Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Di Kantor


__ADS_3

Meski dia sudah mengangguk menuruti ucapan dari tuan Kaiden dan tidak lagi bicara ataupun bertanya kepadanya, tetapi kali ini Olivia justru malah terus saja menatap ke luar sambil menurunkan kaca jendela mobilnya dan terus saja dengan sengaja mendekatkan wajahnya ke arah jendela, membiarkan angin menerpa wajahnya dan dia terus saja bermain-main seperti anak kecil yang tengah kegirangan.


Hal tersebut juga cukup mengganggu pikiran tuan Kaiden tetapi dia sudah menyerah untuk menyuruh Olivia agar diam, karena dia sadar apapun yang dia lakukan tetap saja tidak akan di dengar oleh Olivia sama sekali, dan gadis itu terus saja banyak bicara ataupun mempermainkan semua benda yang terjangkau oleh tangannya tanpa henti, sehingga kini tuan Kaiden hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan lesu saja tanpa melakukan apapun lagi. Terlihat jelas jika saat ini tuan Kaiden sudah begitu pasrah.


Sampai beberapa saat kemudian setelah mereka tiba di kantor tuan Kaiden, untuk pertama kalinya Olivia menyapa Dep lebih dulu dengan wajahnya yang ceria dan terus melambaikan tangan ke arahnya saat itu.


"Selamat datang tuan." Ucap Dep menyambut kedatangan tuan Kaiden sedangkan tuan Kaiden sendiri hanya membalasnya dengan anggukan kepala da kedipan mata saja.


Berbeda sekali dengan apa yang dilakukan oleh Olivia saat itu, dia justru malah memberikan senyuman yang sangat lebar pada semua karyawan pria dan wanita yang berjajar di sekitar sana membentuk barisan menyambut kedatangan tuan Kaiden.


"Eheh...hai Dep, kau terlihat keren pagi ini, jasmu itu cocok di tubuhmu." Ucap gadis itu sambil memuji Dep dan menunjuk ke arahnya.


Membuat sekretaris Dep terus saja mengerutkan kedua aslinya dengan merasa heran karena biasanya gadis tersebut sangat sulit untuk di kendalikan dan selalu saja memasang wajah menyebalkan, bahkan tidak pernah mendengarkan ucapan darinya.


Tapi kali ini tiba-tiba saja Olivia menyapanya sekaligus memberikan pujian yang begitu langka olehnya, sehingga tentu saja hal tersebut membuat dia merasa sangat aneh sekali.


Sekretaris Dep hanya menatap dengan kedua matanya yang terbuka sangat lebar dan alis yang dia naikkan begitu tinggi, saking herannya dia terus saja menatap dengan kebingungan dan segera menunduk menjauhi pandangan dari Olivia telat ketika tuan Kaiden menatap ke arahnya kala itu.


"Te..te.. terimakasih nona." Balas Dep yang gugup karena dia tahu bahwa tatapan tuan Kaiden kepada dirinya barusan adalah sebuah ancaman yang menakutkan bagi dirinya.


Memang benar saja baru juga Dep mengucapkan terimakasih kepada Olivia, kini tuan Kaiden langsung menyuruh Dep untuk mengganti pakaian yang dia kenakan karena dia sudah mendengar apa yang Olivia katakan kepada Dep sebelumnya.


"Dep, ganti jasmu itu, aku sangat tidak suka dengan warnanya, jelek sekali." Ucap tuan Kaiden terus saja menyuruh Dep untuk mengganti jasnya begitu saja tanpa alasan yang jelas, membuat Dep terus merasa kebingungan sendiri dan dia hanya bisa menatap dengan kedua mata yang terbuka lebar.

__ADS_1


"Hah? Bagaimana tuan?" Tanyanya dengan wajah keheranan sendiri. Karena ini adalah pertama kalinya tuan Kaiden mementingkan penampilan yang dia kenakan, biasanya tuan Kaiden sama sekali tidak pernah memperdulikan penampilan siapapun ataupun asal usulnya, asalkan pekerjaannya selesai, tetapi kali ini dia justru mendapat ucapan seperti itu dari tuan Kaiden.


