
Aku, Amira, usiaku sekarang jalan empat belas tahun. Aku adalah korban dari mafia perdagangan anak. Aku terjual saat masih bayi pada Mami Merry--seorang mu*cikari, penyedia khusus perempuan muda di bawah usia dua puluh dua tahun.
Aku terpenjara dalam asuhan Mami Merry. Sama seperti lima gadis kecil lainnya. Diasuh dan dibesarkan untuk dijadikan pemuas nafsu lelaki berduit.
Di bawah pantauan Mami Merry, tidak ada tenaga yang terbuang percuma. Mencuci, memasak, dan segala pekerjaan rumah adalah tugas yang tak boleh dibantah. Kami semua adalah budak. Patuh pada perintah adalah keharusan mutlak.
Keperawanan kami adalah harta berharganya. Puluhan juta, bahkan sampai di atas seratus juta--harga yang Mami Merry tawarkan kepada para pelanggan. Bos-bos penikmat maksiat, berharap khasiat pada sebuah darah keperawanan.
"Itu harga yang pantas, untuk mengembalikan uang yang sudah aku keluarkan dalam merawat kalian." Begitu ucapnya ketus, kepada kami.
Di usia dini, kami sudah diajarkan cara merias dan merawat diri. Cara memuaskan pria, mengenalkan titik-titik birahi pada pria, cara berse*ggama. Inti utamanya adalah memberikan servis yang terbaik kepada para tamu langganannya.
÷÷÷
Siang itu, aku melihat Asmah yang bernasib sama denganku, sedang menangis di pojok kamar mandi. Tubuhnya menyender di tembok dan tangannya memeluk lutut kaki.
"Kamu kenapa, Asmah?" tanyaku khawatir, sambil ikut berjongkok di sampingnya. Tanganku menyentuh bahu Asmah.
"Kamu kenapa?" tanyaku sekali lagi, karena Asmah belum juga menjawab pertanyaanku.
Ragu-ragu Asmah berucap, "A--a--aku dapat haid, Ra."
Asmah langsung memeluk erat dan menangis dalam pelukanku.
"Ya ... Allah ...," ucapku lirih
Haid adalah azab bagi kami--budak-budak Mami Merry. Seperti layaknya menunggu sebuah kematian yang pasti datang, tetapi tidak tahu kapan.
Kedatangan haid adalah pertanda jika kami siap untuk ditawarkan, dilelang dengan harga termahal. Mami Merry hanya tinggal menghubungi pelanggan kelas atasnya, dan mencari siapa penawar tertinggi. Lantas setelah masa haid Asmah berakhir, maka siap untuk dijual dan ditawarkan keperawanannya.
Malam ini, Asmah dan Anita sudah di persiapkan. Diberikan pakaian bagus dan di dandani layaknya wanita dewasa. Tidak lupa, Tante Yusnia, lelaki yang berperilaku seperti perempuan--asisten Mami Merry--mewanti-wanti dan mengingatkan mereka berdua untuk mempraktikkan ilmu maksiat yang sudah diajarkan. Agar dapat memberikan kepuasan kepada pemenang lelangnya.
Hingga menjelang subuh, aku tidak bisa tidur, atau mungkin memang tidak kepingin tidur. Aku menunggu Asmah dan mencari tahu bagaimana keadaannya. Sangat khawatir terhadapnya.
Asmah dan Anita pulang dengan wajah yang lelah, seperti menahan rasa sakit. Langkah mereka tertatih-tatih, sesekali memegang pangkal paha. Air mata berurai di pipinya. Asmah terus menangis memelukku. Dia tidak bercerita apa pun dan hanya menangis saja. Terus menangis.
Menjelang siang, Mami Merry--si raksasa gendut datang dan langsung masuk ke kamar. Mengumpulkan kami berlima di dalam kamar, dipanggilnya Asmah dan Anita.
