Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Gelagat Aneh


__ADS_3

Olivia dibuat kesal dan berusaha untuk menyingkirkan tuan Kaiden dari hadapannya, namun mau sekuat dan seberusaha apapun dia mencoba untuk menghindarinya tetap saja tuan Kaiden mengikuti dia dan terus menghalangi pandangan matanya dari Seno.


"Aishh.... Tuan sebenarnya kau ini mau apa sih, menyingkir dari hadapanku, aku mau bicara dengan kak Seno, kenapa kau berdiri di tengah-tengah kami!" bentak Olivia sangat geram padanya.


"Kalau mau bicara ya tinggal bicara saja, lagipula dia bicara dengan mulut dan kau mendengar dengan telinga, bukan mata." balas tuan Kaiden sinis.


"Apa apaan kau ini, cih minggir!"


"Tidak, siapa kau berani memerintahkan aku."


Mereka terus saja bertengkar dan saling tarik menarik satu sama lain, membuat Seno merasa tidak enak akan situasinya, dia pun segera meredakan semua itu dan mencoba untuk menengahkan keduanya.


"Ekm... Kaiden aku disini untuk memberikan hadiah saja, sebagai tanda terimakasih dariku karena Olivia sudah merawatku dengan baik kemarin," ujar Seno sambil memberikan sesuatu ke hadapan Olivia.


Ucapan dari Seno benar-benar berhasil menghentikan pertengkaran diantara keduanya, sehingga Olivia dan tuan Kaiden langsung menatap ke arah Seno. Wajah Olivia nampak senang mendapatkan hadiah, ia pun segera ingin mengambilnya namun tiba-tiba saja tuan Kaiden langsung merampas hadiah itu dengan cepat dari tangan Seno sehingga tidak sempat disentuh oleh Olivia.


"Ehh.... Kau ini apa apaan sih, kembalikan hadiahku, itu diberikan untukku bukan untukmu, kenapa kau mengambilnya?" bentak Olivia semakin kesal.


"Heh, apa kau lupa, ini rumah siapa?"


"Rumahmu,"


"Aku ini siapa?"


"Suamiku,"


"Jadi barangmu adalah barangku, apapun yang orang berikan untukmu itu berlaku juga bagiku." jelas tuan Kaiden membuat Olivia sangat emosi.


"Cih, dasar manusia gila."


Seno hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah laku tuan Kaiden yang selama ini selalu serius dan begitu kejam dalam pekerjaan ataupun menghadapi dirinya dan tuan Kandensus, dia terkenal dengan kebijaksanaannya dan wajahnya yang menakutkan bagi semua orang dikalangan bisnis, namun kali ini di hadapan Olivia, Seno dapat melihat dengan jelas sifat kekanak-kanakan dari musuhnya itu.


Tuan Kaiden yang tidak sengaja melirik ke arah Seno, dia langsung menyuruhnya pergi karena merasa urusan Seno disana sudah selesai. "Hei, kenapa kau tersenyum begitu, sana pergi bukannya urusanmu sudah selesai?" Ucap tuan Kaiden padanya.


"Baiklah, Olivia sekali lagi aku berterima kasih padamu, jika tidak ada kau, tidak tahu apa yang akan terjadi padaku." ungkap Seno sambil sedikit membungkukkan badannya dan segera pergi dari sana.


Belum juga Olivia menjawabnya tuan Kaiden sudah menarik tangan kecil gadis itu dan membawanya masuk ke dalam mobil dengan paksa, membuat Olivia semakin kesal dan terus berontak padanya. "Tuan lepaskan, kau ini kenapa sih, apa kau sudah gila ya?" bentaknya sambil menghempaskan tangan mungil itu dari genggaman tuan Kaiden.


"Aku peringatkan padamu untuk terakhir kalinya, aku tidak suka kau berbicara dengan pria manapun di hadapanku, terutama dengan adik tiriku sendiri."


"Memangnya kenapa, dia orang baik kok, apa salahnya membantu orang yang sedang membutuhkan bantuan." balas Olivia yang masih saja tidak mengerti maksud tuan Kaiden.


"Intinya aku tidak suka, dan aku suamimu, kau harusnya menuruti semua perintahku!" Tegas tuan Kaiden yang tidak bisa dibantah lagi.


Bukannya takut dengan ucapan tuan Kaiden, Olivia justru malah meledekinya karena dia tidak perduli dengan semua itu.


"Ake ite suamimeee, aku ite suamimeee nyeneyenyeneye." ledek Olivia padanya pelan.

__ADS_1


Tuan Kaiden hanya menatap sinis sekilas kepadanya dan tidak ada percakapan lagi diantara mereka berdua.