"Sudah sana ganti, apalagi yang kau tunggu." Ucap tuan Kaiden lagi dengan raut wajahnya yang semakin emosi.


Sebelumnya Dep hendak pergi Olivia justru malah terus saja menahan Dep sambil menyuruhnya agar tidak pergi dahulu saat itu.


"Ehh tunggu Dep, tuan aku rasa jasnya Dep ini sudah bagus dan cocok untuknya, jadi dia tidak perlu menggantinya lagi, selain itu jika dia pergi untuk menggantinya dulu pasti akan menguras waktu sia-sia, biarkan saja dia mengenakan jas itu, lagian itu tidak akan menggangu pekerjaannya kok, iya kan Dep." Ucap gadis itu membela Dep begitu saja.


Terus saja tuan Kaiden merasa sangat tidak senang, wajahnya sudah ditekuk sangat kuat dan wajahnya merah padam, dia terus menarik gadis kecil itu untuk menjauh dari Dep dan berdiri di sampingnya saja.


"Ishh kemari kau, jangan terlalu dekat-dekat dengannya kau ini tidak bisa diam sekali sih, dan satu lagi kau tetap harus mengganti jasmu Dep, aku berikan kau waktu sepuluh menit dari sekarang." Ujar tuan Kaiden yang membuat Dep kelimpungan sendiri, dia terus saja berpamitan pergi dari sana sambil berlarian dengan kencang untuk mencari jas lain yang bisa dia ke kenakan, sedangkan tuan Kaiden sendiri malah terlihat duduk santai di ruangannya, tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Sehingga hal itu membuat Olivia merasa kesal dengannya, Olivia terus saja mendengus kesal dan tidak senang dengan tindakan yang sudah dilakukan oleh tuan Kaiden terhadap Dep sebelumnya, karena dia pikir tindakan tersebut bukanlah tindakan yang tepat, membuat Dep kesulitan hanya karena sebuah jas yang dia kenakan tidak sesuai dengan kriteria di matanya.


"Brak!" Suaranya sangat kencang dan matanya terbuka lebar dengan urat yang terlihat sangat jelas tercetak di wajahnya.


Membuat tuan Kaiden menghembuskan nafas dengan pelan dan segera saja menatap ke arah Olivia dengan wajahnya yang datar itu. "Ada apa sih, sudah berani ya sekarang kau menepuk mejaku?" Ucap tuan Kaiden dengannya sangat santai.


"Tuan sedari tadi aku bicara denganmu kenapa kau terlihat tidak mendengarkan aku, apa kau sengaja mengabaikan ucapanku, iya?" Bentak Olivia terus saja sangat kesal sendiri.


"Tidak aku mendengar semua ucapanmu dan aku tahu apanyang kau katakan sedari tadi, jadi kau bicara saja jika ada yang kau inginkan aku akan terus melanjutkan pekerjaanku agar bisa segera pergi memeriksa proyekku." Balas tuan Kaiden dengan wajah yang terus menghadap ke arah komputer di atas mejanya saat itu.


Walaupun tuan Kaiden memang nyambung ketika diajak bicara oleh Olivia tetapi dia terus saja merasa sangat kesal, sebab dia tahu dengan jelas bahwa saat itu sebenarnya tuan Kaiden tidak benar-benar mendengarkan ucapan darinya.

__ADS_1


"Kalau kau mendengarkan ucapanku lalu kenapa kau sedari tadi hanya menatap ke arah komputer mu tanpa menoleh ke arahku sedikit pun?" Balas Olivia membuat tuan Kaiden membalasnya lagi.


"Hei, aku mendengar ucapanmu dengan telinga bukan mata, dasar kurcaci kecil yang bodoh. Sudah sana duduk di sofa dan jangan mengganggu aku lagi, lakukan saja apa yang mau kau lakukan disini tapi jangan keluar keluyuran sembarangan." Ujarnya kepada Olivia, yang terus saja dituruti olehnya.


