
Sedang disisi lain Olivia langsung masuk ke dalam kamarnya dengan terburu-buru dan dia terus saja duduk di tepi ranjang sambil memegangi kening bekas di cium oleh tuan Kaiden sebelumnya, dia masih merasa syok dan begitu kaget tidak menentu, terus saja dia merasa sangat panik dan segera menggelengkan kepalanya dengan keras karena tidak ingin terus memikirkan masalah kejadian tersebut lagi.
"Aaarrkkkk... Tidak tidak, lepaskan semua pikiran negatif itu, aku harus melupakannya, kenapa aku terus membayangkan kejadian itu, apa yang salah dengan kepalaku ini." Gerutu Olivia terus berusaha menghilangkan pikiran itu dalam kepalanya.
Tuan Kaiden sendiri segera saja bangkit dan pergi untuk mempersiapkan pengumuman besar yang akan dia lakukan di hadapan banyak orang dan semua rekan kerjanya untuk mengumumkan tentang pernikahan dia dengan Olivia di hadapan publik secara langsung.
Bahkan dia sudah meminta Dep untuk mempersiapkan gedung pengumumannya tersebut sekaligus untuk pesta pernikahannya dimana dia akan mengundang semua rekan kerja dan orang-orang besar yang bekerja sama dengan perusahaannya termasuk untuk memberitahu ayahnya tersebut.
Saat itu juga tuan Kaiden tidak ingin menunggu waktu lama, dia langsung mempersiapkan jamuan makan malam untuk pertemuan dengan ayahnya tuan Kandensus termasuk dengan ibu tirinya nyonya Asila dan adik tirinya Seno, sekaligus untuk memberikan ancaman kepada Seno dan membalikkan semua serangan yang sempat di berikan oleh Seno kepadanya.
"Dep apa semua rencana kita sudah kau persiapkan?" Tanya tuan Kaiden dalam sebuah panggilan telepon saat itu.
"Sudah tuan, saya sudah memberikan undangannya kepada tuan besar dan pada tuan muda Seno." Balas Dep kepadanya kembali.
"Bagus! Sekarang kau harus mempersiapkan jamuannya dan pastikan besok dalam acara pengumuman kau mengundang banyak media." Balas tuan Kaiden dengan senyum menyeringai di wajahnya.
__ADS_1
Senyum lebar terpampang nyata pada wajah tuan Kaiden, dia juga segera pergi untuk menemui Olivia, karena dia tidak mungkin mempertemukan sang ayah dengan Olivia yang memiliki penampilan sangat buruk bagi dirinya.
Yang sudah pasti ayahnya itu memiliki tipe seorang menantu yang harus cantik, dan berpenampilan menarik, sehingga tuan Kaiden berniat untuk mengubah gaya berpakaian dari Olivia dan terus saja menemuinya saat itu juga.
"Tok...tok..tok..." Suara ketukan pintu yang diketuk sangat kuat oleh tuan Kaiden beberapa kali.
Dia sebenarnya merasa sangat gugup dan cukup malu untuk menemui Olivia lagi, namun sayangnya dia harus terus memberanikan diri untuk menemui Olivia, sebab kali ini dia tidak bisa meminta Dep atau bibi Lil untuk pergi mengubah penampilan Olivia sebab Dep sudah dia berikan tugas yang lebih berat, sehingga harus dirinya sendiri yang turun tangan dalam hal seperti ini.
Beberapa saat setelah tuan Kaiden menunggu di depan pintu kamar tersebut, akhirnya Olivia pun membukakan pintu untuknya, namun saat baru saja pintu itu terbuka sedikit, dengan cepat Olivia langsung hendak menutup kembali pintu tersebut karena dia mengetahui bahwa tuan Kaiden yang mengetuk pintunya tersebut.
"Hei..hei...apa kau gila? Kenapa kau menutup pintunya sekaligus, kau mau tanganku terhimpit ya?" Bentak tuan Kaiden yang berhasil menahan pintunya dengan cepat menggunakan kaki dan tangannya.
