
"Aishh... Manusia menjengkelkan, paling menyebalkan, dan sangat keterlaluan, apa dia itu bedebah gila? Aahh benar-benar tidak masuk akal, bagaimana mungkin dia berani mendorong aku sekuat itu dan menarik tanganku dengan kasar setelah apa yang aku lakukan kepadanya, astaga... sia-sia saja aku merasa cemas dengan dirinya, aaaahh aku ingin menjambak rambutnya dan menendang tubuhnya itu aishh..." Gerutu Olivia tanpa henti sambil terus menepuk ranjangnya sangat kuat berkali-kali.
"Duk!" Suara tangan Olivia yang terhantuk mengenai pinggiran ranjang cukup kencang.
"Aarrkkkkk.... Aduduh sakit aaww.. tanganku aduh ini pasti karena aku mendobrak pintunya tadi, aahh kenapa aku sampai tidak ingat kalau sikutku sendiri lebam seperti ini?" Ucap Olivia terus saja menggosok sikutnya itu dan terus saja meniupnya dengan pelan, sambil segera saja mengoleskan tangannya itu dengan obat yang dia bawa sebelumnya, sisa dari mengobati tuan Kaiden.
...****************...
Keesokan paginya tuan Kaiden sudah bersiap untuk pergi ke kantor namun tentu saja dengan tangannya yang dibalut oleh perban seperti itu, akan menyulitkan tuan Kaiden untuk melakukan aktivitas yang biasa dia gunakan dengan tangan kanan, bahkan dia hendak mandi saja itu membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan yang biasanya, untuk memakai pakaian dan mengancingkan celananya saja itu begitu sulit bagi tuan Kaiden sehingga lama kelamaan tuan Kaiden terus saja merasa kesal dan frustasi dibuatnya. Dia mendengus kesal dan terus saja pergi ke kamar Olivia untuk meminta bantuan kepadanya.
"Duk...duk...duk...hei bocah...buka pintunya kau tidak mungkin masih tidur di jam segini bukan? Bocah bangun kau!" Teriak tuan Kaiden yang terus saja menendang pintu kamar Olivia cukup kuat saat itu.
Olivia yang baru saja selesai mandi di buat emosi saat mendengarnya dan pada awalnya dia sengaja diam dan mengabaikan teriakkan dari tuan Kaiden karena dia masih merasa sangat kesal atas perlakuan yang diberikan oleh tuan Kaiden kepadanya tadi malam.
Namun lama kelamaan dia juga merasa kesal sendiri sebab tuan Kaiden tidak bisa berhenti untuk menendang pintu kamarnya saat itu.
"Hei cepat keluar, aku tahu kau sudah bangun!" Teriak tuan Kaiden tanpa henti.
__ADS_1
"Aishh... benar-benar manusia pengganggu, untuk apa lagi sih pria tua itu mendatangiku, bukankah seharusnya dia pergi bekerja di jam segini, aahh mengganggu aku saja." Gerutu Olive sangat frustasi mendengarnya.
Olivia pun terpaksa harus pergi untuk membuka pintunya, dia terus saja memasang wajah yang kesal, ditambah saat dia baru saja membuat pintu kamarnya tuan Kaiden justru hampir saja menendang kakinya, namun untungnya dengan cepat Olivia menyingkir dan langsung saja dia memberikan tatapan tajam kepada tuan Kaiden saat itu.
"Apa kau tidak punya telinga, kenapa membiarkan aku menunggu di luar begitu lama?" Bentak tuan Kaiden yang langsung saja berkacak pinggang di hadapan Olivia, membuat gadis 19 tahun itu merasa semakin jengkel dengannya.
"Tuan ada apa kau memanggilku sepagi ini, bukankah seharusnya kau pergi ke kantormu, untuk apa masih menggangguku?" Balas Olivia dengan wajahnya yang tidak kalah dingin saat itu.
"Aishh... Berani kau menatapku begitu, aku congkel matamu mau, hah!" Balas tua Kaiden yang sangat gemas dengan Olivia.
Namun karena saat ini tuan Kaiden juga membutuhkan bantuan dari Olivia dia pun berusaha untuk menahan emosi dalam dirinya dan dia segera saja menghembuskan nafas dengan berat lalu berusaha meminta bantuan dari Olivia dengan cara yang baik.
