Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Merawat Seno


__ADS_3

Dengan wajah yang gugup dan kedua pipinya yang merona, gadis kecil itupun mulai angkat bicara. "A..A..anu itu sebenarnya memang ada yang mau aku tanyakan padamu." balasnya masih dengan menundukkan kepala.


Olivia tidak berani untuk menatap wajah tuan Kaiden, sebab rasa malunya lebih besar dibandingkan dengan rasa ingin tahunya termasuk untuk menagih janji dari tuan Kaiden sendiri. Mendengar jawaban dari Olivia, tuan Kaiden refleks mengerutkan keningnya, dia berusaha berpikir tentang apa yang ingin dikatakan oleh gadis kecil dihadapannya itu. "Katakan, apa yang mau kau tau," ujar tuan Kaiden lagi.


"Aku hanya ingin memastikan, kapan kau akan menunaikan janjimu itu padaku, ini sudah hampir tiga bulan lamanya sejak aku keluar dari rumah sakit, tapi kau sama sekali tidak mengatakan apapun tentang kapan akan membawaku menemui kakakku." balas Olivia yang pada akhirnya berani untuk jujur.


"Ada lagi yang mau kau katakan selain hal itu?" ucap tuan Kaiden yang malah terus bertanya.


Olivia menggelengkan kepala pelan, karena memang tidak ada lagi yang ingin dia ketahui selain hal tersebut, tuan Kaiden malah terlihat menarik nafas panjang sembari menegakkan bahunya dan mulai memberikan ruang bagi Olivia, dia berdiri di hadapannya dengan wajah yang serius dan menatap tajam ke depan. Membuat Olivia semakin gugup dibuatnya.


"Ya tuhan ada apa dengannya, apa aku salah bicara?" batin Olivia merasa resah.


"Hei bocah kerdil, apa kau tidak percaya denganku atau bagaimana hah? Bisa bisanya kau meragukan janjiku, aku beritahu kau sekarang seseorang sepertiku tidak akan pernah mengingkari janji pada siapapun, jadi kau tidak perlu cemas, aku kan sudah bilang aku akan membawamu jika urusanku disini sudah selesai, jadi kau tunggu saja, apa kau mengerti?" Balasnya menjelaskan cukup panjang.


Walau sudah mendapatkan jawaban dari keraguannya, tetapi bukan itu jawaban yang diinginkan olehnya, sehingga wajah Olivia tetap terlihat murung dan sedih, dia pikir waktunya sudah di tetapkan atau mungkin sudah dekat, rasa rindu dalam hatinya terhadap sang kakak, sudah tidak dapat dia pendam lagi, walaupun hanya sebuah makam yang akan dia temui, namun bagi Olivia itu sama seperti dia bertemu kakaknya kembali.


"Bocah, kenapa kau diam saja, apa kau marah denganku?" tanya tuan Kaiden lagi.


"Tidak, sana kau pergi saja aku malas melihat wajahmu dan jangan lupa cepat beritahu aku kalau urusanmu itu sudah selesai." balas Olivia sambil beranjak pergi dari hadapan tuan Kaiden.

__ADS_1


Tuan Kaiden sendiri hanya bisa mengerutkan kedua alisnya dan merasa heran atas sikap Olivia pagi ini, tadinya tuan Kaiden ingin mengejar Olivia lagi dan kembali bertanya kepadanya, namun disaat dia hendak melakukan semua itu, ponselnya berdering menunjukkan panggilan telepon dari sekretaris Dep, segera tuan Kaiden mengangkatnya.


"Ada apa Dep?"


"Maaf tuan ada sedikit kekacauan dalam proyek pembangunan hotel terbarumu, aku rasa ada pengkhianat dalam perusahaan kita yang membocorkan data perusahaan pada saingan kita, sebaiknya anda cepat datang ke kantor untuk melihat semuanya." Ucap sekretaris Dep dengan suara yang begitu serius.


Raut wajah tuan Kaiden seketika berubah sangat cepat, tangannya mengepal kuat dan dia segera menutup panggilan tersebut, sembari bergegas pergi dengan cepat.


