
Malamnya Olivia sengaja membuatkan menu makan malam kesukaan tuan Kaiden, walaupun sebenarnya Olivia sendiri tidak tahu pasti apakah masakan yang dia buat akan disukai tuan Kaiden atau tidak.
"Apa benar ayam rendang ini kesukaannya? Ahhh terserah deh yang penting aku kan sudah berusaha membuatkan makanan untuknya, masakanku juga tidak terlalu buruk kan." gerutu Olivia memikirkannya.
Ia pun segera menaikki tangga, pergi mencari tuan Kaiden untuk mengajaknya makan malam bersama, di waktu bersamaan tepat ketika Olivia baru saja hendak mengetuk pintu, ternyata tuan Kaiden lebih dulu membuka pintu kamarnya dan mereka saling tatap pada jarak yang dekat.
"Ada apa?" tanya tuan Kaiden memulai pertanyaan lebih dulu.
"Itu aku sudah menyiapkan makan malam, ayo kita makan bersama,"
"tidak usah, aku sudah ada janji untuk makan diluar dengan Dep, kau makan sendiri saja, atau kau ajak saja si Seno itu dia pasti kelaparan." balas tuan Kaiden sangat kecut.
Dia berjalan cepat melewati Olivia begitu saja sambil memakai jas berwarna hitam miliknya, Olivia merasa tidak senang dengan jawaban yang dia dapat kali ini, sehingga dia tidak bisa diam saja, gadis kecil itu berlari mengejar tuan Kaiden dan berdiri menghadangnya dengan merentangkan kedua tangan selebar yang dia bisa. "Tidak bisa, kau harus makan di rumah malam ini!" tegas Olivia kepadanya.
"Siapa kau berani mengaturku, minggir." balas tuan Kaiden yang tidak mau kalah.
"Tuan ayolah, apa kau masih marah denganku karena tadi sore? Aku kan hanya menyukai hewan peliharaannya bukan pemiliknya, lagi pula aku rasa kak Seno tidak sejahat yang kau bilang." balas Olivia malah membuat tuan Kaiden semakin naik darah.
"Apa? Ohhh jadi sekarang kau sudah memihak pada si Seno sialan itu, oke pergi kau dari rumahku!" bentak tuan Kaiden langsung mengusirnya.
Olivia kaget bukan main, kedua matanya terbelalak sangat lebar, dia tidak menduga jika tuan Kaiden bisa sampai semarah ini dengannya bahkan berani mengusirnya secara terang-terangan. "Tuan apa kau sungguh mengusirku?" tanya Olivia dengan nada yang pelan.
"Iya aku mengusirmu, apa lagi yang kau tunggu, cepat angkat kaki dari rumahku!" balas tuan Kaiden yang masih dipenuhi dengan emosi menggebu dalam dirinya.
Seketika Olivia yang biasanya banyak bicara dan selalu membalas semua ucapan tuan Kaiden, kini dia hanya bisa terdiam dengan lesu, wajahnya mulai terlihat sedih dan segera dia berlari menuju kamar, membereskan beberapa pakaian yang dia punya dan segera pergi dari rumah itu.
Saat Olivia keluar dari sana tuan Kaiden sudah pergi lebih dulu dengan mobilnya, entah dia akan pergi ke mana saat itu.
"Benar-benar manusia tidak punya hati, tega sekali dia mengusirku malam-malam begini, dia juga melupakan janjinya padaku, aku menyesal sudah pernah membantunya." ucap Olivia sambil menarik koper miliknya dan berjalan keluar dari rumah itu.
Dia terus saja menggerutu selama berjalan, hingga saat hendak keluar gerbang, Olivia bertemu dengan Seno yang hendak memasukkan mobilnya. "Eh Olivia kau mau kemana malam-malam begini membawa koper?" tanya Seno kepadanya.
"Tidak tahu, aku diusir oleh suami gilaku sendiri." balas Olivia dengan lesu.
Seno langsung membulatkan matanya dengan kedua alis yang terangkat sempurna, bahkan seseorang seperti Seno saja merasa kaget saat mendengar hal itu, dia segera turun dari mobilnya dan langsung mengambil koper yang ada di tangan Olivia saat itu.
"Eh..eh...eh... Kak kau mau kemanakah koperku?"
