
Hingga ke esokan paginya disaat Olivia bangun lebih awal dan dia sarapan bersama dengan tuan Kaiden, tiba-tiba saja ditengah sarapannya muncul Seno yang mendatangi ruang makan dan dia malah langsung duduk di salah satu kursi yang bersampingan dengan Olivia saat itu, sedangkan tuan Kaiden duduk di hadapannya.
Hal itu membuat tuan Kaiden sangat kesal dan begitu jengkel untuk menghadapinya, langsung saja pria 28 tahun itu memberikan tatapan tajam kepada adik tirinya dan langsung mengusir Seno dengan ucapan yang kasar juga, dia sama sekali tidak memiliki belas kasih sedikit pun kepada adik tiri yang sangat tidak dia sukai bahkan begitu dia benci sejak awal pertemuan mereka ketika kecil dan terus saling benci serta bermusuhan hingga saat ini.
"E..ee..ehhh... Ngapain kau datang kemari pagi-pagi sekali, dan kenapa kau malah duduk di samping istriku?" Bentak tuan Kaiden dengan sorot mata yang tajam dan kedua alis yang dia kerutkan sangat kuat, itu jelas menggambarkan wajah tuan Kaiden yang begitu menyeramkan dan sangat menyebalkan.
Selain itu Olivia sendiri terus saja berusaha untuk menenangkan tuan Kaiden dan menyuruhnya agar kembali fokus dengan makanan yang ada di hadapannya tanpa memperdulikan adik tirinya tersebut yang mau menumpang sarapan disana pagi ini.
"Aku kemari mau sarapan, memangnya mau apa lagi." Balas Seno dengan begitu santainya sambil mengambil sesendok nasi ditambah dengan lauk pauk yang sedang di sediakan oleh Olivia juga beberapa pelayan disana.
"Heh, mana bisa kau ikut makan disini, kalian jangan asal yang membiarkan dia mengambil makanan milikku, aku sudah memberikan kau tempat tinggal kenapa sekarang malah melunjak dengan menumpang makan di rumahku?" Balas tuan Kaiden yang tetap saja menentang semua itu dan dia segera memberikan peringatan kepada pelayan disana agar tidak meladeni Seno.
__ADS_1
Membuat Seno langsung menurunkan kembali piringnya dan dia mulai bicara lagi kepada tuan Kaiden dengan sangat berani, padahal dia memang hanya menumpang di rumah yang merupakan milik tuan Kaiden sendiri saat ini.
"CK... Kenapa kau begitu pelit, aku kan hanya numpang sarapan sekali saja, kau begitu tidak mau, dasar kakak yang jahat, lihatlah Olivia, pria pelit sepertinya tidak pantas kamu cintai dan menjadi suamimu, harusnya kamu menjadi istriku saja aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan dan akan selalu menuruti semua ucapan darimu bukannya mendominasi kamu dan terus saja memperlakukan kamu seperti budak." Balas Seno malah menyinggung tuan Kaiden ke permasalahan lain yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan yang tengah dia bahas saat ini.
"Apa kau bilang, beraninya kau mengatakan aku pelit, sana pergi kau dari rumahku, pergi sana!" Teriak tuan Kaiden yang langsung saja mengusir Seno sangat kencang dengan sorot mata yang begitu tajam dan kedua tangan yang dikepal sangat kuat.
Olivia segera menghentikan pertengkaran diantara mereka berdua dengan menjauhkan Seno dan tuan Kaiden serta membujuk tuan Kaiden agar bisa bisanya mengusir Seno saat itu, meskipun ucapan dari Seno memang sangat menyebalkan dan tidak seharusnya dia katakan seperti itu kepada kakak tirinya sendiri yang sudah membantu banyak hal terhadap dirinya, sekalipun tuan Kaiden sangat membenci dirinya.
