
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
POV. Ghasan V
Aku kembali lagi ke Ibu Kota karena tugas masih menunggu di sana. Selama aku bertugas di sini aku menjadi asisten bagi seniorku yang seorang dokter spesialis bedah. Dan hasil ujian kemarin sesuai dengan prediksi ku, Alhamdulillah Allah selalu memudahkan langkahku.
Bagaimana dengannya ? dia masih belum tahu tentang aku yang sudah mengkhitbahnya. Bukan aku tidak menghargainya tapi ini belum waktunya dia tahu, aku ingin menyelesaikan semua urusanku terlebih dahulu.
Aku mulai berani memberikan perhatian lebih kepadanya, hampir setiap minggu aku mengiriminya buku, bunga, dan kadang tak luput juga aku mengirimi makanan untuk seluruh penghuni asrama. Ya hanya hal kecil seperti itu yang bisa aku lakukan yang terpisah jarak dan waktu dengannya.
Aku kira disini tidak sesibuk di Jepang, namun ternyata aku salah disini aku malah lebih sibuk. Di tarik kesana - sini sudah seperti barang yang di perebutkan banyak orang. Hingga saat aku pulang berkerja aku selalu kehabisan tenaga, yang langsung membuatku ambruk di kasur tempat ku tinggal. Selama aku di sini aku, aku mencari tempat tinggal di dekat rumah sakit untuk memudahkan mobilitas ku.
Jam 21:00 aku baru saja memasuki kamar kost ku, letih sekali yang aku rasakan. Ku letakkan kantong kresek yang berisi nasi goreng yang aku beli di depan gang tadi. Segera aku membersihkan diri, dan melakukan kewajiban ku. Setelah menghabiskan nasi goreng milikku, ku Sulut rokok yang sudah ku jepit diantara jari telunjuk dan tengahku. Ku hembuskan asap putih itu yang memenuhi ruangan kamar ku.
✉️ Keadaan Pak Rahmat terus membaik, menurut dokternya yang menghubungi ku. Mungkin dua hari lagi dia sudah bisa pulang.
Ya beberapa hari lalu Mas Reyhan menghubungi ku, mengabarkan bahwa calon mertuaku tiba - tiba tak sadarkan diri dan harus di bawa ke rumah sakit. Dan hal yang menyebabkan beliau tidak sadarkan diri itu yang membuat ku sedikit tidak tenang.
✉️ Alhamdulillah kali begitu Mas, aku mohon bantuannya sekali lagi. Tolong Administrasi untuk rumah sakit sampean pastikan sudah terbayar ketika beliau keluar.
Setyo adalah sepupuku dari Ummi, dia adalah anak dari Bulik Romlah adik perempuan Ummi. Keluarganya termasuk keluarga yang berada, namun ............... Aku tidak cukup akrab dengannya hanya sesekali bertemu karena kesibukan kami masing - masing.
📞 Assalamualaikum
📞 Walaikumsalam
📞 Bagaimana keadaan Ayah ?
📞 Alhamdulillah Nak, sudah sangat baik bahkan sekarang sudah terlihat seperti sedia kala.
📞 Alhamdulillah kalau begitu Buk, Maafkan saya belum bisa pulang.
Ku tutup panggilanku dengan calon mertuaku itu, Alhamdulillah keadaanya sudah membaik hal yang aku takuti tidak sampai terjadi. Aku sibukkan kembali diriku dengan kesibukan ku di rumah sakit, yang akhir - akhir ini bertambah padat. Sampai pada suatu malam Mas Reyhan menghubungiku.
📞 Aku tidak mengerti apa yang membuat Pak Rahmat ngotot sekali menyuruhmu untuk segera menemuinya.
📞 Apa tidak bisa di bicarakan lewat handphone saja Mas ?
📞 Tidak bisa, beliau memintanya sampean menemuinya langsung.
Bukannya aku tidak ingin menemuinya namun jadwalku dua hari ke depan sangat padat. Namun setelah melakukan beberapa koordinasi dengan seniorku yang memberi kelonggaran padaku, akhirnya aku memutuskan bahwa di hari Rabu aku akan pulang.
Namun, rencana tidak sesuai karena tiba - tiba seniorku harus pergi. Dan kami mempunyai beberapa pasien yang masih harus di observasi yang tentu saja sekarang menjadi tanggung jawabku.
