Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
103. Bertemu


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Ketiga orang itu hanya terdiam sibuk dengan pikiran mereka masing - masing. Tak lama beberapa anggota tim Nono menghampiri mereka bertiga dengan tergesa. Nampak beberapa orang di belakang mereka yang menggunakan seragam polisi bandara.


" Ndan ada satu hal yang harus kita periksa. "


Salah satu dari mereka mendekat ke arah Nono dan membisikan sesuatu hal kepadanya. Setelahnya kening Nono tampak berkerut dan setelahnya anak buahnya itu memberikan sebuah kertas yang diperiksa oleh Nono. Laki - laki berambut panjang itu nampak membolak balikan kertas yang ada di tangannya.


" Gus ....... "


Yang membuat kedua orang yang sedang duduk itu menoleh secara bersama - sama. Gus Reyhan berdiri menghampiri Nono yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.


" Ya ........ "


" Lihatlah ini. " Nono memberikan kertas yang tadi dilihatnya.


Beberapa lembar kertas yang di jadikan satu, Nampak disana tabel - tabel yang berisi nama, no. KTP dan alamat. Gus Reyhan terlebih dahulu membacanya, dan matanya berbinar saat menangkap sesuatu hal di lembaran berikutnya. Sejurus kemudian dia langsung menoleh ke arah Nono yang berdiri di sampingnya. Gus Reyhan memandang Nono seraya mengangkat kertas ditangannya, yang langsung di jawab oleh anggukan oleh Nono.


" Tenang Gus, anggota tim saya menyisir seluruh area bandara di bantu oleh polisi bandara juga. "


" Dan satu lagi, mobil dengan nomer polisi itu sudah ditemukan keberadaanya dia area parkir bandara. Dan anggota tim saya yang lain sedang menjaganya, barang kali mereka kembali ke mobil. " Tambah Nono.


" Aku percaya padamu. " Ucap Gus Reyhan sambil menepuk lengan laki - laki berambut panjang itu.


Gus Reyhan kemudian menghampiri Gus Syam yang tengah duduk, keadaanya benar - benar kacau. Ditepuknya pelan bahu sang adik pelan, yang membuat laki - laki itu mengalihkan pandangannya ke arah kakaknya.


" Apa Mas, " Ucapnya dengan suara lirih.


" Kita masih punya harapan. " Jawabnya pelan penuh dengan keyakinan.


Gus Syam hanya menatap kakaknya kembali tak berniat menanggapi apa yang tadi diucapkan sang kakak, namun pandangannya penuh dengan keraguan. Dia seperti sudah hilang semangat dan keyakinannya serta kepercayaan dirinya hilang entah kemana.


Sedari kemarin mereka selalu terlambat, rasanya seperti diberi harapan dan kemudian dihempaskan ke dasar jurang. Itu membuat hatinya terasa semakin sakit,


" Kenapa Shan ? "


" Apa sampean sekarang sudah menyerah ? "


Gus Syam menggelengkan kepalanya pelan.


" Lantas ? "


" Kita harus tetap optimis meskipun harapan itu sekecil mungkin. Sampean dua tahun saja mampu mencintainya dalam diam dan menjaganya dari jauh. Kenapa karena hanya hal seperti ini sampean menyerah ? Siapkah pengorbanan sampean dua tahun itu tidak ada artinya ,? "


Tidak ada jawaban hanya ada gelengan dari Gus Syam, seraya kepala yang semakin menunduk.


" Ayo, jangan patah semangat mana Ghasan yang aku kenal. Yakinlah Tari saat ini sangat membutuhkan mu untuk menyelamatkannya. "


Diam - diam dalam kepalanya yang menunduk ternyata air mata sudah menetes di wajahnya. Butiran kristal bening yang sedari kemarin ditahannya akhirnya luruh juga. Sekuat - kuatnya dia menahan, nyatanya pertahanannya jebol juga. Bahunya bergetar hebat saat tangisnya berubah menjadi isakan yang terasa amat pilu.


" Jika menangis bisa menghilangkan rasa sakit mu, menangislah !!! " Ucap Gus Reyhan sembari mengelus bahunya pelan.


" Mas, aku merasa menjadi penyebab Tari mengalami semua kejadian ini. " Ucapnya sembari meneteskan air mata.


" Tidak, ini semua ujian untuk kalian berdua. Dan aku yakin kalian pasti mampu melewatinya. "


" Ayo, aku yakin kali ini kita pasti bisa menemukan Tari. " Ucap Gus Reyhan yakin.