...****************...


Sesampainya di kantor seperti biasa, semua karyawan berbaris rapih menyambut kedatangan tuan Kaiden, Olivia sudah tidak heran lagi dengan suasana seperti itu, namun kali ini dia merasa ragu untuk berjalan melewati jajaran orang-orang di kantor tersebut, sebab dirinya mengenakan rok pendek saat itu, dia sedikit risih dengan rok yang dia kenakan, dan terus memeganginya, berusaha menjaga rok itu agar tidak sampai terangkat karena angin atau hal lainnya.


Ditambah tuan Kaiden yang berjalan dengan langkah lebar membuat dia kesulitan untuk menyamai langkahnya, satu langkah tuan Kaiden bisa sama dengan tiga langkah Olivia, pantas saja jika Olivia kesulitan karenanya.


"Aish dasar raksasa, dia berjalan dengan sok keren begitu meninggalkan aku yang kesulitan mengejarnya, bodoamat aku tidak perduli lagi, biarkan saja dia meninggalkanku, daripada aku harus berlari mengejarnya, rok ku bisa terangkat nanti." Gerutu Olivia yang sudah tertinggi di belakang.


Untuk beberapa saat tuan Kaiden benar-benar tidak sadar jika istri kecilnya itu tertinggal di belakang sampai ketika dia masuk ke dalam lift bersama sekretaris Dep, barulah dia menanyakan keberadaan Olivia.


"Kemana bocah itu?" tanya tuan Kaiden mengerutkan kedua alisnya.


"Bukankah anda sengaja meninggalkannya dibelakang tuan?" balas sekretaris Dep padanya.


"Hah? Aishh kenapa kau tidak memberitahuku jika dia tertinggal."


"Saya pikir anda sengaja tuan, karena nona muda langkahnya terlalu kecil untuk di bandingkan dengan..." ujar sekretaris Dep sembari menatap ke arah kaki tuan Kaiden.


Saat itulah tuan Kaiden menyadari sesuatu, dia menghembuskan nafasnya dan menepuk keningnya pelan, segera dia kembali keluar dari lift dan menyuruh sekretaris Dep untuk pergi ke ruangannya lebih dulu, sedangkan dirinya pergi mencari Olivia yang tertinggal di belakang.


Saat menemukannya, tuan Kaiden melihat Olivia yang berjalan terburu-buru sembari terus menarik rok pendeknya kebawah, dia terlihat kesulitan dengan pakaian yang dia kenakan sendiri. "Dasar bocah kerdil, ada saja tingkahnya itu." gerutu tuan Kaiden dan segera menghampirinya.


Tanpa banyak basa basi, tuan Kaiden melepaskan jas kerjanya dan langsung saja mengikatkan jas itu di pinggang Olivia, membuat gadis yang baru berusia 19 tahun itu kebingungan bercampur malu karena banyak karyawan yang berlalu lalang dan menatap ke arahnya.


"Sudah diam, kau terlalu pendek, langkahmu juga sangat kecil, kau benar-benar mirip seperti kurcaci, maaf karena meninggalkanmu." balas tuan Kaiden tiba-tiba.


Olivia terbelalak lebar dia sangat kaget mendengar ucapan maaf dari seseorang yang selama ini selalu keras dengannya, bertengkar setiap saat atau selalu canggung dan sulit berkomunikasi dengannya, Olivia tidak menduga jika seseorang seperti tuan Kaiden bisa memahami dirinya saat ini.


Dan mengetahui apa yang membuat dia kesulitan sebelumnya.


Saat Olivia masih kaget dan menatap terperangah ke arahnya, tuan Kaiden langsung menggandeng tangan Olivia dan mengajaknya berjalan bersama. "Ayo mulai sekarang aku akan selalu menggandeng tanganmu kemanapun kita pergi, agar kau tidak tertinggal lagi." ucapnya semakin membuat Olivia tidak karuan.


"Hah? Tuan apa kau tidak salah makan? Atau apa kepalamu terbentur?" tanya Olivia yang benar-benar merasa sikap tuan Kaiden tidak masuk akal.


"Diam kau, aku sudah berusaha baik denganmu, jangan memancing kekesalan." balas tuan Kaiden menatap lurus ke depan.


Olivia hanya bisa merasa keheranan sendiri atas sikap tuan Kaiden yang tiba-tiba saja berubah. "Sebaiknya aku berhati-hati, mungkin saja ada yang dia inginkan dariku, lalu dia mencoba mengambil hatiku dengan bersikap baik seperti ini, iya aku tidak boleh tertipu dengannya." Batin Olivia yang selalu berjaga-jaga demi keselamatan dirinya sendiri.