📞 Ummi, maaf sepertinya Syam tidak bisa pulang hari ini. Insyaallah besuk Syam usahakan pulang, atau paling lambat hari Jum'at.
__ADS_1
📞 Mendadak sekali Le
📞 Syam harus menggantikan senior Syam Ummi karena ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan.
Sejujurnya, firasatku memang tidak baik beberapa hari ini. Terlebih lagi ketika Mas Reyhan menghubungi ku dan memintaku pulang karena permintaan calon Ayah mertuaku. Beberapa malam kemarin aku sempat bermimpi, rumah sederhana miliknya sedang menggelar hajatan yang meriah dengan memasang tenda memenuhi semua halaman. Semoga saja ini hanya mimpi, semuanya aku pasrahkan kepada-Nya.
Aku mengambil penerbangan paling pagi, karena aku ingin segera sampai dirumah. Setelah menempuh perjalan 3 Jam aku sampai di rumah sebelum Dhuhur. Kedatanganku di sambut seluruh keluargaku, dan keluarga kecil Mas Reyhan.
" Kapan sumpah jabatannya akan dilaksanakan ? "
" Insyaallah bulan 7 Bah, namun tanggalnya belum pasti. " Jawabku menjawab pertanyaan Abbah.
" Setelahnya ? "
" Tentu saja mengajukan residen Bah. "
" Mengenai Tari. " Tanya Ummi.
" Insyaallah setelah sumpah jabatan Syam sudah harus menikahinya. " Jawabku pasti, entah mengapa jika menyangkut tentangnya aku tidak pernah sedikit pun ragu.
Sebelum Ashar aku dan Mas Reyhan berencana akan mengunjungi rumah singgah terlebih dahulu, baru setelahnya aku akan langsung menuju Blitar. Ku kendarai mobilku melewati pintu gerbang ponpes menuju rumah singgah, namun sebuah perasaan aneh menggelayuti.
" Kenapa putar balik ? "
Mas Reyhan yang sudah hafal dengan ku, tidak sedikitpun membantah apa yang menjadi keputusanku sekarang. Ku susuri jalan dengan berbagai pikiran, dan kekhawatiran karena firasat ku yang entah mengapa terasa berbeda.
Ku parkiran mobilku di pinggir jalan, ku tatap rumah itu dan tiba - tiba bayangan mimpi itu kembali datang yang langsung ku tepis begitu saja. Ku yakinkan diriku bahwa itu hanya bunga tidur semata, mungkin karena aku terlalu lelah karena pekerjaanku di rumah sakit.
Dua pasang paruh baya itu menyambut ku dengan ramah seperti saat pertama aku berkunjung ke sini. Ayahnya memang terlihat sehat dengan senyum merekah yang selalu menghiasai wajah keriput itu, namun aku melihat sesuatu yang berbeda di wajah itu.
" Nak, Maafkan saya jika keinginan saya merepotkan sampean. "
" Tidak Yah, "
Beliau nampak menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskan nafas secara berlahan sebelum mengatakan sesuatu hal yang membuat ku terkejut.
" Bersediakah Sampean menikahi Tari sekarang juga ? "
Kami semua yang berada di sana terkejut dengan apa yang barusan kami dengar.
" Tolong nikahilah dia sekarang. "
Jujur aku bingung karena pikiran ku tidak sampai sejauh ini, ketika beliau ingin menemui ku. Aku terdiam cukup lama, bukan aku tidak siap namun sejujurnya hal ini juga cukup mendadak bagiku. Ku lihat ke arah Mas Reyhan yang duduk di sebelahku, kemudian ku lihat dia mengangguk.
Kemudian aku menghubungi Ummi, ku ceritakan semua yang sekarang sedang terjadi hingga Abbah memintaku memberikan Handphone ku kepada Ayah. Keduanya bicara cukup lama dan serius yang terlihat dari wajah ayah yang kadang menegang dan setelahnya hanya mengangguk saja.
__ADS_1
📞 Segera lakukan Ijab Qabul Syam jangan di tunda lagi
Itu yang dikatakan Abbah padaku di akhir panggilan, dan jadilah kini aku duduk di hadapan beliau dengan menjabat tangannya.
Dalam satu tarikan nafas ku, sesuatu yang beberapa waktu yang lalu hal yang mustahil kini menjadi kenyataan. Keyakinan ku pada-Nya yang ku tanam kini aku menuai hasilnya.
