Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
9. Debaran jantung


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


"Iya saya ayahnya"


"Anda kapten" ucap dokter jaga UGD


"Iya, bagaimana keadaan anak saya"


Nampak dokter itu tidak percaya dengan keadaan yang ada, seolah menuntut Pak Fahmi untuk menjelaskan lebih banyak.


" Dya sudah melewati masa kritisnya, tapi ada satu hal lagi kapten "


"Ada apa ?"


" Putri anda harus segera dioperasi, karena ada pembuluh darah yang pecah di bagian otak besarnya "


" Lakukan yang terbaik " sambil menghela nafas panjang dan terlihat guratan kekecewaan diwajahnya. Nampak sekali kekhawatiran diwajahnya dya berjalan menuju putrinya yang masih tak sadarkan diri.


" Mari ikut saya Kapten, tanda tangani semua berkas operasinya "


Di luar ruangan UGD nampak sekali Tari yang sedih dan Bu Siti begitu terlihat khawatir. Sesekali Tari berdiri dan mengintip keadaan di dalam untuk memastikan kepadanya baik - baik saja.


Tak lama kemudian Pak Fahmi keluar dengan wajah yang menampakan kesedihan. Tatapannya kosong dan sedikit mata yang berkaca - kaca. Dari kesan yang terjadi nampaklah keadaan didalam sedang tidak baik. Dengan cepat Tari menghampiri Pak Fahmi dan menanyakan keadaan Hawa.


" Pak bagaimana keadaan Hawa ?, dya sudah sadarkan " Tari tampak tidak sabar dengan jawaban pak Fahmi.


"Alhamdulillah Bu, Hawa sudah melewati masa kritisnya "


"Alhamdulillah " jawabnya dengan lantang.


"Tapi dya harus dioperasi Bu, karena pembuluh darah dalam otaknya pecah" ucah pak Fahmi sambil tertunduk .....


" astaghfirullah hal adzzim, separah itukah bapak sampai harus dioperasi ? tanya Bu Siti yang kaget karena mendengar Hawa yang harus dioperasi


" Itu tindakan yang terbaik Bu, sebelum semuanya terlambat. Mari kita doakan yang terbaik untuk putri saya "


" Tentu saja pak "


Keadan seketika menjadi hening ketiga orang itu nampak sibuk dengan fikirannya masing - masing. Tari terlihat sangat sedih, dya merasa telah lalai dalam menjalankan kewajibannya seharusnya kejadian ini tidak terjadi apa bila dya tidak teledor dalam menjaga murid - muridnya.


"Bu apakah anda tidak kembali kesekolah ?" Tanya pak Fahmi kepada Bu Siti.


"Tidak pak saya akan tetap disini menunggu sampai operasinya selesai" jawab Tari tanpa bertanya dulu kepada Bu Siti.


" Apa benar tidak apa - apa Bu ?"


" Tidak apa - apa pak Fahmi, sekalipun kami kembali ke sekolah fikiran kami pun tidak akan tenang sebelum memastikan keadaan Hawa baik. Bukan kah begitu Bu Tari ?"


"Iya Bu, kita akan menunggu sampai operasinya selesai "


Tak lama nampak ruangan UGD terbuka dan keluarlah 3 perawat mendorong brankar yang diatasnya ada tubuh kecil itu. Melihat keadaan itu ketiga orang itu berdiri dan mengikuti perawat itu sampai ke depan ruang operasi. Tari dan Bu Siti tampak berpegangan tangan untuk saling menguatkan keduanya melihat keadaan Hawa, membuat mereka terlihat sangat sedih. Sebelum masuk keruangan operasi Tari masih sempat menggenggam tangan Hawa dan mencium kening gadis kecil itu.


" Hawa sayang, Hawa harus kuat, Hawa anak yang pintar cepat sembuh ya sayang" ucapnya sambil mencium kening gadis kecil itu.


Lalu perawat itu mendorong brankar itu kedalam, Karena operasi sudah akan dimulai. Mereka masih senantiasa menunggu didepan ruang operasi, Tari Duduk di sebelah Bu Siti kepalanya menunduk, matanya terpejam tapi mulutnya tak henti - hentinya mengucapkan Kalam ilahi yang mampu menetralkan kegelisahan yang dya rasakan.

