Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
48. Teringat


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


" Nafisa, apa nanti tidak di cari sama Ummi dan Abah ? Kakak khawatir kalau nanti Fisa dicari. " Tari takut kedua orang tua Nafisa mencari gadis kecil itu, karena gadis kecil hanya ijin ke kamar kecil kepada kedua orang tuanya.


" Tenang saja Kak, Fisa memang sering berkeliling sendiri disini. Ummi dan Abah juga sudah tahu kok Kak. " Jawab gadis kecil itu.


" Kalau begitu baiklah kita berbincang disini sebentar ya, sampai acara selesai. " Ucap Tari sambil mengarahkan kedua gadis kecil itu duduk di sebuah bangku kayu yang berada dihadapan mereka.


" Iya kak tenang saja,, Hawa kamu sekolah kelas berapa ? "


" Eyas Pat fica " Sambil mengangkat jarinya menunjukkan angka 4.


" Berarti kita sama dong Hawa, aku juga kelas 4. "


Hawa nampak menunduk, mendengar jawaban Nafisa. Entah apa yang difikirkan gadis kecil itu, senyum yang sedari tadi mengembang di pipi gembulnya tiba-tiba hilang. Tari yang mengetahui hal tersebut langsung membelai pucuk kepala Hawa yang tertutup kerudung.


" Kenapa Hawa bersedih ? "


" Unda apa Wawa dak ayak Fica, " Matanya menatap Tari dalam seolah banyak sekali pertanyaan dalam benanyak tapi sulit untuk dia ungkapkan.


" Hawa sayang, Hawa itu istimewa jadi Hawa tidak perlu bersedih dengan keadaan Hawa. Hawa kan cantik, Hawa pinter, dan yang paling penting Hawa anak yang Sholehah, jadi Hawa tidak perlu bersedih, ingat Allah itu menciptakan makhluknya dalam keadaan yang paling sempurna sayang. Hawa itu anugrah buat orang - orang disekitar Hawa. Sayang ingat ya, yang membedakan manusia di mata Allah itu hanya Amal dan Ibadahnya. Sesempurna apapun fisik tidak akan ternilai jika ahklaknya tidak baik sayang. Jadi Hawa harus tetap menjadi anak yang baik dan Sholehah ya. " Tari mencoba memberi penjelasan kepada Hawa, untuk menenangkan kegelisahan gadis kecil itu.


Tanpa di sadari ada sesosok yang sedari tadi memperhatikan obrolan tiga wanita beda generasi itu. Seulas senyum tersungging di bibirnya meskipun hanya terlihat samar. Kaki panjangnya melangkah mendekati tiga wanita itu, tubuhnya dia sejajarkan pada tubuh putrinya yang sedang duduk di sebuah kursi kayu.


" Sayang bagi Ayah kamu tetap anak Ayah yang sempurna, jangan pernah bersedih dengan keadaanmu yang seperti ini. Justru karena kamu seperti ini lah nak yang membuatmu istimewa. " Ucap lelaki itu seraya kedua tangannya menangkup pipi gembul gadis itu.


" Hawa jangan bersedih, Meskipun aku seperti ini aku juga masih sering melakukan kesalahan. Jadi Aku yang seperti ini belum tentu lebih baik dari mu di mata Allah. Ingat jangan pernah bersedih dengan keadaanmu. " Ucap Nafisa mencoba menghibur teman barunya itu.


" Sudah jangan bersedih, nanti ngak Bunda traktir Bakso lo. Bakso di depan gang disana itu sangat enak lo. " Tari mencoba mengalihkan pembicaraan.


Mereka pun kembali mengobrol diiringi canda tawa riang kedua gadis kecil itu, yang nampak akrab. Nafisa benar - benar gadis yang sangat baik dan dewasa melebihi usianya. Sedangkan Hawa yang biasanya manja karena ada Nafisa dia terlihat lebih mandiri. Sementara dua orang dewasa yang menunggu dua gadis itu hanya terdiam duduk di kursi kayu itu tanpa adanya pembicaraan diantara mereka berdua.


Pengajian pun akhirnya berakhir, satu persatu jamaah pergi meninggalkan tenda. Hanya tinggal beberapa pengurus pondok yang bertugas sebagai panitia, sedangkan para santri sudah banyak yang kembali ke asrama.


" Tar, Saya ingin sungkem terlebih dulu ke ndalem Pak Kyai. Apa kamu mau ikut atau tetap di sini ? "


" Apakah anda juga mengenal Pak kyai Haris Mas Fahmi ? " Tari sedikit kaget mengetahui Fahmi yang juga mengenal Kyai Haris.


