Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Menutupi Perasaannya


__ADS_3

Semua mata tertuju pada tuan Kaiden tatkala pria 28 tahun itu menjawab ucapan seorang tuan Kandensus dengan begitu tegas, Sedangkan Olivia sendiri nampak sangat tegang, dia takut jika kehadiran dirinya menjadi sebab utama hancurnya hubungan anak dan ayah tersebut, dengan wajah yang penuh kepanikan Olivia memegangi tangan tuan Kaiden dan terus saja memberikan tatapan lekat padanya, dia berusaha keras menghentikan tingkah tuan Kaiden namun apalah daya tuan Kaiden tidak bisa ditahan apapun yang sudah di tetapkan oleh tuan Kaiden tidak akan pernah bisa di ubah oleh siapapun.


Wajah tuan Kandensus sudah sangat merah padam, dia menggenggam tongkatnya sangat kuat sembari mengeratkan giginya, dia terus menghentakkan tongkat tersebut sangat kencang dan terus saja menatap tajam ke arah tuan Kaiden dan Olivia.


"Kalian, baik jika itu yang inginkan, keputusan ku tidak akan berubah, karena memang hanya memintamu menikah, tetapi bukan wanita yang tanpa asal usul jelas sepertinya, kau pikir dengan otakmu itu Kaiden, pantaskah wanita kecil sepertinya yang tidak memiliki prestasi apapun juga tidak ada asal usul jelas bersanding dengan seseorang sepetimu dan menjadi nyonya di keluarga kita?" bentak tuan Kandensus semakin dipenuhi emosi.


"Iya Kaiden, ayahmu benar, setidaknya kamu harus memilih pasangan hidup yang pantas untuk kamu jadikan istri." tambah Risa menimpalinya dan di anggukkan oleh nyonya Asila.


"Tidak, jika kalian menginginkan hartaku, maka ambilah jika kalian bisa, aku tidak akan menceraikan istriku, dan aku akan segera memiliki anak darinya, hidup bahagia sesuai dengan yang diharapkan almarhum ibuku!" jawab tuan Kaiden sambil bangkit berdiri dan dia menggenggam tangan Olivia sangat kuat.


Membawanya pergi dari ruangan itu dan mengabaikan teriakkan tuan Kandensus yang terus mencoba menahannya, bahkan tuan Kandensus tidak segan-segan memerintahkan penjaganya untuk menghadang tuan Kaiden dan Olivia agar mereka tidak bisa keluar dari ruangan itu, tuan Kaiden sudah marah besar diam-diam dia menghubungi sekretaris Dep dengan ponselnya dan perkelahian antara dia dengan anak buah ayahnya tidak dapat di hindari.


Olivia hanya bisa berdiri di belakang tuan Kaiden dengan perasaan takut dan tidak menentu, melihat seseorang pria dengan gagahnya tetap membela dan mempertahankan dirinya hingga rela berkelahi dengan banyak orang, sampai tidak lama anak buah tuan Kaiden tiba di ikuti dengan sekretaris Dep yang langsung membawa mereka berdua keluar dari rumah itu secepatnya. Tatapan mata tuan Kandensus tidak pernah lepas dari Olivia, dia semakin benci dan ingin menyingkirkan gadis tersebut.


"Semua renacanaku telah gagal karena kehadiran gadis itu, aku tidak akan membuatnya mudah!" batin tuan Kandensus menyimpan kebencian amat dalam terhadap Olivia.


Seno yang berada di samping tuan Kandensus dia tahu bahwa ayah tirinya tengah marah besar, dia mengikuti arah pandang ayah tirinya tersebut dan dengan begitu Seno sudah bisa tahu jika tuan Kandensus tidak akan membuat hidup Olivia menjadi mudah mulai saat ini.


"Seno Risa, segera tetapkan tanggal pernikahan kalian!" ucap tuan Kandensus secara tiba-tiba dengan nada suara yang menggema.


"Baik ayah, kami akan menikah secepatnya." balas Seno dan Risa bersamaan.


Nyonya Asila tentu saja sangat senang, memang ini yang dia harapkan sejak lama, membuat tuan Kandensus membenci putra kandungnya sendiri dan menyayangi putranya Seno, dengan begitu akan lebih mudah bagi dia mendapatkan harta dari tuan Kandensus nantinya.


