
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Suasana masih saja hening dua gadis sebaya itu masih saja sibuk dengan fikiran mereka masing - masing. Tari tidak habis fikir apa yang terjadi kepada temannya itu, jujur saja saat ini dia sangat bingung harus bersikap bagaimana. Dia menghela nafas panjang, sampai suara lembutnya mulai terdengar kembali.
" Siapa yang telah melakukan ini Din ? " Ucapnya kembali mempertanyakan pertanyaan yang sama, tapi dengan nada penekanan berharap mendapatkan hasil dari pertanyaan keduanya ini.
" Apakah kamu akan percaya padaku Jah, bila aku mengatakan sejujurnya. " Tangannya langsung menggenggam tangan Tari yang berada diatas meja.
" Insyaallah Din, bila memang begitu adanya. " Membalas genggaman tangan Dinda berusaha untuk menguatkan temannya itu.
" Sebenarnya, aku tidak bisa berkata ini padamu Jah. "
" Kenapa kamu tidak bisa, aku temanmu Din. Apakah selama ini aku bukan teman yang baik untuk mu.
Dinda belum bisa memberitahu siapa sebenarnya laki - laki yang telah menanam benih pada rahimnya, keadaan yang benar - benar sulit dia rasakan. Tapi hanya Tari lah yang dia anggap bisa menyelesaikan masalahnya ini.
" Jah maafkan aku karena sudah melakukan ini, Paannn............. Pandu yang melakukan semua ini. " Suaranya bergetar diiringi tangisan yang sudah tidak bisa iya bendung kembali, genggaman tangannya pada Tari tidak bisa dia lepaskan.
Sekejap Tari mematung dengan apa yang dikatakan temannya itu, ini sungguh diluar perkiraan ya. Antara percaya dan tidak dengan penuturan temannya itu. Tari mencoba mencari kesadarannya setelah Dinda mengucapkan hal itu, matanya menatap tajam kearah mata Dinda. Dia mencoba menemukan kebohongan di mata Sinta yang sedari tadi tak henti - hentinya mengeluarkan kristal bening itu. Tapi Dia pun tidak menemukan kebohongan di mata temennya itu.
Sejenak keadaan hening dan mereka berdua terdiam masih dengan pikiran mereka masing - masing. Kebingungan Tari bertambah dengan pengakuan Dinda, apa yang harus dia lakukan. Wajahnya puas tanpa ekspresi, hanya hembusan nafas kasar yang sedari tadi terdengar.
" Din, apakah benar yang kamu katakan ? "
" Maafkan aku Jah, sungguh kami tidak sengaja melakukan itu. "
" Apakah hal seperti bisa dilakukan tanpa adanya kesadaran ? " sembari menahan butiran bening yang sudah akan pecah di pelupuk matanya.
" Aku tidak tahu Jah, kalau kalian serius dengan hubungan yang kalian jalani. "
" ehmz, ....... Apakah keluargamu sudah mengetahui hal ini ? " dia terus menahan tangisny dengan gumaman istighfar yang tak putus dia gunakan dalam hatinya, setidaknya ini mampu menahan perih yang dia rasakan saat ini.
Tari hanya menggelengkan kepalanya yang tertunduk itu. Sesungguhnya dia baru saja mengerti keadaanya yang hamil beberapa jam lalu. Karena dia yang tiba - tiba pingsan disela - sela waktu dia sedang bekerja.
" Apakah Mas Pandu sudah tau ? " Tanyanya masih dengan wajah yang tanpa ekspresi.
" Ketika aku mengetahui diriku hamil aku langsung menghubunginya Jah, tapi dia menyangkal kalau ini perbuatanya. Dan dia juga bercerita kalau dia 2 hari lagi akan menikahimu. "
Hati siapa yang tak akan hancur mendengar kabar seperti ini disaat semua persiapan pernikahan sudah dilakukan dan ijab kabul yang akan diucapkan hanya kurang beberapa hari saja. Tari masih mengumpulkan kesadaran yang sempat hilang karena mendengar kabar itu mencoba berdamai dengan jantung yang berdetak dengan cepatnya itu.
" Maafkan aku Jah, sungguh aku tidak ingin menyakitimu lagi. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana. "
" Berapa usia kandunganmu ? "
" 14 minggu, aku ingin menggu***kannya saja sungguh aku tidak sanggup kalau harus mengandungnya sampai dia lahir. Apalagi Pandu tidak menginginkannya. "
"Apa, bicara apa kamu. "
PLAK .....
