Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Gosip Tentang Risa


__ADS_3

Saat keduanya sudah berpikir bahwa mereka mendapatkan hadiah dari satu sama lain, tentu saja mereka saling mencari untuk mengucapkan terimakasih, saat tuan Kaiden datang menemui Olivia di depan tangga karena saat itu Olivia juga berjalan ke arahnya sambil membawa boneka besar dalam pelukannya itu. Dari kejauhan tuan Kaiden sudah mulai merasa bingung kenapa Olivia berlari kecil menghampiri dia dengan memeluk sebuah boneka beruang yang besar bahkan menutupi tubuhnya yang pendek itu.


"Hei kurcaci, kenapa kau membawa bonek sebesar itu?" tanya tuan Kaiden dengan kedua alis yang dia kerutkan saking merasa heran.


"Hehe... Tuan boneka yang kau berikan ini sangat lembut dan empuk, aku menyukainya. Terimakasih karena sudah memberikan hadiah sebagus ini, pasti kamu menghabiskan uang yang banyak untuk membelinya." balas Olivia membuat tuan Kaiden kebingungan.


Raut wajahnya yang tadi terlihat cerah dan penuh kebahagiaan kini seketika berubah menjadi raut wajah yang heran serta sedikit kecut. "Hah? Apa kau bilang? Hadiah dariku, kapan aku memberikan hadiah untukmu?" balas tuan Kaiden yang kini membuat Olivia kaget mendengarnya.


"Ehh, tuan bukankah kau yang meminta sekretaris Dep memberikan kado berukuran besar untukku lalu saat aku buka ternyata isinya boneka beruang ini." balas Olivia menjelaskannya.


Tuan Kaiden mulai mencurigai sekretaris Dep dan dia terus saja menatap lekat ke arah Olivia sambil berpikir keras, dia pun memberanikan diri bertanya pada Olivia tentang kue yang dia makan sebelumnya.


"Tunggu....tunggu, apa kau membuatkan aku kue juga?"


"Kue?"


"Iya kue coklat yang enak," balas tuan Kaiden mengangguk.


"Ahaha... Tuan kau ini bermimpi ya, mana mungkin aku membuatkan kue untukmu, aku saja tidak bisa membuat kue apapun, kau sendiri kan tahu aku hanya bisa memasak makanan desa yang sederhana, kalau buat kue begitu aku sama sekali belum pernah mencobanya sendiri." balas Olivia yang menanggapinya dengan tawa menggelegar.


Wajah tuan Kaiden semakin di tekuk kuat dia langsung saja mendengus kesal dan memanggil nama sekretaris Dep sangat keras untuk meluapkan emosi nya.


"Aishh.. Ini semua pasti ulahnya, DEP!" teriak tuan Kaiden yang bisa terdengar hingga ke luar rumah.


Membuat para penjaga di sana merinding mendengarnya begitu juga dengan bibi Jil dan sekretaris Dep yang memilih untuk bersembunyi di tempat yang aman secepatnya sebelum tuan Kaiden akan menemukan keberadaan mereka dan memberikan mereka pelajaran besar.


Olivia merasa heran kenapa tuan Kaiden tiba-tiba menjadi marah seperti itu, tapi dia tidak perduli, Olivia yang belum tau hal sebenarnya dia malah langsung menarik tangan tuan Kaiden dan mengajaknya untuk pergi makan bersama.


"Tuan sudahlah kenapa kau harus marah dengan sekretaris Dep, ayo temani aku makan." ujarnya dengan wajah yang manis.


Mau tidak mau tuan Kaiden harus mengikutinya karena Olivia menarik tangan dia dengan paksa sekaligus, membuat tuan Kaiden tidak bisa menahannya. Mereka pun makan malam bersama dengan masakan yang dibuatkan oleh Olivia.


"Tada... Makanannya sudah jadi, ini tuan silahkan di nikmati, anggap ini bentuk terimakasih dariku karena kamu sudah memberikan boneka padaku sebelumnya." ucap Olivia membuat tuan Kaiden merasa tidak enak karena dia belum sempat memberitahukan Olivia bahwa bukan dirinya yang memberikan boneka itu.