"Setelah berhasil menyingkirkan Kaiden aku hanya perlu menyingkirkan Risa dan gadis kecil itu, agar Seno kembali menuruti semua ucapanku, haha... Mereka semua sangat menguntungkan ku." batin nyonya Asila sambil berjalan pergi menggandeng tangan tuan Kandensus menuju kamarnya.


Seno berlari pergi untuk mengejar tuan Kaiden karena dia sangat mencemaskan kondisi Olivia saat itu, sayangnya saat dia tiba di luar mobil mereka sudah tidak ada dan pertengkaran antara dua penjaga juga sudah berhenti, dengan nafas menderu Seno mendengus kesal sebab dia gagal mengejarnya dan sama sekali tidak bisa berbuat apapun disaat Olivia nampak dalam masalah sebelumnya.


"Hah... hah... Hah, aishh... Mereka cepat sekali perginya." gerutu Seno saat itu.


"Hei, untuk apa kau mengejar wanita konyol itu? Apa kau sungguh menyukainya? Haha ada apa dengan para pria saat ini, dasar buta!" ucap Risa sangat sinis sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Seno sangat tidak senang ketika orang yang dia cintai di hina konyol oleh seseorang seperti Risa yang sangat tidak pantas untuk dibandingkan dengan sosok Olivia di matanya. "Diam, kau! Olivia jauh lebih baik dibandingkan wanita murahan sepertimu." balas Seno kepada-nya yang membuat Risa naik pitam.


Dia menghentakkan kakinya kuat dan terus menggerutu kesal meski saat itu Seno sudah berlenggang pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Apa kau bilang, hei aku begini pun akan menjadi istrimu, kau pikir gadis konyol itu mau denganmu, kau tidak akan bisa bersamanya, aku sendiri yang akan menyingkirkan manusia benalu itu, apa kau dengar hah?" teriak Risa sangat kencang di penuhi kekesalan dan emosi membara dalam hatinya.


Karena di abaikan oleh Seno, Risa semakin benci pada Olivia, dia merasa kesal dan iri sebab Olivia mendapatkan kasih sayang dari dua orang pria yang seharusnya menjadi miliknya, Seno yang akan jadi suaminya walau hanya dalam urusan bisnis dan Kaiden yang sangat dia cintai sejak kecil, saat itu juga Risa langsung menghubungi anak buahnya dan mengirimkan foto Olivia pada mereka untuk melancarkan aksinya nanti.


"Lihat saja, dia tidak akan pernah bisa mengalahkan aku apalagi mengambil Kaiden dariku." ucap Risa penuh dendam.


Di sisi lain selama di perjalanan Olivia tertunduk lesu dan tidak bicara sedikitpun, begitu pula dengan tuan Kaiden yang hanya diam menatap ke arah jendela mobil, seakan tengah menyaksikan indahnya pemandangan malam di pusat kota yang penuh dengan keramaian tersebut, padahal hatinya begitu riuh dan penuh kecemasan tentang apa yang akan terjadi dan dampak sebesar apa yang bisa di timbulkan karena dia berani melawan ayah nya sendiri.


Padahal niat awalnya untuk merayakan keberhasilan proyek yang dia pimpin, tapi ujungnya tetap saja selalu pada pembahasan hak waris dan masalah harta, itu membuat Kaiden sangat kesal dibuatnya, dia bahkan sudah menurut semua permintaan dan syarat yang diberikan oleh ayahnya, namun lagi dan lagi ayahnya itu selalu mengingkari setiap janji yang dia katakan, pada nyatanya tuan Kandensus selalu ingin mengatur tuan Kaiden sedangkan tuan Kaiden memiliki jalannya sendiri dia tidak akan pernah menuruti apa yang di inginkan ayahnya.


Sampai beberapa saat berlalu Olivia yang merasa cemas dan pikirannya yang terus berkecamuk memikirkan kejadian tadi, dia mulai merasa tidak tenang dan tidak bisa diam saja sehingga langsung memberanikan diri untuk bertanya kepada tuan Kaiden secara langsung, meski saat itu tuan Kaiden terlihat melamun namun Olivia tetap memberanikan dirinya.


