Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Memutuskan Persahabatan


__ADS_3

Olivia terus saja terperangah dengan wajah yang menyedihkan, dia masih saja berusaha untuk menghentikan Malara dan ingin menjelaskan semuanya dengan benar karena dia juga tidak mau terus di salah pahami seperti itu.


"Malara tunggu Malara, aku bisa menjelaskannya semuanya kepadamu, kejadian malam itu sama sekali tidak seperti yang kami pikirkan, ayahmu yang mau melecehkan aku, bukan aku yang menggodanya apalagi bersedia menjadi selingkuhannya, aku sama sekali tidak sejahat itu, aku tidak mungkin melakukan hal tercela begitu, apalagi pada ayah sahabat baikku sendiri, kau harus percaya dengan ucapanku Malara." Ucap Olivia terus saja menahan tangan Marala dengan sekuat tenaga dan terus mengatakan semuanya dengan jujur, dia terus meminta agar Malara mempercayai ucapannya.


Tapi Olivia sudah terlanjur membenci Olivia dan dia sudah tidak bisa mempercayai lagi apapun yang dikatakan oleh Olivia saat itu, sekaligus Olivia terus berusaha untuk meyakinkan dirinya, bahwa semua kejadian malam itu hanyalah sebuah kesalahan pahaman diantara mereka semua dan yang bersalah tetaplah om Burhan yang tidak lain adalah ayah kandung dari Malara tersebut.


"Malara aku mohon kepadamu tolong dengarkan aku, tolong percaya kepadaku, aku tidak mungkin berbohong padamu, coba kau ingat-ingat lagi apakah selama aku berteman denganmu pernah sekalipun aku membohongimu, mengkhianati kamu? Atau melakukan hal yang jahat kepadamu? Aku tidak pernah melakukan semua itu, aku perduli aku menganggap kamu seperti keluargaku sendiri, bukankah kamu juga begitu?" Ucap Olivia lagi dengan segala cara untuk membuat Malara bisa mempercayai dirinya lagi.


Malara sendiri nampak terdiam dia terlihat berpikir lama dan terus menatap lekat ke arah wajah Olivia saat itu, Olivia sangat berharap banyak sahabat baiknya bisa mempercayai ucapan dia hingga tidak lama akhirnya Malara angkat bicara juga.


"Jika memang kau tidak melakukan itu, tidak mungkin ayahku sebejat itu hingga berani berbuat tidak senonoh kepadamu, di belakang aku dan ibuku, aku sangat mempercayai ayahku dan juga padamu, tapi malam itu aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri bahkan ibuku menyalahkan mu dan mengatakan kamu yang memang menggoda ayahku, lalu aku harus percaya dengan siapa Olivia?" Balas Malara yang nampak kebingungan sendiri, dia juga tidak tahu orang mana yang harus dia percayai saat ini.

__ADS_1


Dia memiliki tempat yang sulit karena di kedua belah pihak adalah orang-orang yang sangat berarti dan memiliki peran tersendiri dalam hidupnya, kedua orangtuanya adalah orang yang membesarkan dia dan memenuhi semua kebutuhan dia selama ini, sedangkan Olivia juga orang yang berjasa untuknya, selama kedua orangtuanya di luar negeri dan sibuk pada pekerjaan, dia selalu tinggal di rumah Olivia, sekolah di kampungnya dan selalu kemana-mana berdua, hingga kerap kali orang mengira mereka bersaudara sebab tidak pernah bisa terpisahkan hingga masa nya tiba saat lulus SMA Malara harus kembali ke kota sebab kedua orangtuanya sudah pulang saat itu, disanalah hubungan mereka berdua mulai merenggang karena jarak yang tercipta, tetapi walau terhalang jarak mereka masih sering menghubungi lewat ponsel sampai kebakaran itu terjadi dan Olivia tidak dapat menghubungi Malara juga tidak tahu dimana tempat tinggal Marala yang pastinya, tapi disaat dia sudah bertemu dengan sahabat karibnya, justru hal tidak menyenangkan terjadi begitu cepat, mengharuskan dia untuk mendaftar fitnah kejam seperti itu, dia juga tidak tahu lagi harus berbuat apa saat ini, rasanya begitu sulit untuk Olivia menjelaskannya lagi tentang permasalahan yang terjadi di masa lalu, karena Malara juga sudah tidak mempercayai dia lagi.


Ditambah saat Olivia tengah berpikir malah muncul Serli yang merupakan teman Malara dan mengenal Olivia juga saat itu, dia malah mengompori Malara untuk tidak memperhatikan Olivia dan terus saja mengajak Malara untuk pergi dari gadis itu dan menjauhinya termasuk memutuskan hubungan pertemanan diantara mereka berdua.


