
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat di lalui apabila kita tidak hanya berdiam diri. Waktu akan terasa cepat berlalu apabila kita disibukkan dengan suatu hal. Hari ini hari Jum'at hari terakhir dalam yayasan ini mengadakan kegiatan belajar mengajar. Ya yayasan ini menerapkan full day dalam proses belajar mengajar jadi setiap hari Sabtu akan menjadi hari libur sama halnya dengan hari Minggu.
Tari telah selesai mengerjakan semua tugasnya, dia juga sudah menyusun semua laporannya dalam seminggu ini dan mengirimnya lewat Email kepada kepala sekolahnya. Dia segera bergegas kembali ke asramanya karena hari ini dia akan pulang kerumahnya.
Tttrrrrttttt, tttrrrrttttt, tttrrrtttt
Handphone dalam tasnya bergetar, segera dia mengambilnya melihat layar benda pipih tersebut. Senyum tersungging di wajahnya tatkala mengetahui dari siapa panggilan itu berasal.
📞 " Halo Assalamualaikum "
📞 " Walaikumsalam Mbak "
📞 " Aduh yang lagi sibuk banget sampai - sampai lupa nanyain kabar sama bumil ini. Huh apa sudah lupa ya kira - kira sama aku atau sudah punya teman baru. "
📞 " Maaf, Mbak bukannya lupa tapi Tari sibuk sekali. Pulang ngajarnya habis dhuhur belum lagi buat laporannya jadi kadang ngak sempat buka hp mbak. Bagaimana mbak Rina sehat ? "
📞 Alhamdulillah Tar, semakin kesini semakin sehat. Oh iya hari Sabtu sebelum dhuhur di pondok ada pengajian 7 bulanan ku, apa kamu bisa datang ? "
📞 " Insyaallah mbak tak usahakan, ini aku juga mau pulang mbak. "
📞 " Ya sudah hati - hati ya kalau pulang, jangan lupa besok kabari aku kalau bisa datang. "
📞 " Iya mbak "
📞 " Assalamualaikum "
📞 " Walaikumsalam "
Gadis itu kembali menatap benda pipih itu setelah selesai menyelesaikan percakapannya. Kemudian membuka salah satu aplikasi berlogo gagang telefon berwarna hijau. Membuka room chat yang sedari tadi pagi sudah mengirimi beberapa chat menanyakan kepulangannya.
✉️ Bunda Hawa sama Ayah ini sudah berangkat buat jemput Bunda, kata Ayah sudah hampir sampai.
Begitulah kira-kira isi chat terakhir dari gadis kecil yang dia kirim satu jam yang lalu. Tari sudah melarang untuk menjemputnya tapi gadis kecil itu tetap saja pada keinginanya. Setelah membaca chat tersebut Tari segera bergegas menuju asramanya, karena dia belum mempersiapkan diri.
Setelah berjalan dengan cepat Tari sampai di asrama, suasana ruang tamu terlihat sepi. Hanya ada pak Giman dan seorang lelaki muda yang duduk di ruang tamu sambil menikmati kopi di sela - sela obrolan mereka.
" Assalamualaikum " Ucap Tari saat dia masuk ke ruangan itu.
" Walaikumsalam " Jawab mereka bersama-sama.
" Sudah pulang Bu Tari " Tanya lelaki muda itu ?
" Iya pak, mari saya ke atas "
" Silahkan Bu. "
Tari segera melangkahkan kakinya menuju lantai dua , menapaki satu persatu anak tangga dan berjalan menuju ujung lorong tepat dimana kamarnya berada. Dia mengambil kunci yang ada di dalam tasnya, saat dia akan memasukan kunci itu tiba-tiba pintu terbuka dari dalam.
" Astaghfirullah, Wardah bikin kaget saja " Sambil memegangi dadanya.
" Hehehehe, maaf mbak ngak tau kalau sampean di depan sini. "
" Sampean hari ini pulang atau tidak ? "
" Pulang mbak, makanya ini siap - siap sambil nungguin Mbak Tari. Kita jadikan pulang bareng mbak ? "
" Iya, Aku bersih - bersih dulu ya. " Sambil melangkah menuju kamar mandi yang berada di sudut ruangan.
" Siap Mbak aku mau merapikan kamar dulu. "
__ADS_1
********
Sementara di ruangan bawah laki - laki beda generasi sedang mengobrol di sertai menikmati kopi mereka masing-masing. Hal yang sering mereka lakukan di setiap kali ada kesempatan, untuk saling bertukar pendapat atau membahas suatu hal.
