Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
96. Iki lak hapene


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


" Iya itu benar kamu kan ? "


Tari tampak berfikir, mencoba mengingat ingat siapa sosok yang kini ada di depannya. Seorang laki - laki berdiri di depannya wajahnya tak asing baginya namun dia benar - benar tidak bisa mengingat sosok itu siapa. Laki - laki dengan tubuh sedikit berisi dengan kulit kuning langsat dan rambut ikal.


" Kamu lupa sama aku ? " Tanyanya kembali.


" Maaf, tapi saya benar - benar lupa "


" Sampean kenal dek sama orang ini. " Bisik Gus Syam pada istrinya.


" Jeki ....... " Ucap sang laki - laki di depannya.


Tari lantas teringat dengan sosok yang sedang tersenyum lebar ke arahnya..


" Oh....... Bang jeey ....... Maaf bang aku tidak mengingat sampean bagaimana kabar sampean mas ?, "


" Iya, wah cepat sekali aku dilupakan. Puji Tuhan aku baik - baik saja, setelah kelulusanku ku kita sudah tak pernah lagi bertemu. Bagaimana kabarmu sekarang ? "


" Bukannya melupakan Bang namun setelah kelulusan sampean, sampean pergi seperti ditelan bumi. Alhamdulillah kabarku baik - baik saja. "


" Hahahaha benar juga apa kata mu, ...... "


Mereka adalah teman lama semasa kuliah Jeki adalah kakak angkatan diatas Tari, mereka terbilang cukup dekat. Namun setelah kelulusan Jeki dia kembali ke daerah asalnya, dan semenjak itu hubungan pertemanan mereka terputus. Dan hari ini mereka dipertemukan kembali, dalam acara pernikahan Wardah. Mereka duduk bersama dalam satu meja, banyak hal yang mereka bicarakan tentang masa kuliah mereka.


" Sekarang Mas Jeey sedang bekerja di Surabaya ?, kok bisa datang disini ? "


" Iya sudah dua tahun ini, dan Kamu sekarang bekerja dimana ? apa tetap di sekolah tempatmu mengajar dulu ? Biasalah istriku saudara pengantin pria.


" Ehem ...... " Gus Syam berdehem.


Gus Syam, terlihat kurang menyukai interaksi antara sang istri dan teman lamanya itu. Mereka terus saja berbicara tentang pertemanan mereka dahulu, tanpa melibatkan Gus Syam yang juga sedang duduk bersama mereka. Bahkan Gus Syam seperti tidak terlihat di mata mereka yang asik membicarakan masa lalu.


" Dek, ........ " Panggilnya pada sang istri, dengan suara selembut mungkin.


Tari menoleh kearah suaminya ketika dia mendengar sang suami memanggilnya dengan nada lembut namun penuh ketegasan. Gus Syam memandang istrinya lekat dengan senyum yang terus tersungging di wajah tampannya.


" Dalem Mas, ........"


" Oiya Tar, ini siapa ? " Tanya Jeki kepadanya.


Gus Syam lantas mengulurkan tangannya, ke arah Jeki. Yang disambut oleh Jeki dengan antusias


" Syam, suaminya Tari. " Ucapnya sambil merengkuh bahu sang istri.


" Jeki ........ Saya teman Tari semasa kuliah. Kamu tadi yang menjadi most wanted nya ibu - ibu buat di jadiin calon mantu tadi ya ? "


" Iya, tapi sayangnya sudah not available. "

__ADS_1


" Hehehehe bisa saja, Gus Syam ...... "


Setelahnya Gus Syam dan Jeki malah terlihat lebih akrab, bahkan mereka sempat bertukar nomer karena ada hal yang akan mereka lakukan bersama. Gus Reyhan pun ikut bergabung dengan keduanya yang terlihat serius dalam membahas suatu hal dengan tablet yang sedang mereka tatap bersama. Kadang kala mereka nampak mengkerutkan alis dan setelahnya salah satu dari mereka. nampak menjelaskan sesuatu.


