Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Menutupi Perasaan Sebenarnya


__ADS_3

Olivia tetap berdiri di depan pintu kamar tuan Kaiden, dia tidak bisa merasa tenang selama tuan Kaiden memberikan kejelasan kepadanya atau sekedar mendengarkan penjelasan darinya yang belum selesai.


"Tuan apa kau tuli hah? Keluarlah aku bisa jelaskan semuanya, itu tidak seperti yang kau bayangkan!" teriak Olivia di depan pintu.


Sayangnya tuan Kaiden sudah sangat kesal dia sama sekali tidak mendengarkan teriakan dari gadis kecil tersebut, yang ada tuan Kaiden justru malah asik dengan aktivitasnya sendiri, dia membersihkan diri dan segera bersiap tidur seperti biasanya, sedangkan Olivia masih terus berdiri di depan pintu kamarnya, meskipun saat itu Olivia sudah tidak berteriak lagi.


"Benar-benar manusia menyebalkan, bagaimana bisa dia mengabaikan teriakkan dariku. Ya sudah jika itu maunya aku juga tidak akan perduli." Gerutu kecil Olivia yang sudah habis kesabaran.


Dia pergi ke kamarnya dan menutup pintu dengan sangat kencang hingga dapat terdengar oleh tuan Kaiden yang baru saja menutup matanya.


"Brak," suara pintu kamar yang dibanting Olivia sangat kencang.


"Astaga... Suara apa itu? Aishh ini pasti ulahnya." ucap tuan Kaiden yang melanjutkan tidurnya tanpa rasa cemas sedikitpun.


Olivia sendiri justru malah sulit memejamkan matanya, pikiran dan hatinya benar-benar tidak bisa bekerjasama, dia memang tipe orang yang sangat pemikir, sehingga mudah cemas dan overthinking di setiap situasi.


"Arghh, sial aku malah tidak bisa tidur begini, huhu aku harus bagaimana sekarang, tuan Kaiden benar-benar marah denganku, bagaimana jika dia membatalkan janjinya denganku? Atau dia tidak akan pernah membebaskan ku sekarang? Huhu sial sekali nasibku ini." Ucapnya mengatakan segala kemungkinan yang dia takuti.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Sampai keesokan paginya, Olivia bangun terlambat, tuan Kaiden sudah mengetuk pintu kamarnya berkali-kali namun tidak ada sahutan dari dalam, sehingga tuan Kaiden memutuskan untuk masuk ke dalam sebab merasa cukup cemas. Saat melihat ternyata Olivia masih tidur nyenyak di ranjangnya, itu sedikit membuat tuan Kaiden lega karena melihat dia yang baik-baik saja, namun di sisi lain tuan Kaiden juga kesal sebab tidak biasanya Olivia bangun terlambat seperti ini, bahkan sampai lupa tidak menyiapkan sarapan untuknya.


"Ya ampun, dia benar-benar menjengkelkan. Hei bocah kerdil bangun kau, sudah jam berapa ini, bisa bisanya kau masih enak tertidur disini!" Bentak tuan Kaiden sembari membuka gorden kamar tersebut dan terus saja menggoyangkan tangan Olivia agar gadis kecil itu cepat bangun.


Bukannya bangun Olivia malah mengigau dan dia masih saja tidak sadar jika seseorang yang membangunkannya dan bicara padanya saat itu adalah tuan Kaiden bukan kakaknya seperti yang dia pikirkan.


"Eumm...apa sih kak, ini kan masih pagi, aku masih ingin tidur, jangan menggangguku." balasnya membuat tuan Kaiden kaget dan refleks terperangah.


"Haha...dasar konyol, hei aku ini suamimu, cepat bangun, atau aku akan menyiram wajahmu!" Ancam tuan Kaiden yang masih berusaha untuk menyadarkan Olivia.


Sayangnya tidak ada sahutan apapun, Olivia malah tertidur dengan pulas dan tidak memberikan reaksi apapun atas ancaman yang sudah diberikan oleh tuan Kaiden, membuat pria 28 tahun itu sangat geram, langsung saja tuan Kaiden mendekati Olivia dan berusaha untuk membangunkannya dengan paksa, tapi bukannya berhasil menarik tubuh Olivia untuk bangun, justru malah dirinya sendiri yang tertarik oleh Olivia dan jatuh menimpa tubuh kecil gadis tersebut.


"Aishh...ayo cepat kau bangun! Oliviaa eee...ehhhh," tuan Kaiden jatuh menimpa tubuhnya.


