Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
15. Teman


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Pagi ini hawa dingin terasa begitu menusuk dikulit, kabut pun turun menyelimuti seakan menambah hawa dingin yang ada. Mentari pun begitu enggan turun dari peraduannya, tapi tidak dengan ayam yang dengan gagahnya dia berkokok menandakan pagi sudah datang.


Di dapur kecil yang masih beralaskan tanah, dan bertingkah kayu bakar itu. Nampak dua wanita beda generasi itu, sedang berkutat dengan peralatan dapur yang masih tradisional. Asap mengebul dari tungku kayu, yang membuat langit - langit di dapur itu menghitam.


" Buk, nanti biar Ijah yang mengantar utrinya (sejenis makanan dari singkong yang diparut dengan tambahan kelapa parut dan gula merah )"


" Iya nduk, nanti sekalian bawa tehnya ya "


" Enggeh buk, nanti sekalian Ijah mau pamit ke rumah Dinda buk "


" Memang ada apa nduk tumben kok kerumah Dinda, memangnya Dinda ada di rumah ? "


" Mau ke sekolah kami yang dulu buk, ada buk dia pulang hari Jum'at dari Surabaya "


" Ouw, mau naik apa ? "


" Insyaallah ikut Dinda naik sepeda motor buk "


" Hati - hati Lo nduk, ngak usah ngebut - ngebut "


" Enggeh buk "


Karena hari ini ada kerja bakti di pos kamling ibu dan Tari membuat utri. Tak lama berselang utri yang sedang dikukus sudah matang. Dengan sigap Tari mengeluarkannya dan menatanya di baskom plastik, dan menyisakan sedikit ke dalam piring.


" Buk, Ijah berangkat dulu ini utri sama tehnya sudah Ijah bawa "


" Ati - ati Lo nduk, sampean langsung kerumah Dinda ? "


" Enggeh buk, Ijah berangkat dulu. Assalamualaikum" ucap sambil menyalami tangan ibunya dan berjalan keluar rumahnya dengan membawa sebaskom utri dan se teko teh ditangan yang satunya.


" Walaikumsalam "


Tari berjalan menyusuri jalan depan rumahnya yang kebutulan merupakan jalan raya, yang dilalui beberapa kendaraan besar serta beberapa kendaraan umum. Tak lama berjalan dya sampai di pos kamling, dilihatnya beberapa warga masih membersihkan pos kamling itu.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam " Jawab beberapa orang bersamaan, dan segera mereka menoleh ke sumber suara tersebut.


" Monggo pak, Teh sama utrinya "


" Sampean taruh di meja itu" jawab salah satu dari mereka.


" Mau kemana nduk, kok sudah rapi bawa tas pula "


Tari kaget dengan suara orang yang menanyainya, dengan segera dya membalikan tubuhnya kesumber suara yang berada dibelakangnya.


" Pak de, mau kerumah Dinda " Tari berjalan menghampiri orang tersebut dengan segera menyalami dan mencium tangan orang tersebut.


" Kapan kamu pulang nduk ? "


" Malam Minggu Ijah selalu pulang pak de, Monggo Ijah duluan ngeh takut Dinda menunggu pak de "


" Apakah Pandu sudah memberi kabar padamu nduk ? "


" Belum pakde, mungkin beliau masih dalam perjalanan "

__ADS_1


" owh, ya sudah kamu hati - hati ya nduk. Nanti kalau ada waktu mainlah kerumah pasti Bude akan senang "


" Insyaallah nggeh pak de, Monggo Ijah duluan. Assalamualaikum "


" Walaikumsalam "


Tari berjalan menuju rumah teman semasa sekolahnya itu, mereka sudah janjian dari kemarin untuk pergi ke sekolahnya. Sebenarnya Dinda yang memaksa Tari untuk menemaninya pergi ke sekolah mereka dulu, karena tidak ingin mengecewakan temannya itu lalu Tari menyutui untuk menamai Dinda. Tibalah Tari disebuah rumah dengan pagar besi, rumah yang begitu mencolok dibanding dengan yang lainya. Hal ini dikarenakan Dinda adalah seorang anak dari kepala desa, wajar saja bila rumahnya besar dibandingkan dengan yang lain.


Kemudian memencet bel rumah itu, tidak lama berselang keluarlah seorang gadis cantik dengan rambut hitam sepinggang. Wajahnya begitu terlihat bahagia ketika melihat siapa yang datang, dengan cepat dia menghampiri pintu gerbang rumahnya dan membukanya.