Setelah menikmati makan malam itu, tuan Kaiden mendekati Olivia dan mencoba untuk memberitahu kebenarannya, dia tidak ingin menunggu waktu yang lama lagi karena takut nantinya Olivia akan mengetahui hal itu dari orang lain dan bisa saja membuat gadis tersebut kecewa nantinya.


"Hei bocah kemari sebentar, ada yang mau aku bicarakan denganmu,"


"Ada apa?" Balas Olivia merasa cukup bingung.


Tidak biasanya tuan Kaiden bicara seperti itu padanya sampai mengharuskan dia duduk menghadap ke arahnya.

__ADS_1


Olivia sudah menatap tuan Kaiden cukup lama dan menunggu apa yang akan dikatakan suami kontraknya saat ini, tapi tuan Kaiden sendiri nampak begitu berat untuk mengatakannya. Dia menarik nafas dalam berusaha mempersiapkan dirinya sendiri untuk menghadapi reaksi apapun yang bisa saja diberikan gadis kecilnya nanti.


"Huuhh... Begini, apa kau sangat menyukai boneka beruang itu? Apa kau sangat senang mendapatkannya?" tanya tuan Kaiden terlebih dahulu.


"Tentu saja tuan, aku sangat senang dan begitu menyukai boneka ini, sejak kecil aku sama sekali tidak pernah mendapatkan kado boneka apapun apalagi boneka sebesar ini yang bisa aku peluk dengan penuh kenyamanan, aku seperti memiliki teman baru dengannya, bahkan aku sudah memikirkan nama yang bagus untuknya, apa kau mau tahu namanya?" ucap Olivia yang begitu antusias dengan ekspresi wajahnya yang berseri-seri.


Membuat tuan Kaiden semakin tidak tega untuk memberitahunya saat itu.


"Apa namanya?"


"Namanya Via junior, lucu kan Via itu diambil dari nama panggilanku sejak kecil dan nama kesayangan yang selalu kakakku sebutkan ketika memanggilku, sedangkan junior karena aku merasa dia lebih kecil dariku, walaupun sebenarnya aku bisa tertutup olehnya, tapi aku yang lebih dulu tinggal di sini bukan hehe, bagaimana menurutmu?" balas Olivia menjelaskannya panjang lebar.


"A..A..ahaha... Bagus bagus, terserah kau saja mau di namakan apa." balas tuan Kaiden.


"Astaga... Dasar bocah ini, ada ada saja kelakuannya, ahhh bagaimana aku menjelaskan padanya kalau bukan aku yang memberikan hadiah itu untuknya." batin tuan Kaiden merasa resah dan bingung.


Saat itu tuan Kaiden termenung sejenak membuat Olivia merasa heran.


"Tuan... Tuan... Tuan Kaiden!" teriak Olivia meninggikan suaranya karena tuan Kaiden yang tidak mendengar sapaan darinya.


"Ahh.. Iya kenapa?"


"Kenapa kau termenung begitu, apa yang menggangu pikiranmu sampai tidak fokus begitu?"


"Hah? Ohhh jadi maksudnya boneka ini bukan darimu ya, terus kalau bukan kau siapa yang memberikannya untukku?" tanya Olivia yang bisa langsung memahaminya.


Pada akhirnya tuan Kaiden pun mengatakan yang sebenarnya, dia pikir lagi pula Olivia sudah mengetahui yang sebenarnya dan dia terlihat tetap tenang jadi tuan Kaiden semakin berani menjelaskannya.


"Begini, tadi bibi Jil juga memberikan aku kue coklat yang aku ceritakan padamu sebelumnya, mereka bilang itu pemberian darimu dan kau yang membuatkannya secara khusus untukku sebagai bentuk permintaan maaf, dan boneka itu kau bilang sekretaris Dep yang memberikannya padamu bukan, mungkin dia melakukan hal yang sama pada kita berdua." jelas tuan Kaiden membuat Olivia tercengang mendengarnya.


"Ja..ja..jadi maksudmu, semua ini hanya akal-akalan bibi Jil dan sekretaris Dep saja?" tanya Olivia memastikan apa yang dia tangkap.


Tuan Kaiden mengangguk pelan dan seketika Olivia menjadi lesu, dia tertunduk dengan raut wajah yang ditekuk kuat, padahal sebelumnya dia sangat senang dan begitu bersemangat membicarakan tentang boneka tersebut, namun sekarang tiba-tiba saja bisa berubah dengan secepat itu, membuat tuan Kaiden merasa tidak enak dengannya.