"Malara, untuk apa kau masih berdiri disini, dan kenapa kau malah bicara dengan manusia yang penuh tipu daya sepetinya?" Ucap Serli membuat Olivia kaget da tidak menduga saat mendengarnya, karena selama ini mereka bertiga memang selalu berteman baik, tidak pernah bertengkar dan selalu saling mengisi kekosongan.


Tapi kali ini tiba-tiba saja Serli yang Olivia pikir teman baiknya juga, malah bicara seperti itu dan seakan terus memojokkan dia menganggap bahwa dia orang yang membuat kesalahan dan semuanya adalah salah dia, padahal Olivia sendiri tahu bahwa Serli sama sekali tidak tahu apapun tentang kebenaran yang terjadi di malam itu, namun dia malah bicara sembarangan seakan dia paling tahu segalanya.


"Cukup Olivia! Kau sudah keterlaluan, beraninya kamu bicara sangat keras seperti itu kepada Serli, apa kau lupa dia juga sahabat kita, dia temanku juga dan aku yang sudah menjelaskan kepadanya tentang kejadian malam itu, dia tahu dariku juga kedua orangtuaku secara langsung, karena Serli tinggal di rumahku saat ini, dia bagian dari keluargaku juga." Ucap Malara membuat Olivia merasa sakit hati dan terus saja diam tertegun tidak tahu harus berbuat apa.


Hatinya terus saja merasa sakit dan bergetar hebat, dia ingin sekali membalas ucapan Malara dan bertanya kepadanya alasan dia menjadi begitu benci dan asing kepada dirinya dan membela Serli sampai seperti itu dibandingkan kepada dirinya, namun rasa sakit yang dia rasakan terlalu besar sehingga sulit membuatnya untuk angkat bicara atau sekedar membuka mulutnya saja.

__ADS_1


"Sudahlah ayo Malara, abaikan saja manusia seperti dia, lagi pula dia benar-benar orang yang sangat menyebalkan dan sejak dulu aku sudah curiga kalau dia hanya mengincar harta dan memanfaatkan kebaikan dirimu saja." Tambah Serli sambil terus menarik tangan Malara dan disaat itu juga Malara memutuskan persahabatan diantara dia dan Olivia, membuat rasa sakit dalam hati gadis kecil itu semakin besar dan menusuk sangat dalam hingga tidak mampu bicara apapun lagi.


"Tunggu dulu Serli ada yang mau aku katakan kepada Olivia, Via maafkan aku tapi mulai sekarang kita bukan sahabat baik lagi, anggap saja kamu tidak pernah mengenalku dan jangan menyapa aku saat kita bertemu dimanapun di masa depan nanti!" Tegas Malara dengan wajahnya yang begitu datar dan dia langsung saja berjalan pergi bersama dengan Serli secepatnya, dia bahkan tidak perduli dengan kondisi sahabatnya itu.


Sedang Olivia sendiri mulai berkaca-kaca, dan terus menunduk di pinggir jalan seorang diri, tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini, rasa sakit yang dia rasakan kali ini jauh lebih menyakitkan dibandingkan rasa sakit ketika dia kehilangan kehormatan dirinya oleh tuan Kaiden malam itu, dan jauh lebih sakit dibandingkan rasa dirinya yang di fitnah oleh om Burhan.


"Malara kenapa kamu tidak mempercayai aku, kenapa Serli ikut campur dalam urusan kita kenapa kamu begitu cepat memutuskan persaudaraan diantara kita berdua? Kenapa Malara?" Teriak Olivia bicara sendiri dengan isak tangis dan air mata yang terus dia usap dengan kedua tangannya setiap kali air mata itu turun membasahi pipinya itu.


Sudah sangat lama Olivia berdiri di tempat itu dia tidak bisa bergerak sama sekali, tidak tahu harus berbuat apa dan hanya bisa berdiri sambil tertunduk lesu sambil menangis terisak dan memegangi dadanya dengan rasa sakit yang teramat sangat sejak kejadian itu.


Waktu terus berlalu, jam terus berganti dan hari sudah semakin senja, awan menjadi mending sedikit demi sedikit rintik hujan mulai turun membasahi tanah itu hingga mulai menjadi deras dan terus saja semakin deras, tapi Olivia sama sekali tidak berlari atau mencoba berteduh dari hujan yang mengguyur tubuhnya terus merusak, dia masih berdiri dengan posisi yang sama dan suara isak tangisnya sudah tidak terdengar lagi namun rasa sakitnya masih begitu besar.

__ADS_1


__ADS_2