Semuanya berjalan lancar, pekerjaan hari ini dan kekacauan yang terjadi kemarin sudah bisa di kembalikan lagi, keamanan di perusahaan juga semakin diperketat, tuan Kaiden dan sekretaris Dep begitu sibuk sedang Olivia hanya duduk bermain game di meja tamu seorang diri, sesekali dia juga membantu sekretaris Dep membereskan berkas di ruangannya, sampai jam makan siang pun tiba, dan tuan Kaiden mengajak Olivia untuk pergi makan diluar dengannya.


Olivia menurutinya karena bagi dia makan dimanapun itu tidak terlalu penting, asal perutnya terisi itulah yang penting baginya.


Sayangnya tidak disangka, ketika tuan Kaiden membawa Olivia ke sebuah restoran mewah yang banyak di kunjungi pada pengusaha itu, disana Olivia malah bertemu dengan sosok pria yang menjadi terauma terbesar dalam hidupnya, tidak lain adalah om Burhan, ayah kandung dari sahabat terbaiknya. Saat pertama kali masuk ke sana Olivia memang tidak menyadari keberadaan om Burhan sampai ketika tuan Kaiden pergi ke mengangkat telpon barulah Olivia menyadari keberadaan om Burhan yang duduk bersama dua orang wanita muda di sampingnya.


Mereka terlihat sangat mesra, bahkan salah satu wanita itu memeluk tubuh om Burhan dengan pakaian yang ketat dan seksi, melihat pemandangan menjijikkan seperti itu benar-benar membuat Olivia sangat muak, dia benci pria tua yang hampir merenggut kesuciannya dan dia benci atas fitnah yang pernah dilontarkan Om Burhan kepadanya, sehingga membuat hidupnya semakin sulit dan hubungan persahabatannya hancur begitu saja.

__ADS_1


"Om Burhan? Cih benar-benar pria tua menjijikan, awas saja kau aku akan membalas perbuatanmu padaku." ucap Olivia yang masih memendam dendam padanya.


Tentu saja Olivia tidak bisa menahan diri apalagi hanya diam saja, dia sudah bukan Olivia yang lemah seperti dulu, kini Olivia sudah merasa dirinya lebih besar dan lebih berani, dia tidak mau di injak oleh siapapun lagi, dan dendamnya masih belum tersampaikan kepada orang yang tepat. Melihat tuan Kaiden yang masih sibuk dengan telponnya, Olivia berpikir itu adalah waktu yang tepat untuk dia mengerjai om Burhan.


Pelan-pelan Olivia pergi ke dapur dan menemui salah satu pelayan disana, dia membisikkan sesuatu kepada pelayan tersebut dan tidak lupa Olivia memberikan sejumlah uang kepadanya, uang yang dia miliki tentu saja dia ambil dari dompet tuan Kaiden yang dia temukan di atas meja sebelumnya. "Haha untung saja suamiku itu bodoh, dia meninggalkan dompetnya denganku hehe." gerutu Olivia merasa senang.


Setelah urusannya selesai Olivia segera kembali ke mejanya dan ternyata tuan Kaiden sudah duduk disana dengan beberapa menu makanan yang sudah tersaji di atas meja, wajah tuan Kaiden menatap tajam ke arah Olivia dan nampak sangat serius. "Darimana saja kau, aku kan menyuruhmu untuk diam dan menunggu disini." tanya tuan Kaiden kepada-nya.


"Aku dari kamar mandi kenapa kau menatapku begitu?" balas Olivia membuat alasan.


Tuan Kaiden menyipitkan matanya dia merasa curiga dengan gelagat Olivia yang nampak mencurigakan, sebab dia tahu bahwa dompetnya tidak ada di meja saat dia kembali sebelumnya. "Hei apa kau membawa dompetku ke kamar mandi?" tanya tuan Kaiden lagi.


Olivia baru ingat jika dompet itu masih ada padanya, dia tidak memikirkan hal itu terlebih dahulu saat berbohong pada tuan Kaiden, wajahnya mulai gugup dan Olivia bingung dengan apa yang harus dia katakan sebagai alasan lain pada suaminya tersebut. Dia tidak biasa berbohong sehingga cukup sulit untuknya mencari alasan mendadak seperti ini, apalagi di berikan tatapan menusuk oleh tuan Kaiden padanya.


"Kenapa wajahmu memerah begitu, cepat jawab, dompetku ada padamu tidak, mana mungkin disini ada maling kan?" tambahnya lagi padanya.