"Hei... Kenapa kau diam saja, cepat buka lagi pintunya, apa kau pikir tangan dan kakiku tidak sakit terus menahan pintu seperti ini!" Bentak tuan Kaiden lagi yang pada akhirnya di dengar oleh Olivia, dia pun segera saja terbebas dan baru bisa kembali berdiri dengan tegak lagi setelah menghembuskan nafas dengan kesal dan sudah memberikan bentakkan kepada Olivia beberapa kali.
"Aahh... Kau benar-benar, ayo cepat ikut aku." Ucap tuan Kaiden sambil langsung saja menarik tangan Olivia dengan paksa dan terus saja menariknya keluar dari sana.
__ADS_1
Olivia terus membelalak matanya sangat lebar dia berusaha berontak dan ingin melepaskan diri dari genggaman tangan tuan Kaiden saat itu, namun tangannya benar-benar di genggam sangat kuat membuat dia kesulitan untuk melepaskan diri.
"Aaahh....lepaskan, tuan kau mau membawaku kemana, lepaskan aku!" Teriak Olivia berusaha melepaskan diri saat itu.
"Sudah diam! Aku tidak akan berlaku jahat padamu, ayo cepat masuk ke mobil." Balas tuan Kaiden sambil membukakan pintu mobil untuk Olivia.
Bukannya menuruti ucapan dari tuan Kaiden, gadis kecil itu justru malah terus menatap tajam ke arah tuan Kaiden dengan sorot matanya yang terus saja membesar, membuat tuan Kaiden menjadi sangat kesal dan begitu geram sebab gadis tersebut sama sekali tidak merasa takut dengan ucapan yang dia perintahkan sebelumnya.
"Aishh... Apa kau tuli atau dungu sih? Ayo cepat masuk, apa lagi yang kau tunggu!" Bentak tuan Kaiden lagi sambil menatap dengan lebih lebar dan meninggikan suaranya.
Karena Olivia tetap saja tidak mau masuk dan malah terus berdiri di depan pintu mobil, tuan Kaiden yang geram langsung mendorong tubuhnya dengan paksa dan memasukkan Olivia dengan segera ke dalam mobilnya itu, tidak lupa tuan Kaiden langsung saja mengunci pintunya dengan segera, agar Olivia tidak bisa berontak apalagi melarikan diri darinya saat itu.
Selama di perjalanan Olivia terus saja memasang wajah cemberut dan menahan kekesalan yang begitu dalam di hatinya, dia tidak bisa merasa tenang dan terus saja menatap dengan lurus ke depan tanpa ekspresi apapun, selain dari wajah yang kesal dan terlihat begitu menyedihkan, hal tersebut tentu sangat menggangu sekali bagi seorang tuan Kaiden terlebih dia ingin mempertemukan Olivia dengan ayahnya termasuk untuk memamerkan diri kepada Seno bahwa rencana yang telah dibuat Seno sama sekali tidak akan merusak reputasi ataupun kariernya sama sekali.
Tapi melihat kondisi Olivia yang seperti ini membuat tuan Kaiden merasa berkecil hati, dia takut rencana dan kebohongan itu bisa terbongkar jika Olivia terus memasang wajah kusam seperti ini.
__ADS_1
"Hei.. apa kau tidak bisa tersenyum sedikit saja?" Tanya tuan Kaiden yang membuat Olivia langsung menoleh ke arahnya dengan cepat.
"Bagaimana aku bisa tersenyum, kau menikah denganku secara tiba-tiba dan sekarang aku sudah menjadi istri seorang pria yang bahkan tidak aku kenali, ditambah ini adalah pernikahan permainan yang kau atur sendiri, sebenarnya apa aku di matamu tuan? Apa aku hanya seorang wanita murahan yang hanya bisa kau beli dengan uang saja, aku bahkan tidak menerima uang dari mu, aku orang yang paling dirugikan dalam hal ini!" Balas Olivia dengan wajah yang begitu kesal dan kedua alis yang terus dia kerutkan sangat tajam.