
Tetapi sayangnya tuan Kandensus sendiri sudah mengetahui bahwa hal seperti ini sudah pasti akan terjadi jadi dia sudah menentukan rencananya sendiri agar tetap bisa memaksa putra sulungnya tersebut mengijinkan adik tirinya tinggal di mension tersebut.
"Ohh, jadi kau mau tetap bersikap keras seperti ini? Baik kalau kau tetap tidak mau mengijinkan adikmu tinggal di mension ini maka aku akan mengambil hak waris untuk dirimu, jangan harap kamu akan mendapatkan hak waris sedikit pun dariku, kau ambil seluruh harta mendiang ibumu, dan kau jangan anggap aku sebagai ayahmu lagi." Ucap tuan Kandensus memberikan ancaman yang sangat menyulitkan bagi tuan Kaiden.
Bukan karena tuan Kaiden masih ingin dianggap sebagai anak oleh ayahnya, tetapi karena dahulu saat mendiang ibunya meninggal dunia, dia mendapatkan pesan dan amanah yang tidak bisa dia pungkiri dari ibunya, bahkan tuan Kaiden harus tetap hidup bersama dengan tuan Kandensus sebagai ayahnya, apapun yang terjadi dan mereka tidak boleh sampai menjadi orang asing, hal itu yang membuat tuan Kaiden begitu sulit untuk mengambil keputusan saat ini, dia sangat mencintai mendiang ibunya dan sudah mengikat janji kepada ibunya tersebut bahwa ia akan tetap bersama dengan sang ayah apapun yang terjadi, sehingga karena hal itu tuan Kaiden terpaksa menyetujui permintaan dari ayahnya itu, meski dia sangat benci dan kesal terhadap Seno juga ibu tirinya tersebut.
"CK...kau bermain kotor denganku, jika bukan karena janjiku pada ibu, aku tidak akan membiarkan kau tetap jadi ayahku sejak dulu." Balas tuan Kaiden dengan sorot mata yang sangat tajam dan penuh kebencian.
Sedangkan nyonya Aslia nampak begitu senang karena akhirnya kesempatan dia untuk segera mengambil alih seluruh harta kekayaan keluarga Kandensus akan semakin dekat, ini memang rencana terbaik yang sudah dipersiapkan oleh ibu dan anak yang licik dan gila akan kekuasaan tersebut. Sedangkan tuan Kandensus telah dibutakan oleh cinta palsu dari nyonya Aslia selama bertahun-tahun lamanya.
Dan membuat dia tidak mempercayai putra kandungnya sendiri yang sudah jelas adalah darah daging dia selama ini. "Aahaaa terimakasih banyak ya sayang, kamu sudah mau menerima Seno di rumah ini, ibu sangat berterima kasih sekali dengan kemurahan hatimu." Ucap nyonya Aslia yang lagi lagi mengambil kesempatan untuk cari muka di depan tuan Kandensus, membuat tuan Kaiden merasa jijik dengan tindakannya tersebut.
Bahkan tuan Kaiden sama sekali tidak mau menanggapinya dia langsung bangkit berdiri dan mengusir kedua orang itu dari rumahnya.
"Karena urusan kalian sudah selesai, silahkan pergi dari rumahku!" Ucap tuan Kaiden sembari mempersilahkannya ayan dan ibu tirinya angkat kaki dari sana.
"Kaiden, ingat ini baik-baik, kau jangan sekali-kali berbuat kasar dengan adikmu, Seno adalah anak yang baik, seharusnya kamu membantu dia dalam bisnisnya agar ayah juga kita semua tidak terjebak dalam kesulitan, apa kau mengerti?" Ujar tuan Kandensus sebelum dia benar-benar akan pergi dari rumah tersebut.
"Ayah aku kan sudah bilang jika dia ingin belajar bisnis, maka belajarlah darimu, kau lebih hebat dalam mengelola bisnis dibandingkan diriku, aku bukan seorang guru aku pembisnis muda yang sibuk dan memiliki istri yang harus aku urus." Balas tuan Kaiden dengan tegas, membuat tuan Kandensus hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan menggelengkan kepalanya pelan dalam menanggapi ucapan dari putranya yang keras kepala tersebut.
Sementara nyonya Asila terus saja mengusap punggung tuan Kandensus sembari memintanya untuk tenang dan bersabar dalam menghadapi tuan Kaiden, sehingga tuan Kandensus pun segera pergi dari sana secepatnya.
Saat itu juga tuan Kaiden langsung menyuruh anak buahnya juga beberapa pelayan untuk memperketat penjagaan mereka di mension miliknya dan hanya membiarkan Seno untuk tinggal di bangunan lain yang ada di samping mansion nya tersebut, karena dia tidak ingin jika adik tirinya menginjakkan kaki di lantai yang sama dengan dia.