" Saya sering ke sini Tar, karena Beliau guru saya. Makanya Hawa bersekolah disini. Dan pas kemarin kamu bilang mau ada pengajian disini saya langsung ingin menghadirinya. "


" Oh jadi seperti itu, Kalau begitu mari kita ke ndalem bersama - sama Mas Fahmi. "


" Hawa, Ning Nafisa ayo kita ke ndalem. "

__ADS_1


Ke empat orang itu mengarahkan kaki mereka menuju sebuah rumah yang terletak dibelakang area ini. Nafisa berjalan di depan dengan menuntun teman barunya, sedangkan sepasang orang dewasa itu berjalan dibelakang kedua gadis itu.


Tak memerlukan waktu lama mereka sampai di depan rumah yang sederhana tapi cukup besar yang berdinding tembok dibagian bawahnya dan kayu untuk bagian atasnya. Nampak kontras sekali dengan bangunan yang ada di depannya, beberapa gedung asrama untuk santriwati dan masjid yang berdiri di depan area ini dengan gaya arsitek modern. Tapi dengan keadaan yang demikian membuat suasana tenang begitu terasa dirumah itu apalagi rumah itu dikelilingi beberapa kolam ikan. Menambah suasana terasa lebih nyaman bagi siapapun yang datang kesana.


Suasana di dalam rumah tampak ramai, pintu rumah yang terbuka lebar membuat suasana ruang tamu yang dipenuhi oleh beberapa orang tampak jelas dari luar. Dengan mengucap salam mereka memasuki rumah itu, suasana yang semula penuh dengan obrolan sejenak hening menoleh kearah suara. Sosok yang cukup disegani nampak di dipan pintu dengan seorang wanita disampingnya.


" Monggo Pak Fahmi masuk, " Ucap laki - laki baya yang masih terlihat sehat walaupun diusianya yang sudah terbilang sepuh itu.


" Enggeh yai " Fahmi segera menghampiri laki - laki baya itu yang duduk di tengah ruangan dan menyalaminya dengan takdhim.


" Sehat ya Pak ? lama tidak kesini. Alhamdulillah pas kesini sudah membawa gandengan. " Sambil menatap wanita yang tadi datang bersama muridnya itu, wah yang tak asing baginya.


" Alhamdulillah Yai, saya sehat. "


" Assalamualaikum Yai " Ucap Tari sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada seraya mengulas senyum di wajahnya.


" Walaikumsalam, Mbak Tari ya. sejak sampean pamit kemarin kok baru sekarang sempat kesininya ? "


" Ngapunten Yai, saja disibukkan dengan sedikit urusan. "


" Monggo silahkan pinarak, Buk ......"


Tari beranjak dari tempatnya menuju ruang tengah di rumah ini yang biasanya diisi tamu wanita, karena di tempatnya sekarang hanya ada tamu laki - laki saja. Sudah biasa di rumah ini apabila tamu laki - laki akan duduk di bale atau ruang tamu sedangkan tamu wanita akan duduk di ruang tengah.


" Walaikumsalam "


Diruang tengah inipun suasana tidak jauh berbeda dengan keadaan di bale. Penuh dengan beberapa orang sanak saudara dan juga tamu yang tadi mengikuti acara pengajian. Tapi ini bukan kali pertama Tari kesini jadi dia sudah bukan orang di tempat ini. Beberapa orang yang berada di sana sebagian juga sudah mengenalnya, dia menyalami semua orang yang berada disana. Ternyata dua gadis kecil yang sudah akrab sebagai teman itupun juga sudah duduk disana. Entah sejak kapan dan lewat pintu sebelah mana dua gadis itu disana.


" Mbak Tari, habis nikah kok tambah ayu to sampean. " Ucap Bu Nyai Sadiyah.


Mendapati ucapan seperti itu Tari hanya mampu tersenyum dan entah harus menjawab apa. Apakah harus menjawab jujur atau biarkan saja seperti yang mereka fikirkan. Karena yang mereka tahu Tari beberapa waktu lalu pamit ingin meninggalkan pondok untuk menikah, tapi kenyataan berkehendak lain. Sedikit perkataan yang cukup mengingatkan kejadian yang membuat hatinya kembali terluka.


" Enggeh Bu Nyai, njenengan sehat Bu Nyai "


" Alhamdulillah Mbak Tari seperti sampean lihat sekarang saya tambah sehat hidup jadi semangat kalau mau punya cucu. Sampean semoga ya cepat diberi momongan ya mbak biar Mbak Fatma sama Mas Rahmat ayem."


" Alhamdulillah Bu Nyai. " Ucapnya sambil diiringi senyum pias.