__ADS_1


Tanpa disadari pak Fahmi memandang lekat yang Tari lakukan, perhatian yang beliau berikan kepada putrinya, kekhawatiran yang dya tunjukan sungguh membuat pak Fahmi tertarik untuk memperhatikan Tari. Nampak senyum kecil tersungging dari bibir beliau tiap kali menatap Tari. Dan Bu Siti menyadari hal tersebut, tapi tidak dengan Tari karena dya menutup mata dan sedang bergelut dengan hafalannya.


Tak lama berselang terdengar bunyi adzan dhuhur yang memecahkan kesunyian yang ada. Dengan berlahan Tari membuka mata, dan menghentikan hafalannya. Dilihatnya jam dipergelangan tangannya.


" Bu saya permisi ke mushola dulu ngeh ?"


" Iya Bu Tari, saya sedang berhalangan"


" Enggeh Bu, saya permisi dulu Bu. Assalamualaikum "


"Walaikumsalam"


Nampak pak Fahmi memperhatikan Tari yang berjalan menjauh dari mereka, sampai menghilang diujung koridor.


" Pak " ucap Bu Siti sontak saja membuat pak Fahmi kaget dan segera menoleh Bu Siti yang duduk di depannya.


" Iya Bu "


" Saya perhatikan dari tadi bapak menatap Bu Tari dengan tidak biasa "


" Tidak Bu saya hanya ......"


" Maaf pak, memang ini kesalahan kami sebagai guru Hawa karena keteledoran kami kejadian ini bisa terjadi, Tapi di sini Bu Tari tidak sepenuhnya salah pak karena masih ada guru lain dalam kelas Hawa" Bu Siti mencoba menjelaskan kepada pak Fahmi.


" Tidak Bu saya tidak berfikir seperti itu, keadan saya memang seperti ini. ini bukan kejadian yang pertama anak saya serperti ini Bu. Malahan saya sangat berterima kasih kepada guru Hawa yang memberikan perhatian yang begitu besar kepada putri saya"


" Syukurlah kalau bapak memang berfikir seperti itu "


" Tentu saja Bu, Apakah Bu Tari sudah berkeluarga Bu ?"


" Belum pak, beliau masih sendiri "


*********


Sementara itu Tari berjalan dengan tergesa - gesa menuju mushola yang terletak di timur rumah sakit dya tidak mau tertinggal shalat dhuhur berjamaah. Sesampainya di mushola dya segera menuju toilet untuk berwudhu dan masuk mushola. Sudah nampak banyak orang bersiap untuk melakukan sholat.


"Allah hu Akbar "


Deg, suara itu ...


Akhirnya Sholat berjamaah di mushola itu selesai, Tari masih sibuk dengan dzikir yang dya lakukan dya duduk bersimpuh menunduk dengan hikmat tanpa suara dya meminta pengampunan kepada sang Penciptanya tak lupa juga dya meminta kesembuhan untuk Hawa. Sampai keadan mulai sepi hawa tetap tidak beranjak dari duduknya air mata membasahi kedua pipinya.


Terdengar suara bacaan Qur'an dari seberang tirai yang membagi mushola itu menjadi dua bagian. Suara itu terdengar merdu dan indah tanpa disadari suara itu mampu membuat Tari menghentikan aktifitasnya.


Tanpa disadari Tari berusaha mencari asal dari suara itu, sampai dya di depan tirai yang menghalagi langkahnya untuk menghampiri suara itu. Langsung kesadarannya kembali, dan sedikit membuat dya tertegun.


Didapatinya seorang yang duduk bersila dengan khusyuk meskipun hanya bayangan yang terlihat samar karena terhalang tirai.


Kenapa dengan suara ini, kenapa aku bisa setenang ini, kenapa dengan debaran jantung ini, kenapa hanya dengan mendengar suaranya saja bisa setenang ini. Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam hatinya.


Tari hanya terdiam dan duduk termenung mendengarkan lantunan ayat demi ayat yang dilafazkan oleh orang diujung sana. Sudah lama dya tidak merasakan hatinya setenang ini.


