
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Ketika kita melangkah ke depan, meninggalkan semua beban yang ada dibelakang mengikhlaskan semua yang terjadi langkah kita terasa amat ringan. Tiada hal yang memberatkan kaki kita ketika melangkah, berdamai dengan keadaan dan menerima semua yang ditakdirkan ternyata adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Seburuk - buruknya hal yang digariskan oleh Allah mungkin adalah hal yang terbaik untuk kita.
Ihklas dan bersyukur adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan saling beriringan dan melengkapi. Tidak ada satupun ketetapan yang Beliau tetapkan kepada kita tanpa adanya maksud dan tujuan dibelakangnya. Hanya kita saja bagaimana menyikapi dan mengartikannya, bukankah pelangi datangnya setelah hujan .......
Pagi ini seperti biasa, Tari berangkat lebih awal karena ingin mempersiapkan materi kerajinan yang akan diajarkan pagi ini. Berupa tanah liat untuk membuat kerajinan patung hewan, yang dia dapat dari Pak Lan kemarin sore. Dia menaruh tas punggungnya di kantor terlebih dahulu sebelum akhirnya di turun ke kelas tempatnya mengajar.
" Assalamualaikum " Hal yang selalu dia akatakan apabila masuk ke dalam ruangan meskipun tiada satupun orang disana.
Suasana kelas masih rapi, dia segera menyapu lantai dan merapikan beberapa bangku. Sedangkan bahan kerajinan yang dia bawa dia siapkan diatas meja guru lalu membaginya ke beberapa tempat yang sudah di siapkan. Setelah dirasa cukup, kemudian dia segera bergegas ke halaman untuk menyambut murid - murid yang sudah datang. Berdiri di teras sambil memperhatikan murid - murid yang sedang bermain di halaman.
" Assalamualaikum Bu Tari, "
" Walaikumsalam Jihan, Bu ...... "
" Iya Bu Tari, saya Titi Jihan ya. "
" Enggeh Bu, "
" Mari Bu Tari. "
Satu - persatu murid sekolah kelompok bermain (KB) itu datang diantar orang tua mereka. Beberapa guru pun juga sudah datang dan mereka sebagian besar sedang berada di halaman ataupun di teras. Menunggu murid - muridnya yang kebanyakan beraktifitas di halaman sebelum jam pelajaran di mulai.
" Assalamualaikum Bu Tari, "
Tari menoleh kearah suara yang memanggilnya, nampak gadis kecil manis yang di tuntun wanita paruh baya. Tari menghampirinya disambut uluran tangan dari gadis kecil itu yang menyalami tangannya dan menciumnya.
Beberapa hari terakhir ini, wanita paruh baya itu selalu menemuinya. Kalau tidak di pagi hari beliau akan datang di waktu jam pulang sekolah. Hanya kebetulan saja atau memang disengaja karena beliau datang dengan cucunya yang juga bersekolah disini. Mereka bertegur sapa selayaknya Guru dan orang tua murid tidak ada hal sepesial yang mereka bicarakan.
" Walaikumsalam Jasmine. Ayo masuk dulu, tasnya di taruh di rak Jasmine ya. Jangan lupa pamit sama yangutinya terlebih dahulu. "
" Siap Bu guru. " Jawab gadis kecil itu dengan tangan di kepala seolah - olah sedang hormat.
Wanita paruh baya yang bersama Jasmine, memandangnya sendu seolah ada sesuatu yang ingin beliau sampaikan. Tari mengetahui hal itu, hanya mengulas senyum kearahnya.
" Yanguti Jasmine, mau menunggu nopo langsung wangsul ? "
" Saya langsung pulang Bu, titip Jasmine. " Ucap wanita paruh baya itu sambil berlalu pergi.
" Enggeh Yanguti Jasmine, ngatos - atos wangsule. "
" Mari Bu Tari, Assalamualaikum "
" Enggeh, Walaikumsalam "
Wanita paruh baya itu berjalan meninggalkan Tari, sebenarnya dia ingin menanyakan sesuatu tetapi ada rasa ragu dalam hatinya. Namun ketika akan sampai pada pintu gerbang dia berbalik dan berjalan ke arah Tari yang masih berada di tempatnya tadi.
" Bu Tari. "
" Enggeh Yanguti Jasmine wonten nopo ? "
" Boleh saya bertanya ? "
" Enggeh, Monggo Yanguti Jasmine. "
" Sampean, apa tidak mengingat saya ? "
Wanita paruh baya itu, nampak begitu bersemangat ketika bertanya kepada Tari. Yang hanya dijawab anggukan saja oleh Tari.
