
Tuan Kaiden yang melihat Olivia tiba-tiba jatuh terkulai lemah di lantai setelah melihat badai di luar, membuat tuan Kaiden segera bangkit bergegas untuk menghampiri gadis tersebut dengan cepat. "Apa yang terjadi dengannya?" Ucap tuan Kaiden berlari cepat menghampiri Olivia dan segera membantu gadis kecil itu untuk segera bangkit berdiri lagi.
"Hei apa yang terjadi denganmu, apa kau baik-baik saja?" Tanya tuan Kaiden berjongkok di samping Olivia dengan wajah yang sangat cemas.
Olivia tidak bisa mengatakan apapun hatinya terlampau sakit dan dia hanya bisa terus menundukkan kepalanya dengan lesu, dengan rambut panjang yang tebal dan halus menutupi bagian wajahnya, dia sebenarnya tengah menangis terisak tanpa suara, dia tidak ingin menampakkan wajah menyedihkannya saat ini di depan tuan Kaiden tetapi di sisi lain dia juga tidak bisa menahan rasa sedih dalam dirinya sendiri, jadi dia pun hanya bisa terus menggigit bibirnya sekuat tenaga untuk menahan rasa sakit juga air mata yang keluar dari dalam pelupuk matanya tersebut.
Tuan Kaiden semakin cemas dengan kondisi Olivia yang sudah lama tidak mendengar ucapan dari dirinya, dia segera mendekati Olivia lagi dan segera saja meraih rambut gadis kecil tersebut lalu menyingkirkannya ke samping, sampai tuan Kaiden merasa kaget karena melihat Olivia yang ternyata tengah menangis kala itu.
"Hei.. kau menangis ya, apa yang terjadi, kenapa kau menangis, hei kurcaci ada apa denganmu ayo bicara padaku." Ucap tuan Kaiden dibuat semakin cemas dan dia segera memegangi wajah Olivia dengan lembut.
Tapi bukannya mau bicara, Olivia justru malah semakin menangis keras karena dia sudah tidak tahan lagi menahannya, tuan Kaiden yang tidak tahu apapun dia hanya bisa segera memeluk Olivia dengan erat dan terus mengusap kepalanya dengan lembut, untuk memberikan ketenangan terhadapnya, karena hanya itu satu-satunya hal yang bisa dia lakukan saat ini. "Sudah...sudah....kau tidak akan apa-apa, semuanya akan baik-baik saja, sekarang kau denganku, aku janji akan menjagamu meski kita hanya pasangan suami istri yang terikat janji di atas kertas, tapi aku akan tetap bertanggung jawab." Ujar tuan Kaiden yang tiba-tiba saja bisa berkata dengan sangat tegas dan lembut bak seorang pria sejati di hadapan Olivia kala itu.
Bahkan Olivia yang tadinya merasa sangat sedih dan terpukul dia langsung terdiam juga menatap terperangah tuan Kaiden, saking tidak menduganya jika pria kejam itu dapat berkata seperti ini kepada dirinya.
__ADS_1
"Tuan...hiks..hiks..apa kau mau berjanji denganku kalau kau akan bertanggung jawab atasku, aku takut aku hamil." Balas Olivia dengan wajahnya yang sangat polos dan membuat tuan Kaiden hampir saja tertawa mendengar ucapannya tersebut, padahal itu masih dalam suasana yang cukup tegang dan mengharukan tetapi ada saja kelakuan dari Olivia yang berhasil membuat tuan Kaiden gagal fokus dibuatnya.
"AA..apa? Hamil, yang benar saja kau tidak mungkin hamil aku kan hanya melakukannya sekali itupun aku sudah memberikan kau obat khusus agar kau tidak hamil, saat di rumah sakit, jadi kau tidak usah cemas." Balas tuan Kaiden yang langsung membuat Olivia merasa kesal dan merasa telah di bohongi sejak lama.
Karena dia baru tahu sekarang jika ternyata dia pernah diberikan obat tertentu untuk mencegahnya tidak hamil saat di rumah sakit tanpa sepengetahuan dirinya.
"Apa? Jadi kau memberikan obat seperti itu kepadaku secara diam-diam? Aishh kau jahat menyingkirlah dariku, aku pikir kau sudah berubah ternyata sama saja, menyebalkan!" Ucap Olivia sambil mendorong tuan Kaiden hingga membuat tuan Kaiden terkapar ke belakang sementara Olivia sendiri terus kembali ke kamar dan dia segera merebahkan tubuhnya di ranjang lagi dan mulai menarik selimut disana dengan cepat.
Tuan Kaiden yang mendapatkan perlakuan seperti itu, dia terus saja menatap terperangah dengan perasaan heran yang tidak menentu.
