
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
" Mbak sampean kenal sama orang tadi ?
" Eh, apa ,......... " Jawabnya kaget karena dia sedang melamun.
" Sampean kenal sama orang tadi ? kenapa sekarang malah melamun. "
" Kenal " Jawab Tari singkat, sembari terus berjalan menyusuri gang.
Dua gadis itu sampai disebuah toko kelontong, Tari segera menyebutkan beberapa barang yang akan dia beli kepada sang penjaga toko.
" Semuanya enam puluh lima ribu mbak. " Ucap sang penjaga toko sembari menganggsurkan kresek yang berisi barang belanjanya.
" Ini Mas, " Jawab Tari sembari memberi uang pecahan lima puluh ribu, sepuluh ribu, dan lima ribu.
" Pas ya Mbak. "
Mereka kembali berjalan kearah asrama, tanpa ada yang saling berbicara mereka sibuk dengan pikiran mereka masing - masing.
" Dia laki - laki yang akan pernah menikahi ku. " Ucap Tari tiba - tiba. "
Wardah yang mendengar hal itu langsung menghentikan langkahnya, mengambil tangan Tari yang berada disebelahnya. Dia menatap Tari seolah ingin memastikan apa yang dia dengar barusan memang benar. Yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Tari berserta senyum sekilas.
" Iya, dia Mas Pandu. "
" Maafkan aku Mbak, aku tidak tahu. "
" Sampean tidak perlu meminta maaf Dah, "
Mereka kembali melanjutkan langkah kaki mereka menuju asrama, tidak ada yang mereka bicarakan lagi tentang laki - laki itu. Mereka sampai di asrama tapi keadaan asrama masih ramai dan tentu saja Pandu masih disana. Bahkan laki - laki itu tak pernah melepaskan pandangannya ketika Tari masuk melewati sofa yang di dudukinya.
Tari tak merasakan hal apapun, bahkan dia setelah masuk melewati ruang tamu dia langsung saja menuju dapur. Menaruh semua barang belanjanya tadi di kulkas dan rak. Dia menyalakan kompor, karena dia ingin membuat susu hangat, mungkin bisa membuatnya cepat tertidur malam ini. Dia terkaget ketika ada seseorang yang memanggil namanya berbarengan dengan sentuhan pelan di bahunya.
" Ijah ........ "
Seketika dia menoleh kearah suara yang datang dari arah belakangnya, dan dia terkaget ketika sosok pria hitam manis itu sudah dibelakannya.
" Mas Pandu. " Ucapnya gugup.
Pandu yang menyadari hal itu berjalan kebelakang menjauhkan dirinya dari Tari. Tidak ada satu pun kata yang mereka ucapkan, hingga cukup lama sampai Tari merasa kepalanya yang tiba - tiba berdenyut. Dia memegangi kepalanya, raut wajahnya nampak sekali merasa kesakitan. Pandu yang mengetahui hal itu, merasa bingung apa yang harus dia lakukan. Kemudian dia maju dari tempatnya berdiri mendekati Tari kumudian dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala Tari.
" Pak Pandu, " Ucap Wardah yang baru saja datang.
Wardah mempercepat langkahnya menuju tempat Tari berdiri, kemudian merengkuh sahabatnya itu dituntunnya tubuh gadis itu meninggalkan dapur.
" Pak Pandu kamar mandinya disana. " Dengan suara tegas dengan penuh penekanan.
Wardah membawa Tari ke kamar mereka, didudukan tubuh kecil itu di kasur. Kemudian membuka laci nakas paling atas, menemukan obat yang biasanya Tari minum saat dia merasakan nyeri kepalanya. Dengan cepat dia mengambil botol minum di atas nakas sembari menyerahkan obat yang barusan dia ambil.
" Sudah Mbak Tari istirahat dulu ya. " Gadis itu menyelimuti tubuh kecil itu.
" Terimakasih Dah. "
" Sudah Mbak istirahat dulu. Saya kebawah dulu ya. "
Gadis itu menutup pintu itu sepelan mungkin kemudian dia menyusuri lorong menuju lantai bawah.
__ADS_1
Untung saja aku datang di waktu yang tepat, kalau tidak entah apa yang akan terjadi. ........
