
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Kadang kita dihadapkan dengan kenyataan yang sama sekali tidak berpihak kepada kita. Takdir pun tak kalah berperan, kadang mempermainkan kita dengan sangat epicnya. Ingin marah, tapi apakah bisa ?, ingin pergi untuk menghindar, tapi mau kemana?. Sesuatu yang menimbulkan rasa sakit memang cenderung dihindari oleh siapapun, ataukah memang rasa sakit tidak bisa dinikmati.
" Tar, kamu kenapa ? " Tanya Fahmi ketika melihat kegugupan yang dialami Tari.
Tari masih memperhatikan dua sosok yang berjalan dari halaman menuju kearah pintu. Yang semakin lama semakin mendekat, yang membuat kegugupannya semakin bertambah. Fahmi yang melihat hal itu ikut menoleh kearah yang dilihat Tari.
" Assalamualaikum " Ucap kedua orang itu bersamaan.
" Walaikumsalam " Jawab Fahmi.
Dua orang yang cukup dikenal oleh Tari, berjalan berlahan menghampiri mereka. Seorang laki - laki berjabat tangan dengan Fahmi kemudian mengangguk serta mengatupkan tangannya di depan dada kepada Tari. Sedangkan wanita yang bersamanya mengatupkan tangan di depan kepada Fahmi dan mendudukkan tubuhnya di sebelah Tari.
Rasa gugupnya semakin bertambah tatkala dua pandangan laki - laki yang ada di depannya tak lepas darinya. Dengan sekuat tenaga dia menahan butiran kristal bening yang siap jatuh kapan saja.
" Dimana Hawa Tar ? "
" Ehhmb....... Hawa ? Hawa sedang dibawa Pak Rizki dan Wardah keluar Mbak. "
Suasana begitu terasa sangat canggung diantara mereka berempat, karena mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing - masing.
" Bapak juga tenaga pengajar disini ? "
" Bukan Mas, hanya sedang urusan disini mengantarkan anak saya bertemu Bundanya, perkenalkan nama saya Fahmi. "
" Saya Setyo, Pak. " Menyambut uluran tangan Fahmi.
"
Obrolan kedua laki - laki itu mengalir begitu saja, saling melempar pertanyaan juga jawaban. Sentra dua wanita yang duduk di kursi seberang hanya terdiam dengan sesekali memperhatikan dua laki - laki di depan mereka.
Dddrtttttttt............. dddrtttttttt............
Handphone Fahmi bergetar, dengan cepat dia mengeluarkannya dari saku celananya, kemudian menatap layar yang menyala.
" Sebentar saya angkat telefon dulu Tar. " Sambil berdiri melangkahkan kaki ke arah pintu. Yang hanya di jawab anggukan oleh Tari.
Tidak ada pembicaraan, hanya ada dentingan jam entah mengapa saat ini terdengar begitu keras diruangan itu. Padahal biasanya sama sekali tidak terdengar.
" Apakah kalian akan terus diam begini. " Ucap Lenni tiba - tiba.
Tidak ada jawaban dari Tari maupun dari laki - laki dihadapannya
" Apa yang harus saya bicarakan mbak ? " Ucap Tari karena Lenni memandangnya dengan pandangan jengah yang membuat Tari sedikit kurang nyaman.
" Sudah jangan berpura - pura. "
" Len tolong, jaga bicaramu. " Ucap Setyo sedikit keras.
" Saya sedang tidak berpura - pura, dan saya rasa memang tidak ada yang harus saya bicarakan Mbak. "
" Kalian harus bicara, karena perasaanya tidak pernah terselesaikan kepadamu. " Lenni memandang laki - laki di depannya dengan tatapan kekecewaan.
" Maaf Mbak sepertinya sampean benar - benar salah faham. "
Suasana menjadi semakin canggung, tatapan kekecewaan dan serta tuduhan begitu kentara di wajah Lenni. Sementara Tari hanya terdiam menyatukan jari jemarinya, dan meremasnya sungguh dihadapkan dengan keadaan yang sulit baginya. Fahmi kembali masuk dan duduk di tempatnya semula sambil memainkan handphonenya.
" Tar, ayo saya sudah membuat janji dengan dokter kenalan saya disini sebentar lagi jam prakteknya. "
" Mas saya rasa tidak perlu, saya sudah baik - baik saja. "
" Cepat sebentar lagi jam prakteknya, biasanya jalanan akan macet ayo cepat segeralah bersiap. " Ucapan Fahmi terdengar tegas tidak menerima bantahan yang terlihat dari sorot matanya.