Dengan perlahan Olivia menarik ujung kemeja tuan Kaiden sambil menatapnya lekat dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ada apa?" tanya tuan Kaiden kepadanya.


"Kenapa kau mempertahankan aku dan lebih memilihku dibandingkan mereka semua, bukankah niat awalmu menikahi ku hanya demi merebut harta peninggalan ibumu?" tanya Olivia semakin terlihat sendu.


Yang membuatnya kaget adalah, tuan Kaiden jauh dari ekspektasi yang dipikirkan Olivia sebelumnya, dia menatap lekat padanya sambil tersenyum kecil lalu menggenggam tangan kecil itu dengan lembut.


"Tuan? Aku...aku... tidak pantas untukmu." ucap Olivia sambil tertunduk lesu dan air mata yang mulai menetes sedikit demi sedikit kala itu.


"Hei..hei..ada apa denganmu? Jangan menangis begitu, sudahlah jangan dengarkan apa kata orang lain, aku memilihmu karena itu keputusan yang aku ambil, jadi semuanya tidak ada urusan dengan mereka, jangan menangis lagi oke, kau sangat jelek saat menangis begini." ujarnya sambil terus menepuk-nepuk punggung Olivia.


Namun sayang bukannya berhenti Olivia justru malah menangis semakin kencang dan dia terus berusaha mengibaskan tangan tuan Kaiden dari kepala dan punggungnya.


"Huaaa.... Berhentilah melakukan itu, kau hanya akan membuatku semakin merasa sakit, huhu... Menyedihkan, aku memang sebatang kara dan tidak pantas jadi pendampingmu, hhuhuhu...hiks.hiks... Sudah lah kau sebaiknya ceraikan aku saja apa susahnya?" balas Olivia sangat kencang.


Wajah tuan Kaiden seketika berubah menjadi sangat serius, dia memegangi kedua pundak Olivia dengan erat dan terus menyuruh gadis kecil itu untuk menatapnya sekaligus mendengar ucapan dia kali ini.


"Cukup Olivia, lihat kemari dan dengarkan ucapanku dengan baik. Aku tidak akan menceraikanmu kecuali kau melakukan kesalahan atau aku sudah tidak mencintai dirimu lagi, apa kau mengerti?" balas tuan Kaiden membuat Olivia seketika tertegun mendengarnya.


"Hah? Tu.. Tuan, apa maksudmu kau menyukaiku?" tanya Olivia mencari kepastian.


Tuan Kaiden mendadak jadi gugup dia mengalihkan pandangan ke arah lain dan terus saja menjadi sangat gugup, perasaan bingung menghantui dirinya dan terus berusaha mencari alasan agar tidak terlihat bahwa dirinya memang sudah menyukai Olivia entah sejak kapan.

__ADS_1


"AA ...A..ahaha.. Ya ya begitulah tapi kau jangan salah paham dulu, sayangku padamu disini hanya karena kasihan dan hanya menganggap kau sebagai adikku, ahh iya sebagai adik saja tidak lebih." balas tuan Kaiden mengutarakan alasannya.


Olivia merasa sangat tidak percaya dengan jawaban itu dia menyipitkan matanya dan terus mendekati tuan Kaiden hingga mendesaknya sangat dekat dan kembali bertanya lagi untuk memastikannya.


"Tuan apa kau yakin hanya menyukaiku sebagai adik saja?"


"Ya iyalah, memangnya kau berharap apa, kau mau aku menyukaimu sebagai istri? Ahaha tidak mungkin!" balasnya masih tidak berani menatap ke arah Olivia secara langsung.


Bagaimana mungkin Olivia bisa mempercayainya sedangkan tuan Kaiden mengatakan hal itu dengan menatap ke luar jendela, dan terlihat sangat gugup, bahkan pipinya saja merah merona.


"Tuan, meski aku selalu jadi anak kecil dimatamu tapi aku ini sudah 20 tahun aku sudah dewasa untuk orang-orang seusiaku, aku tahu mana yang berbohong dan jujur, jadi jawab dengan jujur sambil menatap ke arahku, baru aku akan percaya."