"A...A..ahhahah iya ini, tadi itu aku bawa karena... Aku...aku takut ada orang lain yang mengambilnya, jadi aku bawa saja denganku hehe. Ini aku kembalikan." balas Olivia kepadanya dan memberikan dompet itu kembali.


Tuan Kaiden semakin menatap tajam ke arah Olivia, rasa kecurigaan dalam hatinya semakin besar dan tatapan matanya sangat tajam saat itu, dia terus menyipitkan matanya dan mengambil dompet itu kembali, sedangkan Olivia sendiri merasa sangat gugup dan takut, karena dia sudah mengambil sejumlah uang dari dompet tersebut. "Ya tuhan semoga saja dia tidak memeriksa uang di dalamnya, jika ketahuan aduhh habislah aku huhu." batin Olivia sangat cemas.


Untunglah tuan Kaiden tidak memeriksanya, sehingga dia hanya menyuruh Olivia untuk segera menyantap makanan yang telah mereka pesan. "Ya sudah ayo makan." ucapnya mempersilahkan.


Mereka pun menikmati makan siang bersama, sampai tidak lama rencana yang dibuat oleh Olivia berhasil, pelayan restoran yang dia pinta bantuan datang ke meja om Burhan dengan membawakan makanan yang disebutkan oleh Olivia sebelumnya, tidak lupa pelayan itu juga dengan sengaja menjatuhkan minuman panas tepat ke tangan dan dada om Burhan sehingga membuat pria tua itu marah besar, dia bahkan membentak pelayan tadi sangat kencang, membuat semua mata tertuju padanya termasuk dengan Olivia yang merasa senang karena rencananya berhasil dengan mulus.


"Aahhh.... Hei apa kau buta, aduhh panas sekali." teriak om Burhan sambil terus mengusap tangan dan dadanya yang terasa panas.


Pelayan itu langsung meminta maaf dan berusaha membantunya, hingga om Burhan muak dan dia mengusir pelayan itu pergi, sedangkan kedua wanita j*Lang di sampingnya mulai memberikan perhatian menjijikan kepadanya sehingga membuat om Burhan tidak terlalu marah dan mereka mulai menikmati makanannya kembali.


Olivia sedikit senang namun dia tahu semua itu baru permulaan kecil dari pembalasan yang tengah dia jalankan saat ini, tak hanya itu dengan cepat Olivia meminjam ponsel tuan Kaiden untuk dia gunakan memotret momen-momen romantis antara om Burhan dengan kedua wanita simpanannya itu.


"Ekm... Suamiku bolehkan aku meminjam ponselmu yang bagus itu, aku ingin memotret momen makan siang yang langka ini." ucap Olivia membuat alasan kepada tuan Kaiden.


"Eh, tumben sekali kau memanggilku begitu, telingaku sampai geli mendengarnya, ini ambil saja, lakukan apa yang kau mau, dasar bocah." ujarnya dengan mudah memberikan ponsel itu.


Senyuman mengembang di wajah Olivia dia berhasil mengelabui tuan Kaiden, padahal sebenarnya dia memotret om Burhan dan terus saja mengirimkannya pada nomor Malara yang masih dia ingat sampai saat ini, setelah melakukan semuanya dengan cepat Olivia menghapusnya semua jejaknya tadi lalu berpura-pura meminta tuan Kaiden untuk memotret dirinya dan mereka berfoto bersama saat itu.


"Tuan lihat apakah hasil fotoku bagus, kau terlihat tampan di fotonya kan?" ucap Olivia berbasa basi untuk menutupi kelakuan sebenarnya yang dia lakukan.


"Tentu saja aku memang tampan dilihat dari manapun." balasnya yang sangat percaya diri.


"Cih, jika bukan karena aku ingin menghubungi Malara aku tidak akan mau meladeni manusia narsistik sepertinya." batin Olivia merasa sedikit muak.


Walau begitu, Olivia masih bisa menahannya karena dia masih membutuhkan bantuan tuan Kaiden untuk meminjam ponselnya tersebut.


"Ahaha iya iya, kalo begitu ayo kita berfoto bersama, kita kan tidak pernah melakukannya, ayo." tambah Olivia yang membuat tuan Kaiden membelalakkan kedua matanya sangat lebar.


Tuan Kaiden mengangguk dan menurutinya meski dalam hati kecilnya dia juga mencurgai gelagat Olivia yang sangat aneh ini, tapi walau tau bahwa Olivia nampak aneh dia tetap menikmatinya, tuan Kaiden senang dengan sikap Olivia yang lebih dekat dan ramah kepadanya seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2