" Saya ingat Yanguti Jasmine sejak pertemuan pertama di ndalem Kiyai Baharuddin. "
" Kenapa sampean tidak mengingatkan saya, kalau sampean Khodijah ? "
__ADS_1
Teng ...... teng ...... teng .......
Terdengar suara bel tanda sekolah sudah masuk.
" Ngapunten ngeh Yanguti Jasmine, sekolah sudah masuk. Monggo saya harus segera bersiap. "
Tari segera meninggalkan wanita paruh baya itu, yang masih berdiri terpaku ditempatnya. Sementara Tari sudah bersiap - siap membantu murid - muridnya berbaris bersiap untuk melakukan senam pagi yang selalu mereka lakukan sebelum memulai pelajaran di pagi hari.
Wanita paruh baya itu hanya menatap Tari dari kejauhan, ingatannya kembali ke beberapa tahun lalu. Saat pertama kali dia bertemu dengan gadis itu, saat itu dia masih sangat muda. Badannya kecil, kurus kering, kulitnya hitam, meskipun wajahnya cukup manis tapi tetap saja tidak bisa mengambil hatinya.
Apalagi latar belakang keluarganya yang jelas - jelas tidak mampu dia terima.
Berbanding terbalik sekarang gadis yang sempat dibencinya itu menjelma menjadi wanita cantik dan anggun. Bahkan saat pertama dia melihatnya di ndalem Kiyai Baharuddin dia mengira bahwa dia Ning yang mungkin saja putri dari salah satu Kiyai. Gadis itu berubah menjadi gadis yang anggun waktu benar - benar merubahnya.
Terbesit rasa penyesalan dalam hatinya, saat melihat Tari yang sekarang. Tidak terfikir olehnya gadis yang beberapa tahun lalu ditolaknya sekarang menjadi seperti ini.
Jam belajar telah usai setengah jam yang lalu, Tari masih sibuk merapikan kelasnya. Menata beberapa alat peraga serta buku kembali ke tempatnya. Menjadi guru tingkat bermain memiliki keistimewaan tersendiri baginya, yang menelurkan kesabaran ekstra.
Setelah dirasa cukup bersih kelasnya, dia segera menutup pintu berjalan keatas menuju ruang guru. Di ruang guru suasana sudah sepi, hanya tinggal beberapa orang saja.
" Bu Tari belum pulang ? "
" Ini Bu sedang bersiap. "
" Mari saya dahulu ya Bu. "
" Monggo Bu. "
Dia segera memasukkan beberapa buku yang ke dalam ranselnya. Kemudian berjalan keluar setelah sebelumnya berpamitan kepada beberapa orang yang masih disana. Berjalan menuruni tangga, melewati lorong menuju halaman. Dia sedikit kaget ketika wanita paruh baya itu menghampirinya.
"Assalamualaikum Bu Tari. "
" Walaikumsalam Yanguti Jasmine. "
" Enggeh Yanguti Jasmine. "
" Kita cari tempat agar kita bicaranya lebih nyaman Bu Tari. "
" Monggo Yanguti Jasmine. "
Tari sejenak berfikir alangkah baiknya jika dia mengikuti kemauan wanita itu. Wanita itu berjalan di depan Tari, berjalan keluar melewati gerbang area sekolah. Menyebrang ke arah depan area sekolah, yang banyak berjajar rumah makan dan cafe kekinian. Komplek sekolahan ini terletak di pinggiran kota namun wilayahnya cukup ramai.
Tari hanya mengikuti wanita paruh baya itu dibelakangnya, berjalan masuk ke sebuah warung ayam goreng kekinian yang cukup ramai. Wanita paruh baya itu, menghampiri meja dimana ada seorang wanita dengan gadis kecil yang sedang makan. Bahkan wanita disebelah gadis kecil itu tak henti-hentinya memandang ke arahnya sejak pertama dia masuk.
" Bu Tari " Panggil gadis yang sedang makan sembari disuapi wanita di sebelahnya yang mungkin adalah ibunya.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam "
" Monggu Bu Tari. "
Tari memilih duduk di depan Jasmine, sedangkan wanita paruh baya itu duduk di sebelahnya.
" Mau pesan dulu Bu Tari ? "
" Maaf Yanguti saya sedang perlu. " Tolaknya halus, karena setiap harinya dia lebih sering berpuasa seperti hari ini.
