
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
" Kadang saja yang berjodoh masih bisa dipisahkan, apalagi yang belum ..... " Kata - katanya terhenti, mata laki - laki itu menatap gadis kecil yang sedang tertidur di pangkuan Tari.
" Apalah daya kita pak, Sang pencipta lebih tahu dan mengerti yang terbaik untuk kita. "
Mobil itu melaju membelah jalanan ramai, di kota apel itu. Meninggalkan kota kecil berhawa dingin yang berkembang menjadi kota besar, yang terlihat dengan banyaknya pembangunan gedung - gedung tinggi. Hening dan tenang begitu terasa di perjalanan sore itu, hanya terdengar suara musik dari audio mobil yang di putar oleh Pak Fahmi untuk menemani perjalanan mereka.
" Bu Tari, kita lewat jalan sebelah mana setelah ini ? "
" Terserah Pak Fahmi saja, "
" Baiklah Bu, kita lewat jalan yang melewati Bendungan saja. Saya rasa Hawa akan senang. "
Tari menggoyangkan tubuh gadis kecil itu dengan perlahan, tapi sama sekali mata gadis itu tidak mau terbuka. Dengan gemas dia mencubit pipi gadis kecil itu disertai beberapa ciuman dia berikan di wajah gadis itu. Setelah beberapa lama mata gadis kecil itu nampak mengerjap, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
" Unda, "
" Bangun sayang, Hawa ngak mau lihat air yang banyak. "
" Au, nda. ,"
" Sini bunda lap dulu ini, " Tangan Tari meraih tisu yang berada di dashboard, dan mengusap air liur di sisi kanan bibir gadis kecil itu.
Pandu menghentikan mobilnya, dia melepas sealtbeltnya dan keluar dari mobilnya. Kemudian dia segera membuka pintu di samping tempat duduk Tari.
" Hawa gendong Ayah dulu ya. " Sambil meraih tubuh gadis kecil itu lalu menggendongnya.
" Yayah, alilna anak ali ya, da itanna ? "
" Banyak sayang, lihat disana banyak sekali orang memancing. "
Bendungan Lahor, bendungan yang terletak di perbatasan antara kabupaten Malang dan kabupaten Blitar. Tempat ini menjadi tempat favorit muda mudi untuk menghabiskan waktu sore mereka. Di sana juga berjajar berbagai macam pedagang makanan. Tapi yang menjadi salah satu khas makanan dari tempat itu adalah, cilok dengan bumbu kacangnya.
" Yayah uyun, Wawa ma unda ja "
Gadis kecil itu turun dari gendong ayahnya, menghampiri Tari yang berada di sebelahnya. Diangkatnya tubuh gadis itu, dan didudukan ya dia atas tembok pembatas.
" Unda, hat da pelahu " Tangannya menunjuk kearah bendungan.
" Oh iya sayang, itu perahunya nelayan penangkap ikan. "
" Tatihan itanna ditantap, anti nakna Iran angis nari bukna itan. Anti itanna tayak Wawa dak una Unda.
" Wawa kan Bunda sayank, " Sambil meraih wajah gadis kecil itu.
Laki - laki yang berdiri di samping mereka itu hanya menatap jauh ke tengah bendungan. Dia menghela nafas panjang, kemudian menoleh kearah putrinya itu. Diusapnya pelan kepala putrinya, sembari tersenyum.
" Yayah apa tenyum - tenyum ? "
" Anak ayah sekarang sudah besar ya, sudah pinter ngomongnya. ,"
" Owh, Wawa tan dah tindi, besal, dak ompol agi, dan tantik. "
" Iya anak ayah memang paling cantik. ,"
" Hawa sayang, cantik wajahnya juga harus cantik hatinya ya. "
" iya Unda, "
" Bu Tari kenapa Anda tidak kembali mengajar disekolah Hawa ? "
" Tidak Pak, karena disana sudah ada guru pengganti untuk saya. "
" Apakah Anda tidak berniat untuk bekerja lagi Bu ? "
" Alhamdulillah pak saya sudah mendapatkan pekerjaan baru, saya berhasil diterima di yayasan Al- Az**r pak. "
" Sungguh Bu Tari itu bagus sekali, yayasan swasta yang cukup terkenal "
__ADS_1
" Alhamdulillah Pak, sebenarnya saya tidak percaya kalau bisa lolos, dan diterima bekerja disana. "
" Bu Tari termasuk guru yang berkompeten jadi jangan merendah seperti itu. "
Waktu semakin sore, mereka beranjak dari tempat itu dan berjalan menuju mobil parkir yang berada di seberang. Mobil pun meninggalkan tempat parkir itu, sedangkan gadis kecil tak henti-hentinya melemparkan berbagai pertanyaan kepada Tari. Sesekali tawa gadis kecil itu terdengar yang diikuti dengan dua orang dewasa lainnya.
