
Meski dia sangat kesal dan dipenuhi dengan emosi dalam dirinya, tetapi gadis kecil itu masih harus menahan diri karena dia tidak mungkin melawan seseorang seperti tuan Kaiden yang dapat mengancam dirinya kapan saja, bahkan lebih kejam dan menakutkan bandingkan seekor ular.
Terus saja Olivia hanya bisa menggerutu kesal dan merutuki tuan Kaiden di dalam hatinya, sampai dia harus memapah tuan Kaiden hingga ke lantai bawah dan pergi menyuapi dia makanan, mulai dari memilihkannya selai yang ingin dia pakai pada rotinya pagi itu dan sudah berkali-kali Olivia mengolesi sepotong roti itu dengan selai coklat, kemudian stroberi dan kacang, terus saja dia harus mengulanginya berkali-kali karena tuan Kaiden seakan mempermainkan dia dengan sengaja.
"Tuan sebenarnya kau mau makan dengan selai yang mana? Stoberi, coklat atau kacang?" Tanya Olivia dengan wajah yang sudah sangat tidak tahan untuk menghadapi tua Kaiden yang terus membuatmu naik pitam.
"Eumm aku mau coklat saja." Balas tuan Kaiden yang membuat Olivia harus kembali mengambil roti baru dan mulai mengolesinya lagi dengan selai baru rasa coklat.
"Aishh...kenapa kau harus menyulitkan aku jika kau memang menginginkan selai coklat yang sama dengan milikmu yang awal." Ucap Olivia dengan wajah yang sangat gemas sekali saat itu, bahkan tangannya sudah terlihat gemetar menahan emosi.
Olivia memberikan roti yang sudah dia tutup kepada tuan Kaiden dan menaruhnya di piring milik tua Kaiden saat itu, tetapi sama dengan yang sebelumnya, dimana tuan Kaiden meminta Olivia untuk menyuapinya makan.
"Ini tuan, silahkan nikmati makanan anda." Ucap Olivia tersenyum dengan paksa.
"Aaaa.." ucap tuan Kaiden sambil langsung membuka mulutnya dengan lebar.
__ADS_1
Olivia yang saat itu baru saja hendak menikmati sarapannya langsung melirik ke arah tuan Kaiden dan terus saja menatap dengan penuh emosi dan mendengus dengan kesal, karena dia harus menaruh kembali roti miliknya yang hampir dia masukkan ke dalam mulutnya itu.
"Huuhh...sabar Olivia, sabar ini tidak akan lama, hanya sampai tangannya sembuh, maka aku akan terbebas dari manusia menjengkelkan seperti dia." Batin Olivia menenangkan dirinya sendiri.
Dia pun mengambil roti itu dan memasukkannya sekaligus pada mulut tuan Kaiden sangat kasar hingga membuat tuan Kaiden terbelalak membuka matanya sangat lebar dan dia langsung saja tidak dapat bicara lagi karena mulutnya benar-benar tersumpal rapat dengan roti yang Olivia masukkan kedalam mulutnya sekaligus, melihat tuan Kaiden yang menatapnya dengan wajah marah seperti itu dan mulutnya yang tersumpal roti membuat Olivia langsung tertawa sangat keras dan lebar dia terus saja tidak bisa berhenti tertawa dan hanya bisa terus menepuk meja makan berkali-kali.
"Ahahah....konyol kau terlihat lucu sekali dengan ekspresi seperti itu, ahahaha...ada ada saja, ayo cepat kunyah rotinya kenapa kau diam saja, ahahah." Ucap Olivia terus tertawa begitu puas.
Sedangkan tuan Kaiden pada akhirnya harus menggunakan tangan kirinya sendiri untuk melepaskan roti yang menyumpal mulutnya tersebut dan dia terus saja mengunyah roti itu dengan wajah datar dan menatap sangat tajam kepada Olivia yang bisa membuat Olivia langsung terdiam dan menutupi mulutnya untuk berhenti menertawakan tuan Kaiden karena dia merasa takut mendapatkan tatapan tersebut hampir memb*Nuh dirinya sendiri.