"Kau bisa tinggal denganku selama Kaiden mengusirmu, ayo masuk kita pergi dari sini." ucapnya membuat Olivia terperangah.
__ADS_1
"Hah? Maksudnya bagaimana kak? Bukannya kau juga tinggal disini dan menumpang padanya? Jika aku tetap tinggal denganmu di dekat dia itu sama saja bohong." balas Olivia yang masih tidak mengerti maksud dari Seno.
"Sudah masuk saja dulu, nanti aku jelaskan, di luar sini sangat dingin," balas Seno sambil terus mempersilahkan Olivia untuk masuk ke dalam mobilnya.
Dia juga membukakan pintu mobil itu untuk Olivia, Seno benar-benar memperlakukan Olivia dengan sangat baik, sampai akhirnya karena tidak ada pilihan lain, Olivia pun mengikutinya, dia pergi dengan Seno dari rumah tersebut, sampai di perjalanan barulah Seno menjelaskan semuanya kepada dia, bahwa rumah baru miliknya sudah selesai di bangun dan sudah bisa di tempati mulai besok, sehingga Seno akan pindah ke rumah itu dan tidak lagi tinggal berdampingan dengan Kaiden, jadi dia berani membawa Olivia pergi bersamanya, lagi pula sejak awal Seno masih belum pergi dari sana sebab dia masih ingin melihat Olivia lebih dekat.
Dan tujuannya untuk mencari tahu tentang rahasia bisnis Kaiden masih belum berhasil, tetapi setelah dia memikirkan semuanya dan seiring berjalannya waktu, Seno pikir dia sudah tidak perlu menyerang Kaiden lagi sebab tanpa dia serang pun kini perusahaan Kaiden sudah di ambang kehancuran.
Persaingan diantara mereka akan segera selesai dan Seno berpikir bahwa harta warisan paling banyak akan jatuh pada dirinya, sesuai dengan rencana yang sudah di lakukan oleh ibu serta ayahnya untuk membuat Kaiden menyerah dan kembali ke Mension bersama tuan Kandensus. Sedangkan Olivia yang tidak tahu menahu tentang semua itu, dia hanya bisa terombang ambing diantara keduanya.
...****************...
Ke esokan paginya tuan Kaiden yang belum menyadari hilangnya Olivia dari rumah itu dia pergi ke kamarnya dan berteriak sambil mengetuk pintu kamar tersebut sangat keras.
"Hei bocah cepat bangun, kebiasaan kau selalu saja kesiangan, apa kau lupa ini hari Rabu aku harus datang lebih awal!" teriak tuan Kaiden di depan pintu.
Sudah berkali kali mengetuk dan berteriak memanggilnya, tapi tidak ada jawaban apapun dari dalam, akhirnya tuan Kaiden menerobos masuk dan dia tidak menemukan apapun di kamar tersebut, bahkan lemari pakaiannya saja masih terbuka dan kosong, ranjang disana sangat rapih seperti tidak pernah di tiduri tadi malam, membuat tuan Kaiden panik tidak karuan.
"Kemana bocah itu pergi, apa dia sudah dibawah?" gerutu tuan Kaiden masih berusaha berpikir positif.
Segera dia berlari menuruni tangga dengan cepat dan kembali berteriak mencari keberadaan Olivia, tapi dia tak kunjung menemukannya, justru malah bibi Jil yang dia temukan tengah menata sarapan pagi diatas meja. "Bi kapan kau tiba disini?" tanya tuan Kaiden saat itu.
"Apa bibi melihat Olivia?" tanya tuan Kaiden secara langsung.
"Loh memangnya nona Olivia masih tinggal disini tuan? Saya pikir dia sudah pergi karena saat tadi subuh saya tiba, di kamarnya sudah tidak ada pakaian nona muda." balas bibi Jil yang keheranan sendiri.
Mendengar hal itu barulah Kaiden memahami sesuatu tentang apa yang dia katakan saat marah semalam kepada gadis kecilnya tersebut, rasa penyesalan menghantui dirinya dia mengusap kasar rambutnya dan mendengus kesal atas perbuatan yang dia lakukan sendiri. "Aishh dia pasti benar-benar pergi tadi malam, aahh kenapa aku bicara sembarangan sih." Gerutu tuan Kaiden kesal.