"Eehh... sudah-sudah, kalian jangan bertengkar terus seperti itu, kalian ini kan sudah dewasa, apa kalian tidak malu dengan orang-orang yang ada disekitar sini dan memperhatikan kamu atau pun bisa menjadikan dirimu tontonan dan membuat kita menjadi seperti pengemis, pelayan di rumah ini tetaplah manusia, kalian tidak boleh bertengkar begitu, bagaimana pun kalian adalah saudara walaupun hanya saudara jauh dan tidak memiliki hubungan darah apapun satu sama lain, tapi kalian sudah sepantasnya menjadi saudara yang akur." Ucap gadis kecil tersebut yang sedikit tidak nyambung dengan ucapannya sehingga hanya membuat tuan Kaiden dan Seno sama-sama kebingungan dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Olivia kepada mereka berdua, karena yang mereka ketahui intinya saat ini mereka hanya perlu diam saja dan berhenti berdebat satu sama lain.
Jika dari selain itu keduanya sama-sama tidak paham dan hanya bisa menatap heran kebingungan tidak jelas. Tapi Olivia sama sekali tidak menyerah, dia tetap saja berusaha untuk menghentikan pertengkaran keras diantara kedua orang dewasa di hadapannya saat itu, hingga dia sendiri yang pada akhirnya malah menjadi emosi sebab tuan Kaiden dan Seno tidak mendengarkan ucapan darinya juga.
__ADS_1
"Tuan... Sudah jangan mengusir Seno lagi, kasihan dia kan hanya ingin numpang makan saja, apa salahnya dengan itu, lagian dia tidak akan menghabiskan semua makanan ini kok." Ucap Olivia kepada tuan Kaiden yang membuat tuan Kaiden merasa bahwa istrinya membela pria lain dibandingkan dirinya sendiri sebagai suami sahnya saat itu.
"Apa kamu bilang, kenapa kamu malah mengijinkannya sarapan dengan kita, aku tidak suka ada dia di sini, kalau kamu mau dia tetap disini biar aku saja yang pergi dan tidak sarapan sekalian." Ucap tuan Kaiden yang mulai merajuk dibuatnya tetapi dengan cepat Olivia terus menahan tangan tuan Kaiden dan berhasil menahannya dengan cepat.
"Eehhh tuan tunggu, kau harus sarapan dulu agar kau tidak sakit, kau bisa sakit jika terus tidak sarapan, ayo cepat ini kan kau sendiri yang memintanya kepadaku kalau aku harus memasak untukmu dan menyajikan makanan setiap pagi, aku akan sedih jika semua masakan yang sudah aku niatkan untukmu tapi tidak mau makan bahkan sama sekali tidak mau sentuh." Ucap Olivia berusaha untuk menahannya dan terus saja menarik tangan tuan Kaiden sambil membawanya berjalan pelan menuju meja makan secepatnya.
"Kamu duduk dan nikmat makanannya oke, jangan pedulikan Seno jika memang kamu tidak senang dengan adanya dia." Ucap Olivia lagi kepada tuan Kaiden yang ternyata dituruti olehnya, sedangkan disisi lain Seno hanya menatap sinis dengan sebuah senyum kecil dan bibir yang dia naikkan sebelah saat itu.
Jelas tergambar jika saat itu Seno begitu tidak senang ketika melihat perlakuan manis yang di dapatkan oleh tuan Kaiden dari istrinya sendiri di depan mata dia secara langsung seperti itu, jadi dengan cepat Seno pun memilih untuk dirinya saja yang pergi dari sana daripada harus menyaksikan semua itu yang hanya membuatnya sakit hati dan kesal sekali, dia hanya bisa diam saja dan terus bicara kepada Olivia untuk berpamitan pergi saat itu.
"Ekm...kalau begitu biar aku saja yang pergi dari sini, aku hanya minta makanan darimu saja kak, aku akan makan di rumahku." Ucap Seno sambil membawa sepiring nasi miliknya dan pergi begitu saja.
__ADS_1