Gadis 19 tahun itu duduk di sofa sendiri sambil membaca beberapa majalah yang ada di atas meja, dia mulai melihat beberapa model yang sangat cantik di dalam cover majalah tersebut dan mulai membayangkan jika dirinya menjadi salah satu model cover majalah seperti itu, dia rasa dirinya akan cantik juga jika dia sudah dewasa nantinya, terus saja Olivia tersenyum dan membaca beberapa majalah disana untuk mengisi kekosongan dalam waktunya, sampai lama kelamaan Olivia merasa bosan juga dan dia pun berjalan-jalan di samping kaca jendela ruangan tuan Kaiden yang bisa menatap pemandangan kota yang mulai lengang di jam-jam kerja seperti ini, karena tidak ada banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalanan.


Namun justru pemandangan seperti ini yang menambah kecantikan kota, walaupun dia terlihat sangat menikmati pemandangan kota saat itu dan terus menatap kesana kemari, Olivia mulai teringat dengan kakak laki-lakinya, yang harus meninggalkan dia dalam tragedi kebakaran rumah akibat kecerobohan dirinya sendiri.


"Kakak kamu pasti sudah ada di langit kan sekarang? Kak aku mau kau tahu aku baik-baik saja sekarang dan aku sudah menikah, aku bahagia suamiku kaya raya semoga kakak juga bahagia ya disana, jangan mencemaskan aku kak." Batin Olivia saat itu sambil menaruh tangannya pada kaca tersebut dengan perlahan.


Hingga dia kembali menjadi lesu tatkala mengingat kejadian yang sangat memilukan tersebut, dia tidak tahu apa yang terjadi dengan rumah dia dahulu setelah kejadian kebakaran tersebut terjadi dan dia meninggalkan tempat tersebut dalam waktu yang sangat lama sekali, sedangkan disisi lain dia juga masih terjebak dengan tuan Kaiden, tidak bisa pergi kemanapun sekarang ini, apalagi untuk pergi ke kampung halamannya dahulu, dan berziarah menemui kakaknya disana.


Olivia yang sedih dia malah memilih untuk tidur di sofa tersebut dan terus saja menutup matanya agar dia bisa melupakan rasa sakit yang ada dalam hatinya saat ini, karena dia tidak mau tersiksa dengan rasa sakit da rasa rindu pada orang yang tidak akan pernah bisa dia temui lagi di dunia ini.


Tuan Kaiden sedari tadi hanya memperhatikan Olivia dengan sudut matanya beberapa kali dan terus saja membiarkan gadis kecil tersebut sekaligus Olivia tidur di sofanya dengan posisi yang sangat bahaya saat itu.


Tapi tuan Kaiden rupanya tidak terlalu perduli karena dia pikir Olivia hanya tiduran biasa saja bukan benar-benar tertidur lelap hingga tidak sadarkan diri.


Sampai beberapa jam sudah berlalu dan ini sudah waktunya tuan Kaiden untuk pergi ke pantai dan mengontrol proyek pembangunan dan pembuat tempat disana untuk mall khusus oleh-oleh dan benda canggih nantinya.


Dep juga masuk ke dalam ruangan tuan Kaiden dan membantu mempersiapkan beberapa barang bawaan termasuk mengambil baju ganti Olivia saat itu.


Karena sebelumnya tuan Kaiden tahu bahwa Olivia sama sekali tidak membawa baju ganti sedangkan saat di dalam mobil dia mendengar dengan jelas bahwa gadis kurcaci itu ingin berenang disana. Mereka berdua mempersiapkan semuanya sendiri sampai sudah hampir mau berangkat pun Olivia masih saja tidur dengan sangat lelap, sehingga tuan Kaiden yang berniat untuk membangunkannya menjadi merasa sangat ragu untuk melakukan hal itu.

__ADS_1


Hatinya merasa tidak enak jika membangunkan Olivia yang tidur dengan begitu lelap seperti itu.


__ADS_2