Menyadari ucapan Fahmi, Tari segera bergegas bangkit dari duduknya kemudian melangkah menuju kamarnya.
" Mbak Lenni saya jalan dahulu, mari semuanya. Assalamualaikum. " Sambil melangkah keluar sambil melemparkan senyuman seraya mengangguk.
Tari melangkah menuju pintu samping sambil menunduk berusaha menguasai hatinya dari kegugupan. Pandangan laki - laki itu masih sangat lekat di matanya, sorot mata yang masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Selalu tenang dan hangat itu yang selalu dirasakannya setiap kali memandang mata itu.
Dddduukkk ..........
" Astaghfirullah, " Ucap Tari sambil mengusap lengannya yang tertabrak pintu gerbang besi.
" Ayo cepat, masuk. "
__ADS_1
Fahmi membukakan pintu depan samping, kemudian mempersilahkan Tari masuk. Lalu menutup kembali pintu, dan berjalan memutar menuju pintu kemudi. Mobil melaju meninggalkan gang menuju jalan besar, membelah jalanan kota yang lumayan terik pada siang ini. Sesekali Fahmi melemparkan pandangan kearah gadis yang sedang duduk di sebelahnya, sedangkan Tari menatap jalanan didepannya.
Setelah 30 menit perjalanan, mobil berbelok ke sebuah klinik pribadi. Suasana disana ramai di tempat parkir nampak beberapa kendaraan roda dua dan roda empat berjajar rapi. Mereka keluar dari mobil berjalan beriringan menuju ruang depan yang berfungsi sebagai tempat pendaftaran pasien.
Sesampai di tempat pendaftaran Tari bermaksud untuk melakukan pendaftaran, tapi langsung dicegah oleh Fahmi.
" Tidak perlu daftar, saya tadi sudah menelfon untuk mendaftar langsung saja ke rung tunggu. "
"Iya Mas. "
Mereka berjalan melewati ruang pendaftaran, menuju ruang tunggu, disana nampak cukup ramai dengan beberapa orang yang sedang mengantri. Fahmi mengajak Tari untuk duduk di bangku yang terletak di depan, untuk memudah kan apabila sudah gilirannya di panggil.
" Ibu Nyimas Khodijah Bramastari "
Tari segera bangkit dari duduknya, berjalan kearah meja pemeriksaan terlebih dahulu untuk mengukur tekanan darahnya yang dilakukan sebelum bertemu dengan dokter. Setelah dari meja tensi dia dipersilahkan langsung masuk ke ruangan pemeriksaan dokter.
Setelah masuk Tari sedikit kaget, karena mendapati Fahmi yang sudah berbincang dengan dokter. Mereka terlihat akrab karena terdengar suara tawa Fahmi yang cukup renyah.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam, mari Bu silahkan duduk. "
" Perkenalkan saya dokter Fathiya, teman SMA Fahmi. " Sambil mengangsurkan tangannya.
" Saya Tari dok, "
" Apa masih sering merasa nyeri Bu ? "
" Hanya terkadang terasa nyeri, pusing dan sedikit mual dok. Tapi tidak setiap saat. "
" Oh begitu, mari silahkan saya periksa dulu. "
Tari berjalan ke arah brankar kemudian berbaring yang dibantu oleh seorang perawat. Dokter Fathiya segera memeriksa Tari, serta mengajukan beberapa pertanyaan.
" Dari pemerikasaan tadi sepertinya ada trauma. ehmz .......... bukan sesuatu yang terlalu urgent juga. Semua hanya Bu Tari yang bisa mengendalikan rasa sakit itu.
" Bagaimana ngak urgent, sampai di pingsan lo kok dibilang ngak papa. " Gerutu Fahmi.
" Dari dulu kok ngak berubah, tetap saja. "
" Apa ? " Jawab Fahmi cepat.
" Berusaha menghindar dari keadaan yang mengingatkan dengan surau kejadian yang kurang disukai karena membuat kerja otak meningkat dan membuat otak menegang sehingga menimbulkan rasa nyeri yang teramat sakit. Makanya cepat dihalalin biar Bu Tarinya ngak ngerasa digantung. " Ucapnya sembari mengering kerah Fahmi.