Mereka berdua lantas berdiri, berjalan keluar dari ruang tunggu. Sebelumnya Gus Syam sudah menghubungi Nono menanyakan keberadaannya di mana.


POV. SETYO


Aku bagaikan mendapatkan angin segar saat melihat wajah wanita yang aku cintai itu berubah, ketika aku terus mengingatkannya pada hubungan kami dulu. Aku menangkap keraguan di sana, dan itu akan aku manfaatkan dengan sebaik - baiknya. Setiap kali aku mengingatkan hal itu, dia terlihat gelisah matanya nampak bergerak ke kiri dan ke kanan. Dan saat seperti itu aku masuk dalam pikirannya yang sedang bingung.


Seperti dugaan ku, saat ini dia sudah tak menolak lagi ku sentuh itu membuat ku bahagia sekali. Persetan dengan setatusnya yang istri orang, aku tak peduli. Dia istri sepupuku bukan orang lain ya aku masih mengingat hal itu dengan jelas.

__ADS_1


Aku sudah menyiapkan sebuah rumah, yang akan kami tepati saat kami bisa pergi dari sini. Semuanya sudah aku persiapkan matang, ada gunanya juga aku membeli rumah itu yang awalnya hanya sekedar sebuah investasi bagiku. Nyatanya sekarang akan menjadi tujuanku, dalam memulai kehidupan baruku bersamanya.


" Kita akan pergi ke Balikpapan, disana ada rumah kita. Tempat yang dari dulu ingin kamu kunjungi. "


Begitu yang aku katakan padanya, yang membuat matanya berbinar beberapa detik. Saat melihat itu membuat ku tambah bersemangat, tak sabar menunggu rasnya menunggu esok tiba. Pagi - pagi sekali aku bangunkan dia, baru kali ini aku melihat dia tertidur bagiku tidurnya manis sekali. Itu membuatku semalaman penuh menahan hasrat ku sebagai laki - laki. Sabar saat ini yang hanya bisa aku lakukan, akan tiba masanya aku bisa memilikinya seutuhnya dan itu sebentar lagi.


" Cepat bersihkan dirimu, dan gantilah dengan pakaian ini kita akan segera berangkat ke bandara. " Perintah ku sembari memberikan baju ganti yang aku siapkan untuknya.


Tidak ada jawaban darinya, dia hanya diam dan melamun dan ku lihat ada kilatan keraguan di sana. Namun aku berusaha sebisa mungkin menimbulkan keyakinan pada dirinya. Dan pada akhirnya dia mampu menuruti apa perintahku meskipun sebelumnya dia harus menangis terlebih dahulu.


Kamipun pergi meninggalkan ruko, menuju bandara menuju pintu masa depan yang akan kami bangun berdua. Hanya membayangkan saja hatiku sudah serasa dipenuhi bunga - bunga yang bermekaran. Satu jam lebih perjalanan kami lalui menuju bandara dan akhirnya kami sampai.


Mimik wajahnya tetap sama, yang sempat membuatku sedikit khawatir jika dia akan berubah pikiran. Kami berjalan menuju tempat check-in di sana ku lihat antrian cukup panjang.


" Tunggulah di sini terlebih dahulu. " Ucapku menyuruhnya duduk di kursi panjang yang banyak berderet di depan ruang check-in


" Iya. "


Dari tempatku berdiri nampak dia memilih ujung jilbabnya,masih dengan mimik wajah yang sama. Aku hanya harus membuatnya mau menaiki pesawat bersamaku dan setelahnya dia mau berontak atau apa aku tak peduli. Sekarang aku harus memperlakukannya dengan lembut, dan jangan sampai dia mengubah keputusannya, namun setelahnya biarkan semuanya berjalan sesuai aturan ku.


Ku hampiri dia kembali saat aku selesai check-in, dengan membawa dua botol minuman untuk kami berdua. Setelah memberikan salah satunya padanya aku duduk di sampingnya, untuk meminum air mineral milikku. Saat ku rasa waktu keberangkatan kami sebentar lagi aku mengajaknya untuk segera masuk ke ruang tunggu.


" Ayo, kita bisa masuk sekarang. " Ucapku padanya.


Namun tidak ada jawaban darinya, ku lihat matanya ke kanan dan ke kiri seakan dia ingin mengatakan sesuatu namun tak sampai.


" Maaf sepertinya aku tidak bisa berangkat. " Itu kata yang akhirnya keluar dari bibirnya.