" Paijah, aku merindukanmu " setengah berlari dan tangan yang membuka akan memeluk Tari.


" Assalamualaikum, Dinda "


" Walaikumsalam, Paijah " sudah memeluk badan Tari dengan erat. Menumpahkan semua rindu yang dia punya karena mereka sudah sekitar 6 bulan tidak bertemu.


Kedua gadis itu sudah seperti lama sekali tidak bertemu banyak hal yang mereka bicarakan. Sehingga mereka lupa apa tujuan mereka untuk bertemu, banyak hal yang mereka ceritakan. Kedua pertemanan mereka terjalin semenjak mereka kecil dan terus berlanjut sampai mereka dewasa. Mereka sama - sama memiliki sifat yang ceria dan mudah bergaul itu yang menjadikan pertemanan mereka berlanjut sampai sekarang. Meskipun keduanya jarang sekali bertemu karena kesibukan masing - masing tapi tak mengurangi keakraban mereka berdua


" Jah, sampean sekarang kok bisa seperti ini. Sungguh aku ngak nyangka Paijah yang dulu selengekan, cerewet, bawel dan ceria sekarang jadi wanita anggun, lemah lembut dan sedikit pelit kalau ngomong "


" Bukan seperti itu Din, aku hanya ingin semua perbuatan dan ucapan ku itu berfaedah. Bukankah semua perbuatan dan ucapan itu ada pertanggung jawabannya ?"


" Iya sih, Tapi masak harus irit ngomong gitu jah ? "


" Memang harusnya seperti ini Din. Din aku rasa ini sudah cukup siang untuk kita berangkat "


" Oh my God, aku lupa. Tunggu sebentar ya aku masuk untuk ganti baju dulu "


Sudah sekitar 30 menit Tari menunggu di gazebo yang berada dihalaman rumah Dinda. Tempat favorit mereka semenjak dulu ketika mereka berdua bersama untuk mengerjakan tugas atau hanya sekedar bermain. Akhirnya yang ditunggu - tunggu pun tiba, dengan celana jeans dan kemeja putih serta rambut yang terurai begitu cantik dengan dandanan yang paripurna untuk gadis seusia mereka.


" Ayok Jah " datang menghampiri Tari


" Iya, pulangnya saja nanti kita jalan kemana mengulang masa lalu "


Dinda berjalan membuka garasi rumahnya, tak lama berselang dia mengeluarkan mobil miliknya yang berwarna putih. Tari yang berada di depan garasi, terlihat kaget melihat temanya itu menyetir mobil dengan santainya. Sejak kapan temanya itu sudah mahir menyetir mobil, sedangkan dia untuk naik sepedah ontel saja tidak bisa. Sungguh bagaikan bumi dan langit kehidupan yang mereka jalani tapi tidak menjadi pemisah pertemanan mereka.


" Din, beneran sampean bisa nyetir ? "


" Bisa lah, aku setiap hari selalu nyetir sendiri setiap berangkat kerja jah. Tenang saja aku sudah mahir, sudah buang rasa khawatirmu itu"


" Bukannya begitu, aku takut "


" Hahaha, tenang serahkan padaku "


Mobil itu berjalan menuju jalan raya , menyusuri jalanan yang ramai karena hari ini hari ini hari Minggu. membutuhkan sekitar perjalanan 20 menit untuk sampai kesekolah mereka dahulu karena letaknya yang beda kecamatan. Di dalam mobil mereka berdua membicarakan banyak hal, tentang pekerjaan masing - masing dan kuliah Tari yang akan menghadapi sidang pertama. Akhirnya mereka sampai di depan pintu gerbang sekolah, meskipun hari Minggu sekolah itu terlihat ramai oleh siswa siswi yang tengah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.


Mobil pun masuk ke area parkir yang berada di depan sekolah itu. Dinda menghentikan mobilnya dan dengan segera dya membuka tasnya untuk mengambil cermin dan membetulkan make upnya. Kemudian terdengar bunyi handphone, yang ternyata milik Dinda.


Dinda nampak tergesa-gesa membuka pintu mobilnya dan berjalan kearah belakang mobil untuk mengangkat telefonnya. Tari pun ikut keluar untuk menunggu, Dinda selesai mengangkat telefon.