" Tolong resepkan obat yang terbaik. "
" Tenang saja, obat ditempatku ini terbaik. "
" Ya sudah cepat, karena kami harus segera bergegas menjemput Hawa. "
" Bu Tari, yang sabar ya sama Es balok ini. Dari dulu dingin penuh misteri seolah tak tersentuh. "
Sedangkan Tari dari tadi hanya tersenyum, mendengar obrolan kedua arang tersebut. Terlihat keakraban diantara mereka berdua karena ternyata mereka teman semasa SMA. Setelah menunggu obat yang diresepkan mereka segera pamit, karena antrian pasien sudah cukup banyak dan lagi mereka juga akan menjemput Hawa yang berada di sebuah Mall.
Mobil melaju kearah jalan raya, langit yang semula cerah kini berubah menghitam dan titik air mulai jatuh. Tidak biasanya jalan disini tapi siang ini jalanan macet.
" Kediri sekarang pun macet. "
" Tidak biasanya mas seperti ini. "
" Iya, Malang pun sekarang selalu macet di jam sibuk. "
" Mas, nanti sesampai di asrama uangnya saya ganti.
" Tolong kamu, telfon Wardah Hawa rewel tidak.
Tari kemudian mengambil handphone yang ada di dalam tasnya, menghubungi nomer gadis kurus yang menjadi teman satu kamarnya.
Tut, ...... Tut, ....... Tut, .........
📞" Assalamualaikum "
📞" Walaikumsalam, Mbak "
📞" Dah, Hawa rewel ngak ? "
__ADS_1
📞" Ngak, Mbak tenang aja malahan dia seneng banet. Sudah jangan pikirkan Hawa yang jelas dia baik - baik saja. "
📞" Ya kami sedang dalam perjalanan Dah, tapi masih terjebak macet. "
📞" Sudah selesaikan masalah Mbak dulu jangan menghawatirkan Hawa. "
📞" Baiklah kalau begitu Assalamualaikum. "
📞 "Walaikumsalam "
Tari memasukkan kembali memasukkan handphonenya ke dalam tas, sebelumya menunjukkan foto yang dikirimkan Wardah kepada Fahmi.
" Mas, apakah nanti Hawa boleh tidur di asrama ? "
" Terserah Hawa Tar, kalau saya tidak pernah melarang Hawa selama itu bersama mu. "
Jalanan masih macet, bahkan kemacetan yang terjadi diperparah dengan hujan yang turun cukup deras. Untuk mengurangi kebosanan Fahmi menyalakan audio yang ada dalam mobilnya.
Andai aku bisa
Memutar kembali
Waktu yang telah berjalan
Tuk kembali bersama
Di dirimu selamanya
Bukan maksud aku
Membawa dirimu
Masuk terlalu jauh
Kedalam kisah cinta
Yang tak mungkin
Terjadi
Dan aku tak punya hati untuk menyakiti dirimu
Dan aku tak punya hati ' tuk mencintai
Dirimu yang selalu mencintai diriku
Walau kau tahu diriku masih bersamanya
Walaupun kau tahu
Kau tahu diriku
Masih bersamanya
Andai Aku Bisa ( Chrisye )
Sedari tadi Fahmi menatap gadis yang duduk di sampingnya, sedangkan yang ditatap hanya membuang pandangannya ke arah luar menatap titik hujan di kaca jendela. Banyak sekali pertanyaan dalam giliran laki - laki itu, tapi dia tidak memiliki cukup keberanian untuk menanyakan langsung pada gadis itu.
" Diakah orangnya ? "
Tari segera menoleh kearah Fahmi, kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh laki - laki itu.
" Diam mu, aku anggap sebagai jawaban iya. " Ucapnya sambil menyandarkan kepalanya ke setir.
" Saya sedang mencoba berdamai dengan hati saya Mas, selama ini saya kira saya sudah melupakan hal itu tapi pertemuan membuat saya mengingat semua yang sudah berlalu. "
" Berarti perasaan mu tetap sama ? "
Tari menggeleng lemah, jari jemarinya kembali bertautan hal yang selalu dia lakukan untuk mengalihkan kegugupan yang dia rasakan. Fahmi menatap sendu gadis yang berada di sampingnya, mengapa begitu sulit baginya untuk hanya sekedar mengerti gadis itu. Sifat Tari yang begitu tertutup sungguh menyulitkan baginya untuk lebih dekat gadis itu.
" Sudah lupakan apa yang saya katakan. "
" Tidak Mas, tolong berikan saya sedikit waktu lagi. "
" Saya akan selalu disini, kamu tau kan jalan untuk menemukan saya. " Sambil tersenyum ke arah Tari.
__ADS_1
Bersambung .............