Seketika itu pula aku segera menoleh kearahnya, mencoba memastikan apa yang barusan dia katakan padaku. Dan aku mendapati dia sedang memandang ke arahku dengan pandangan yang penuh keyakinan. Aku harus membujuknya apapun yang terjadi. Ku coba meraih tangannya, namun langsung saja dia menepisnya. Disana kekhawatiran bertambah lagi, apa yang selanjutnya akan terjadi aku tidak ingin membayangkannya.


" Maaf sepertinya aku tidak bisa berangkat. " Ucapnya lagi.


"Jangan bercanda seperti ini. "


Setelahnya banyak lagi kata - kata yang dia katakan namun tidak terdengar jelas oleh ku karena pikiran ku sekarang di penuhi dengan emosi yang membuncah. Sebisa mungkin aku menahan emosiku, dan mencari cara lain apabila cara yang pertama tak berhasil.


Sejenak terlintas sebuah rencana di kepalaku, ya aku harus melakukan itu. Persetan setelah itu apa yang akan terjadi yang penting jika aku tidak bisa memilikinya, orang lain juga tidak termasuk Mas Syam.


***********


Kedua laki - laki sudah keluar dung tunggu, dan nampak menoleh ke kanan dan ke kiri mencari - cari keberadaan laki - laki berambut gondrong itu. Namun laki - laki gondrong itu tidak kelihatan batang hidungnya, padahal mereka sudah di posisi dimana Nono katakan. Di depan sebuah kedai kopi kenamaan dengan lambang putri duyung berwarna hijau yang terkenal dari negeri Paman Sam.


" Dimana Nono Mas ? "


" Tadi dia bilang di sini, apa aku hubungi dia lagi ya ? "


" Iya, cepat hubungi dia lagi Mas. "


Gus Reyhan kembali menghubungi Nono, namun sampai panggilan ke tiga tetap saja tidak ada jawaban dari laki - laki berambut gondrong itu. Yang membuat dirinya berdecak kesal, cepat sekali dia menghilang padahal mereka tadi secepat mungkin dari ruang tunggu ke sini.


Di tengah kebingungan mereka mencari Nono yang tiba - tiba menghilang. Tiba - tiba anak buah Nono datang menghampiri mereka dengan terengah.


" Gus mari ikut saya. "


Tanpa bertanya apa yang sedang terjadi, mereka berdua ikut berlari di belakang anak buah Nono. Mereka berjalan ke arah bandara dimana tempat bagian kargo berada, suasana di sana sedikit sepi. Namun dadi kejauhan nampak banyak orang sedang berkumpul melingkar dengan beberapa polisi bandara di sana.


Gus Syam menyadari sesuatu hal yang membuatnya berlari lebih cepat mendahului anak buah Nono di depannya menuju kerumunan itu. Semakin dekat ke arah kerumunan, terdengar sayup - sayup sering dari orang di sana, bahkan suara Nono yang lantang memerintahkan sesuatu terdengar jelas di indera pendengarannya.


" Cepat letakkan itu...... !!! "


" Kami tidak sedang menggertak, kapan saja timah panas ini bisa bersarang di tubuhmu. "


" Lepaskan. "


" Lepaskan. "

__ADS_1


Begitulah suara - suara yang terdengar disana, beberapa orang disana hanya mampu berteriak dan memohon namun tidak bisa berbuat apa - apa. Detak jantungnya kian tak beraturan saat dia merasa, istrinya sedang tidak baik - baik saja. Jarak antara dia berdiri dan kerumunan itu sudah sangat dekat namun dia rasa jaraknya terlalu jauh. Padahal tadi dia berlari dengan cepat, namun tiba - tiba saja kakinya lemas seakan tak bertulang saat mendengar semua teriakan orang disana.


Ya Allah benarkah ini, selalu lindungi istri hamba di manapun dia berada.


Dengan sisa tenaga yang dia miliki dia berjalan mendekat ke kerumunan itu. Jumlah orang disana cukup banyak sehingga dia tidak bisa melihat apa yang menjadi pusat kerumunan itu. Dia sedikit merangsek ke depan memaksa agar dia bisa melihat. Samar - samar dia melihat seorang wanita sedang duduk dengan, seorang laki - laki berdiri di belakangnya. Ternyata posisinya berada di belakang dua orang yang jadi pusat perhatian itu, sehingga dia tidak bisa melihat jelas wajah kedua orang itu.