Sungguh perkataan yang mampu membuat hatinya bergetar setelah beberapa waktu tak ada lagi yang membahas masalah itu. Tapi bukan salah Nyai Sadiyah karena sepengatahuan Beliau Tari sudah menikah. Satu persatu tamu pun pamit untuk undur diri dan hanya tinggal beberapa orang saja yang masih berada disana. Dua orang wanita masuk keruangan itu dari arah belakang dengan membawa nampan berisi beberapa makanan. Seorang wanita muda dengan perut yang besar dan wanita paruh baya yang masih terlihat diusianya.


" Tari " Ucap wanita berperut besar itu saat menatap, wanita yang duduk disamping mertuanya itu.


" Mbak Rina, Bumil makin cantik saja " Kedua wanita itu saling berpelukan mencurahkan kerinduan diantara mereka berdua. Yang akhir-akhir ini jarang bisa bersama karena terpisah jarak dan waktu.

__ADS_1


" Bisa saja sampean itu kalau menggodaku, cantik dari mana lihat saja sekarang aku jadi seperti ini. "


" Mbak, beneran sampean sekarang tambah terlihat cantik. Auranya Mbak sekarang tambah bersinar memang benar ya kalau wanita hamil itu mesti tambah cantik ya. "


Mereka terus saja mengobrol berdua tanpa memperdulikan keberadaan orang disekitar mereka. Meskipun mereka tetap berkomunikasi meskipun jarang bertemu tapi apabila bertemu langsung itu terasa sangat berbeda. Tanpa mereka sadari bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sedari tadi. Entah apa yang sedang difikirkan oleh pemilik sepasang mata itu, tapi dua wanita yang sedang mengobrol dihadapannya itu benar-benar mampu membuatnya ingin tetap menatapnya. Setelah sekian lama akhirnya Tari sadar ketika ada seseorang sedang menatapnya. Dia menatap pemilik sepasang mata itu dan melemparkan senyuman kearahnya diiringi dengan tubuhnya yang bangkit dari duduknya berjalan dengan ujung lututnya menghampiri pemilik sepasang mata itu.


" Assalamualaikum, Bu Nyai Salamah " Ucap Tari sambil mencium tangan wanita paruh baya itu.


" Walaikumsalam, Mbak Tari. Saya kira sampean lupa dengan saya Mbak. "


" Mboten Bu Nyai, maaf saya tadi terlalu asik mengobrol dengan mbak Rina sampai tidak menyadari kehadiran njenengan. "


" Bagaimana mbak kabarnya ? "


" Alhamdulillah baik Bu Nyai, oiya tadi saya bertemu Ning Nafisa "


" Oalah makanya dari tadi dicari tidak ada, ternyata sama sampean to. "


Diruang tengah rumah itu hanya tinggal Nyai Sadiyah, Nyai Salamah, Mbak Rina dan Tari. Serta dua gadis kecil yang sedang asik dengan dunia mereka sendiri ternyata mereka berdua cepat sekali akrab.


" Oiya Tar bagaimana tempat mengajar sampean yang baru ? "


" Alhamdulillah Mbak sampai saat ini masih berjalan dengan baik, disana fasilitasnya lengkap sekali mbak meskipun jam mengajarnya panjang tapi mengajar disana sangat menyenangkan. "


" Loh Mbak Tari bekerja lagi, dimana Mbak ? " Tanya Bu Nyai Sadiyah.


" Enggeh Bu Nyai, Saya sekarang bekerja di Kediri Bu. "


" Kedirinya sebelah mana Mbak ? Kalau sampean ada waktu mampir kerumah saya. " Sahut Bu Nyai Salamah.


" Saya mengajar di Al-Az**r Bu Nyai, Insyaallah kalau pas saya ada waktu bisa mampir ke ndalem njenengan. "


" Loh bener to, Nafisa juga sekolah disana mbak. "


" Oalah Mbak Tari sampean itu Lo kok masih ngajar juga apa diperbolehkan sama suaminya ? Wong pas sampean pamitan waktu itu saja Masnya bilang kalau sampean disuruh fokus ngurus rumah tangga saja sama Masnya. "


Satu lagi pertanyaan yang membuat jantung Tari kembali berdetak kencang. Wajahnya sebisa mungkin menyembunyikan gemuruh yang ada dalam hatinya. Entah mengapa bila ada perkataan yang mengingatkannya dengan kejadian itu masih sering kali membuat hatinya merasa sakit. Mulutnya kelu sekali saat dia ingin menjawab pertanyaan itu.


" Unda, ata Yayah ayo tita ulang. " Ucap Hawa yang membuyarkan lamunan Tari.


" Iya sayang, .........


Bersambung ........

__ADS_1


__ADS_2