" Sudah selesai ? "


" Sudah, hehehehe maaf ya lama. Maklum baru saja terpisah ruang dan waktu jadi bawaannya kangen"


" Ndak papa, gitu ya kalau orang pacaran. Kita kemana dulu enaknya ? "


" Makanya kamu itu jangan jomblo melulu, kita ke kantin dulu "

__ADS_1


" Siapa bilang aku jomblo, ayo " Tari mengandeng Dinda dan mereka berjalan menuju kantong yang berada di belakang sekolah.


" Beneran jah, kamu sudah punya pacar ? "


" insyaallah, kalau dia memang jodoh ku. Tapi kami tidak pacaran, hanya menjalani kedekatan ini tapi dya berjanji akan segera melamarku "


" Sungguh kamu tidak bohong jah, wah senengnya aku. Akhirnya kamu akan nikah juga. Siapa laki - laki beruntung itu bisa menaklukan hatimu ? "


" Sampean sudah mengenalnya Din, nanti kalau dya sudah melamarku sampean pasti tahu "


" Haduh, aku jadi harus cepat ngasih kode sama mamas ku juga ini biara cepat melamar "


Mereka menelusuri setiap sudut sekolah itu tanpa satupun terlewati, mereka bernoltasgia tentang masa lalu mereka ketika disekolah. Dengan bercanda kecil dan tawa dari mereka berdua sampailah mereka keruang guru yang nampak terbuka. Meraka melangkahkan kaki mereka ke ruangan tersebut, nampak beberapa guru disana dan memandang dua gadis itu penuh tanya.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam " ucap semua orang dalam ruangan itu.


Tari dan Dinda menghampiri mereka dan menyalami mereka satu persatu, mereka masih memasang wajah penuh tanda tanya sampai salah satu dari mereka mengingat Dinda.


" Apa benar mbak ini Dinda Kanya Santoso ? "


" Benar Bu, saya kira Bu Endah sudah lupa "


" Tentu saya tidak lupa, tapi sekarang sudah terlihat dewasa dan berbeda. Mana temannya yang selalu bersama itu, seingat saya kalian selalu bersama "


" Apakah ibu sudah melupakan saya ? " sontak mereka semua menoleh pada Tari.


" Apakah ini Nyimas Khadijah Bramastari ?, benar ini Paijah yang dulu itu ? " ucaha salah satu dari guru laki - laki.


" Enggeh pak ini saya "


" Paijah, saya pangling sekali kau sungguh berbeda sekali dengan semasa sekolah dulu. Waktu merubah segalanya ya, kalian yang terlihat semakin dewasa dan bapak yang semakin tua "


" Memang pak sekarang Paijah sudah menjadi ustadzah pak, hehehehe. Bukan Paijah yang dulu selengekan "


Mereka pun bercengkrama untuk mengulang masa lalu, karena mereka berdua termasuk siswi yang suka membuat onar. Tapi dalam hal pelajaran mereka termasuk siswi yang berprestasi. Karena keasikan mengobrol sampai - sampai mereka melupakan waktu, sampai adzan Zuhur berkumandang. Segera mereka berpamitan untuk pulang, karena Tari yang harus kembali ke Malang setelah ashar.


Sampailah mereka di depan rumah Tari, setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit. Mobil pun berhenti didepan rumah Tari dan Tari menawarkan kepada Dinda untuk mampir kerumahnya. Tapi Dinda tidak bisa mampir karena ayahnya sudah menunggunya dirumah untuk membicarakan suatu hal.


Tari berjalan menuju rumahnya yang pintu depannya terbuka, nampaknya ada tamu. Karena jarang sekali pintu depan rumah terbuka kalau tidak ada tamu yang sedang berkunjung.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam "


Tari sedikit terkejut mengetahui siapa tamu yang ada dirumahnya. Dia datang menghampiri mereka dan menyalami dan mencium tangan mereka satu persatu.


" Dari mana nduk ? "


" Dari sekolah Ijah dulu bude, bude dan pak de sudah lama ? "


" Lumayan, sudah dari sebelum adzan Dhuhur tadi nduk " Jawab Bu Fatma mencoba menjelaskan.


" Bude, pakde maaf Ijah permisi dulu karena Ijah belum sholat Dhuhur "


" Iya nduk, setelah ini ada yang ingin pak de sama bude bicarakan sama sampean "

__ADS_1


Bersambung...........


__ADS_2