"Ini uang untuk kalian berdua, lima juta untukmu Anita dan lima juta untukmu Asmah." Sembari menyerahkan uang itu ke tangan Asmah dan Anita, Mami Merry menoleh ke arah Tante Yusnia.
"Ini hape android termahal untuk kalian berdua," katanya lagi sambil menyerahkan gawai android terbaru untuk Anita dan Asmah.
"Dan, kalian berdua--Anita dan Asmah, tidak perlu lagi bekerja untuk membersihkan rumah. Kalian hanya khusus menerima pelanggan."
Licik memang Mami Merry. Kami yang terbiasa tidak pernah memegang duit, diberikan duit sebesar itu dan gawai terbaru. Juga tidak perlu bekerja lagi. Itu cara licik Mami Merry untuk terus menjerat kami semua.
Beberapa bulan kemudian, kulihat Asmah dan Anita perilakunya sudah mulai berubah. Sepertinya mereka sudah mulai menikmati uang yang mudah untuk didapatkan. Mereka bisa membeli apa saja yang mereka mau dan inginkan. Sesekali Asmah memberikan uang jajan kepadaku dan banyak bercerita jika sering diberikan barang-barang mewah dari pelanggannya. Aku hanya diam saja. Dalam hati, aku tidak ingin seperti Asmah.
÷÷÷
__ADS_1
Hari ini terasa lelah sekali. Kerjaan seakan tidak pernah habis buatku. Di saat aku sedang menjemur pakaian, aku terhenyak, ada darah mengalir perlahan dari pangkal paha turun ke arah kakiku. Air mata mengembang, mengalir perlahan.
Apakah ini memang takdirku?
Aku benar-benar dibuat sedih, bingung sekaligus panik, dengan kedatangan haid pertamaku.
Rasa ketakutan, jika keperawananku akan di jual dan harus melayani kepuasan sang pemenang tender atas tubuhku, menimbulkan rasa ketakutan yang teramat sangat.
Apa yang harus kulakukan? Menyerah perlahan pada keadaan, atau menyembunyikan kehaid'anku secara diam-diam.
Aku menoleh ke kiri dan kanan. Memperhatikan sekitar tempatku menjemur pakaian di lantai paling atas tempat penyekapan kami. Sepi, tidak ada siapapun, lalu cepat-cepat kubersihkan darah haid, menyembunyikan pakaian bekas kupakai membersihkan darah, dan mengambil sebuah kaus t-shirt, entah itu milik siapa ... untuk menyembunyikan darah haid.
Untuk keluar membeli pembalut pasti tidak mungkin, melihat ketatnya pengawasan keluar masuk yang di jaga 24 jam, oleh tukang pukul Mami Merry. Bahkan, untuk membeli camilan atau minuman ringan di warung dekat tempat kami diasuh pun, kami diawasi ketat.
Satu-satunya cara adalah, jika di antara " SENIOR" mendapatkan haid, dan lalu menyuruhku untuk membeli pembalut. Itu pun terus dipantau.
Selesaiku menjemur pakaian, aku langsung menemui Asmah. Kuajak Asmah sedikit menjauh untuk mem bicarakan tentang haid ini kepadanya secara diam-diam.
"Aku dapat haid, As," kataku pelan kepada Asmah, sembari mataku mengawasi sekitar.
"Kapan?" setengah berbisik, Asmah menanyakan.
"Tadi, di saat aku sedang menjemur pakaian."
"Trus, buat nutupin haidmu, bagaimana?" Sembari Asmah menoleh kekiri dan kanan. Takut ada yang ikut mendengarkan pembicaraan kami.
"Aku gunakan T-shirt untuk menutupinya," jawabku pada Asmah.
"Entahlah ... aku juga bingung," jawabku pelan.
Air mataku mulai mengembang, mengalir perlahan.
"Aku tidak sanggup melakukannya, As ...." Aku mengusap air mata. Benar-benar dalam keadaan bingung.
"Aku harus bagaimana sekarang?"