Saat itu posisi wajah tuan Kaiden berada sangat dekat dengan wajah Olivia, jaraknya hanya sekitar satu cm saja, membuat pria dewasa yang telah matang usianya itu sangat gugup, sampai ia sulit menelan salivanya sendiri, melihat wajah Olivia yang bersih dan cantik dari dekat benar-benar membuat detak jantungnya semakin cepat, tanpa sadar tuan Kaiden kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan tiba-tiba saja dia malah mencium Olivia begitu saja, membuat gadis itu terbangun karena merasakan sesuatu menyentuh bibirnya.


Hingga ketika Olivia membuka mata, dia langsung terperangah dan diam mematung, dengan kedua matanya yang terbuka sangat lebar serta menatap wajah tuan Kaiden yang sama kagetnya sebab melihat Olivia yang tiba-tiba saja membuka mata.


Dengan cepat tuan Kaiden bangkit berdiri dan merapihkan kemejanya, dia juga mengusap bibirnya itu sembari berusaha menenangkan diri. "Astaga...apa yang harus aku katakan padanya sekarang, ahhhh dia pasti akan salah paham." batin tuan Kaiden merasa cemas tak karuan.


"Tuan apa kau tidak berniat menjelaskan apa yang baru saja kau lakukan padaku? Kenapa juga kau bisa tiba-tiba berada di atasku?" tanya Olivia yang dengan beraninya menanyakan semua itu lebih dulu.


Padahal sejak awal tuan Kaiden berusaha untuk mengesampingkan hal itu dan sebenarnya dia sangat tidak ingin membahasnya, karena terlanjur malu baginya.


Tapi kini mau tidak mau dia harus membuat alasan yang baik untuk menjawab pertanyaan gadis itu.

__ADS_1


"A...anu itu, tadi ku pikir kau pingsan, makanya aku berniat memeriksa detak jantungmu apa kau masih hidup atau tidak, tapi tidak sengaja kau malah menarikku dan terjadilah hal seperti tadi, kau juga malah membuka matamu tiba-tiba jadi aku tidak sempat menghindar." jelas tuan Kaiden sambil menggaruk lehernya.


"Tapi tunggu, kau jangan salah paham dulu padaku, aku sungguh tidak berniat melakukan apapun padamu, aku masih ingat betul dengan perjanjian pranikah yang kita buat, kau dan aku hanya saling membantu dan memanfaatkan satu sama lain." tambahnya lagi.


Olivia hanya memperhatikan semua gerak gerik dan penjelasan yang dikatakan oleh tuan Kaiden, dia sudah tahu jika tuan Kaiden tengah membohongi dirinya, sebab setiap kali tuan Kaiden berbohong maka dia akan berkacak pinggang atau menggaruk belakang lehernya sendiri, semua postur tubuh yang di lakukan oleh tuan Kaiden benar-benar tidak ada yang menunjukkan bahwa dia bicara jujur dengannya.


Tatapan mata Olivia yang cukup tajam dan dalam membuat tuan Kaiden seketika berhenti menjelaskan dan dia mulai merasa bahwa dirinya terlalu berlebihan dalam mencemaskan semua itu. "Hei kenapa kau diam dan terus menatapku seperti itu, apa kau tidak mempercayai ucapanku?" tanya tuan Kaiden sedikit membentak.


"Tuan kau pikir saja sendiri, ucapanmu yang mana yang bisa aku percaya?" balas Olivia sambil bangkit berdiri dan pergi meninggalkan tuan Kaiden ke kamar mandi.


"Hei hei tunggu, apa kau bilang, jadi selama ini kau pikir aku selalu berbohong denganmu, hei bocah dengarkan aku dulu!" bentaknya sembari menghadang Olivia.


"Ada apa lagi sih, aku mau mandi kau juga butuh sarapanmu kan, jadi cepat minggir." balas Olivia tetap terlihat sangat santai.


Tuan Kaiden benar-benar tidak habis pikir melihat Olivia yang bisa bersikap santai di hadapannya setelah kejadian barusan yang terjadi diantara mereka berdua, hal itu malah membuat tuan Kaiden berpikiran terlalu jauh dan balik mencurigai Olivia atas hal lain.


"Tunggu, ada banyak hal yang mengganggu pikiranku saat ini, kenapa kau terlihat biasa saja setelah apa yang terjadi pada kita? Apa kau tidak marah denganku, hah?" tanya tuan Kaiden merasa heran.


"Marah untuk apa? Karena kau menciumku? Lagi pula itu bukan yang pertama kalinya kan, kau saja yang terlalu lebay, cepat minggir tuan, aku sudah tidak tahan ingin ke kamar kecil." Balas Olivia sambil menatap santai pada tuan Kaiden.