Mas Reyhan membaca doa yang di aminni oleh semua orang yang ada di sana. Segera ku raih tangan kedua pasang paruh baya itu ku Salami dan kucium dengan takzim. Kulihat Ibuk matanya sudah di penuhi dengan butiran kristal bening begitu pula Ayah. Yang aku yakini itu sebagai air mata bahagia.
Tak berapa lama kami larut dalam rasa bahagia, tiba - tiba badan Ayah limbung tak sadarkan diri. Kami semua terkejut dengan segera kami mengangkatnya dan membaringkannya di sofa tempat dimana aku duduk. Ku periksa keadaanya dan segera ku bawa tubuh paruh baya itu segera ke rumah sakit karena aku tahu keadaannya tidak baik - baik saja.
Aku memilih rumah sakit Dr. Soeprakoen untuk memudahkan ku, ke depannya. Sesampai di sana setelah masuk UGD berbagai macam pertolongan pertama di lakukan. Baru setelah Mahgrib beliau mendapatkan ruangan, aku memilih ruangan ICU VIP untuk tempatnya di rawat. Sebelumnya aku sudah menghubungi Rizki untu mengantar istriku pulang, namun jangan memberitahukan keadaan ayahnya seperti apa.
Sampai jam 21:00 belum ada tanda - tanda bahwa dia akan datang, aku menemani Ibuk yang senantiasa menggenggam tangan Ayah. Ku coba menenangkan beliau, dengan mengatakan bahwa Ayah baik - baik saja, walaupun kenyataannya lain. Aku menaruh tas ranselku di sofa, karena aku ingin merokok di luar.
Sampai beberapa saat aku tetap terdiam duduk di bangku depan teras dengan sebatang rokok menyala di jariku. Ku ambil handphone, untuk mengetahui keberadaanya.
📞 Sudah sampai mana ?
📞 Sebentar lagi masuk kota
📞 Ya sudah, hati - hati
📞 Bagaimana keadaannya ?
📞 Keadaannya terus menurun, tapi semoga tidak terjadi apa - apa.
📞 Ya sudah aku lanjutkan perjalanan terlebih dahulu.
Ku gerus putung yang sudah pendek ke asbak di sebelahku, kemudian aku masuk ke dalam ruangan lagi.
" Buk sebentar lagi Tari akan sampai. "
Setelahnya aku keluar ruangan, untuk melihat hasil CTscan yang pastinya sudah keluar. Karena aku dulu pernah disini jadi mudah bagiku untuk lebih cepat mengetahui hasilnya, karena aku mengenal salah satu perawat yang ada disana.
Sesuai dugaan ku, aku melihat beberapa pembuluh pecah di sana, cukup banyak. Ku usap wajahku kasar, kemudian aku mendiskusikan dengan perawat disana, jalan satu - satunya adalah operasi. Ya hanya tinggal menunggu besuk dokter visit dan aku akan meminta operasi.
Beberapa saat yang lalu Rizki bilang kalau dia sudah sampai, dan sekarang istriku sudah mengetahui keadaan Ayahnya. Jujur saja aku sedikit gugup, ku belokkan kakiku ke arah masjid, segera ku ambil wudhu dan ku lakukan kewajiban ku.
Ku pandangi dia dari balik jendela masih ada sedikit rasa tidak percaya ketika melihat dia, ya dia yang sekarang menjadi tanggung jawabku dia istriku. Tidak bisa tergambarkan betapa aku bahagia, namun saat ini kata itu tidak cukup pantas untu diucapkan sekarang. Beberapa saat lalu Rizki sudah berpamitan kepada ku, tinggallah aku di sini sendiri duduk di kursi di temani rokok yang entah ke berapa hari ini aku hisap.
Tiba - tiba pintu ruangan di mana ayahnya di rawat terbuka, dia berjalan begitu saja tanpa melihat ku yang ada di depannya melewati ku. Ku ikuti dia di belakangnya karena ada suatu hal yang menggangguku. Tiba - tiba saja dia berhenti dan berbalik yang membuat tubuhnya hampir saja jatuh karena menabrak ku. Ku tangkap tubuh kecilnya itu, ku rengkuh dalam pelukanku harum khas rambutnya menguar memenuhi seluruh indera penciumanku.
" Aku tak ingin milikku dilihat oleh orang lain. " Ucapku sambil ku tutupkan sorban yang kebetulan ku bawa ke kepalanya.
Bersambung .....
__ADS_1