Karena merasa tidak mengerti dengan apa yang sedang suaminya bicarakan dengan teman lamanya itu, dia memilih berjalan kearah meja prasmanan. Di sana ada berbagai macam makanan yang mampu menggugah selera makannya, akhir - akhir ini ***** makannya semakin meningkat. Beberapa makanan kue basah berjajar di meja panjang itu, namun yang mampu menarik perhatiannya adalah cenil yang disajikan dalam daun pisang yang di pincuk. Cenil yang terdiri dari kicak, petolo, lopis, cenil dan puli dengan parutan kelapa dan disiram dengan gula merah cair benar - benar menggugah selera. Diambilnya satu pincuk cenil lengkap, kemudian mendudukkan diri di sebuah meja yang terletak di belakang untuk menikmati cenilnya.


Tak membutuhkan waktu yang lama dia sudah menandaskan cenil miliknya, cukup membuat perutnya kenyang karena cenil yang terbuat dari ketela. Dilihatnya kearah suaminya, posisinya masih sama seperti ketika dia meninggalkan mereka tetap dengan raut muka yang serius entah sedang membicarakan apa. Tiba - tiba dia ingin buang air kecil yang membuatnya segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kearah kamar mandi.


Dia berjalan kearah belakang, karena letak kamar mandi yang berada dibelakang, melewati ruang tengah dan dapur, ini bukan pertama kalinya dia kesini jadi dia sudah tahu dimana letak kamar mandi berada. Kamar mandi di rumah Wardah memang letaknya terpisah dengan rumah utama. Letaknya sedikit di belakang, menyatu dengan sumur, khas rumah di desa.


" Mbak mau kemana ? " Tanya seseorang yang berpapasan dengannya.


" Ini mbak mau ke kamar mandi. "


" Hati - hati ya mbak kamar mandinya sedikit licin. " Ucap seorang ibu - ibu yang baru saja keluar dari kamar mandi.


" Enggeh Buk. " Jawabnya sembari membuka pintu kamar mandi.


Dia segera menunaikan hajatnya untuk buang air kecil, setelah selesai itu dia membasuh tangannya. Mengambil sling bag miliknya kemudian mengambil bedak miliknya, merapikan kerudung miliknya dengan menggunakan cermin kecil dalam bedak miliknya. Setelahnya dia menyapukan bedaknya tipis untuk menghalau minyak dalam wajahnya. Setelah dirasa cukup, dia segera membalikan bedak miliknya kedalam Sling bagnya.


Kemudian dia keluar kamar mandi, suasana di belakang sini yang tadi ramai sekarang menjadi sepi. Entah kemana perginya semua orang, namun terdengar suara orgent tunggal yang di sewa keluarga Wardah telah dimulai. Bisa dipastikan semua orang yang tadi di belakang pasti sekarang mereka sedang di depan untuk menyaksikan hiburan yang merakyat itu.


Langkahnya terhenti saat dirasa ada orang yang menarik lengannya kencang,tanpa sempat berontak dia sudah diseret oleh seseorang yang telah menyeretnya. Mulutnya dibekap sehingga dia tidak mampu untuk berteriak, tubuhnya diseret melewati beberapa lorong ntah orang itu akan membawanya kemana. Dengan sekuat tenaga dia berusaha memberontak untuk lepas dari orang yang sedang menyeretnya namun usahanya sia - sia karena tenaganya jelas kalah.


***********


" Kita baru opening, masih ada sekitar 5 stand yang sudah aktif dan progres setiap harinya terus meningkat. Produk kita memang baru, tapi dengan kualitas dan cara pengemasan yang di buat semenarik mungkin, aku yakin kalau itu bisa menarik minat konsumen. "


" Sepertinya menarik, konsepnya aku juga suka. Bisa dipertimbangkan ini, hanya butuh pematangan di bagian promosi saja. "


" Iya, itu sekarang yang jadi perhatian utama kita. Bagaimana aku harap kalian berdua bisa tertarik dan setuju bergabung dengan kita. Menurutku cocok sekali bila buka stand di Malang secara kota apel kan lagi berkembang pesat. " Jeki berusaha menjelaskan kepada kedua orang didepannya.


" Insyaallah, sepertinya cukup menjanjikan. " Jawab Gus Reyhan sembari masih menggeser layar tablet menunjukkan beberapa foto gerai makanan milik Jeki.


Setelah berbicara cukup panjang lebar, mereka sepakat akan mengatur waktu untuk segera membicarakan hal itu lebih lanjut. Hiburan orgent tunggal yang disewa oleh pemilik rumah seperti nya sudah akan mulai. Para personelnya satu persatu sudah siap di posisi mereka.