"Hei, sudahlah lagi pula kau juga menyukai bonekanya aku juga menyukai kue nya, tidak ada yang perlu di sedihkan, mungkin niat mereka berdua juga baik ingin membuat kita akur kembali, dan aku juga minta maaf padamu karena sudah berbuat terlalu jauh saat di lorong sebelumnya juga saat di dalam mobil." balas tuan Kaiden mencoba menenangkan Olivia sekaligus meminta maaf secara langsung padanya.


"Tapi aku berharap boneka ini sungguh darimu," gerutu pelan Olivia saat itu.


Tuan Kaiden tidak bisa mendengar ucapan Olivia dengan benar jadi dia sedikit kebingungan mendengarnya.


"HAH? Apa yang kau katakan tadi?" tanya tuan Kaiden padanya untuk memastikan.

__ADS_1


"Ohh tidak ada aku hanya bilang bonekanya sangat bagus jadi sayang sekali jika sekretaris Dep membelinya hanya untuk hal seperti itu." balas Olivia mengubah ucapannya sendiri.


Entahlah, dirinya sendiri bahkan belum benar-benar mengerti kenapa dia mengharapkan hal seperti itu dari tuan Kaiden yang jelas-jelas hanyalah suami diatas kertas baginya.


Ke esokan paginya Olivia kembali di sibukkan dengan belajar, tugas dan semua aktivitas ngampus nya, sedangkan tuan Kaiden sendiri fokus dengan pekerjaannya di kantor, berbeda dengan Seno juga Risa yang tengah mempersiapkan pesta pernikahan mereka, karena Risa adalah seorang selebritis sekaligus model terkenal di luar negeri dan dalam negeri, jadi tentu saja kemanapun dia pergi dan setiap gerak geriknya pasti akan di sorot oleh media, hampir semua pemberitahuan dan channel gosip di televisi membicarakan mengenai pernikahannya yang sangat tiba-tiba itu, bahkan saat di kampus saja Olivia masih bisa mendengar banyak mahasiswa lain membicarakan mengenai gosip tersebut.


Sebenernya Olivia sama sekali tidak merasa terganggu dengan hal itu, lagi pula dirinya juga sama sekali tidak mengenal sosok Risa sedikitpun, namun ketika gosip lain menyebar dan menyeret nama tuan Kaiden, tentu saja Olivia menjadi penasaran dan semakin ingin mengetahui masalalu diantara mereka berdua, karena orang-orang nampak begitu kaget dan malah mengharapkan Risa menikah dengan tuan Kaiden.


Untuk mencaritahu semua itu bahkan Olivia berani mendekati kerumunan mahasiswa yang tengah membicarakan hal tersebut dan dia ikut bergabung begitu saja sambil berpura-pura menjadi fans dari Risa.


"Hei kalian tahu, aku benar-benar kecewa kenapa Risa bisa menikah dengan adik tirinya tuan Kaiden, bukankah pria itu anak haram, dia tidak pantas mendapatkan pria yang levelnya jauh di bawah dirinya sendiri," ucap salah satu wanita disana.


"Iya kau benar, harusnya Risa menikah dengan tuan Kaiden, bukankah dia anak kandung pengusaha besar itu? Lagian wajahnya juga jauh lebih tampan tuan muda Kaiden," timpal wanita lainnya yang dianggukkan oleh orang-orang lain yang mendengarkan.


Olivia semakin penasaran dia masuk dalam pembicaraan panas tersebut untuk mendapatkan informasi lebih banyak dari mereka.


"Ehh, tapi kenapa kalian bisa berpikir begitu? Bukankah semua itu tergantung pilihan Risa, mungkin saja dia memang menyukai tuan Seno, dan mereka saling mencintai," balas Olivia membuat semua wanita disaat menatap ke arahnya serentak.


"Ke.... Kenapa kalian tiba-tiba menatapku begitu, memangnya ada yang salah dari ucapanku?" tanya Olivia merasa sangat gugup karena mendapat tatapan aneh dari semua orang.


