Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Banyak Makanan


__ADS_3

Gadis 19 tahun itu kemudian menatap kembali ke arah bibi Lil sambil menatap lekat dengan kedua alis yang dia naikkan keduanya, merasa sangat heran dan kebingungan dengannya. "HAH. Bi ini maksudnya bagaimana sih? Kenapa bisa ada banyak es krim di dalam kulkas?" Tanya gadis tersebut merasa sangat heran dan kebingungan sendiri.


Awalnya tidak seperti itu dan hanya ada satu kulkas besar saja di dapur tapi kini tiba-tiba saja ada beberapa kulkas besar dan saat bibi Lil membuka salah satu kulkas itu, isinya es krim semua dengan berbagai jenis rasa dan merk yang biasa di makan oleh Olivia.


Bibi Lil pun menjelaskan semua itu dengan segera. "Begini non sebenarnya tuan sudah memerintahkan kami sejak lama untuk membuat semua ini tapi para pelayan dan penjaga baru saja menyelesaikannya beberapa saat yang lalu tepat ketika nona Olivia mengantar tuan Kaiden ke depan, dan semua ini memang sengaja di persiapkan oleh tuan Kaiden untuk nona Olivia agar tidak banyak pergi jajan di luar, sebab dia.." ucap bibi Lil yang tida selesai bicara tetapi Olivia sudah terlanjur kesal dan menggerutu keras dengannya, dia merasa emosi dan hanya bisa mengacak rambutnya sesaat saja.


"Aishh... Tapi bi yang aku mau kan pergi ke luar aku mau menemui makan kakakku aku sudah sangat merindukannya sejak lama, selain itu aku juga ingin menemui sahabatku ada permasalahan penting yang harus aku bicara dengannya, aku tidak benar-benar ingin membeli makanan atau apapun." Balas Olivia berkata jujur kepada bibi Lil.


Dengan cepat bibi Lil memahaminya dan dia hanya bisa memeluk Olivia sembari memintanya bersabar karena mau bagaimana pun tuan Kaiden melakukan semua ini demi kebaikan dirinya juga, apalagi suasana bisnis tuan Kaiden saat ini tengah begitu panas dimana persaingannya sangat ketat sekali, dan tuan Kaiden hanya merasa cemas jika istri kecilnya terlalu banyak pergi ke luar, terlebih ayahnya sendir tidak menyukai dia saat ini.


"Yang sabar ya non, ini semua tuan muda lakukan juga demi kebaikan nona Olivia, nanti jika suasananya sudah mendukung dan jauh lebih baik dari sekarang, bibi yakin tuan muda langsung yang bahkan akan mengantarkan nona pergi ke sana, bertemu sahabat nona itu termasuk melayat makan kakak nona di kampung halaman, nona jangan cemas ya, saat ini tahanlah dahulu." Ucap bibi Lil sembari terus mengusap punggungnya Olivia dengan begitu lembut dan memeluknya erat.


Olivia tidak memiliki pilihan lain lagi dia hanya bisa mengangguk dan menuruti apa yang baru saja dikatakan oleh bibi Lil, karena memang mau berontak seperti apapun dia tetap tidak akan bisa keluar dari rumah tersebut yang memiliki penjagaan begitu ketat, seandainya bisa pun itu akan sangat sulit dia lakukan, sebab perlu usaha keras dan rencana yang begitu matang untuk melakukan semua itu.


"Hiks...hiks..iya bi, sekarang habisnya mau bagaimana lagi, aku tetap tidak akan bisa keluar dari sini meski aku merajuk." Balas Olivia kepadanya.


Bibi Lil pun mengajak gadis kecil itu pergi ke sebuah ruangan yang belum pernah di masuki oleh Olivia selama dia tinggal di rumah besar milik tuan Kaiden tersebut, tujuannya tentu saja untuk membujuk Olivia dan membuat dia menjadi lebih gembira lari.


