Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Kebingungan Tuan Kaiden


__ADS_3

Seketika wajah tuan Kaiden langsung menjadi sangat gugup dan dia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk membuka mulutnya sedikit pun rasanya dia begitu kesulitan tapi untunglah dengan cepat Seno mau membantunya karena dia tahu bahwa kakak tirinya itu tengah kesulitan dalam mencari alasan.


"Ahh Olivia benarbapa yang dikatakan tuan Kaiden, memang akhir-akhir ini ada beberapa permasalahan dalam bisnis bahkan tidak hanya perusahaan tuan Kaiden saja yang mengalami kesulitan, perusahaan milikku juga kau tahu kan kenapa aku sangat sibuk sampai sebelumnya tidak bisa mengantarkan kamu pulang, ya salah satu karena krisis ini, menurutku jika ada waktu yang tepat tuan Kaiden juga pasti akan membawamu segera ke sana, bagaimana pun dia kan suamimu mana mungkin tidak mendengarkan keinginan istrinya sendiri." Ucap Seno menyelamatkan nasib buruk tuan Kaiden dan langsung saja tuan Kaiden menghembuskan nafas dengan lega karena merasa dia telah selamat.


"Fyuhh...untung saja bocah ini dapat diandalkan." Batin tuan Kaiden saat itu.


Olivia pun mengangguk mengerti dan wajahnya yang tadi begitu sinis dan menyelidiki kini sudah berganti menjadi lebih tenang dan asik kembali seperti sediakala seperti tidak ada sesuatu yang terjadi lagi kala itu.


"Ohh begitu, ya sudah aku memahami kesibukanmu, tapi kau jangan lupa juga untuk melaksanakan semua janji yang sudah kamu katakan kepadaku, awas saja jika sampai kau tidak menepatinya apalagi jika sampai kau berani beralasan jika kau lupa dengan janji yang kau ucapkan sendiri, sudah aku pastikan akan aku bantai kau habis-habisan tuan!" Ancam Olivia dengan tatapan sinis yang sangat menusuk dan dia mulai menyipitkan matanya saat itu.


Seketika tuan Kaiden menjadi cukup takut kakinya gemetar dan dia kesulitan menelan salivanya sendiri, sambil terus berusaha memasang wajah yang santai dan tenang walau pun sebenarnya dia merasa sangat tidak nyaman dan takut ketahuan oleh gadis tersebut, bahwa dia telah berbohong sejauh ini dan melibatkan sekretaris Dep bahkan sampai pada adik tirinya Seno, dengan wajahnya yang gugup dan nampak setengah takut dia mulai menjawab ucapan dari Olivia saat itu.

__ADS_1


"AA..AA..ahh iya kau tenang saja aku pasti akan membawamu ke sana saat kau sembuh, makanya sekarang kau cepatlah sembuh, semakin cepat kamu sembuh semakin cepat juga kita pergi ke sana." Ucap tuan Kaiden membuat Olivia merasa sangat senang walaupun saat itu Olivia sendiri tidak tahu apakah tuan Kaiden bersungguh-sungguh dengan apa yang dia ucapkan atau tidak, tapi yang terpenting saat ini, Olivia tahu bahwa tuan Kaiden sudah berjanji di hadapan sekretaris Dep juga ada Seno yang bisa menjadi saksi nyata nantinya sehingga tuan Kaiden harus tetap menepati janjinya tersebut.


"Baiklah kau tenang saja aku akan segera sembuh dengan cepat bahkan saat ini saja aku sudah merasa jauh lebih baik jadi kamu tidak perlu mencemaskan apapun padaku." Balas Olivia dengan wajahnya yang selalu terlihat sangat ceria dalam setiap saat bahkan ketika dia tengah di infus seperti saat ini.


Tuan Kaiden mengangguk dan dia segera saja menyuruh sekretaris Dep untuk membelikan makanan bagi istrinya tersebut, terlebih dokternya sudah mengatakan bahwa gadis kecil itu memang harus banyak mengonsumsi buah dan sayur juga jangan membiarkan perutnya itu kosong, oleh karena itu dengan sigap tuan Kaiden langsung menyuruh sekretaris Dep untuk mengambil makanan di kantin rumah sakit dan bubur untuk makannya sebelum minum obat lagi.