Kaiden pergi menghubungi sekretaris Dep dan meminta bantuan kepadanya untuk mencari keberadaan Olivia, sedangkan dirinya masih harus membereskan beberapa permasalahan kecil lainnya di perusahaan yang tidak dapat diwakilkan oleh siapapun, terlebih beberapa Minggu lagi adalah hari dimana keputusan projek terbesar dari perusahaan pusat akan diputuskan oleh tuan Kandensus.
Tuan Kaiden sangat berambisi untuk mendapatkan projek besar yang sangat menguntungkan dan dapat meningkatkan nilai tambah bagi kredibilitas perusahaannya, namun tentu saja akan membutuhkan banyak usaha yang harus dia keluarkan, terlebih mendapatkan kepercayaan dari sang ayah tuan Kandensus agar dapat berpihak kepadanya dan proposal besar yang sudah dia siapkan sejak sangat lama.
Awalnya tuan Kaiden begitu percaya diri bahwa dia akan mendapatkan projek utama itu sebab dia memiliki Olivia dan sudah menepati janji kepada ayahnya bahwa dia telah menikah dan memiliki seorang istri, meskipun tuan Kandensus tidak senang dengan Olivia yang tidak memiliki latar belakang jelas, tetapi yang terpenting baginya dia sudah menepati janjinya kepada sang ayah dan sudah semestinya sang ayah juga menepati janjinya untuk menyerahkan projek itu termasuk perusahaan pusat menjadi kepemilikan atas namanya.
Sebab memang sudah seharusnya semua kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Kandensus ada di tangannya, karena semua itu hasil jerih payah kakek dan nenek nya dahulu, yang telah diwariskan kepada ibunya, sampai ibunya menikah dengan tuan Kandensus dan memiliki seorang putra yang tak lain adalah tuan Kaiden, bahkan sampai saat ini tuan Kaiden masih memegang surat wasiat dari sang ibu yang akan menjadi bukti kuat bila mana suatu saat nanti terjadi sesuatu yang mengharuskan dia membawa semua permasalahan ini ke jalur hukum.
Sekretaris Dep mengerahkan banyak sekali anak buahnya untuk mencari keberadaan Olivia ke seluruh kota, bahkan tidak hanya itu mereka juga menempelkan poster wajah Olivia di dinding bangunan dan di pinggiran jalan, bahkan sampai menuliskan sebuah imbalan yang pantastis untuk siapa saja yang dapat menemukan Olivia dan menyerahkannya kepada dirinya.
Beberapa hari sudah berlalu, Olivia tinggal dengan aman dan nyaman bersama Seno, meski mereka tinggal di satu rumah yang sama tetapi selama itu Olivia selalu menjaga jarak dari Seno, mereka juga tidur di kamar yang berbeda dan setiap siang Seno tidak pernah ada di rumah, saat Seno kembali Olivia pasti sudah tidur di kamarnya sehingga mereka berdua tidak banyak mengobrol satu sama lain, sampai akhirnya malam ini tiba-tiba Olivia pergi keluar sendiri untuk membeli sesuatu di minimarket terdekat, saat itu Seno belum pulang jadi Olivia bisa keluar dengan bebas, sebab biasanya setiap kali Olivia hendak pergi keluar, Seno selalu melarangnya.
__ADS_1
Saat tengah berjalan menuju minimarket tiba-tiba saja Olivia melihat poster dirinya yang terpampang di dinding minimarket tersebut, langsung saja Olivia menghentikan langkahnya dan melihat lebih dekat pada poster tersebut. "Astaga...ini benar-benar wajahku, foto ini aku ambil saat makan di restoran dengan tuan Kaiden beberapa hari yang lalu,"
"Wahh...apa apaan dia ini, akan memberikan imbalan lima puluh juta untuk orang yang berhasil membawaku padanya, apa dia sudah gila?" gerutu Olivia sangat kaget saat membacanya.
Rasa kesal dan emosi bercampur menjadi satu, Olivia langsung mengurungkan niatnya yang hendak pergi ke minimarket dia takut seseorang akan mengenali dirinya dan dia juga merobek poster wajahnya yang dia temukan tadi sampai tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya dan memanggil nama dia dari belakang. "Nona Olivia?" ucap seorang pria dengan pakaian serba hitam dan memiliki postur tubuh yang tinggi berotot.