"Sudah sekarang daripada nona Olivia merasa sedih dan murung seperti ini, mending ikut bibi yuk, ada sesuatu yang mau bibi perlihatkan sama non." Ajak bibi Lil dengan tersenyum lebar dan mulai menggandeng tangan Olivia dengan lembut.

__ADS_1


Olivia pun berhenti memasang wajah yang ditekuk dengan kuat, menatap ke arah bibi Lil dengan penuh kepenasaranan saat itu. "Eh, bibi mau membawaku kemana memangnya?" Tanya Olivia nampak kebingungan sendiri saat itu.


Sayangnya bibi Lil tidak menjawab pertanyaan dari gadis tersebut, ia hanya tersenyum kecil lalu kembali mengajak Olivia untuk ikut dengannya, hingga Olivia pun menurutinya karena dia juga merasa sangat penasaran dengan hal itu, tapi saat sesampainya di depan sebuah ruangan yang nampak gelap di lorong, Olivia mulai merasa sedikit takut dan ragu untuk ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Non ayo kita masuk." Ucap bibi Lil mengajaknya lagi.


"Bi apa benar ini yang bibi maksudkan? Untuk apa kita masuk ke sini bi, terus kenapa lampu di dalam mati, aku takut gelap bi, aku tidak mau masuk ke dalam nanti bagaimana jika tiba-tiba ada cicak yang jatoh, atau tikus yang berkeliaran disana, atau ada hantu yang tiba-tiba muncul di depan kita." Ucap gadis kecil tersebut merasa sangat panik dan takut, tapi bibi Lil justru malah tersenyum dan tertawa pelan ketika mendengar hal tersebut, sebab bibi Lil sudah begitu sering masuk ke dalam ruangan tersebut, bahkan hampir setiap hari, namun dia tidak pernah mendapatkan hal-hal aneh seperti itu.


"Ahah...aduh ya ampun, non tidak akan ada apapun di dalam sana, ruangan ini sangat terjaga dan sudah biasa bibi masuki setiap hari, nanti kalau nona Olivia sudah masuk ke dalam pasti nona juga akan merasa kagum melihatnya, disana ada banyak sekali makanan dan apapun yang nona Olivia inginkan bisa nona ambil sepuasnya." Ucap bibi Lil membuat Olivia merasa ragu dengan ucapannya tersebut.


Pasalnya ruangan itu terlihat lebih mirip seperti gudang, sebab tidak ada jendela di dekat pintu dan di dalamnya sangat gelap ketika pintu tersebut di buka oleh bibi Lil, selain itu ruangannya terlihat cukup besar, membuat Olivia sangat ragu untuk masuk ke dalam.


Bibi Lil terus membujuknya bahkan berani untuk memaksa gadis kecil tersebut agar mau masuk ke dalam ruangan itu dengannya bagaimana pun caranya.


"Ayolah non, disana benar-benar tidak akan ada apapun, nona percaya pada bibi kan, bibi akan menjaga nona Olivia dengan sangat baik jadi nona jangan khawatir pada apapun, oke?" Ucap bibi Lil yang terus saja bekerja keras untuk meyakinkan Olivia saat itu.


Setelah sekian lama dan banyaknya perdebatan diantara mereka berdua, akhirnya Olivia pun mau untuk ikut ke dalam walau tangannya sedikit gemetar dan terus memeluk tangan bibi Lil begitu erat, mereka berdua kemudian berjalan dengan pelan untuk masuk ke dalam hingga ketika Olivia sudah benar-benar masuk ke dalam dan cukup jauh dari pintu masuk, bibi Lil justru malah meminta agar Olivia tetap berdiri diam di tempat tersebut sebab dia akan mencari tombol lampu ruangan itu dan menyalakannya.


"Non, kita sudah sampai di bagian tengah ruangan ini, nona bibi tinggal sebentar disini ya, tetaplah diam di bawah titik merah yang ada di langit-langit itu, bibi tidak akan lama kok." Ujar bibi Lil membuat Olivia merasa takut dan kaget, dia jelas tidak mau jika bibi Lil mau meninggalkannya seorang diri di tempat yang sangat gelantapa adanya cahaya sedikit pun, jadi Olivia terus memegangi tangan bibi Lil sangat erat dan tidak mengijinkan pergi.