Langsung saja Olivia berhenti tertawa dan dia segera saja meminta maaf kepada tuan Kaiden, karena dia tidak mau tuan Kaiden akan membalas dendam kepadanya dan semakin menyulitkan dia lagi ke depannya.
"Ahaha...maafkan aku tuan, lagi pula aku sebenarnya tidak bermaksud seperti itu kok, tadi itu hanya keceplosan saja dan aku juga tidak sengaja memasukkan semua rotinya sekaligus pada mulutmu, habisnya mulutmu terbuka sangat lebar sih." Balas gadis kecil itu sambil terus saja terlihat menahan tawa berkali-kali.
Karena merasa kesal, tuan Kaiden pun tidak akan membebaskan Olivia dengan begitu mudah dia langsung saja menyuruh Olivia untuk ikut dengannya ke kantor agar bisa mengurusi dia seharian ini sampai nanti malam datang ke jamuan makan malam dengan keluarga besarnya tersebut.
__ADS_1
"Oke, aku akan memaafkanmu tapi kau harus mengurusi aku seterusnya sampai tanganku sembuh, dan kau tidak bisa menolak! Sebab ini hukuman untukmu." Ucap tuan Kaiden bahkan tidak memberikan Olivia kesempatan untuk bicara sedikitpun kepadanya.
Langsung saja Olivia memasang wajah tidak senang dan dia merasa sangat tidak terima atas keputusan yang dibuat sepihak oleh tuan Kaiden atas dirinya, tetapi karena tuan Kaiden sudah memutuskan seperti itu dan melarang dia untuk tidak bisa menolak, dia pun tidak memiliki pilihan lain dan hanya bisa menerima semuanya dengan perasaan kesal dipenuhi dengan emosi.
Olivia pergi ke kantor bersama dengan tuan Kaiden dan dia harus membantu tuan Kaiden membawakan tas kerjanya tersebut yang begitu berat bagi seorang Olivia, bahkan dia hampir saja jatuh karena mengira tas yang di pegang tuan Kaiden terlihat begitu ringan.
"Ini bawa tasku, kita akan segera pergi ke kantor." Ucap tuan Kaiden sambil memberikan tasnya pada gadis tersebut.
Olivia mengambilnya dan langsung saja dia hampir tersungkur ke depan sebab tas itu begitu besar untuknya, entah apa yang ada di dalam tas tuan Kaiden saat itu, hingga memiliki berat yang cukup besar.
"Astaga.. tuan kau membawa apa sih di dalam tas ini, kenapa begitu berat sekali, sebelumnya aku lihat ini terlihat ringan-ringan saja olehmu." Ucap Olivia perotes kepadanya dengan keras sambil terus saja bersusah payah mengangkat tas kerja tersebut. Tua Kaiden tidak mendengarkannya dan dia justru terus berjalan meninggalkan Olivia lebih dulu.
"Hei...tuan tunggu aku!" Teriak Olivia dengan kencang dan terus saja dia berjalan sambil menyeret tas kerja milik tuan Kaiden saat itu.
Hingga dia masuk ke dalam mobil dan baru saja dia bisa merasa sangat lega sekali, selain bisa beristirahat dan menyandarkan punggungnya ke belakang dia juga bisa mengatur nafasnya yang sudah menderu bahkan ketika dia belum sampai di kantor tuan Kaiden. "Aahh tidak tahu apa yang akan dia lakukan kepadaku nantinya, sekarang saja sudah seperti ini, ya ampun huaaa..aku ingin kabur saja dari manusia biadab ini." Gerutu Olivia pelan dan terus saja memalingkan pandangan dari tuan Kaiden.
__ADS_1
Saat di perjalanan menuju kantor dan tepatnya di lampu merah, Olivia tidak sengaja melihat mobil di sampingnya terlihat seperti ada Malara di dalamnya, dia pun terus saja meminta kepada Dep untuk menurunkan kaca mobilnya saat itu dengan terburu-buru karena merasa sangat tidak sabar.