"Haishhh... Hei kau ini mahasiswa baru ya? Pantas saja tidak tahu tentang permasalahan dua keluarga besar dan paling di hormati di kota ini, asal kau tahu ya dulu sejak mereka kecil tuan Kaiden dan nona Risa sudah di jodohkan, mereka juga kuliah di sini, tuan Kaiden mahasiswa paling cerdas dan satu satunya orang yang lulus hanya dalam waktu satu tahun saja, sedangkan Risa memilih pergi ke luar negeri dan mengembangkan bakatnya dalam akting dan modeling, mereka sama-sama memiliki banyak penggemar, jadi wajar saja jika semua orang berharap mereka seharusnya bersama, bukannya menghilang sudah lama tiba-tiba muncul lagi di media untuk menikah dengan orang yang sama sekali tidak pernah kita sangka," balas salah satu wanita disana menjelaskannya pada Olivia.


Selama mereka bicara Olivia hanya mengangguk saja dan mencoba memahami apa yang mereka katakan tentang seberapa dekatnya Risa dengan tuan Kaiden dahulu, dan setelah mendengar semua pembicaraan dari teman-teman kampusnya, kini Olivia mulai merasa tidak senang, apalagi saat dia tahu jika tuan Kaiden dan Risa sudah sangat dekat seja mereka kecil hingga dewasa dan sudah dijodohkan dalam waktu yang lama sebelumnya.


"Kenapa aku merasa menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka ya?" batin Olivia saat itu.


"Hei Olivia kenapa kau tiba-tiba saja menjadi sayu dan diam begitu, pasti kau juga tidak setuju kan Risa dengan tuan Seno? Yahhh memang kita semua saja tidak setuju," ucap teman dekat Olivia di kampus.


Namanya Diva, mereka kenal sejak awal Olivia masuk ke kampus tersebut dan kebetulan mereka mengambil jurusan yang sama dalam tata bahasa asing, sejak saat itu mereka menjalin pertemanan yang cukup dekat dan selalu saling membantu dalam tugas kampus satu sama lain.


Setelah mendengar gosip-gosip panas yang keluar hari ini dan sangat menggangu pikirannya, Olivia tidak bisa belajar dengan fokus, dia ingin segera pulang dan menanyakan kebenarannya secara langsung pada tuan Kaiden, entahlah rasanya saat itu Olivia hanya ingin mempercayai apa yang keluar dari mulut tuan Kaiden saja, sebab gosip yang terdengar di luaran sana sangatlah membuat dia kesal dan tidak terima karena seakan semua orang mendukung hubungan tuan Kaiden dan Risa, tanpa mereka ketahui bagaimana sikap Risa sebenarnya ketika di belakang kamera.


Bahkan saat tengah belajar saja, Olivia masih sempat-sempatnya bertanya tentang hal itu lagi kepada temannya Diva hanya sekedar memastikan apa yang membuatnya penasaran sejak tadi.


"Syuttt... Diva, menurutmu jika ternyata tuan Kaiden sudah memiliki pasangan lain dan mereka saling mencintai, bagaimana?" tanya Olivia membuat Diva mengerutkan keningnya sangat kuat hingga tak lama dia langsung tertawa sangat lebar, hingga dia lupa jika di depan sana ada dosen yang tengah mengajar.


"Hah? Apa? Ahahaha..... astaga apa yang bicara Olivia itu sangat tidak mungkin, haha yang benar saja kau ini." ucap Diva dengan gelak tawa yang cukup keras hingga membuat dosen di depan menatap tajam ke arahnya.


Meski saat itu Olivia sudah berubah memberitahukan Diva bahwa dosen sudah menatapnya tapi Diva malah terus saja tidak sadar hingga sang dosen berteriak memanggil nama mereka berdua dan langsung mengeluarkan Olivia dan Diva dari kelasnya tersebut.


Padahal itu baru saja kelas pagi di mulai tapi mereka berdua sudah mendapatkan hukuman berdiri di depan kelas dengan satu kaki dan harus menaruh tas mereka di kepala.

__ADS_1


Diva menggerutu kesal dan terus saja saling menyalahkan satu sama karena mendapatkan hukuman yang memalukan seperti ini, ada banyak mahasiswa yang berlaku lalang disana dan menertawakan mereka yang mendapatkan hukuman seperti anak SD itu.


__ADS_2