Berbeda dengan Olivia yang sudah berhasil ditemukan oleh tuan Kaiden disisi lain Malara yang pulang bersama Serli dia juga masih terpikirkan tentang sahabat baiknya itu, hatinya turut terluka dan merasa sangat sedih, meski sebelumnya bibir dia berbicara begitu kejam kepada Olivia tetap di balik itu semua Malara masih sangat menyayangi sahabatnya tersebut, dia masih bisa memikirkan tentang kondisi dari sahabat terbaiknya itu.


"Serli bagaimana keadaan Olivia sekarang ya, terkahir kali kita pergi dia masih terlihat berdiri di samping jalan seorang diri apa mungkin dia akan terus berdiri disana setelah aku menyakiti hatinya?" Tanya Malara meminta pendapat dan saran dari sahabatnya Serli.


Serli sejak dulu mendekati Malara memang karena tertarik dengan kebaikan Malara dan uang yang dia miliki, sejak sekolah menengah atas tujuan Serli bertema dan mendekati Olivia memang sudah tidak baik dia terus bersikap menyedihkan dan memperlihatkan kepada semua orang seakan dia begitu menyedihkan dengan menyebarkan rumor-rumor sendiri tentang dirinya hingga orang-orang menghindari dia dan dirinya bisa mendapatkan rasa empati serta rasa kasihan yang lebih cepat dari Olivia.

__ADS_1


Serli melakukan semua itu lewat pada Olivia terlebih dahulu karena memang diantara mereka berdua Olivia lah yang memiliki rasa penuh kasihan dan empati yang tinggi kepada orang lain dibandingkan dengan Marala yang lebih sulit di dekati kecuali jika dengan orang yang dibawa oleh Olivia, kini dia sudah berhasil mendekati sumber uang berjalannya, tentu saja Serli tidak mau kehilangan Malara lagi apapun akan dia lakukan, karena yang terpenting baginya hanyalah uang dan uang semata, dia sama sekali tidak perduli dengan apapun selain uang dalam otak dan hatinya.


Saat Malara Mecoba mencari solusi dan meminta pendapat darinya ketika dia mencemaskan kondisi sahabat baiknya Olivia, Serli justru malah mengompori Malara agar semakin benci kepada Olivia dan mengatakan bahwa Malara tidak perlu berhubungan lagi dengan sahabat pengkhianat seperti Olivia.


"Sudah lah Malara kau ini terlalu berlebihan dalam mencemaskannya, lagi pula kau pikir balik deh, apa si Olivia itu memikirkan bagaimana perasaan kamu saat dia berkhianat dengan ayahmu sendiri? Tidak bukan? Jadi untuk apa kamu memikirkan wanita jahat sepertinya, lagi pula disini masih ada aku, ada ibumu dan ayahmu yang senantiasa mencintai kamu dan akan terus bersama denganmu." Balas Serli kepadanya, membuat Malara nampak menarik nafas panjang dan segera membuangnya perlahan.


Walau saat itu hatinya masih terasa sangat berat dan kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan termasuk memikirkan bagaimana kondisi Olivia yang dia tinggalkan sebelumnya.


"Tapi Serli, aku tetap memikirkan dia, bagaimana pun Olivia orang yang sudah membantu aku saat susah, disaat orangtuaku menelantarkan aku karena mereka sibuk dengan pekerjaannya, Olivia dan kakaknya yang menampung aku di rumah mereka saat itu, jadi aku tidak bisa melupakan semua kebaikan yang sudah mereka berikan padaku." Balas Malara kepadanya saat itu.


Mendengar kalimat tersebut membuat Serli sangat kesal dia jelas merasa iri dan cemburu kepada Olivia karena dia selalu merasa lebih dekat dengan Malara dibandingkan Olivia, dan dia hanya ingin terus dekat dengan Malara dia benci terhadap Olivia terutama saat Olivia selalu mendapatkan apa yang tidak pernah bisa dia miliki selama ini, mulai dari kakak yang baik, guru yang menyayanginya juga sahabat yang selalu ada seperti Malara, oleh karena itu Serli sangat membencinya saat itu, dengan cepat dia merajuk pada Malara dan sedikit membentaknya karena Malara terus saja membicarakan tentang Olivia berkali-kali kepadanya.

__ADS_1


"Malara sudah cukup! Disini ada aku, aku juga sahabatmu bukan, aku sudah menemani kamu disaat si Olivia sialan itu tidak ada, kenapa kamu terus memikirkan sahabat seperti dia, kalau kamu masih memikirkan dia ya sudah aku lebih baik pergi aja!" Bentak Serli mulai bangkit berdiri dan dia hendak pergi dari sana dengan cepat.


Membuat Malara menjadi merasa kebingungan sendiri dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini.


__ADS_2