Bangunan rumah yang ada di samping mansion tuan Kaiden juga cukup besar, dengan dua lantai dan luas yang sangat besar, tempat itu sebelumnya adalah rumah peninggalan ibunya yang sengaja di diamkan dan tidak dihuni lagi semenjak sang ayah tuan Kandensus menjadi semakin sukses dan dapat membeli tanah dengan luas yang lebih besar serta membangun mension di sampingnya, tuan Kaiden jarang datang ke rumah itu karena setiap kali dia masuk ke sana maka pikiran bawah sadarnya selalu saja membuat dia teringat dengan ibunya lagi dan lagi, sehingga kesedihan bisa membuat dia menjadi lemah, tatkala dahulu dia telah gagal untuk menyelematkan ibu kandungnya sendiri dari ganasnya kanker yang beliau derita saat itu.
__ADS_1
Maka dari itu dia lebih senang jika Seno saja yang tinggal disana dan berharap kesedihan yang dia rasakan bisa berpindah pada adik tirinya tersebut, rumah itu juga kerap kali dianggap horor sebab sudah sangat lama tidak dihuni oleh siapapun dan dibiarkan terbengkalai begitu saja, hanya beberapa pelayan yang sesekali membersihkan rumah itu.
Jam terus berlalu tuan Kaiden mengisi waktu luangnya untuk membaca beberapa buku di ruang tengah hingga tidak lama sebuah bel berbunyi dan salah satu pelayan menghampiri dia, mengatakan bahwa Seno telah tiba di rumahnya, saat itu masih jam tugas sore dan tuan Kaiden langsung saja menyuruh pelayan untuk membawa Seno ke rumah mendiang ibunya tersebut. "Permisi tuan, tuan Seno sudah tiba." Ujar pelayan tersebut kepada tuan Kaiden dengan membungkuk.
"Ya sudah tunggu apalagi, bawa dia ke rumah itu dan jangan lupa beritahu dia agar tidak merusak apapun yang ada disana karena semua itu sangat berharga untukku." Balas tuan Kaiden kepada pelayan tersebut yang langsung di anggukan.
Pelayan tersebut pergi mengantarkan Seno pada bangunan rumah mewah yang ada di samping mension tuan Kaiden, sementara tuan Kaiden sendiri pergi ke balkon kamarnya untuk memperhatikan apa yang dilakukan Seno dari atas sana, sebab dari balkon kamarnya adalah tempat yang paling strategis untuk melihat ke arah rumah di sampingnya dengan jelas dari arah manapun.
Seno terlihat mengobrol sejenak dengan pelayannya dan dia pun masuk ke dalam dengan membawa beberapa barang bawaannya yang cukup banyak, ada dua koper serta barang konyol koleksi robot mahal yang dimilikinya selama ini. "CK dia masih sama seperti dulu, untuk apa mengoleksi barang rongsokan seperti itu, apa dia pikir usianya masih enam tahun?" Gerutu tuan Kaiden saat itu.
Dia tidak sadar jika ternyata saat itu Olivia sudah bangun dan dia menatap tuan Kaiden yang berdiri di balkon kamar sembari membawa teropong yang dia gunakan untuk mengintip Seno di bawah sana. Olivia yang merasa penasaran, dia langsung bangkit dan berjalan menghampiri tuan Kaiden, dia mulai menepuk bahu tuan Kaiden sembari memanggil namanya. "Tuan Kaiden." Ucap Olivia hendak bertanya.
Tapi tuan Kaiden justru malah kaget dibuatnya dan dia langsung berbalik karena takut hingga membuat terong jarak jauh yang dia pegang sebelumnya jatuh ke lantai bawah dan pecah berhamburan, menimbulkan suara yang cukup keras dan membuat Seno melirik ke arahnya, tapi untungnya tuan Kaiden masih bisa mencari solusi meski dalam situasi yang menegangkan seperti itu.
"Tuan kenapa kau berdiri di sini sendiri, dan apa yang barusan kau jatuhkan ke bawah?" Tanya Olivia dengan wajah bangun tidur yang bengkak seperti panda.
Tuan Kaiden tidak terlalu mendengar pertanyaan dari gadis tersebut karena dia menyadari Seno melirik ke arahnya dengan cepat tuan Kaiden menarik tangan Olivia dan mencium bibinya begitu saja, sengaja membuat Seno melihat hal tersebut untuk menghilangkan rasa kecurigaan Seno terhadap dirinya dan agar Seno tidak mencoba mencari tahu apa yang jatuh sebelumnya.
"Sial, kenapa aku harus melihat pemandangan ini." Gerutu Seno yang segera masuk ke dalam rumah dengan cepat, karena dia benci melihat Olivia dekat dengan tuan Kaiden apalagi melihat mereka berciuman di depan matanya sendiri.
