Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
40. Amplop Coklat


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


" Heh Tari kau tidak usah berpura - pura seperti itu, aku tau kamu sedang mencari simpati suamiku. Ayo cepatlah bangun. " Ucap Dinda.


Pandu terlihat kaget saat tangan Tari yang digenggamnya itu lolos begitu saja mengikuti tubuhnya yang jatuh kelantai. Sementara Pak Rahmat yang datang dari dalam ruang tamu itu segera berlari melihat putrinya itu jatuh kelantai. Laki - laki paruh baya itu segera meraih tubuh putrinya, dan mencoba menyadarkannya.


" Ijah, nduk bangun " Ditepuk - tepuknya pipi gadis itu, tapi tidak ada respon sama sekali.


" Pak kita bawa saja kedalam dulu. " Seraya mengangkat tubuh mungil itu.


" Mas seharusnya kamu tidak perlu repot - repot mengangkatnya, biarkan orang lain yang mengangkatnya. " Dengan nada keras yang menandakan dirinya sedang kesal.


Semua orang terlihat khawatir, apalagi Bu Fatma air matanya jatuh begitu saja melihat keadaan putrinya yang seperti itu. Pak Rahmat masih berusaha membangunkan putrinya itu dengan memanggil - manggil namanya dan mengoleskan minyak angin dihitungnya.


" Ijah, nduk bangun ...... "


" Ijah, ayo nduk bangun, " Digenggamnya tangan putrinya itu yang terasa sangat dingin, keringat dingin keluar dari dahinya, sehingga membuat wajahnya nampak pucat.


" Apa dipanggilkan dokter saja Mas, atau langsung kita bawa kerumah sakit ? " ucap Pak Yadi, beliau pun terlihat sangat khawatir melihat keadaan Tari yang seperti itu.


" Sebentar mas, kita coba bangunkan dulu. "


" Nduk, ayo bangun " Bisik Bu Fatma ditelinga Tari yang tertutup oleh jilbab.


Pandu terlihat sangat khawatir melihat keadaan Tari, yang seperti ini rasa bersalah memenuhi hatinya melihat wanita yang sangat dicintainya itu tidak sadarkan diri. Padahal niatnya tadi hanya ingin meminta maaf atas kejadian yang telah lalu, tapi setiap kali dia melihat Tari. Rasa ingin memiliki Tari selalu merasukinya, keegoisannya selalu mengalahkan kesadarannya. Tapi ketika melihat keadaan Tari yang seperti ini, hatinya sangat sakit. Dia tidak beranjak dari tempatnya berdiri sekarang, yaitu disamping, meskipun istrinya dari tadi tidak henti - hentinya menyuruhnya untuk pergi.


Tak lama kemudian Tari mulai membuka matanya, ditatapnya wanita paruh baya yang ada di depannya itu. Bu Fatma mengulas senyumnya, saat mendapati putrinya itu membuka mata. Dibantunya gadis itu untuk duduk, lalu meraih gelas teh yang ada dimeja.


" Sampean minum dulu nduk. "


" Enggeh buk, kepala Tari Sakit buk. " Ucap Tari mencoba mendudukkan tubuhnya. Tangannya menekan kepalanya tepat dimana bekas operasinya berada.


" Mana nduk yang sakit. " Ucap Bu Darmi yang terlihat khawatir.


" Disebelah sini Bude, rasanya seperti ngilu dan rasanya menekan. "


" Bapak apa kita kerumah sakit saja takutnya nanti ada hal yang salah. "


" Iya sebaiknya kita kerumah sakit, Bagaimana Mas Rahmat ?"


" Tunggu sebentar Pakde, tunggu ...... sebentar saja pasti sebentar lagi rasa ngilunya akan hilang. Biarkan Ijah diam sebentar. " Nampak Tari meyakinkan semua orang bahwa keadaan nya baik - baik saja.


Pandu hanya bisa terdiam, rasa bersalahnya semakin dalam melihat Tari menahan sakitnya. Bagaimana bisa hari itu dia tega melakukan perbuatan yang seperti itu. Baru kali ini dia melihat Tari setelah kejadian 3 bulan yang lalu, selama dirumah sakit orang tuanya tidak mengizinkan Pandu untuk menjenguk Tari karena takut terjadi hal buruk lagi.


" Tar sudah akhiri ektingmu itu, aku tahu kamu hanya berpura - pura untuk mendapatkan perhatian semua orang. Sungguh kamu itu wanita yang tidak tau malu, berani - beraninya datang kesini dan disini membuat ulah juga. "


" Dinda, apa yang kamu katakan. " Ucap Bu Darmi dengan nada yang keras dan tatapan tajam kearah Dinda.