Mobil itu di depan sebuah rumah kecil, yang halamannya dipenuhi berbagai macam tanaman. Ketiga penumpang di mobil itu segera turun berjalan ke arah rumah. Sepasang paruh baya sedang duduk di teras samping sembari menikmati teh dan beberapa umbi - umbian rebus.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam " Jawab mereka serentak sambil menoleh ke sumber suara.
Mereka terlihat kaget saat pandangan mereka mendapati dua sosok yang bernama Putri semata wayangnya. Anak gadisnya itu menuntun seorang gadis kecil dan diikuti seorang pria berbadan tegap berseragam loreng dibelakangnya. Sehingga dua pasang paruh baya itu saling memandang seakan saling melempar pertanyaan pada pandangannya.
" Ayo mari masuk. " Ucap Pak Rahmat mempersilahkan tamunya itu untuk masuk ke dalam rumah.
Mereka semua masuk ke dalam ruang tamu, sedangkan Bu Fatma ke dapur untuk menyiapkan minum untuk tamunya itu.
" Perkenalkan yah ini, Pak Fahmi dan ini putri beliau. " Ucap Tari
" Saya Fahmi pak. "
" Adik kecil ini namanya siapa ? " Tanya Pak Rahmat.
" Ama taya Wawa. " sambil bersembunyi di sebelah Tari.
Mereka terus mengobrol membicarakan banyak hal, kemudian Bu Fatma datang dengan beberapa gelas teh hangat dan toples yang berisi roti kacang.
" Mari pak diminum tehnya pak, "
" Sebentar ya Wawa Bunda kebelakang dulu mau jatuh ini di kamar. "
" Wawa itut Unda, "
" Baiklah ayo, pelan - pelan jalannya. "
Tiga wanita beda generasi itu pergi kebelakang, meninggalkan dua lelaki itu diruang tamu. Tari bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan melakukan kewajibannya. Sementara Hawa dia begitu senang ketika ikut Bu Fatma menyiapkan makanan untuk mereka.
" Hawa nanti makan yang banyak ya ? "
" Ya, wawa uka atan ama itan. Tapi Wawa dak bica atan itan cendili tatut ada dulina.
" Panggil nenek uti ya ? nanti biar uti yang suapin Hawa. "
" Uti, anti Wawa idul cini oleh ya ? "
" Kalau itu Itu ngak tahu, nanti minta izin Ayah dulu ya sayang. "
Tak lama Tari sudah keluar dari kamarnya, menghampiri Bu Fatma dan Hawa di dapur yang sedang asik mengobrol. Tari sudah berganti pakaian dengan gamis rumahan dan kerudung berbahan kaos.
" Buk, sampun siap makanannya ? "
" Sudah sampean bawa keluar, nanti ibuk menyusul. "
" Enggeh buk, "
Tari berjalan keruang tamu sembari membawa nasi ditangan kanannya dan sayur rebung di tangan kirinya. Sedangkan kedua laki - laki itu masih asik dengan hal yang mereka obrolkan, sampai mereka sadar dengan kehadiran Tari. Dengan cepat Pak Rahmat membersihkan meja agar Tari bisa meletakkan nasi itu disana. Bu Fatma datang membawakan beberapa lauk lagi di tangan kanan dan kirinya. Sedangkan Hawa berjalan dengan sedikit susah payah dibelakang Bu Fatma. Setelah semuanya siap segera mereka mempersilahkan tamunya itu makan.
" Ayo Hawa sini makan disuapin Bunda, "
" Dak Unda, Wawa matanna ama Uti. "
" Iya sini nduk, tadi Hawa sudah minyak disuapin Ibuk " Sambil mengambil piring ditangan Tari.
" Mari Pak Fahmi, dilanjutkan makannya jangan sungkan kalau disini. " Ucap Pak Rahmat mempersilahkan tamunya itu.
" Iya Pak."
Suasana makan diruang tamu itu diiringi celotehan Hawa, yang sekarang sudah akrab dengan Bu Fatma mereka berdua terlihat akrab meskipun baru saja ketemu. Semua telah menyelesaikan makannya kecuali Tari karena dia yang sedang berpuasa. Segera Tari menyimpan alat makan dan sisa makanan itu ke belakang.