"Hei memangnya kapan aku pernah berbohong, lagian kau mau percaya atau tidak aku sama sekali tidak perduli, sudah sana minggir!" balas tuan Kaiden sangat kecut sambil mendorong tubuh Olivia sedikit kuat.


Tidak sampai disitu, Olivia tetap tidak mau kalah, dia masih sangat yakin bahwa tuan Kaiden hanya berbicara omong kosong padanya, jelas sekali tindakan tuan Kaiden berbeda ketika memperlakukan dia dengan orang lainnya, itu terlalu jelas terlebih untuk apa yang dia lakukan pada Olivia di depan kamar mandi sebelumnya.


"Tuan jika kau benar-benar tidak menyukaiku, lantas kenapa kau meninggalkan bekas ini di leherku?" tanya Olivia membuat tuan Kaiden mati kutu.


"Itu hanya khilaf, dan aku hanya menakut-nakuti kau saja agar kau tidak tergoda oleh Seno, aku yakin dia itu menyukaimu."


"Memangnya kenapa kalau kak Seno menyukaiku, harusnya kau tidak pernah keberadaan kalau kau tidak menyukaiku bukan?" balas Olivia terus menguji kesabaran tuan Kaiden berkali-kali.


Rasanya semua alasan yang dibuat oleh tuan Kaiden sama sekali tidak bisa mengecoh Olivia apalagi membuatnya menyerah dengan mudah, semuanya terlalu terlihat jelas jadi Olivia hanya ingin tahu kejujurannya.


"Aku bilang tidak suka ya tidak suka, kau tahu aku dengannya bermusuhan sejak lama dan aku mengurusmu selama ini apa menurutmu pantas jika kau malah bersama dengan musuhku? Aishh kau sangat menyebalkan, berhentilah bertanya begitu." bentak tuan Kaiden yang akhirnya berhasil membuat Olivia terdiam.


Gadis kecil yang sedari tadi tidak bisa diam dan selalu bertanya tentang banyak hal akhirnya kini dia bisa diam juga, walaupun matanya begitu sini pada tuan Kaiden karena masih belum mendapatkan jawaban yang sebenarnya dia inginkan sejak awal.


"Cih, mungkin hanya aku saja yang berharap lebih pada orang sepertinya yang tidak pantas diharapkan untuk apapun." Batin Olivia saat itu.


Dia pun berusaha menyadarkan dirinya atas posisi yang dia tempati saat ini, namun tindakan yang dilakukan oleh tuan Kaiden sebelumnya benar-benar melewati batas, untuk apa tuan Kaiden menciuminya seperti itu jika memang hanya menganggap Olivia sebagai adiknya saja, semua itu terlalu tabu bagi Olivia dan sejujurnya Olivia juga berharap tuan Kaiden bisa menyukainya, memperlakukan dia layaknya seorang istri pada umumnya dan bisa melindungi dia seperti yang tuan Kaiden lakukan sebelumnya ketika semua orang memberikan tatapan tahu dan merendahkan dirinya.


Sesampainya di rumah, mood Olivia benar-benar sudah sangat rusak dia langsung berlari ke kamarnya dan melempar jas tuan Kaiden sembarangan hingga bibi Jil yang melihat itu segera mengambilkannya.


"Tuan ada apa dengan nona Olivia, sepertinya dia terlihat sangat kesal, apa kalian bertengkar?" tanya bibi Jil saat itu.

__ADS_1


"Entahlah bi, dia memang begitu, biarkan saja nanti juga akan kembali baik lagi, saya masuk dulu." balas tuan Kaiden menyembunyikan yang sebenarnya.


Bibi Jil segar mempersilahkan tuan Kaiden berjalan dan dia membawakan tas kerjanya, sekaligus sekretaris Dep yang memberikan kunci mobil milik tuan Kaiden saat itu, kemudian sekretaris Dep berbisik pada bibi Jil dan membicarakan apa yang terjadi antara tuan Kaiden dengan Olivia saat di perjalanan pulang tadi, hingga bibi Jil mengangguk paham dan kini dia tahu apa yang harus dia lakukan untuk mendamaikan keduanya.


__ADS_2