompleks rumahnya. Sedangkan Tari kembali di sibukkan di taman belakang merawat beberapa tanaman milik sang suami sambil menunggu kedua sahabatnya datang.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam ... "
" Mikhail ..... " Ucap Tari antusias yang langsung disambut bayi gembul itu dengan kedua tangannya yang merentang.
__ADS_1
Bersambung .......