*************
Suasana ndalem malam ini cukup ramai, sebenarnya ndalem memang tidak pernah sepi dengan orang karena setiap harinya pasti saja ada tamu. Entah tamu dari kiyai atau pun Bunyai, namun malam ini ada hal yang berbeda karena kehadiran orang yang masih terbilang dekat dengan keluarga ndalem Kiyai Baharuddin.
Mereka semua berkumpul di bale duduk beralaskan karpet, dengan dua meja pendek di kanan dan kiri. Mereka duduk menjadi dua kelompok, sebelah kanan kelompok para laki - laki sedangkan sebelah kiri kelompok para wanita.
" Bagaimna Gus Reyhan ? perkembangan rumah singgah ? "
" Alhamdulillah Paklik hampir selesai secara administrasinya, hanya tinggal membenahi di beberapa bagian. Insyaallah minggu depan bisa diajukan. "
" Alhamdulillah kalau begitu, bagaiman sampean sudah mengunjungi Pak Rahmat ? "
" Sampun Paklik, waktu perjalanan kesini saya mampir dahulu kesana. Beliau sudah sehat namun beliau sangat mengharapkan bocah itu segera menemuinya. Ada hal yang ingin beliau sampaikan padanya tanpa bisa diwakilkan. "
" Alhamdulillah kalau seperti itu, Insyaallah besuk bocah itu datang semoga tidak diundur lagi. " Laki - laki paruh baya itu menghela nafas panjang.
Bayangannya menerawang jauh kepada sosok anak laki - lakinya itu. Tidak ada yang mengenal dengan baik sosok putranya itu selain dirinya. Sikap dan tingkahnya jauh sekali dari sosok putra seorang kiyai. Namun itu tidak sedikit pun membuat dia mengurangi rasa kasih sayangnya pada anaknya itu.
flashback on
Dia merasa kaget ketika beberapa waktu lalu putranya itu terlihat gelisah, tidak biasanya dia seperti itu. Sosoknya yang cuek dan bertingkah semuanya sendiri itu terlihat gelisah.
" Ada apa le ? "
" Eh Abbah ....... "
" Kenapa ?
" Mboten nopo - nopo, cuma masalah pekerjaan Bah. "
Putranya itu mengusap tengkuknya, mencoba mengalihkan kegugupannya ketika Abbahnya menanyakan hal itu.
" Bah bagaimana kalau Syam menikah ? "
" Apakah sampean sudah yakin Le ? "
" Insyaallah Bah. "
Akhirnya putraku mengambil keputusan yang besar bagi hidupnya, keputusan yang tak pernah terbayangkan akan diambilnya.
flashback of
" Syam mau pulang mbak ? "
" Iya Rom, Insyaallah besuk. " Jawab wanita paruh baya itu.
" Loh memang koasnya sudah selesai to mbak ? "
" Pulang hanya sebentar Rom, ada hal yang harus diselesaikan. "
Mereka terus berbincang sampai pukul 08:00, Mikhail yang sedari tadi di gendongan Rina mulai menggeliat. Bayi gembul itu sudah tertidur dari tadi dalam gendongan Aminya, dia menangis ketika terbangun mungkin karena pegal. Yang mengetahui hal itu Rina segera membawa bayinya ke kamar untuk menidurkannya di kasur.
Suasana sudah tidak seramai tadi beberapa tamu sudah undur diri masuk kedalam kamar mereka masing-masing. Hanya meninggalkan beberapa orang disana yang nampaknya masih enggan untuk beralih.
" Bagaiman Rom dengan gadis yang sampean ceritakan beberapa hari lalu Rom. "
__ADS_1
" Tetap saja Mbak, bahkan saya sampai mendatangi keluarganya di Blitar tapi tidak bisa merubah keputusan gadis itu. " Ucap wanita paruh baya itu sembari membayangkan peristiwa itu.
Bunyai pikirannya menerawang jauh, teringat perkataan gadis beberapa waktu yang lalu. Diulasnya senyum di wajah yang mulai keriput itu, sembari menghela napas panjang.
" Mungkin Setyo harus bisa melepaskannya. " Ucapnya tenang.