"Kamu tunggu sebentar, sepertinya ... aku masih menyimpan beberapa pembalut sisa haidku kemarin."
Asmah segera bergegas menuju kamarnya, tidak lama Asmah kembali dan membawa pembalut sisa miliknya, sedikit disembunyikan oleh Asmah saat membawanya.
"Nanti, jika aku keluar menemani tamu, akan aku belikan pembalut yang baru buatmu," kata Asmah. Aku hanya meng'angguk.
"Terimakasih yah As?" Asmah hanya tersenyum, dan meninggalkan aku.
Bergegas, segeraku ke kamar mandi untuk memakai pembalut.
Tapi, bagaimana caraku menyembunyikan t-shirt bekas yang kupakai menutupi haid, aku lupa membawa kantung plastik.
Kusembunyikan t-shirt bekas tadi menutupi haidku di sudut kamar mandi, tepat di belakang rendaman cucian pakaian. Entah rendaman pakaian siapa, sebentar ini pikirku. Lalu secepatnya segera mencari kantong plastik.
__ADS_1
Kutemukan kantong plastik di sudut-sudut kamar kami semua, junior-junior yang belum di jual Mami Merry, karena kami disatukan di kamar yang sama. Berbeda dengan yang senior.
Saatku menuju kamar mandi, terkejut aku saat menyaksikan Mami Merry sudah berada di situ, diikuti Tante b*nci, bodyguardnya, dan beberapa teman sepenampungan, segeraku berbalik arah kembali.
"Amira! ... Kembali ke sini!" Celaka aku. Mami Merry melihatku, dan berteriak memanggil.
Takut-takut kudekati Mami Merry.
"Apa itu yang kau pegang di tanganmu!" bentaknya keras.
Ragu-ragu, kutunjuki kantong plastik yang tadi kusembunyikan.
Tidak banyak bicara, ditamparnya keras wajahku hingga aku terjatuh. Dijambaknya rambutku kencang, dan kakinya yang besar itu terus saja menendangiku. Sakit rasanya.
Aku hanya bisa menangis.
Terlihat di sudut ruangan, Asmah pun ikut menangis, melihatku disiksa Mami Merry.
"Kurang ajar kamu, anak sialan....! Berani-beraninya kau coba membohongi aku!"
Kakinya sekali lagi menendang tubuhku.
Tidak ... aku tidak minta ampun ataupun meminta Mami Merry untuk berhenti menyiksaku.
Aku hanya diam dan menangis.
"Sekali lagi kau coba membohongiku, akan kubunuh kamu!" teriak keras Mami Merry mengancamku.
Mami Merry meninggalkan aku yang terkulai tidak berdaya di lantai, diikuti oleh yang lainnya.
Asmah segera menghampiri, memelukku erat, menangis terisak-isak dipelukannya, dan menangis kami bersama.
"Yang sabar ya, Ra," ucapnya, sembari terus memelukku.
***
Malam ini, aku didandani layaknya orang dewasa, malam ini, aku dipaksa menjual keperawananku, kepada pemenang tender tertinggi yang aku tidak tahu siapa
"Cantiknya kamu neekk ... Tante b÷nci memujiku, dalam hati aku menangis. Sakit sekali.
Tiba-tiba Mami Merry masuk ke dalam ruangan tempatku didandani, tersenyum dia melihatku.
"Kau, Amira! ... harga jual keperawananmu adalah tertinggi selama aku berbisnis ini. Kamu memang calon primadona baru di sini." Sambil tertawa terbahak Mami Merry.
"Layani pemenang tendermu dengan baik. Praktekkan yang selama ini sudah diajarkan padamu. Buat pelangganmu puas. Akan aku berikan kau uang 10 juta dan hape android terbaru untukmu."
Berlalu keluar ruangan Mami Merry. Sembari terus tertawa keras, bahagia sekali dia nampaknya.
Mungkin memang ini jalan takdirku.
__ADS_1
Menangis hatiku, sesak sekali nafasku ... sakitt rasanya.