" Mas Riski, tak lihat - lihat sampean kok suka senyum - senyum sendiri akhir - akhir ini. Hayo apa sedang jatuh cinta ? "
" Ehmz masak Pak, saya rasa tidak ada yang aneh dari diri saya. Kalau jatuh cinta sih memang ada seorang gadis yang mampu mencuri perhatian saya pak. "
" Lah ya mesti sampean tidar sadar Mas, tapi Bapak perhatikan sampean suka lain kalau memandangnya. "
" Bapak ini, memang bapak tahu siapa gadis yang saya maksut. "
" Taulah Mas, itu orangnya turun dari tangga. Betul atau tidak ucapan Bapak ? " Ucap Pak Gimin berbisik seraya menunjuk ke arah tangga dengan dagunya.
Dengan segera laki - laki muda itu menoleh ke arah tangga, dan benar saja gadis yang berhasil mencuri hatinya itu berjalan ke arahnya. Ulasan senyum selalu di sunggingkan di wajahnya yang dia sembunyikan di wajahnya yang tertunduk. Entah mengapa setiap melihat gadis itu mampu menggetarkan hatinya, sampai membuat jantungnya berdebar kencang. Manik matanya tak mau mengalihkan pandangannya dari tubuh kecil yang berbalut gamis syar'i berwarna peach dengan kerudung lebar yang berwarna putih.
" Mbak Tari mau pulang ya ?, kok sudah rapi sekali " Tanya Pak Giman.
" Enggeh Pak, sekalian sama Wardah juga pak "
" Mau naik bis mbak ?, Ayo kalau mau naik bis saya antar ke terminal biar cepat. "
" Mboten Pak, nanti dijemput. Ini kami sedang menunggu " Jawab Wardah.
Dua gadis itu mendudukkan badan mereka di sofa yang terletak di seberang kedua laki - laki itu. Pandangan laki - laki muda itu tak lepas dari gadis berkerudung putih di depannya, sedangkan yang dipandang hanya menunduk tanpa menyadari kalau dia sedang menjadi pisah perhatian orang - orang disekitarnya.
" Mas kalau bener seneng langsung pepet saja jangan cuma di pandangi nanti keburu di sambar orang. " Ucap Pak Gimin seraya berbisik.
" Saya ragu pak, jujur saya kurang percaya diri entah mengapa. "
" Sampean itu Mas belum berjuang kok sudah menyerah, "
" Unda " .........
Terdengar suara seorang gadis kecil yang cadel, membuat semua orang di ruang tamu itu menoleh kearahnya. Seorang gadis kecil memakai gamis berwarna pink, berjalan dengan sedikit kesulitan sedang dituntun seorang laki-laki dewasa bertubuh tegap, kulit sawo matang dan potongan rambut yang under cut. Tari segera berjalan ke arah dua orang yang datang itu.
" Assalamualaikum Hawa ..... "
" waikumcalam Unda "
" Maaf Pak merepotkan "
" Tidak Bu Tari saya tidak merasa direpotkan. Apakah sudah lama menunggunya ? "
" Belum Pak, Monggo masuk dulu " Ucap Tari sambil mempersilahkan tamunya itu masuk.
Raut wajah Riski berubah ketika ada seorang gadis kecil datang memanggil Tari dengan sebutan Bunda. Apalagi gadis itu datang dengan seorang laki - laki, yang sepertinya Ayah dari anak itu. Dia begitu kecewa, karena dalam fikirannya gadis kecil itu adalah anak Tari sedangkan laki-laki itu suami Tari.
" Assalamualaikum " Ucap Fahmi ketika masuk ke dalam ruang tamu.
" Walaikumsalam " Jawab mereka serentak.
" Wah ada tamu, Monggo sini duduk dulu." Ucap Pak Gimin sambil menyalami Fahmi.
" Terimakasih pak, "
" Saya Pak Gimin, penjaga asrama sekaligus tukang kebun disini pak. "
" Saya Fahmi ...... " Belum selesai memperkenalkan dirinya, perkenalan mereka terhenti saat Hawa tiba - tiba menarik celana ayahnya.
" Kenapa Sayang ? "
__ADS_1
" Wawa mau pis yah "
" Hawa mau pipis ayo sini sama Bunda, " Tari menuntun gadis kecil itu ke belakang menuju kamar mandi yang berada disebelah dapur.