__ADS_1
Dengan reflek tangan Tari mendarat di pipi mulus milik temannya itu, butiran kristal bening yang dengan susah payah dia tahan akhirnya jatuh juga. Emosinya langsung memuncak begitu mendengar apa yang akan dilakukan temannya itu. Gadis yang akhir - akhir ini menjadi gadis pendiam itu sekarang menampakkan sisi dari dirinya yang lain. Wajahnya memerah menahan emosi di dadanya, sorot matanya tajam meskipun tak henti - hentinya meneteskan butiran kristal bening.
" Sebegitu pic*kkah fikiran mu, hah ...... sampai kau akan membuat kesalahan yang lebih besar lagi. Seharusnya yang mendapat hukuman itu kalian yang sudah menghadirkan dia ke dunia ini. Sungguh tidak kah engkau takut dengan dosa yang akan kamu lakukan lagi, untuk menutupi dosa yang lain. "
" Aku tidak punya pilihan lain Jah, "
" Apa pilihan, ????!!!! seharusnya itu sudah kamu fikirkan sebelum kau melakukan hal itu.
" Aku tidak sanggup Jah, apalagi sampai orang tua ku mengetahui hal ini. "
" Terserah yang jelas semua ini kesalahan kalian dan kalian harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kalian perbuat "
Tari mengusap wajahnya kasar, menghilangkan anak sungai di wajah manisnya. Kemudian mengambil handphone di saku cardigan yang dia pakai. Tangannya mengusap - usap benda pipih itu, mencari keberadaan nomer kontak seseorang yang menurutnya harus bertanggung jawab terhadap hal ini. Sebuah tepukan halus mendarat pada bahunya yang tidak terlalu lebar itu, dengan cepat dia menoleh kebelakang.
" Mbak sampean mau apa ? "
" Aku,.......... "
" Sebentar, " Sambil mengambil handphone dari tangan Tari.
" Bang kembalikan, "
" Tunggu mbak, jangan bertindak tanpa sampean berfikir dulu. Aku dengar semuanya mbak."
" Tapi dek, aku harus memastikan hal ini. "
" Iya mbak, tapi tunggu dulu. "
" Mbak Dinda, sebenarnya kamu itu bersungguh - sungguh kah dengan semua yang sampean katakan ? "
" Sungguh Has, aku tida berbohong dalam hal ini. "
" Apa sudah jadi kebiasaan kamu selalu mengambil milik mbak Tari hah ...... ???? Dengan nada yang keras diiringi sorot mata yang tajam kearah perempuan itu.
Semenjak mereka kecil, memang sudah menjadi kebiasaan Dinda selalu menginginkan hal yang dimiliki oleh Tari. Dan selalu saja Tari akan memberikannya dengan suka rela.
" Apakah ini hanya skenario yang sedang kamu lakukan ? "
" Aku tidak sedang bersandiwara, Jah kamu harus percaya padaku " Tatapan beralih kearah Tari, seraya menggenggam tangannya.
" Ayo Mbak kita pergi, sudah jangan percaya dengan sandiwara yang sedang dia mainkan. " Sambil melepaskan genggaman tangan Dinda dari tangan Tari lalu menggenggam Tari berniat mengajaknya keluar dari tempat itu.
" Tunggu bang, " Mencoba melepaskan genggaman tangan irhas pada tangannya.
" Apa lagi mbak, mbak percaya dengan sandiwara yang dilakukan perempuan macam dia. " Sambil menunjuk kearah Dinda.
" Setidaknya, tunggu penjelasannya bang. "
Tari menghembuskan nafas kasar lalu, menoleh kearah Dinda. Kembali dia mendudukkan badannya ke kursi, diiringi Irhas yang duduk kembali.
__ADS_1
" Ceritakan dari awal " ucapnya tanpa melihat wajah Dinda.
Dinda POV
6 bulan lalu kami tanpa sengaja bertemu kembali setelah sekitar 5 tahunan tidak bertemu karena kesibukan masing - masing. Lantas kami bertukar nomer handphone, dan setelah itu kami sering bertukar kabar dan bertemu. Entah itu hanya jalan dimall atau sekedar makan bersama, hubungan yang kami bangun sangat intens saat itu.