" Cepat letakkan pisau itu, saya tidak main - main dengan apa yang saya ucapkan satu, dua, ...... tiga. "


Ddoooorrrrr..........


Nono melepaskan sebuah tembakan peringatan ke udara.


" Hahahaha, nyatanya kamu hanya menggertak saja. Ayo tembak saya, apa nyaliku kurang hah. "


" Setyo ........... "


Kedua wanita dan laki - laki itu segera menoleh ke arah belakang mereka, karena sumber suara berasal dari sana.


" Mas Syam ........ " Teriak Tari sembari akan berlari ke arah suaminya., namun Setyo segera menarik kerudungnya hingga kerudung itu akan terlepas.


" Lepaskan. " Teriak Gus Syam dengan langkah yang terus mendekat ke arah mereka.


" Lepaskan. " Dia kembali berteriak, dengan mata yang memerah.


Sementara Setyo dia tidak mengindahkan perkataan Gus Syam namun malah semakin erat menjambak kerudung Tari sehingga sebagian kepalanya yang bagian depan sudah terlihat hingga menampakkan rambutnya yang depan.


" Lepaskan aku bilang !! " Teriakannya terlihat lebih menakutkan, saat dia melihat sang istri nampak kesakitan karna jambakan yang dilakukan oleh Setyo.


" Beraninya kamu !!! "


Saat Gus Syam sudah di dekatnya kira - kira jarak mereka kurang dari dua meter. Tiba - tiba Setyo mengarahkan kembali pisau yang dia bawa ke leher Tari.


" Kamu maju satu langkah saja, pisau ini aku pastikan akan menggores leher istrimu. " Ancam Setyo kepada Gus Syam.


" Berani kamu menyentuh istriku seujung kuku ku pastikan aku akan mematahkan tanganmu. "


" Hahahaha, coba saja kalau bisa....... aku senang sekali bermain dengan orang - orang bodoh seperti kalian. "


Setyo mengalihkan pisau yang dia bawa ke arah wajah Tari, memainkan pisau itu di pipi milik Tari dan akhirnya dia menggoreskan pisau itu di pipi Tari.


" Ooppsss ...... Maaf ya Tari sayang aku ngak sengaja. " Ucap Setyo sembari akan menyentuh luka goresan yang tadi dia buat. Namun seketika tangan Setyo langsung di tepis oleh Tari.


" Kenapa, kamu menepis tanganku padahal kemarin kamu sangat senang saat aku mengelus mu seperti ini. " Tangan kirinya mengelus bahunya sembari dengan tatapan penuh hasrat.


" Jaga batasan mu, jangan sentuh aku ....... ,!!!! " Ucap Tari sembari terisak.


" Setyo, jaga batasan mu. Aku pastikan kamu akan benar - benar mendapatkan balasannya. " Ucap Gus Syam penuh emosi.


Saat ini dia benar - benar tidak bisa melakukan apa - apa, namun melihat perlakuan Setyo kepada istrinya membuatnya ingin segera menghampiri Setyo dan menghajarnya saat ini kesabarannya benar - benar habis. Namun Nono sedari tadi sudah memberi kode padanya, agar dia mengikuti permainan Setyo agar tidak ada korban jiwa melihat posisi saat ini yang sulit.


" Hahahaha, lihat Tar suamimu itu sungguh tak peduli padamu. Bahkan melihat mu terluka saja dia tidak peduli, bodohnya kamu masih mencintainya. "


" Tidak aku tetap mencintai suamiku apapun yang terjadi. " Ucap Tari sembari memandang ke arah sang suami yang juga tidak melepaskan pandangan darinya.


" Terus saja kalian bersandiwara, sebelum kalian terpisah ucapkan selamat tinggal untuk suamimu tercinta itu. "


Pisau yang semula di wajah Tari kini dia pindahkan kali ke leher Tari, di iringi wajahnya yang menyeringai.


" Awas saja kamu berani melukainya, ku pastikan aku akan membunuh mu dengan tangan ku sendiri. " Ucap Gus Syam dengan penuh emosi.


" Sudah terlambat. "


Tari menatap sang suami, bibirnya tersenyum namun matanya di penuhi dengan air mata. Sementara luka sayatan di pipinya sedari tadi terus mengeluarkan darah yang membuat wajahnya nampak pucat. Dan tiba - tiba saja, sebuah suara yang cukup nyaring terdengar diikuti badan Setyo yang jatuh tersungkur di depannya.


Bersambung .........

__ADS_1


__ADS_2