Dengan perasaan kesal dan cukup emosi, tuan Kaiden berjalan cepat dengan langkah besar menuju ranjang dia menarik selimut yang dikenakan oleh Olivia dan terus saja bicara dengannya, meminta penjelasan terhadap gadis tersebut tentang perlakuan dia sebelumnya. "Heh apa yang kau lakukan tadi padaku? Hei kurcaci nakal ayo cepat bangun, kau harus menjelaskannya dahulu kepadaku, ayo cepat bangun!" Ucap tuan Kaiden yang terus saja memaksa Olivia untuk kembali bangkit, sambil terus menarik tangannya dengan kuat, hingga memaksa Olivia sampai gadis itu terpaksa kembali duduk dan menatap tajam penuh kekesalan kepada tuan Kaiden.
"Tuan kau ini mau aku seperti apa lagi sih? Aku sedang tidak mood karena aku tengah sedih sekarang ini!" Balas Olivia dengan kedua alisnya yang mengkerut sangat tajam.
__ADS_1
"Hei..hei beraninya kau memasang wajah kecut dan sangat menjengkelkan seperti itu kepadaku, apa kau sudah lupa siapa aku ini, hah? Ayo cepat katakan sekarang juga kenapa kau bersikap seperti itu kepadaku dan kenapa kau tiba-tiba saja menangis dan bersikap aneh seperti orang kesurupan saja, ayo katakan!" Bentak tuan Kaiden yang mendesak Olivia dengan keras.
Tatapan matanya yang sangat tajam dan dia terus saja memegangi kedua tangan Olivia, berusaha untuk menahan gadis tersebut agar dia tidak kembali tidur lagi, sampai terpaksa Olivia tidak memiliki pilihan lain lagi, jadi dia pun memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada tuan Kaiden, meski sebenarnya dia sangat enggan dan begitu berat untuk bercerita tentang masalah pribadinya sendiri kepada orang lain, terlebih tuan Kaiden ini adalah orang asing baginya, meski sudah menjadi suami tapi itu hanya berlaku di atas kertas saja, hati mereka belum tentu saling mencintai dan tidak saling mengenal dengan baik satu sama lain.
"Huuhh.. baik-baik aku akan bicara denganmu, tapi kau jangan memaksa aku lagi, aku sungguh ingin istirahat dan sangat tidak mood untuk bercerita kepada siapapun, tapi hanya padamu saja aku mau mengatakannya, bersyukurlah kau ini." Balas Olivia kepadanya dan tuan Kaiden sama sekali tidak memberikan reaksi apapun, selain dari tatapan datar dan wajah seriusnya itu yang sudah sangat tidak sabar untuk mendengar cerita dari Olivia.
"Jadi begini, kau tahu kan kejadian malah itu terjadi saat hujan badai dengan gelegar petir yang cukup kencang sangat mirip dengan cuaca di luar tadi, makanya aku terbawa suasana dan sebelumnya aku memimpikan kakakku, aku sangat merindukan dia tapi dia meninggal aku begitu saja, aku terjebak denganmu setelah aku di fitnah oleh ayah dari sahabat baikku sendiri, sekarang aku tidak tahu harus hidup seperti apa, dan setiap kali mendengar hujan seperti itu, aku selalu ingat dengan kejadian...." Ucap Olivia yang sudah tidak tahan dengan kesedihan dalam dirinya.
Dia malah menangis lagi dan tidak bisa berhenti, malah tangisannya lebih besar dibandingkan yang sebelumnya, terlihat jelas bagaimana Olivia masih berusaha keras untuk menahan dirinya agar tidak menangis lagi dengan mengusap semua air mata yang jatuh dari pelupuk matanya, dia juga berusaha untuk diam namun kesedihan itu malah semakin besar dan tuan Kaiden benar-benar merasa sangat tidak tega dengannya, dia kembali memeluk Olivia lagi tapi Olivia mendorong tuan Kaiden dengan pelan dia tidak mau siapapun memeluk dia saat sedih dan menangis seperti ini, karena jika dia di peluk orang lain, bukannya mengurangi kesedihan dalam dirinya, justru dia malah semakin sedih dan tangisannya akan semakin sulit untuk dia hentikan.
"Maafkan aku, aku tidak tahu jika kau ternyata memimpikan kakakmu itu, tapi kau tenang saja aku bisa membantumu mencari kakakmu agar kau tidak sedih lagi bagaimana?" Ujar tuan Kaiden yang tidak tahu jika kakak yang dimaksud oleh Olivia sudah tiada.
"Tuan jangan memelukku seperti itu, kau hanya akan membuat aku semakin sedih, dan satu lagi kau tidak akan pernah bisa membantuku untuk menemui kakakku, karena dia sudah meninggal dunia." Balas Olivia kepadanya lalu segera berbalik menjauhkan pandangan dari tuan Kaiden.
__ADS_1
Tuan Kaiden langsung terperangah dengan kedua mata yang terbuka sangat lebar, dia kaget sekaligus tidak menduga jika ternyata kakaknya Olivia telah meninggal dunia, sejak mendengar hal itu rasa empati dalam diri tuan Kaiden mulai terkuak, dia merasa kasihan kepada Olivia dan dia tidak mengganggunya lagi, membiarkan Olivia untuk tidur dan beristirahat dengan tenang.