Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
82. M. Ghasan Fariq As-Syammimi III


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


POV. GHASAN III


Bukan jawaban tentang siapa yang di maksud dengan ayah Hawa, namun nasihat panjang yang aku terima dari Mas Reyhan. Kenapa aku selalu gegabah dan cenderung cerobah jika itu mengenai dia.


" Astaghfirullah "


Maafkanlah hamba-Mu ini ya Allah yang maragukan kuasa Mu.


Bukankah selama ini aku selalu dilimpahi dengan karunia-Nya yang begitu berlimpah. Bagaimana aku bisa meragukan segala kuasa-Nya. Yang harus aku lakukan hanyalah bersungguh - sungguh ketika memintanya kepada Sang pencipta. Untuk hasilnya itu kuasa-Nya, tidak ada yang bisa mengubahnya.


Ternyata semua diluar dugaan ku, koas selesai lebih cepat hanya tinggal dua bulan lagi aku disini. Sungguh semua di mudahkan bagiku, Yang harusnya dua tahun aku melaluinya hanya dengan satu setengah tahun. Itu tak lepas dari konsulen ku disini sangat baik, jadi aku bisa lebih cepat selesai.


Semenjak kedekatannya dengan Ayah Hawa, tidak ada yang berubah dalam ku memperlakukannya tetap sama. Aku lebih sering menghubunginya, nun tidak pernah sekalipun aku bersuara.


Namun yang membuat ku senang setiap kali aku menghubunginya, dia menceritakan banyak hal. Ingin sekali aku menjawab setiap kata yang keluar dari mulutnya. Namun sesuai dengan keputusan ku dari awal, aku tetap diam dengan hati yang dihiasi beribu bunga yang bermekaran setiap kali mendengar suaranya.


Di bulan Mei ini akan ada UKMPPD ( uji kompetensi materi program profesi dokter ) Aku memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Namun aku tidak pulang ke Kotaku, aku lebih memilih pulang ke Bandung ke ponpes tempat ku dulu pernah menuntut ilmu.


Kedatangan ku di sana di sambut dengan suka cita oleh disisi ponpes, ya karena aku termasuk murid yang istimewa bagi guruku. Selama beberapa hari aku disana ku isi dengan belajar karena aku ingin lulus UKMPPD dalam sekali tahap. Dengan disini aku bisa berkonsentrasi penuh, untuk mengulang semua materi perkuliahan sarjana kedokteran.Aku juga tidak melupakan kewajiban ku sebagai seorang prajurit. Yang mengharuskan aku untuk selalu melapor kepada kesatuan ku dimana pun aku berada.


Benar kata orang - orang yang buat deg - deg kan itu bukan saat kita berhadapan dengan pasien namun saat kita berhadapan dengan 200 soal tes CBT (computer based test). Aku menyelesaikan semua itu dengan cepat kurang, dari 60 menit aku sudah selesai. Aku sudah berusaha sebaik mungkin soal hasil Insyaallah tidak akan menghianati usaha yang selama ini aku lakukan.


Sebelum aku kembali ke Kediri, aku bertemu dengan seniorku yang mengajak ku bergabung dengannya membantunya dalam bertugas di rumah sakit RSPAD Gatot Soebroto dan aku mengiyakannya. Mengambil semua kesempatan yang ada, demi memperoleh pengalaman sebanyak-banyaknya itu pikirku. Karena pengumuman UKMPPD masih satu bulan lagi.


📞 Ummi, Syam belum bisa pulang ada seorang senior yang menawari Syam untuk bergabung.


📞 Alhamdulillah kalau seperti itu Le, manfaatkan segala kesempatan yang datang padamu. Tapi Ummi sangat rindu padamu tidakkah sampean bisa pulang sebentar saja.


Mendengar Ummi berkata demikian membuatku tak sanggup tidak mengiyakan permintaannya.


📞 Insyaallah Ummi, Syam akan pulang.


Dan akhirnya aku menginjakkan lagi kakiku di tanah kelahiran ku. Belum lama aku pergi baru sekitar satu setengah tahun namun sudah banyak hal yang berubah. Ya pembangunan memang di lakukan dengan pesat untuk memudahkan manusia dalam beraktifitas.


Seperti biasa Mas Reyhan datang menjemput ku, aku terlebih dahulu singgah ke Malang untuk melihat beberapa usahaku disana. Semua keluarga disana menyambut ku, bagi mereka aku sudah dianggap seperti keluarga.


Selepas Dhuhur kami putuskan untuk meneruskan perjalanan kami, menuju Kediri. Sepanjang perjalanan kami isi dengan diskusi mengenai banyak hal, ya ini memang menjadi hal wajib yang kami lakukan jika sedang bersama.