Dia sering mengunjungiku ke Surabaya, selama kepulangannya 2 Minggu itu banyak hal yang kami lakukan, termasuk hal yang tak sepatutnya kami lakukan mengingat setatus kami yang hanya teman biasa. Setelah itu dia kembali bekerja kembali namun hubungan yang terjalin diantara kami malah semakin intens saja. Sampai dia bilang kalau kapalnya akan sadar di Labuhan Bajo, dan aku memutuskan untuk bertemu dengannya di Bali. Kami disana selama 3 hari dua malam, aku tahu seharusnya dia pulang karena ada satu hal yang dia lakukan. Tapi aku menahannya, dengan sekuat tenaga karena bagiku aku sudah berfikir kalau dia akan dijadikan milikku seutuhnya.
Sampai pada akhirnya aku tahu kalau kalian ternyata sudah bertunangan sontak itu membuatku kaget, dan serasa tidak percaya. Kunjungi dia lalu aku menyuruh dia memilih antara aku dan kamu, ternyata dia lebih memilihmu. Betapa sakit hatinya aku saat mengetahui hal itu, sebenarnya dia menganggap ku siapa setelah semua yang telah kami lakukan.
Sampai pada kejadian hari ini aku tiba - tiba pingsan dan saat aku tersadar, temanku memberitahukan padaku bahwa aku sedang hamil. Lalu ku hubungi dia, namun hanya penolakan yang aku dapati. Hatiku hancur dan aku binggung sampai ku kendarai mobilku kesini.
_______________
Hati Tari terasa tambah sakit saat mendengar pengakuan Dinda, dia tidak habis fikir kenapa orang yang dianggpanya teman itu bisa menghiantinya. Apalagi pada saat acara lamaran yang semula Pandu akan datang dan tidak jadi datang itu semua karena perempuan yang ada dihadapannya itu.
Genggaman tangan Irhas tidak pernah dia lepaskan dari kakak sepupunya yang dia anggap sudah seperti kakak kandungnya itu. Dia berusaha menguatkannya, dari luar perempuan itu terlihat tenang tapi dia tau betapa rapuhnya saudaranya itu sekarang. Terlihat ketika kadang dia meremas tangannya, dan gumaman istighfar yang dari tadi tak surut dari bibir mungil gadis itu.
" Din ikut aku menemuinya. "
" Tidak Jah, aku tidak berani. "
" Sudah ikut aku, kalian harus pertanggung jawabkan semua ini. "
Tari berdiri dari tempat duduknya, sambil menyeka butiran kristal bening yang ada diwajahnya. Kemudian di berjalan dikasih dan membayar bakso yang sudah mereka makan tadi. Irhas dengan setia selalu mengikuti langkah kakak sepupunya itu. Mereka bertiga melangkah keluar warung bakso itu dan menyeberangi jalan raya menuju kendaraan mereka yang terparkir di depan mini market.
Tari terlihat sibuk memainkan handphonenya, mengetikan beberapa pesan yang ditujukkan kepada beberapa orang. Dan terlihat juga dia menerima panggilan dari sebuah telefon yang langsung diangkatnya. Entah siapa yang berada diujung sambungan telefon itu tapi yang jelas hanya kesiriusan yang ada dalam wajahnya.
" Ikuti aku Din, semua akan diluruskan sekarang "
" Bang ayo kita harus kesuatu tempat. "
" Tapi Jah, apa yang sedang kamu rencanakan sekarang ? "
" Tidak usah banyak bertanya, ikuti semua kata - kataku saja. "
Mobil Trail keluaran terbaru itu berjalan meninggalkan parkiran mini market, tanpa ada satu patah katapun dari penumpang maupun pengemudinya. Mereka berjalan dengan kecepatan rendah, karena ada sebuah mobil yang mengikuti mereka dari belakang.
" Mbak tadi mbak Tari telefon siapa ? " karena rasa penasarany sudah memuncak akhirnya Irhas memberanikan bertanya.
" Telefon Bang Irsyad. "
" Loh kok telefon Bang Irsyad ? "
" Nanti sampean juga Tahu, "
" Mbak harus kuat ya, jangan mikirin perasaan orang lagi tapi juga fikir perasaan mbak Ijah. "
" Iya Bang, tenang saja. "
__ADS_1
Akhirnya motor itu sampai pada sebuah rumah besar dengan pagar yang menjulang. Suasana rumah terlihat ramai karena banyak orang yang berada disana untuk mempersiapkan sebuah acara besar siempunya rumah. Gadis itupun melangkahkan kaki menuju kedalam rumah dengan wajah yang tertunduk, berusaha menyembunyikan matanya yang memerah. Setiap orang yang dilewatinya memandang heran, tapi tak juga menghentikan langkahnya. Hingga langkahnya terhenti ketika sebuah suara memanggilnya.
Bersambung.............