" Buk, sampean jangan mau dibohongi sama ektingnya dia. "

__ADS_1


" Apa kamu bilang ekting, jaga bicaramu ..... !!!!! "


" Buk kalau bukan ekting terus apa namanya ? Operasinya sudah berbulan - bulan tapai tiba - tiba sakit, ciiihhhh apa namanya kalau bukan ekting ? "


Pandu mengalihkan pandangannya ke wajah istrinya, tiada kata yang terucap dari bibirnya. Hanya tatapan dingin dan penuh amarah yang terlihat dari matanya. Dinda yang mengetahui suaminya sedang merah dia menggeser tubuhnya mendekati Bu Nurul, seolah - olah mencari perlindungan.


" Buk, Ayo kita pulang. "


" Iya, ayo nduk. "


" Biar diantar Mas Rahmat, tunggu sebentar " Ucap Pak yadi, seraya mengeluarkan kunci mobil dari sakunya.


" Biar Pandu saja Pak yang mengantar. " Pandu meraih kunci mobil dari tangan Pak Yadi.


Tari menatap laki - laki itu dengan pandangan mengibah, seraya menggelengkan kepalanya. Butiran kristal bening itu luruh dari pelupuk matanya, yang diiringi keringat dingin yang juga membasahi pelipisnya.


" Mas Pandu tolong, biarkan kami pulang sendiri. " Pintanya dengan diiringi suara isakan.


" Tolong Tari saat ini saja, aku tidak akan ...... "


" Mas sungguh aku sudah memaafkan segala kesalahan sampean, begitu juga sampean harus memaafkan aku. Tolong menjauhlah dariku mas, aku mohon. " Tubuhnya bergetar hebat, wajahnya mulai pucat lagi, dan tangannya terasa dingin.


" Pandu, jangan memaksa Tari sudah biar bapak yang mengantar mereka. "


Tari meninggalkan rumah itu dengan kedua orang tuanya, dengan diantar Pak Yadi. Pandu menatap kepergian Tari dengan pandangan nanar, tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja. Betapa besar kesalahan yang telah dia lakukan pada gadis itu.


" Le, sudah biarkan dia mencari kebahagian dalam hidupnya. " Bu Darmi membelai pelan pundak putranya.


" Berhentilah mengharapkan dia, lihatlah betapa dia sangat menderita jangan tambah penderitaannya lagi. Dia gadis baik, dia juga berhak bahagia meskipun itu bukan dengan mu. "


********


Mobil itu sampai di depan rumah Kecil itu, semua penumpang turun. Tak terkecuali Pak Yadi juga ikut turun, berjalan menuju rumah kecil itu. Dibukanya rumah itu oleh Bu Fatma, semua orang masuk. Bu Fatma segera membawa Tari masuk ke kamarnya, agar gadis itu segera beristirahat. Sedangkan dua laki - laki paruh baya itu duduk di ruang tamu.


" Mas Rahmat, maafkan atas kejadian tadi. Sungguh saya tidak menyangka ada kejadian seperti ini. "


" Iya mas, tapi saya tidak menduga reaksi ijahi akan seperti itu terhadap Pandu. "


" Tidak apa-apa Mas, wajar saja setelah apa yang dilakukan Pandu kepada Tari. Besuk sebaiknya kita lakukan pemeriksaan kerumah sakit mas, memastikan untuk keadaan Tari baik - baik saja. "


" Kalau masalah itu sebaiknya kami lakukan sendiri mas, saya tidak ingin ada orang yang berfikiran buruk tentang keluarga kami. "


" Tidak Mas, ini masih tanggung jawab saya karena ini semua Pandu yang menyebabkan."


" Jangan seperti itu mas, saya benar - benar takut dengan fitnah yang diberikan orang - orang pada keluarga kami. "


" Benar apa kata ayahnya Tari Mas Yadi, tolong mulai saat ini berhentilah membantu keluarga kami meskipun kami tau niat Mas Yadi. Kami takut orang lain akan salah faham dengan niat baik sampean mas. "


Malam itu berlalu dengan hawa dingin yang terasa menusuk di tulang, diiringi dengan hujan yang turun membawa keberkahan di setiap kedatangannya. Gadis mungil itu masih senantiasa bercinta dengan Sang pemilik kehidupan, hal yang selalu dia lakukan di sepertiga malam terakhir. Ketenangan yang selalu dia rindukan, sembari mengadukan semua keluh kesahnya tentang kehidupan.

__ADS_1


Sampai terdengar suara adzan subuh berkumandang , menandakan waktunya bagi umat muslim untuk melakukan kewajibannya 2 raka'atnya. Setelah selesai dengan kewajiban 2 raka'atnya Tari beranjak keluar kamar, menuju dapur rumahnya. Bu Fatma ternyata sudah di dapur kecil itu, sedang menyalakan tungku kayu bakar.