Dan ketika itu, Gus Syam baru tersadar jika sang istri tidak berada disampingnya. Dia melongongkan kepalanya memperluas pandangan, namun dai tidak bisa menemukan istrinya. Apalagi suasana di dalam tenda ini mulai ramai, karena hiburan orgent tunggal yang akan di mulai. Diambilnya handphone miliknya melakukan panggilan kepada nomer sang istri, berfikir cara ini dapat efektif dilakukan pada saat ini.


Hingga panggilan ke tiga pun tetap tidak ada jawaban, yang membuatnya semakin khawatir.


" Mas, aku mau mencari Tari dulu .... "


" Memangnya kemana Tari ? "


" Tadi duduk disini, tapi entah kemana aku telfon handphonenya namun tidak dijawab. "


" Ya sudah cepat sana sampean cari dulu. "


Dia berdiri melangkahkan kakinya lebar, menyusuri setiap sudut di tenda itu, Bahkan dia sampai naik ke pelaminan, karena dia berfikir dari sana seluruh penjuru tenda akan terlihat. Namun hasilnya tetap nihil, dia tidak mendapati sang isttri.

__ADS_1


" Wew, kenapa ? Mau nyumbang lagu... " Ucap Rizki saat dia naik ke pelaminan.


" Tari mana Gus ? " Tanya Wardah


Tanpa menjawab pertanyaan dari keduanya dia turun dari pelaminan, menyusuri setiap sudut yang ada di tenda itu. Sekarang dia berjalan keluar tenda dengan handphone yang masih melakukan panggilan ke nomer milik istrinya namun hasilnya sama. Pikirannya langsung tak tenang dengan hal ini, dia kembali masuk ke dalam tenda dan menghampiri Gus Reyhan yang sedang berbicara dengan Rizki.


" Mas Rey ..... "


" Ada apa ? "


Belum sempat dia menjawab pertanyaan Reyhan,


" Tari belum ketemu. "


" Belum. " Jawabnya sambil menggeleng.


" Sampean sudah menghubunginya ? "


" Sudah, tapi tidak ada jawaban. " Ucapnya sembari menunjukkan layar handphone miliknya yang sedang melakukan panggilan kepada istrinya.


" Sudah di cari kebelakang, mungkin saja dia ke kamar mandi. "


" Kenapa tidak terfikir olehku. " Jawab Gus Syam sembari mengusap tengkuknya kasar.


" Sudah sana cari kebelakang dulu. "


Dengan langkah lebarnya Gus Syam melangkah keluar tenda, menyusuri setiap rumah Wardah. Menanyai satu persatu orang yang berpapasan dengannya apakah melihat istrinya. Namun hasilnya tetap sama, tak ada satupun dari mereka yang melihat keberadaan Tari.


" Gus ganteng, tadi saya lihat istrinya sudah ke luar toilet dari tadi. "


" Sudah dari tadi Buk ? "


" Iya, sudah dari tadi tapi coba di periksa dulu barangkali masih disana. " Ucap ibu paruh baya yang berada di dapur.


Perasaanya sudah tak karuan, takut terjadi sesuatu pada sang istri. Dengan langkah lebarnya dia sudah berada di depan kamar mandi, di bukanya pintu kamar mandi dan memeriksa tempat di sekitar sana. Dia mengingat rambutnya kasar, merasa frustasi karena tidak bisa menemukan keberadaan sang istri. Gus Reyhan datang menghampirinya, dengan wajah yang tak kalah khawatir.


" Bagaimana ada hasilnya ? "


" Ngak ada Mas, bagaimana aku bisa seteledor ini. ,"


" Sek, sampean gak krungu hape mini tah Shan ? "


Ya benar, terdengar bunyi handphone yang sedang berbunyi namun hanya samar karena suara sound system' yang cukup nyaring. Mereka berdua mencoba mendengar dengan seksama mengikuti arah dimana handphone itu berasal. Dan mereka mendapati handphone milik Tari yang tergeletak begitu saja di tanah yang sedang berbunyi.


" iki lak hapene Tari se Shan ? " Ucapnya sembari handphone yang tergeletak di tanah itu.


" Iyo Mas. "


Bersambung .........

__ADS_1


__ADS_2