" Kamu masih ingat dengan ku ? " Tanya wanita yang sedang menyuapi gadis kecil di sampingnya.
" Tentu saja, Mbak Denti. " Jawab Tari sambil memandang wanita yang bernama Denti.
" Jasmine sering membicarakan mu, tapi aku tidak menyangka jika Bu Tari yang sedang dibicarakan Jasmine itu kamu. Sudah lama mengajar disini, Karin waktu pengambilan raport kenapa aku tidak melihatmu ? "
__ADS_1
" Bu Tari mang paling the Best. " Ucap gadis kecil itu seraya mengacungkan dua jempolnya.
" Sekitar 8 bulan Mbak, waktu pengambilan raport saya mendampingi kepala sekolah mbak jadi tidak bertugas di kelas. "
" Kamu berubah sekali Khodijah, aku tadi sampai kaget tidak menyangka kalau itu kamu. "
Tari hanya menjawabnya dengan seulas senyum di wajahnya. Sebenarnya dia sedikit kurang nyaman, karena di tengah - tengah orang yang dulu pernah menyakitinya. Bukan berarti dia menyimpan dendam, namun rasanya dia tidak seakrab itu sampai harus makan bersama seperti sekarang. Apalagi dia tidak tahu maksud dan tujuan kedua orang ini mengajaknya makan bersama. Semoga saja tidak ada hal yang menyulitkan untuk dirinya begitu pikir Tari.
" Khodijah ibu minta maaf, " Wanita itu menggenggam tangan Tari yang berada diatas meja dan menatapnya sendu.
" Insyaallah saya sudah memaafkan Njenengan Yanguti. "
" Apa Kamu sudah bertemu dengan Setyo ? "
" Sudah Mbak. "
" Setyo mengundur acara pertunangannya dengan Lenni, sampai 6 bulan yang akan datang. " Wanita paruh baya itu menerawang jauh tampak sekali kekhawatiran dalam ucapannya, menjeda kalimatnya kemudian menghembuskan nafasnya.
" Apa dia memintamu kembali padanya ? " Ucapnya kembali.
Dddrrrtttt ....... ddrrtttttt ....... dddrrrttttt
Handphone Tari berbunyi, dengan segera dia mengambil handphone yang berada di saku depan ranselnya. Dia melihat layar nampak kontak sang sahabat yang sedang menghubunginya, segera dia menggeser ke tombol hijau.
📞 Assalamualaikum
📞 Walaikumsalam
📞 Mbak Tari di mana ?
📞 Aku sedang ada keperluan Dah, ada apa ?
📞 Sebentar lagi kami berangkat ke rumah singgah mbak, mbak Tari ikut atau tidak ?
📞 Aku sedang ada keperluan, sepertinya aku tidak ikut hari ini.
📞 Ya sudah hati - hati mbak, Assalamualaikum.
📞 Iya, Walaikumsalam.
Tari kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku depan tas ranselnya kembali. Sedang orang yang duduk bersamanya menantikan jawaban dari pertanyaan wanita paruh baya itu.
" Maaf ngeh Yanguti, dari teman. "
" Kami yang harus meminta maaf karena menggangu mu, sampai - sampai kamu harus membatalkan acara mu. "
" Dia pernah meminta mu kembali ? " Wanita paruh baya itu mengulang pertanyaan yang sama.
Sejenak Tari menghirup nafas dalam - dalam, lalu menghempaskan secara perlahan.
" Enggeh, tapi saya sudah menolaknya. "
" Sudah ku duga pasti kamu menolaknya. "
" Itu yang terbaik untuk kami berdua mbak, itu keputusan yang tidak akan menyakiti siapapun. "
" Tapi kamu menyakiti putraku. " Jawab wanita paruh baya itu disertai matanya yang berkaca - kaca.
Bersambung .......
Assalamualaikum,
Terimakasih atas apresiasi dari readers sekalian, maaf sekali karena jadwal upnya yang tidak menentu 🙏, Sempat tidak ingin meneruskan kisah Tari karena tiba - tiba feel-nya hilang 😓, tapi Alhamdulillah akhir - akhir ini tiba - tiba dapat feel kembali. Sempatkan like dan komen ya, 🤭
__ADS_1
Semoga kita selalu diberi nikmat kesehatan dan dijauhkan dari wabah yang sedang melanda. 🥰🥰