Tiba - tiba suara itu terhenti, dan membuat Tari tersadar. dengan segera iya melempar mukena yang dya pakai dan mengembalikannya ke rak tempat menyimpan mukena. Segera dya berlari menuju pintu, dya mencoba mencari si pemilik suara tadi tapi dya mendapati tak ada satupun orang yang berada disana.


Tapi, dikejauhan nampak seorang berjalan menjauhi mushola itu. Terlihat punggungnya yang lebar serta tubuhnya yang tegap, menggunakan sarung berwarna hitam serta kemeja koko.

__ADS_1


Apakah benar dya pemilik suara itu, kenapa mendengarkan suaranya saja membuatku setenang ini, Batin Tari.


Dengan tergesa Tari menuju kantin di rumah sakit itu, letaknya tepat dibelakang gedung utama. Dya berniat untuk membelikan makanan dan teh hangat untuk Bu Siti dan pak Fahmi karena mereka menunggu sudah cukup lama.


Setelah sampai di kantin dya segera memesan dua makanan dan dua teh hangat untuk dibungkus. Dya duduk meja yang letaknya di bagian pojok. Kemudian dya membuka tas dan mengambil handphonenya.


Dya membuka salah satu aplikasi chat, karena ada notifikasi pesan dari mbak Rina.


✉️ Bagaimana keadaan Hawa, apa dya baik - baik saja ?


Dengan segera dya membalas pesan itu.


✉️ Doakan yang terbaik mbak buat Hawa, Dya sekarang dioperasi.


Tak lama berselang seorang pelayan memberikan pesanannya. Kemudian Tari memasukkan handphone ke dalam tasnya. Dya berjalan menuju pintu belakang rumah sakit dan menuju ruang operasi dimana Bu Siti dan pak Fahmi menunggu.


Bbbrrrruuuukkk!!!!!!......


" Maaf saya terburu - buru "


Tari tertabrak, seseorang dari belakang meskipun badannya tidak terjatuh kelantai tapi hal tersebut cukup mengagetkan untuknya, dan membuat tubuhnya akan jatuh. Tapi dengan sigap orang yang menabraknya itu menangkap tubuh mungil itu .....


Deg, kenapa jantungq seperti ini, debaran apa ini. Seketika Tari terdiam mencoba menenangkan debaran jantungnya yang berdetak sangat kencang.


" Mbak sekali lagi saya minta maaf, say terburu - buru "


" Mari dok, kita tidak punya banyak waktu" suara itu berhasil membuyarkan lamunan Tari.


Tari memandang lekat pada dua orang yang meninggalkan dya, sehingga matanya terfokus pada arloji dan gelang tasbih yang dipakai seseorang yang memakai seragam khas operasi itu.


Ingatannya masih dalam sekali tentang jam arloji dan gelang tasbih itu, tapi dya hanya terpaku dan mencoba mengumpulkan ingatannya tentang kejadian yang kemarin dya alami


Ketika dya mulai sadar dan mencari keberadaan dua orang itu, tapi dya tidak melihat keduanya disepanjang koridor itu. Dya berjalan dan sedikit mencari - cari berharap dapat menemukan sosok itu.


Tapi sampai diatas tangga, tak didapati sosok itu, sampai akhirnya langkah kakinya membawa dya ke arah Bu Siti dan pak Fahmi berada.


" assalamualaikum Bu "


" walaikumsalam, lama sekali Bu Tari saya kira sampean tadi kesasar ?"


" mboten Bu, saya mampir kantin dulu. Monggo Bu sampean makan dulu ini sudah waktunya makan siang" sambil memberikan satu bungkus nasi dan teh hangat.


Kemudian Tari berjalan menghampiri pak Fahmi yang tak jauh dari dudu Bu Siti dan memberikan bungkusan nasi dan teh hangat.


" Pak, ini. Bapak makan dulu karena ini sudah waktunya makan siang "


" Tidak Bu saya tidak lapar "


" Jangan menolaknya pak, Pak Fahmi memerlukan banyak tenaga untuk menjaga Hawa "


" Baiklah Bu, apa Bu Tari tidak makan juga "


" Bu Tari sedang berpuasa pak " jawab Bu Siti.


" Kalau begitu saya makan ya Bu "

__ADS_1


" Silahkan pak "


Bersambung........


__ADS_2