Di sisi lain Olivia yang sudah berada di balkon kamarnya, tidak sengaja dia juga melihat kepergian mobil tuan Kaiden yang melesat sangat cepat keluar dari area rumah mewah tersebut. "Cih, dia sama sekali tidak perduli denganku, bahkan masih tetap saja pergi tanpa pamit seperti itu, aishh dasar menyebalkan!" Gerutu Olivia cemberut.


...****************...


Seno hanya menjawabnya dengan senyuman kecil dan wajahnya yang terlihat pucat pasi serta begitu lemas, membuat Olivia merasa semakin cemas dan kebingungan sampai orang yang memapah Seno membantu menjawabnya. "Tuan Seno sedang tidak enak badan nona, jadi saya mengantarkannya pulang karena tuan muda tidak mau dibawa ke rumah sakit." balas sekretarisnya menjelaskan.


Seno pun dibawa masuk ke dalam rumah secepatnya, Olivia juga turut membantunya dan sekretaris tadi harus segera kembali ke kantor sebab masih banyak urusan penting lainnya yang harus dia kerjakan untuk mengganti Seno yang sudah terbaring lemas di kamarnya. "Nona bolehkah saya meminta bantuan anda?" ucap sekretaris itu kepada Olivia.


"Bantuan apa?" balasnya dengan heran.


"Tolong jaga tuan Seno dahulu sampai saya kembali nanti malam, saya hanya takut jika keadaannya semakin memburuk, anda bisa segera menghubungi saya lewat ponselnya."

__ADS_1


"Hah? A..aku harus menjaganya? Ta..ta..tapi...aku," ucap Olivia yang merasa cemas dan gugup.


"Saya mohon nona, anda ini kan kakak iparnya, lagi pula bagaimana pun tuan Seno tidak memiliki siapapun disini, saya mohon anda mau mengurusinya sebentar, saya janji akan kembali lebih awal." tambah sekretaris itu semakin memohon kepada Olivia.


Membuat gadis kecil itu tidak bisa menolaknya lagi dan terpaksa mengangguk menyetujuinya. "Huh... Baiklah sana kau pergi aku akan menjaga bosmu ini." Balas Olivia dengan pasrah.


Saat sekretaris itu sudah pergi, Olivia mulai merawat Seno dengan begitu telaten, dia mengompres kepalanya dan memberikan obat penurun demam kepadanya, bahkan Olivia juga membuatkan bubur agar Seno bisa meminum obat sebelumnya, entah sadar atau tidak, tapi sejak awal Seno memang merasa nyaman ketika di dekat Olivia, bahkan saat ini saja Seno malah menikmati semua perlakuan baik yang diberikan oleh Olivia kepadanya. "Kau istirahat ya, nanti pasti akan segera sembuh saat kau bangun, jangan lupa kau harus terus minum obatnya sesuai takaran yang tadi aku beritahu, apa kau mengerti?" ucap Olivia menasehati Seno sembari membantunya membaringkan badan di ranjang.


"Iya iya... Aku mengerti, kau ini sudah seperti nenek-nenek saja, cerewet sekali." Balas Seno sengaja menggodanya.


"Aish...apa apaan kau ini, aku sudah merawat kau dengan sangat baik, apa ini balasanmu, kalau kau tidak mau melakukannya ya sudah, nanti kau tidak akan sembuh."


"Hhaaa..iya, aku mengerti Olivia, lagipula aku ini sudah dewasa bahkan lebih tua darimu, kau tidak perlu mengajariku sampai seperti itu." balas Seno padanya lagi.


"Sudah besar tapi tidak mau ke rumah sakit, cih." Timbal Olivia dengan menaikkan ujung bibirnya yang membuat Seno tersenyum kecil melihat tingkah Olivia.


Bagi Seno apapun yang dilakukan oleh Olivia memang terlihat lucu dan menggemaskan, dia selalu tersenyum dan merasa senang tiap kali berada di samping gadis itu, di tambah selama ini hidupnya terlalu dingin dan sepi, hari harinya hanya disibukkan dengan pekerjaan dan perebutan harta warisan bersama kakak tirinya, tapi semenjak munculnya Olivia dia merasa memiliki kehidupan yang baru dan jauh berbeda dengan hidupnya yang dulu.


"Kenapa Kaiden harus bertemu denganmu lebih dulu dibanding diriku." Batin Seno saat itu.

__ADS_1


__ADS_2