"Siapa kau, lepaskan tanganku!" Ucap Olivia dengan panik dan takut.
"Ayo ikut dengan saya nona, tuan Kaiden sudah mencari anda selama ini." ucapnya membuat Olivia semakin takut dan tidak ingin ikut dengan orang aneh yang tidak dia kenali tersebut.
Walaupun orang tersebut menyebutkan nama tuan Kaiden tetapi Olivia bukanlah anak kecil lagi, di tidak mau mudah percaya begitu saja pada orang yang baru dia temui dan terlihat menyeramkan seperti itu, dengan cepat Olivia menolaknya dan menginjak kaki orang tersebut sekencang yang dia bisa, lalu menghempaskan tangan pria tersebut yang memegangi tangannya. Olivia berhasil meloloskan diri dengan berlari sekencang yang dia bisa, meski tidak tahu pasti jalan dan arahnya yang Olivia pikirkan saat itu hanyalah berlari melarikan diri dari orang tersebut.
"Nona...tunggu, nona Olivia anda tidak akan bisa kabur kemanapun!" teriak pria tersebut sangat kencang.
"Sial dia masih bisa mengejarku, bagaimana ini?" batin Olivia sambil terus berlari kencang.
Hingga tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di samping Olivia yang ternyata itu adalah Seno dia segera menyuruh Olivia masuk ke dalam dan berhasil membawa Olivia pergi melarikan diri dari kejaran anak buah tuan Kaiden.
"Seno?"
"Ayo cepat masuk!"
Saat sudah kembali di rumah, barulah Olivia bisa merasa tenang, Seno juga memberikannya air minum untuk menenangkan diri terlebih dahulu. "Kenapa kau bisa bertemu dengan mereka?" tanya Seno sangat serius dan wajahnya begitu tegang.
"Aku tidak tahu, tadi aku hendak ke minimarket tapi tiba-tiba saja orang itu menemukanku dan menahan tanganku sangat kuat, masih untung aku bisa melarikan diri darinya." Jelas Olivia kepadanya.
Saat sudah sedikit lega dan tenang barulah Olivia menyadari sesuatu yang aneh dan janggal selama dia tinggal dengan Seno belakangan ini. "Ehh tunggu, kak Seno apa alasan kau selalu melarang aku keluar rumah karena hal ini? Kau tahu kan jika tuan Kaiden selama ini mencariku?." tanya Olivia menatap serius kepada Seno.
Seno menjadi gugup dan sedikit panik, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada Olivia sebab semua yang dikatakan oleh Olivia barusan memanglah benar, dia tidak ingin Olivia mengetahui bahwa tuan Kaiden masih memperdulikan dirinya dan mencari keberadaan Olivia dengan segala cara, Seno tidak ingin Olivia kembali lagi pada Kaiden.
Melihat Seno yang lama menjawab pertanyaan darinya, Olivia dapat menyimpulkan semuanya sendiri.
"Jika kau tidak menjawabnya, aku akan pikir semua yang aku katakan adalah benar."
"Bukan begitu Olivia, aku hanya tidak ingin Kaiden menyakiti kamu lagi, dia kan sudah mengusirmu untuk apa lagi dia mencarimu, kau juga sudah tinggal disini dengan nyaman untuk apa kau masih memikirkan dia." balas Seno sedikit terbawa emosi.
"Tapi aku masih istirahat nya kak, kau juga adiknya bukankah seharusnya kau membiarkan aku kembali pada suamiku, atau kau bisa memberitahu aku kalau tuan Kaiden ternyata masih memperdulikan aku, dia mencariku sampai mau memberikan imbalan yang begitu besar, kenapa selama ini kau menyembunyikannya dariku?"
"Bahkan saat aku bertanya kepadamu kenapa tuan Kaiden tidak mencariku, kau selalu bilang jika dia memang begitu, atau mengatakan bahwa dia sudah tidak perduli denganku, kenapa kau membohongiku?" tambah Olivia menanyakan semuanya.
__ADS_1
Seno semakin terdesak dan gugup, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa semua itu bagian dari rencanannya untuk membuat fokus pada Kaiden terpecah dan agar dia bisa memenangkan kepercayaan ayah tirinya termasuk membantu ibunya untuk merebut harta kekayaan tuan Kandensus.