__ADS_1


"Tidak mau, bi kau kan sudah janji saat di luar tadi kalau kau tidak akan meninggalkan aku, kenapa sekarang bibi mau pergi aku tidak mau ditinggal disini sendirian." Ucap Olivia dengan nada bicara yang sedikit gemetar menahan rasa takut dalam dirinya.


"Nona bibi hanya akan menyalakan lampunya, agar disini bisa lebih terang lagi dan nona Olivia juga tidak akan merasa takut lagi nantinya, nona tunggu sebentar ya, bibi tidak akan jauh kok, nona bisa berteriak memanggil nama bibi terus menerus selama bibi pergi untuk menyalakan lampunya agar nona yakin kalau masih ada bibi di ruangan ini." Ucap bibi Lil membujuk Olivia lagi dengan segala usahanya, walaupun sudah pernydi tolak oleh Olivia tetapi bibi Lil tidak mudah menyerah dia tetap merawat dan menjaga Olivia seperti yang di perintahkan oleh tuan Kaiden kepada dirinya.


Tetapi jika tuan Kaiden tidak memerintahkannya untuk menjaga gadis tersebut, bibi Lil akan tetap menjaganya dan menyayangi Olivia layaknya putri kandung dia sendiri selamanya.


"Nona tenang ya, bibi akan segera kembali." Ucap bibi Lil sembari menarik tangannya pelan dan mulai pergi dengan cepat dari sana agar bisa menyalakan lampu di ruangan itu lebih cepat, sedangkan Olivia terus saja memanggil nama bibi Lil sejak tangan pelayan nya tersebut sudah tidak dapat dia genggam lagi.


Olivia hanya takut bibi Lil akan meninggalkan dia saat itu makanya dia tidak henti-hentinya memanggil bibi Lil lebih sering dan terus saja tiada henti, namun untungnya bibi Lil memang orang yang penyabar jadi dia masih saja mau menyahuti teriakkan dari Olivia.


"Bi...bibi Lil apa kau masih ada di sini, apa kau bisa mendengar suaraku?" Teriak Olivia sangat kencang dan sudah di dengar berkali-kali oleh bibi Lil.


"Iya non bibi masih disini, bibi baru saja sampai di tepi, nonayang sabar ya, yang tenang, bibi mau cari tombolnya dulu." Balas bibi Lil dengan berteriak cukup keras sehingga bisa di dengar oleh Olivia dengan jelas.


"Iya bi, cepat temukan tombolnya bi, aku sudah sangat takut di sini sendirian." Balas Olivia lagi yang saat itu benar-benar sudah gemetar takut.


Sampai tiba-tiba saja sebuah lampu dari ujung bagian depannya menyala satu per satu dan terus melaju berentetan kepada Olivia hingga menuju ujung lampu terakhi di belakangnya saat itu. Olivia awalnya merasa kaget tapi saat melihat pemandangan itu dia langsung terpukau sampai terus terperangah dengan membelalakkan matanya sangat lebar, dia tidak menduga jika di dalam mension suaminya itu ada hal-hal dan ruangan indah seperti ini.


Tidak hanya lampu lampu yang menyala dengan indah berbarengan tetapi ada banyak lemari makanan yang begitu tinggi dan berjajar rapih membentuk lingkaran di setiap sudut ruangan besar berwarna putih tersebut, diatasnya adalah sebuah perpustakaan melayang dimana ada banyak rak buku menempel di dinding dengan berbagai macam buku yang tertata rapih serta tangga kecil yang menjadi penghubung antara satu rak dengan tak yang lainnya termasuk untuk kita menggapai buku-buku tersebut, ini seperti masuk ke dalam sebuah toko swalayan besar sekaligus perpustakaan dalam satu ruangan saja, mata Olivia tidak bisa berkedip sedikitpun dan dia terus saja menatap ke sekeliling ruangan itu yang sangat indah.

__ADS_1


__ADS_2