Tiga orang pria itu masih saja mengobrol, bukan tiga lebih tepatnya dua karena Riski tidak sedikitpun membuka mulutnya untuk ikut berbicara. Hanya memasang telinganya untuk mendengar dan sekali - kali senyum tersungging di bibirnya. Entah mengapa dia tidak begitu menyukai pria yang berada di depannya itu. Padahal itu pertemuan pertama mereka, mungkin karena dia merasa cemburu terhadap Fahmi. Tidak berapa lama Tari dan Hawa datang menghampiri mereka.
" Yayah, ayo tita ulang "
" Oh iya, apakah semuanya sudah siap ? "
Hanya dibalas anggukan oleh Tari, yang sudah digandeng oleh Hawa. Kemudian mereka berpamitan dan memulai perjalanan mereka untuk pulang.
" Mas mukanya jangan ditekuk seperti itu. "
" Gimana ngak ditekuk Pak, berjuang saja belum tapi kenyataan dia sudah ada yang punya. Huh ........ kok begini amat ya nasib saya pak "
" Tapi menurut saya itu bukan suaminya Mbak Tari mas " Ucap Pak Gimin matanya sambil menerawang.
" Bukan suaminya gimana Pak, wong gadis itu tadi manggil Bu Nyimas Bunda kok. "
" Tetap saja Mas, saya tidak yakin. "
**********
Sementara itu mobil yang dikendarai Fahmi sudah lumayan jauh meninggalkan area yayasan itu. Mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang dilewati disertai tetesan air hujan. Hawa tak henti-hentinya menceritakan kegiatannya selama enam hari yang lalu, yang diiringi dengan tawa riangnya. Sementara Wardah yang duduk di sisi tengah mobil itu sepertinya sudah terbuai dengan hawa dingin dan goyangan - goyangan kecil dari mobil itu yang siap membawanya ke alam mimpi.
" Maaf Pak Fahmi, sudah merepotkan Anda yang harus menjemput saya. "
" Tidak apa - apa saya tidak merasa direpotkan. Hawa sejak kemarin sudah tidak sabar untuk menjemput anda. "
Tangan kekar pria itu terulur membelai pucuk kepala putrinya yang sudah tertidur dalam pangkuan Tari.
" Cepat sekali dia tidur, padahal beberapa menit tadi masih bercerita. "
" Mungkin dia kecapekan pak, seharusnya tadi tidak usah menjemput tunggu saja di rumah saja. "
Mobil itu terus melaju membelah jalan ditemani hujan yang turun dengan deras, langit pun mulai menggelap bukan karena mendung tapi karena hari sudah malam.
" Bu Tari kita cari masjid dulu ya untuk sholat Maghrib ? "
" Iya Pak, "
Tak perlu membutuhkan waktu yang lama mobil itu berbelok ke sebuah rest area yang terdapat masjid, mini market, dan beberapa warung makanan berjejer. Satu persatu penumpang mobil itu turun setelah mobil terparkir.
" Hawa ayo, sini gendong Ayah saja. Lihat Bunda tangannya sakit. " Ucap Fahmi saat melihat Hawa yang tak mau turun dari pangkuan Tari. Dan Tari terlihat kesakitan karena tangannya kesemutan.
" Dak au Yah, Wawa dalan cendili bisa. "
" Sudah Pak biar saya tuntun Hawanya. "
" Adik cantik ayo jalan sama Tante, kasihan Bundanya tangannya masih kesemutan. "Ucap Wardah, mencoba membujuk Hawa untuk turun bersamanya karena dia tau tangan Tari kesemutan karena selama perjalanan mesti merangkul Hawa yang tidur di pangkuannya.
" Ya deh Wawa ama Ante ja. " jawab gadis kecil itu yang meraih tangan Wardah lalu berjalan bersamanya.
" Apakah tangannya masih sakit Bu ? "
" Hanya sedikit saja Pak "
Fahmi menghampiri Tari yang masih terduduk di kursinya sambil mengebas - ngebaskan tangannya ke udara. Saat Fahmi sampai di depannya, Tari turun dari kursi depan yang didudukinya namun karena kakinya juga kesemutan tidak mampu menopang berat tubuhnya. Tubuh gadis itu terjatuh limbung ke arah Fahmi, tapi dengan sigap tangan kekarnya meraih pinggang Tari dan membawa tubuh gadis itu ke pelukannya. Tanpa di sadari tatapan keduanya bertemu dan mereka hanya terdiam beberapa saat.
Bersambung ........
__ADS_1