__ADS_1
Tak terasa waktu sudah sore sekitar pukul 17:00, Pak berpamitan untuk kembali ke Malang. Tapi Hawa gadis kecil itu nampak sedih, wajahnya tertunduk senyum yang sedari tadi tersungging diwajahnya hilang begitu saja. Pak Fahmi yang menyadari hal itu, segera meraih tubuh gadis kecil itu ke gendongannya.
" Kenapa Hawa sedih ? "
" Wawa dak mau ulang, Wawa mau disini. "
" Sudah sore sayang, lain kali kita bisa main kesini lagi. Ayah akan antarkan Hawa kesini, Ayah janji."
" Dak mau, Wawa idul cini yah. "
" Kalau Hawa tidur disini terus ayah tidur sama siapa, kan Ayah takut kalau tidak ada Hawa tidur disamping Ayah. "
Kemudian gadis kecil itu memandang lekat wajah ayahnya, wajahnya terlihat murung tapi ada kekhawatiran diwajahnya. Sedangkan Pak Fahmi yang dipandang Hawa sebisa mungkin memasang ekspresi menghiba pada putri kecilnya itu.
" Api Wawa angen Unda yah, "
" Tapi Hawa nanti merepotkan Bu Tari sayang. "
" Pak saya sama sekali tidak keberatan, apabila Pak Fahmi mengizinkan Hawa menginap di sini. " Ucap Tari.
" Tapi Hawa sebelum tidur sedikit merepotkan Bu apakah tidak menjadi masalah ? "
" Sama sekali tidak Pak, kami malah senang karena rumah ini jadi ramai kalau ada anak kecilnya." Ucap Bu Fatma,
" Sudah Pak, kami sangat senang apabila Hawa menginap disini dan kami tidak keberatan. " Pak Rahmat pun ikut menimpali.
" Baiklah kalau begitu saya ambil perlengkapan Hawa di mobil.
Laki - laki bertubuh tegap itu menurunkan putrinya dari gendongannya, berjalan keluar rumah menuju mobilnya. Di ambilnya beberapa baju, susu, dan beberapa mainan Hawa dan memasukannya ke sebuah Tas. Semua perlengkapan Hawa memang selalu tersedia di mobilnya, karena keadaan Hawa yang seperti itu tak jarang dia sering berganti pakaian.
" Bu Tari ini semua perlengkapan Hawa, baju dan susunya juga sudah ada disitu. " Ucap Pak Fahmi sembari memberikan tas itu kepada Tari.
" Iya Pak, Anda tidak perlu khawatir saya akan menjaga Hawa dengan baik. "
" Saya percaya Bu, baiklah saya permisi dahulu dan maaf jika saya sudah merepotkan kalian. "
" Hawa sayang jadi anak yang pintar, jangan merepotkan Bunda Tari ya ? " Ucap Fahmi seraya mencium pucuk kepala putrinya yang sedang digedong Bu Fatma.
" Wawa dandi adi nak baik dan pintal yah "
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam "
Mobil itu melaju meninggalkan rumah itu dengan berlahan, semua orang kembali masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang tamu sembari menunggu adzan Maghrib tiba.
" Nduk Tadi bagaimna hasilnya ? "
" Enggeh pak, sampai - sampai Tari lupa. Sebentar Tari ambil dulu, suratnya di dalam tas Tari. " Gadis itu pergi ke dalam kamarnya dan mengambil coklat yang berada dalam tasnya.
" Uti, Wawa anti ajak akan ayam ya, Wawa cuka yayam api Wawa atut. "
" Ngak papa tidak usah takut sama ayam, disini ayamnya semua sudah jinak. "
" yayamnya dak akal ? "
" Yah ini suratnya, Sampean saja yang membukanya. " Sambil memberikan amplop coklat itu kepada Pak Rahmat.
" Coba sini biar ayah yang membuka dan membacanya.
Ketiga wanita itu asik dengan gurauan mereka, dan tingkah Hawa membuat tawa ketiganya pecah. Sedangkan Pak Fahmi sedang membaca surat itu dengan teliti. Suara helaan nafas panjang dari laki - laki paruh baya itu alisnya sedikit terangkat.
" Nduk apa pun hasilnya di surat ini sampean harus menerimanya " Wajahnya terlihat sedikit khawatir.
" Enggeh pak Insyaallah "
" Sampean ditempatkan di........ "
Bersambung...........
__ADS_1