" Bagaimana dengan rencana sampean tentang rumah singgah ? "


" Insyaallah seperti yang sudah pernah kita bicarakan mas. Rizki akan membantu semua tentang menyusun proposal, selebihnya Mas Reyhan juga ikut membantu. "


" Insyaallah, tentang Tari ? "


" Sebenarnya aku ingin segera mengkhitbahnya, tapi ..... " Ucapnya menggantung karena ada satu hal yang membuatnya ragu.


" Ada hal yang membuat sampean tidak yakin ? "


" Aku takut mas, jika dia menolakku. "


" Tunggu satu hal yang bisa lebih meyakinkanku. "


" Aku akan selalu mendukung semua yang menjadi keputusan sampean. "

__ADS_1


Mobil yang aku kendarai akhirnya memasuki lingkungan ponpes milik Abbah, aku memarkirkannya tepat di depan halaman ndalem. Rumah adalah tempat ternyaman untuk kita pulang.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam " Jawab Fisa yang saat itu sedang berada dibale.


" Mas Syam. " Gadis itu langsung saja berlari kearah ku dan langsung menubruk kaki ku.


" Pica, si pipi gemoy. " Ku peluk tubuh adik semata wayang ku ini, satu setengah tahun tak bertemu dengannya membuat ku rindu dengannya.


Tak berselang lama, dua pasang paruh baya datang dari arah ruang tengah. Segera ku salami dan ku cium kedai tangan mereka dengan takzim. Kemudian ku peluk mereka, lama sekali aku tidak merasakan kehangatan yang seperti ini.


" Sehat Le ? "


" Alhamdulillah Ummi. " jawabku sambil ku hapus butiran kristal bening di pipi keriput itu.


" Bagaimana semua berjalan lancar ? "


" Insyaallah Bah, hanya tinggal menunggu pengumuman UKMPPD. Setelahnya langsung bisa sumpah profesi. "


" Semoga ilmu yang sampean peroleh bisa bermanfaat bagi banyak orang ya Le. " Ucap wanita paruh baya itu.


Setelah lama berbincang banyak hal yang kami ceritakan, aku memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Ku masuki kamar yang selama satu setengah tahun ini ku tinggalkan, tidak ada yang berubah tetap sama seperti terakhir kali aku tinggalkan. Meskipun tidak ditempati namun kamar ini tetap bersih, tentu saja Ummi akan rutin membersihkannya.


Setelah mandi membuatku merasakan sedikit lebih segar, ku dudukkan tubuhku di kursi meja belajarku. Kemudian ku ambil handphone, lalu ku dial sebuah nomer tak menunggu lama panggilan itu pun diangkat.


📞 Assalamualaikum "


Suara yang begitu ku rindukan, mengembalikan semua semangat dalam diriku. Cukup lama sudah aku tidak mendengar suara ini karena aku ingin berkonsentrasi ke UKMPPD terlebih dahulu.


📞 Bagaimana kabar Sampean ,?


Dia menutup panggilan itu setelah menanyakan kabar ku.


" Aku sudah pulang " Itu jawabku.


Rasanya cukup hanya mendengar suaranya saja membuatku tak henti - hentinya menyunggingkan senyum di wajahku.


" Kenapa tersenyum seperti itu ? "


" Ummi ........ ,Membuat Syam kaget saja, sejak kapan Ummi di situ ? ,"


" Semenjak sampean telefon tapi ngak mau ngomong itu, berlanjut dengan sampean senyum - senyum sendiri seperti itu. "


" Ummi ...... " Jawabku canggung saat ada yang melihat tingkahku.


Semalam sehabis Isyak kami bertiga duduk di dalam perpustakaan milik Abbah, mendiskusikan banyak hal hingga hampir tengah malam baru usai. Yang pagi ini membuat ku bangun sedikit kesiangan, ketika adzan subuh berkumandang aku baru saja bangun.


Ternyata pagi ini cukup sibuk di ndalem, mbak - mbak santri yang biasa membantu Ummi tengah sibuk menyiapkan berbagai hidangan untuk menyambut tamu. Seperti biasa di setiap hari Minggu di minggu terakhir selalu diadakan kajian rutin di sini.