" Mana bisa seperti itu Mbak, Setyo sudah menurunkan harga dirinya bahkan keluarga kami mbak. Namun dia berlagak jual mahal dengan menolak Setyo dengan alasan karena sudah tidak memiliki rasa pada Setyo. Alasan macam apa itu, dia itu beruntung seorang seperti Setyo bisa menyukainya. "
Bunyai Salamah hanya tersenyum simpul mendengar ucapan adik sepupunya itu. Sungguh waktu tidak mampu merubah saudaranya itu, tetap sama selalu memaksa apa yang telah menjadi keputusannya. Rina datang dari arah dalam dengan membawa sepiring ketela goreng yang masih mengepulkan asap.
" Monggo Bulik, mumpung masih anget. " Ucapnya kepada kedua wanita paruh baya di depannya.
" Sampean Ning Rina yang ngoreng. "
" Mboten Bulik, Mbak santri yang menggoreng. Saya hanya membawanya. "
Kemudian Rina beralih ke meja sebelah untuk menaruh satu piring ketela goreng di meja tempat dimana para laki - laki duduk. Kemudian kembali kemeja sebelah mendudukkan tubuhnya di depan kedua wanita paruh baya itu.
" Bagaimana Dengan Syam Mbak ? "
" Syam ..... ? " Tanya Bunyai Salamah.
" Apa dia masih betah saja dengan masa lalunya ? " Tanya wanita paruh baya itu dengan senyum semirk.
" Tentu saja tidak Bulik, bahkan dia sudah mengkhitbah seorang gadis. Kepulangannya kali ini karena memenuhi permintaan calon mertuanya. " Jawab Rina diiringi senyum penuh arti menatap wanita paruh baya itu didepannya.
Yang mampu membuat wanita paruh baya itu, menelan ludah dengan sulit.
*************
Pagi ini seperti biasa asrama selalu ramai dengan kegiatan penghuninya. Obat yang dia minum tadi malam benar - benar membantunya, pagi ini dia bangun dengan keadaan yang lebih baik dari kemarin. Nyeri di kepalanya sudah menghilang, hanya saja dia merasa sedikit mual mungkin akibat nyeri itu.
Meskipun keadaannya seperti itu tidak menghentikannya untuk tetap beraktifitas seperti biasa. Sejak subuh tadi dia sudah bangun melakukan kewajibannya, selesai itu dia membantu Buk Tini memasak di dapur. Setelahnya dia baru kembali ke kamarnya untuk bersiap - siap berangkat ke tempatnya mengajar.
" Dah ngak ada jam pagi hari ini ? "
" Ngak ada mbak, Nanti setelah istirahat baru ada jam. Bagaimana kepalanya sudah enakan ? "
" Alhamdulillah sudah lebih baik. "
" Maaf ya Mbak, awalnya aku tidak tau kalau pemilik WO itu dia. "
" Sudahlah tidak ada yang perlu dibahas. "
Tari kembali sibuk mempersiapkan barang yang harus dibawanya, memasukkan beberapa buku serta laptopnya ke dalam tas ransel miliknya. Mengganti kerudung kaos yang sedang dia pakai dengan kerudung yang senada dengan seragam yang dia kenakan. Setelah dirasa siap, dia keluar kamarnya menuruni tangga menuju dapur terlebih dahulu.
Pagi ini dia tidak berpuasa, seperti biasa yang selalu dia lakukan setiap harinya. Kepalanya belum benar - benar sembuh, itu yang menyebabkan dia harus meminum obatnya tepat waktu. Sesampainya di dapur ternyata ruangan itu cukup ramai.
" Mbak Tar, mau berangkat ? "
" Iya Mbak Rin, tapi saya mau sarapan terlebih dahulu. " Ucapnya sembari mengambil piring yang berada di rak.
" Kalau begitu saya bareng ya, tumben mbak ngak puasa ? "
" Iya Mbak, sedikit pusing harus meminum obat Mbak. " Jawabnya sembari menunjukkan beberapa obat ditangannya.
Meminum obat pereda rasa nyeri satu - satunya hal yang bisa dia lakukan. Setelah menyelesaikan sarapannya kemudian mengajak Rini untuk segera berangkat.
__ADS_1
Bersambung ........