Pada akhirnya tuan Kaiden pun menyingkir dan membiarkan Olivia masuk ke dalam kamar mandi tersebut, sedangkan dia hanya bisa merasa kesal sendiri dan segera pergi ke lantai bawah. "Hah? Bagaimana bisa dia malah menjawabnya begitu santai, apa dia benar-benar tidak sepolos yang aku pikir? Jangan-jangan sebelumnya dia juga pernah melakukan hal itu dengan pria lain, sehingga dia nampak sudah biasa dengan hal seperti itu? Aarghhh bodoamat! Aku tidak akan memperdulikan anak itu lagi." Gerutu tuan Kaiden saat itu.


"Huh...huh...huh... Tenang Olivia tenang, kau tidak boleh terpancing emosi, iya aku harus tenang dalam menghadapinya jangan biarkan dia mengetahui apa yang sebenarnya aku rasakan." ucap Olivia sembari mengelus dadanya di dalam kamar mandi.


"Ya tuhan ada apa dengan jantungku, kenapa aku merasa ingin meledak saat tuan Kaiden mencium bibirku, aaahh ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak mungkin jatuh cinta padanya bukan? Astaga aku ini bicara apa sih, tidak...itu tidak boleh terjadi." tambahnya lagi sambil menggelengkan kepalanya cukup kuat.


Berusaha untuk menyingkirkan semua pikiran tentang tuan Kaiden dan perasaan dia saat itu, menangkis semua kemungkinan yang ada, sebab Olivia sudah tahu bahwa sejak awal hubungan dia dengan tuan Kaiden tidak lebih dari seorang partner kerjasama, mereka hanya saling menguntungkan dan membantu satu sama lain, Olivia yang membutuhkan tempat tinggal dan bertahan hidup, serta tuan Kaiden yang membutuhkan pasangan untuk memenangkan hati ayahnya sekaligus dengan harta warisan mendiang ibunya.


Setelah beberapa saat gadis kecil itu menenangkan dirinya dan mencuci wajah untuk mengembalikan kesadaran diri, barulah dia berani turun ke lantai bawah menemui tuan Kaiden sekaligus membuatkan sarapan untuk suami kontraknya tersebut. Suasana diantara keduanya semakin terlihat canggung terutama tuan Kaiden yang terus menatap Olivia dengan tajam serta penuh dengan kecurigaan di dalamnya.


"Ada apa sih dengannya, kenapa sejak awal aku datang sampai sekarang dia terus menatapku begitu?" batin Olivia merasa heran sendiri.


Dia menyajikan nasi goreng buatannya, karena hanya itu yang bisa dia masak di waktu yang mendesak seperti saat ini, saat tengah makan pun tuan Kaiden tidak berhenti memberikan tatapan tajam terhadapnya, membuat Olivia yang tengah menyantap makanannya merasa tidak nyaman.


"Cukup tuan, sebenarnya kau ini kenapa sih, apa ada yang salah dengan wajahku atau masakanku yang tidak enak? ayo katakan jangan diam saja dan malah menatapku seperti mata-mata." ucapnya yang sudah habis kesabaran.


"Mulai sekarang kau harus ikut ke kantor denganku." balas tuan Kaiden tiba-tiba.


"HAH? A...apa, ikut ke kantor denganmu? Haha tuan apa kau bercanda?"


"Ini serius, cepat ganti pakaianmu, aku beri kau waktu sepuluh menit."


Olivia terperangah kaget dengan kedua mata yang terbelalak sangat lebar juga mulutnya yang terbuka, dia langsung bangkit berdiri sembari menggebrak meja cukup kuat, saking kagetnya mendengar pernyataan dari tuan Kaiden yang tidak masuk di akal saat ini.


"Brak!"

__ADS_1


"Tuan apa kau gila? Aku tidak mau!" tegas Olivia menolaknya.


"Kalau tidak mau silahkan keluar dari rumahku, dan jangan lupa untuk membayar semua biaya hidupmu yang aku tanggung selama ini." balas tuan Kaiden yang menjadi perhitungan dengannya.


Wajah Olivia semakin ditekuk sangat kuat, dia terpaksa menuruti apa yang diperintahkan oleh tuan Kaiden padanya, dia pergi menaiki tangga dengan penuh kekesalan dan terus menggerutu pelan sembari berjalan.