" Sampean kok sudah bangun to nduk, bagaimana kepalanya apa masih sakit ? "


" Sudah tidak terasa sakit buk, ibuk tidak usah khawatir Ijah baik - baik saja. Masak apa buk hari ini ? "


" Nanti kita kerumah sakit ya nduk, pepes pindangnya masih nduk. Nanti kita buat sayur pecel saja. Biar bisa cepat kerumah sakit, kalau kesiangan takutnya nanti dapat nomer antrian yang akhir. "


" Buk Ijah baik - baik saja, hari ini Ijah harus ke Malang buk. Ketempat yayasan yang sudah menerima surat lamaran Tari, hari ini akan ditentukan dimana kita akan ditempatkan buk. "


" Tapi nduk, "


" Jangan khawatir buk, semoga nanti urusan Tari cepat selesai, Tari akan sempatkan ke rumah sakit. "


Waktu menunjukkan pukul 09.45 menit saat gadis itu sampai di depan gedung yayasan itu. Dia langkahkan kaki kecilnya menyusuri halaman yang luas menuju sebuah ruangan dimana tempat pertemuan itu dilakukan. Nampak ruangan itu sudah penuh dengan banyak orang, Tari mendudukkan tubuhnya di sebuah bangku kosong. Tak lama ada seorang gadis yang duduk disampingnya.


" Assalamualaikum, boleh saya duduk disini ? "


" Walaikumsalam, boleh mbak. "


" Perkenalkan saya Wardah, " Sambil mengulurkan tangannya.


" Saya Tari mbak, " menyambut tangan gadis disampingnya itu.


Dua gadis itu melanjutkan obrolan mereka, banyak hal yang mereka bicarakan. Hingga acara itu pun dimulai, semua orang yang hadir disana adalah semua calon guru beserta staf yang lolos dalam penerimaan untuk tenaga pengajar baru di yayasan itu. Acara hari ini adalah pembahasan tentang sistem belajar mengajar, fasilitas yang akan didapatkan tenaga pengajar, sampai pada peraturan untuk Tenga pengajar. Semua hal dibahas secara terperinci dengan surat kontrak yang harus ditandatangani sebagai salah satu syarat sebagai tenaga pengajar di yayasan ini. Setelah semua setuju dengan peraturan yang dimiliki yayasan ini, barulah mereka menanda tangani kontrak kerja yang sudah dibagikan ke setiap orang disana.


" Mbak Tari, semua isi kontraknya sangat menguntungkan kita. Banyak sekali fasilitas yang kita dapat ya. ,"


" Iya mbak, Tapi tanggung jawab kita juga besar mbak. "


" Insyaallah mbak semoga kita menjalankan tugas kita ini dengan sebaik-baiknya. "


" Amin, semoga mbak. "


Setelah semua orang mengumpulkan surat kontrak kerja yang mereka tanda tangani. Kini tiba saatnya mereka dipanggil dan diberikan lagi sebuah Amplop coklat. Dimana amplop itu berisi dimana mereka harus mengajar, dan ditingkatkan apa mereka mengajar. Satu persatu dari mereka maju ke depan saat nama mereka dipanggil. Dua wanita itu nampak terlihat harap - harap cemas menunggu giliran namanya dipanggil.


" Asodatul Wardah Az-Zahra "


" Sebentar ya mbak namaku dipanggil " Sambil berdiri kearah depan, berjalan menuju meja panitia yang terletak di depan.


Gadis tinggi itu kembali melangkahkan kakinya kali ke bangku disebelah Tari dan mendudukkan tubuhnya disana. Dengan senyum tersungging di bibirnya, dia menatap map coklat itu penuh keyakinan.


" Nyimas Khodijah Bramastari "


Sejenak ruangan kelas itu menjadi tenang, Tari yang sadar namanya dipanggil. Dia segera berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah meja panitia yang ada di depan dengan wajah tertunduk. Dia sedikit canggung karena semua mata di ruangan itu ditujukkan kepadanya.


" Mbak Nyimas, selamat bergabung di yayasan kami. Saya harap anda betah disini dan menunjukkan performa terbaik anda di sini. " Ucap lelaki berusia Tiga puluhan seraya menautkan senyum terbaiknya.


" Terimakasih pak, Insyaallah saya akan memberikan kemampuan terbaik saya untuk yayasan ini. "

__ADS_1


Diterimanya amplop coklat itu, lalu dia kembali ke tempat duduknya semula. Perasaanya sedikit was - was saat dia menatap amplop itu ada sedikit kekhawatiran saat dia takut isi di dalamnya tidak sesuai dengan fikirannya .........


Bersambung .........


__ADS_2