"Aahh, begini bantu aku memakai jas dan makan, selain itu bantu aku memakai sepatu dan memakai dasi, kau bisa melakukan semua itu kan?" Ucap tuan Kaiden membuat Olivia sangat tersentak kaget mendengarnya.
"Apa? Aku harus membantumu melakukan semua itu, memangnya kau tidak punya tangan?" Ucap Olivia dengan refleks.
Tapi dengan cepat tuan Kaiden langsung saja mengangkat tangan kanannya yang dibalut oleh perban dan membuat Olivia tidak bisa menolak lagi, gadis kecil itu menatap tajam dengan sinis dan terus saja menuruti tuan Kaiden meski sebelumnya dia menolak dengan keras untuk membantu tuan Kaiden, namun tentu saja tuan Kaiden memiliki banyak ancaman yang bisa dia lontarkan pada gadis muda seperti Olivia untuk menakut-nakutinya.
__ADS_1
"Aahh aku tahu tanganmu terluka tapi kan kau masih memiliki tangan yang satunya, lagi pula tanganmu seperti itu tidak ada sangkut pautnya denganku dan kenapa juga harus aku yang membantumu melakukan semua itu? Kau punya banyak pelayan di rumah ini, suruh saja pada mereka." Perotes Olivia dengan keras, karena dia tidak bisa menerima semua ini dengan mudah.
"Kau masih bisa bertanya kepada harus dirimu yang melakukannya? Haha apa kau lupa hanya kau yang pernah melihat sekujur tubuhku, dan kau adalah istriku, ingat ini baik-baik, tugasmu adalah melayani suamimu, kenapa kau menolak permintaanku, jika kau menolak lagi pergi dari rumahku dan aku akan menuntut mu atas kejadian malam itu, ingat saat itu kau yang bersalah karena kau yang masuk ke dalam kamarku dan aku dapat menjebloskan kau ke dalam penjara dengan begitu mudah, atau menyebarkan rumor dan foto-fotomu itu." Bisik tuan Kaiden mendekatkan mulutnya ke telinga Olivia.
Gadis itu hanya bisa mengerutkan kedua alisnya dan mengepalkan kedua tangan dengan sangat erat, karena dia harus menahan emosi dalam dirinya untuk menghadapi orang yang sangat licik seperti tuan Kaiden ini, dia juga terpaksa harus menyetujuinya dan melakukan semua yang di minta oleh tuan Kaiden pada dirinya, sekalipun dia sangat benci untuk melakukan hal itu.
"Oke, aku akan membantumu, tapi awas saja jika kau terus mengancam aku seperti tadi, ayo cepat bukankah kau mau memakai jasmu?" Ucap gadis tersebut sambil segera saja menarik tangan tuan Kaiden dan membawanya masuk kembali ke dalam kamar tuan Kaiden.
Olivia terpaksa harus membantu tuan Kaiden memakai jas, menyisir rambutnya bahkan sampai memakai kaus kaki dan sepatu pada kakinya saat itu, sedangkan tuan Kaiden sendiri terlihat begitu senang, melihat Olivia yang kerap kali mendengus kesal karena dia permainkan ketika membantunya memakaikan sepatu, beberapa kali tuan Kaiden juga menahan tawa karena merasa ekspresi wajah Olivia sangat lucu tiap kali gadis itu merasa kesal dan jengkel dengan ulahnya.
"Kenapa, kau mau marah denganku?" Ucap tuan Kaiden saat mendapatkan tatapan tajam dari Olivia.
"Tidak, aku tidak mungkin marah pada suamiku yang tampan ini." Balas Olivia memuji tuan Kaiden namun masih dengan memasang wajah yang penuh kebencian dan begitu sinis.
Tuan Kaiden juga terus menahan tawa saat melihatnya seperti itu, dia benar-benar harus menjaga image dirinya di hadapan Olivia.
"Astaga... Kenapa dia begitu menggemaskan saat marah seperti ini, apa aku sudah keterlaluan mempermainkan dia?" Batin tuan Kaiden saat itu.
__ADS_1