Sedangkan Olivia sendiri terus saja membuka kedua matanya sangat lebar, karena begitu kaget mendapatkan perlakuan seperti itu secara tiba-tiba dari tuan Kaiden, dia mencoba untuk mendorong tubuh tuan Kaiden sejak awal, tapi sayangnya tenaga dia tidak cukup dan tuan Kaiden malah terus saja mengambil kesempatan meskipun Seno sudah pergi saat itu dan dia mengetahui hal tersebut.
"Aahh...tuan kau gila ya, beraninya kau melakukan itu tanpa izinku?" Bentak Olivia dengan wajah kesal dan penuh dengan emosi di dalam dirinya.
Tuan Kaiden menjadi gugup dan dia terus saja mengusap bibirnya sendiri.
__ADS_1
"Tadi itu tidak sengaja, aku hanya mencoba untuk mengalihkan perhatian Seno, agar dia tidak tahu jika yang aku jatuhkan barusan adalah teropong jarak jauh, semua itu juga tidak akan terjadi jika kau tidak mengagetkan aku, jadi lupakan saja apa yang sudah terjadi barusan." Balas tuan Kaiden dengan begitu santai sambil berjalan pergi melewati Olivia begitu saja, membuat gadis kecil itu kesal dan tidak terima atas perlakuan tuan Kaiden yang selalu seenaknya terhadap dia.
Olivia berlari mengejar tuan Kaiden dan terus menumpuk punggung pria 28 tahun itu dengan sangat kuat, hingga membuat tuan Kaiden meringis kesakitan dibuatnya.
"Aduh...hei kenapa kau menumpuk punggungku, apa kau sudah berani kepadaku?" Bentak tuan Kaiden sembari mengusap punggungnya yang terasa cukup sakit.
"Rasakan saja, itu balasan karena kau sudah beraninya memanfaatkan aku, lagi pula kau bilang untuk mengalihkan perhatian Seno, memangnya aku bodoh, di rumah ini sama sekali tidak ada Seno yang kau maksud, kau hanya beralasan asal saja kan." Balas Olivia yang mengira tuan Kaiden berbohong dengannya dan hanya mengambil kesempatan saja dari dirinya yang baru bangun tidur saat itu.
Mendengar itu tuan Kaiden langsung berkacak pinggan dan mengusap wajahnya kasar, dia berjalan mendekati Olivia lalu menarik tangannya dengan kasar, membawa Olivia untuk menemui Seno agar dia percaya bahwa apa yang dia katakan sebelumnya adalah kebenaran. "Ayo ikut denganku jika kau tidak percaya." Ucap tuan Kaiden kepada Olivia.
Tetapi Olivia terus saja berontak dan berusaha melepaskan diri dari tuan Kaiden sebab dia sama sekali tidak tahu kemana tuan Kaiden akan membawanya dan membuktikan apa dengan dirinya hingga harus menyeret dia paksa seperti itu.
"Aahh tuan lepaskan tanganku, kau mau membawaku kemana, tuan lepaskan!" Berontak gadis kecil itu dengan suara nyaring yang begitu memekikkan telinga.
Tuan Kaiden tidak mendengarkannya dan terus membawa Olivia hingga sampai di depan pintu rumah mendiang ibunya tersebut, dia menekan tombol bel berkali lagi sembari berteriak memanggil Seno dengan kencang.
"Seno keluar kau...Seno ayo cepat keluar!" Teriak tuan Kaiden begitu menggelegar.
Membuat gadis kecil itu merasa kebingungan sendiri dan dia terus saja mengerutkan kedua aslinya, sembari mulai menyuruh tuan Kaiden untuk diam sebab dia pikir tidak ada siapapun di dalam alam rumah itu. "Hah, tuan apa kamu sudah tidak waras, rumah ini kan kosong sejak aku tinggal denganmu, kenapa kau meneriaki nama adikmu ke dalam sana, jelas tidak akan ada dia di rumah ini, sudahlah ayo kita pergi saja." Ucap Olivia saat itu.
Saat Olivia berbalik dan hendak pergi dengan cepat tuan Kaiden menahannya lebih kuat dan dia kembali memanggil Seno lebih kencang dari sebelumnya hingga tidak lama akhirnya Seno keluar juga dari pintu rumah tersebut dengan mengenakan pakaian santai dan membuat Olivia kaget terperangah melihatnya. "Berisik, ada apa sih kau memanggilku?" Balas Seno saat pertama kali membuka pintunya.
"HAH? Ternyata memang benar ada kau, tapi kenapa kau keluar dari rumah ini?" Tanya Olivia yang semakin dibuat bingung.
Seno pun mengajak mereka masuk ke dalam rumah yang baru aja selesai di bereskan sendiri karena dia tidak memiliki pelayan lagi saat ini. Sedangkan pelayan tuan Kaiden sama sekali tidak ada yang mau membantunya sedikit pun untuk membersihkan rumah itu, jadi saat ini Seno baru membersihkan bagian lantai bawahnya saja.
__ADS_1