" Syam, Abbah mau sampean juga mengisi kajian hari ini. "


" Enggeh Bah. "


Waktu pun beranjak siang, sedari tadi Fisa sudah mengekori kemanapun aku pergi rasanya seperti punya body guard. Acara kajian sudah di mulai setengah jam yang lalu dan aku masih berada di ndalem. Saat Mas Reyhan sudah sampai akhir pada kajian yang diberikan, aku baru bergegas menuju halaman di mana kajian diadakan. Ku langkahkan kakiku lebar menuju halaman, namun keanehan terjadi jantung tiba - tiba berdebar kencang.

__ADS_1


Bbbrruuukkkk .........


Tubuh ku ditabrak seseorang yang tiba - tiba berada di depanku. Tubuhnya limbung sehingga dia terjatuh hingga terduduk di tanah sedangkan handphone miliknya juga ikut jatuh.


Deg ...... deg ..... deg .....


" Mbak, apa tidak apa - apa ? " Tanyaku padanya.


Namun tidak ada jawaban darinya, dia tetap terduduk sembari memegangi dadanya aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia terus menunduk. Anehnya debaran jantungku semakin menggila, aku berusaha menutupi kecanggungan ini.


" Mbak, bisa berdiri tidak. Apakah perlu saya bantu ? " Tanyaku kepadanya lagi.


Namun masih tidak ada jawaban darinya, akhirnya aku mengambil handphone miliknya yang terjatuh. Dia sudah berdiri dari duduknya, namun sepertinya aku pernah melihatnya, sepertinya dia tidak asing bagiku.


" Ini Mbak Hanphonenya. ..... " aku angsurkan handphonenya, yang langsung diraih olehnya.


Gadis itu, tidak bergeming dia hanya terdiam ditempatnya.


" Mbak kenapa diam saja. " Tanya ku lagi.


Akhirnya dia mengangkat wajahnya, dan pandangan kami sempat bertemu. Ku sunggingan senyum terbaikku, aku tidak mengira namun jantung ini tahu siapa sesungguhnya pemiliknya.


" Maaf .... " Ucapnya.


" Iya Mbak, bukankah ini milik sampean ? "


" Iii, ya terimakasih, " Ucapnya sedikit terbata.


" Mari Mbak, Assalamualaikum " Ucapku sembari menyunggingkan senyum terbaik ku.


Sungguh ini diluar kendali ku, aku harus segera pergi dari sana aku takut syahwat benar - benar menguasai ku. Dengan langkah lebar dan cepat aku tinggalkan dia yang sedang mematung disana. Jangan tanya bagaimana perasaanku, bahkan aku sudah seperti orang yang tidak waras berusaha sebisa mungkin menyembunyikan rasa bahagia ku.


Saat aku rasa sudah berada jauh darinya, aku segera berbalik. Ku lihat dia masih disana dengan seorang anak kecil dan gadis jangkung di sebelahnya. Sebuah senyuman tersungging di wajahku.


Berikan aku satu pertanda lagi, agar lebih yakin dalam langkahku.


Ku sembunyikan segala rasaku, saat aku sudah menapaki sisi belakang panggung. Terlebih dahulu aku Salami serta mencium tangan semua orang yang berada diatas panggung yang notabennya para kiyai dan beberapa orang yang usianya diatas ku.


Kini tiba saatnya aku harus memberi kajian, tidak biasanya aku merasa gugup. bayangan wajahnya kembali menghiasai seluruh pandanganku.


Bismillahirrahmanirrahim


Suara riuh mulai terdengar ketika ku mulai berdiri, berjalan menuju podium.


" Sahabat kalian tahu ........ jatuh cinta sebelum pernikahan itu ...... ? " Ku tanya ku pada semua yang hadir dalam kajian siang ini.


" Ujian " Jawab mereka bersama.


Pandanganku ku arahkan kepada semua jamaah yang hadir, dan kemudian ku lihat dia berdiri.


" Jatuh cinta sebelum pernikahan adalah ujian yang berat. Allah tidak mengharamkan rasa cinta seseorang hamba-Nya, karena sejatinya cinta adalah fitrah setiap manusia. Suci apabila terbingkai dalam suatu ikatan yang halal, dan akan kotor apabila terbingkai dengan suatu hal yang diharamkan oleh Allah. Ketika kita mengalami perasaan jatuh cinta pada seorang lawan jenis yang belum saatnya, cinta dalam dia adalah hal yang paling tepat. Cinta dalam doa diserap sujud kita adalah cara yang tepat. "


Ku ucapkan dengan pasti, seolah aku sedang menyampaikan segala perasaanku padanya. Dengan mata kami yang saling mengunci satu sama lain. Sedetik kemudian ku lihat dia mengangguk, dan ku balas dengan sebuah sunggingan di bibirku yang cukup lebar.


Bersambung ........

__ADS_1


__ADS_2