"Ada apa sih dengannya, apa dia salah makan atau kesurupan setan sih? tiba-tiba saja menjadi perhitungan seperti ini, biasanya dia santai-santai saja bahkan jarang memperdulikan apa yang aku lakukan, kenapa sekarang jadi gila begini," gerutunya tiada henti.


"Berhenti menggerutu, apa kau pikir aku tuli? Waktumu 8 menit lagi, jika telat kau harus pergi ke kantorku sendiri dengan jalan kaki!" ucap tuan Kaiden dengan suaranya yang kencang.


"Aishh...iya iya, berisik!" balas Olivia semakin mempercepat langkahnya.


Meski sangat kesal dan dipenuhi dengan emosi tetapi Olivia tetap melakukannya, dia segera mencari pakaian yang tepat di lemarinya, namun sayang sekali tidak ada pakaian yang cocok bagi dia untuk dipakai ke kantor, sebab semua isi lemarinya hanya dipenuhi gaun pendek atau baju-baju ketat dan seksi lainnya, selain itu hanya ada baju tidur dan celana panjang yang biasa dia gunakan sehari-hari ketika di rumah.


"Ya ampun aku baru ingat, sejak pertama kali datang kesini memang tidak ada pakaian yang cocok denganku, apa yang harus aku pakai? Aahh mana waktunya hampir habis lagi, bodoamat lah aku pakai apa saja." ucapnya sambil menarik salah satu pakaian yang paling dekat dengan tangannya.


Olivia mengenakan sebuah rok pendek berwarna putih dengan aksen mutiara berwarna pink di bagian pinggangnya, serta sebuah kemeja lengan panjang berwarna biru muda untuk atasannya, dia berjalan cepat sembari mengikat rambutnya dan menuruni tangga dengan terburu-buru, sebab tuan Kaiden sudah terdengar meneriakinya dari bawah.


"Hei bocah, cepat atau aku akan meninggalkanmu!" teriak tuan Kaiden menggelegar.


"Aishh.. Iya iya, apa kau tidak lihat aku sedang menuruni tangga, tidak sabaran sekali sih." balasnya sambil terus saja terburu-buru.


Hingga tidak sadar Olivia melangkah terlalu lebar dan dia terpeleset sebab sepatu yang dia kenakan agak licin, rambut yang tadinya hendak dia kuncir malah kembali terurai dan menutupi pandangannya membuat dia tidak bisa melihat dengan jelas, Olivia kehilangan keseimbangannya lalu terjatuh ke hadapan tuan Kaiden yang sudah berdiri menunggunya di bawah tangga sejak lama.


"Aaaahhhhh...."


"Hei apa kau baik-baik saja?" tanya tuan Kaiden mencemaskannya.


Untung saja saat itu tuan Kaiden begitu sigap untuk menangkap tubuh Olivia, jika tidak mungkin gadis kecil itu sudah mengalami kecelakaan yang parah, sebab jatuh dari tangga tidak bisa di sepelekan.


"A..A..aku baik-baik saja." balas Olivia segera menjauhkan diri darinya.


Tuan Kaiden mulai memperhatikan pakaian yang digunakan oleh Olivia dan kedua alisnya mulai mengkerut sangat kuat dia terlihat sangat tidak senang sehingga langsung membentak gadis itu.


"Heh, kau mau pergi ke kantor untuk menggoda banyak pria ya?"


"Kenapa kau bicara begitu, sembarangan saja, kan kau sendiri yang memintaku untuk ikut denganmu. Jika tidak aku juga tidak mau pergi." balas Olivia merasa tidak terima di katakan seperti itu.


"Habisnya kenapa kau melah mengenakan pakaian seminim itu, apa tidak ada pakaian lain lagi?" bentak tuan Kaiden lebih kenceng.


Saat mereka tengah bertengkar tiba-tiba saja bel rumah berbunyi beberapa kali, membuat pertengkaran diantara mereka terhenti, segera keduanya pergi ke depan dan membuka pintu, yang ternyata itu adalah Seno, dia terlihat lebih baik dari sebelumnya dan Olivia refleks langsung menanyakan kabarnya.


"Ehh, kak Seno ada apa kau kemari, apa kau sudah sembuh?" ucap Olivia terlihat begitu ramah.


Sedangkan tuan Kaiden langsung memberikan tatapan tajam pada Seno, dia bahkan menarik tangan Olivia dan menghalangi pandangan Olivia pada Seno, sengaja tuan Kaiden berdiri di depan Olivia dan terus saja menghadapi Seno, sebab dia sangat benci ketika gadis kecil itu terlihat lebih ramah pada musuh bebuyutannya dibandingkan dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2