Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Nyonya Asila dan Seno


__ADS_3

Olivia mulai berjalan pelan ke arahnya dan terus menghentak-hentakkan kaki dengan kesal sebab dia sudah begitu pasrah dan menyerah dengan kemeja kebesaran tersebut, menjulurkan tangannya ke depan tuan Kaiden agar dia bisa membantunya menggulungkan bagian lengan tersebut.


"Ini gulung dengan baik dan jangan sampai terbuka lagi, aku tidak bisa membenarkan rambutku dan melakukan apapun jika kemeja ini menghalangi tanganku." Ucap Olivia sambil terus saja menggerutu tiada henti.


Tuan Kaiden hanya mengangguk saja sambil mulai melipatkan lengan kemeja tersebut hingga selesai dan terlihat sangat rapih, membuat Olivia sedikit kagum dengan hasilnya tersebut. "Wahh...kau melipatnya dengan sangat rapih, terimakasih tuan." Balas Olivia tersenyum senang dan dia segera beranjak naik ke atas ranjang lalu bersiap untuk tidur.


Tuan Kaiden hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan saat melihat Olivia yang ternyata bisa tidur dengan cepat dan begitu lelap di sampingnya setelah serangkaian kejadian yang membuat mereka canggung telah terjadi.


Bahkan Olivia yang sebelumnya nampak gugup kini benar-benar sudah tidak ada, layaknya tidak ada apapun yang pernah terjadi gadis 19 tahun itu benar-benar tidur lelap di samping tuan Kaiden yang masih duduk sambil mengotak ngatik ponselnya.


"Eh, dia benar-benar sudah tidur? Cepat sekali anak ini tidur, tadi saja sangat gugup sampai tidak bisa tidur sekarang malah meninggalkan aku lebih dulu, dasar bocah!" Gerutu tuan Kaiden yang juga merasa heran dengan kelakuannya.

__ADS_1


Dia melihat tubuh Olivia yang terbuka karena selimutnya menyingkap ke pinggir, lalu dengan hati-hati tuan Kaiden menarik selimut itu dan membenarkannya lagi, dia juga segera mengubah posisinya dan bersiap untuk tidur, karena dia pikir Olivia sudah tidur dengan sangat lelap dia pun mulai memeluknya dan mengecup kening gadis tersebut.


Mereka tidur sangat lelap dan tuan Kaiden memperlakukan Olivia dengan begitu lembut tanpa gadis itu ketahui.


Disisi lain Seno mulai mengalami kesulitan sebab ibunya yang kalah dalam taruhan besar bersama ibu-ibu sosialitanya tersebut, mereka sering berjudi di belakang tuan Kandensus dan hanya Seno yang mengetahui sisi gelap ibunya tersebut.


Meski dia sudah melarang keras ibunya untuk melakukan hal tercela tersebut tetapi nyonya Asila tidak pernah mau mendengarkan ucapan anaknya sendiri, kini dia bertaruh uang senilai 50 juta dalam judinya tersebut, dan dia malah mendapatkan kekalahan, sementara uangnya sudah habis dan dia meminta kepada Seno untuk mengirimkannya uang lebih banyak lagi dari yang biasa dia dapatkan selama ini.


Mendengar itu tentu saja Seno marah besar dia tidak mau memberikan ibunya uang lagi karena saat ini kondisi keuangan dia juga tengah tidak stabil, terlebih dia mulai mengetahui bahwa ada sesuatu yang ganjil dari pembangunan proyek villa indah terbarunya di puncak pegunungan tersebut, sehingga Seno juga harus mengirit pengeluarannya sebelum tuan Kandensus sang ayah tirinya akan memberikan dana tambahan bagi perusahaan dia dan merebut perusahaan pusat dari tangan kakak tirinya tuan Kaiden. "Seno apa kau sudah lupa siapa yang sudah menjadikan aku seperti ini, hah? Aku...ibumu, akulah yang sudah banting tulang membesar dirimu seorang diri, dan berhasil merebut tuan Kandensus dari mendiang sahabatku sendiri, semua itu aku lakukan demi dirimu, tapi apa yang kau berikan kepadaku sekarang, kau malah membatasi ibumu sendiri untuk menghabiskan uangmu, apa-apaan kau ini." Bentak nyonya Aslia dengan wajah jahatnya dan dia terus protes keras terhadap Seno.


Dia sudah memutuskan semuanya dengan sangat bulat, sehingga tidak ada siapapun yang dapat menghentikan dirinya, begitu pun dengan ibunya sendiri.

__ADS_1


Nyonya Asila dibuat sangat kesal mendengar ucapan dari putranya tersebut, dia tidak bisa memoroti uang dari tuan Kandensus lagi karena semua pengeluaran dia di pantau olehnya dan kini dia bahkan tidak dapat jaminan uang lagi dari putranya, sehingga nyonya Aslia kembali merubah sikapnya dan mulai bersikap manis kepada Seno agar dia setidaknya bisa mempertahankan jatah uang dia yang sebelumnya.


"Sialan dasar anak tidak tahu diri, aahh mau tidak mau aku harus menurutinya dahulu saat ini." Batin nyonya Aslia saat itu.


Dia langsung meminta maaf dan mendekati putranya lagi, berjanji kepada Seno untuk tidak mengulangi kelakuannya dalam perjudian terlarang itu.


"Seno maafkan ibu ya, ibu tahu ibu salah, tapi tolong jangan hentikan jatah uang bulanan ibu ya, hanya kamu yang bisa mengerti kebutuhan ibu yang begitu banyak ini, ibu janji mulai sekarang tidak akan menghamburkan uangmu lagi, ibu tidak akan bermain judi dan taruhan apapun lagi, kamu percaya kan dengan ibu." Ucap nyonya Aslia mulai membujuk Seno lagi dengan segala cara dan memasang wajah yang meyedihkan di depan putranya sendiri, sehingga mempu membuat Seno luluh kembali dengan ucapan manis yang keluar dari mulut nyonya Asila tersebut.


"Huuh... baiklah, kali ini aku berikan kesempatan untuk ibu, tapi jika sekali lagi saja aku mengetahui ibu melanggar janji ibu sendiri, lebih baik jangan anggap aku putra ibu lagi." Ucap Seno dengan tegas dan dia segera pergi dari sana.


Namun sebelum itu nyonya Aslia masih sempat saja menahan tangan putranya tersebut dan masih berani untuk meminta uang lagi dengan Seno, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari putranya, sehingga terpaksa nyonya Aslia tidak jadi memintanya dan dia harus memakai uang dari tuan Kandensus untuk membayar taruhan yang sudah terlanjur dia lakukan tersebut.

__ADS_1


"Ehh tunggu sayang, ibu kan sudah berjanji denganmu bisakah kamu memberikan ibu uang lima puluh juta itu, temen-temen ibu akan menagihnya terus menerus." Ucap nyonya Aslia yang membuat Seno semakin geram dan menjadi tidak yakin apakah ibunya akan benar-benar berubah atau tidak.


"Aahh ya sudah tidak masalah ibu tidak akan merepotkan kamu lagi dan menuntut apapun, maafkan ibu ya sayang, ibu janji tidak akan taruhan lagi." Ujar nyonya Aslia yang terlanjur takut mendapatkan tatapan tajam dari Seno saat itu.


__ADS_2