Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Bertengkar Kecil


__ADS_3

"Kau berjalan terlalu cepat, aku tidak akan bisa menyusulmu jika berjalan memakai sepatu hak tinggi ini, jadi aku melepaskannya untuk bisa berjalan seiring denganmu." Balas gadis kecil itu bicara jujur yang membuat tuan Kaiden kaget mendengarnya.


Sebelumnya tuan Kaiden memang tidak berpikir sampai kesana, dia sungguh lupa bahwa gadis kecil itu memang tidak bisa mengenakan sepatu hak tinggi sama sekali, sehingga saat mendengar hal itu tuan Kaiden langsung saja mengusap wajahnya cukup kasar, dia langsung merampas sepatu yang dipegang oleh Olivia dan memberikannya kepada Dep saat itu. "Dep ambil ini, dan pergilah ke mobil lebih dulu." Ucap tuan Kaiden memerintah.


Setelah itu tuan Kaiden langsung membungkuk di depan gadis kecil tersebut yang membuat Olivia merasa kebingungan sendiri.


"Tuan kenapa kau membungkuk di depanku?" Tanya gadis kecil itu keheranan.


"Ayo cepat naik, aku tidak pernah membungkuk di hadapan siapapun, hanya kau yang membuat aku harus seperti ini, jadi cepatlah naik ke punggungku sebelum aku berubah pikiran." Ucap tuan Kaiden yang dituruti oleh Olivia dengan segera.


Meski saat itu Olivia merasa sedikit heran tetap dia terus menurutinya karena kakinya sudah sakit jika berjalan terus tanpa alas kaki seperti sebelumnya, dia digendong oleh tua Kaiden dan terus saja bicara pada tuan Kaiden saat itu.


"Tuan kenapa kau sangat baik denganku, dan kenapa kau membelaku tadi, padahal niat utama kita kan untuk membuat ayahmu percaya bahwa aku adalah istrimu dan dia bisa memberikan semua hartanya kepadamu, tapi sekarang dia pasti tidak akan menganggap kau lagi. Itu pasti karena aku kan, aku minta maaf." Ucap gadis tersebut merasa bersalah kepada tuan Kaiden karena semuanya terjadi tidak sesuai dengan rencana yang mereka pikirkan sebelumnya.


"Diam kau, sudah tahu itu salahmu, kau masih merepotkan aku sekarang." Balas tuan Kaiden membuat Olivia terus saja menghembuskan nafas dengan lesu dan dia benar-benar merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah terjadi.


Hingga sesampainya di mobil Olivia sama sekali tidak bicara lagi, dia merasa takut dan merasa tidak berguna bagi tuan Kaiden, tidak tahu lagi harus melakukan apa dalam hidupnya saat ini. "Tuan karena rencana kita gagal apa kau akan menceraikan aku?" Tanya gadis itu bicara dengan penuh kecemasan dalam hatinya.

__ADS_1


Meski sebenarnya Olivia sangat ingin kabur dari tuan Kaiden tapi dia juga tidak tahu harus pergi ke mana jika tiba-tiba tuan Kaiden menceraikannya seperti ini.


"Tidak." Balas tuan Kaiden dengan ketus tanpa menatap sedikitpun ke arah gadis tersebut. Mendengar itu langsung saja Olivia tersenyum merasa senang, dia tidak sadar dengan apa yang mulai dia rasakan saat ini.


Sementara tuan Kaiden menatap dengan ujung matanya ke arah Olivia saat itu dan dia hanya menggelengkan kepalanya sedikit, hingga sampai di kediamannya, Olivia langsung masuk ke dalam kamar dengan perasaan senang sedangkan tuan Kaiden masih harus mengurusi sedikit pekerjaannya malam itu, tuan Kaiden memang sering kali begadang untuk memeriksa semua kenaikan saham juga urusan di kantornya.


Dia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor dan ruang kerjanya jika saat di rumah, dibandingkan dengan kamarnya sendiri ataupun di ruang tengah seperti yang dilakukan oleh Olivia setiap harinya.


Hingga ke esokan paginya Olivia sudah kembali ceria seperti sedia kala dia terlihat memasak makanan di pagi hari dengan gembira dan terus menyajikan semua makanan itu di meja makan, berniat untuk menyajikan makanan bagi tuan Kaiden sarapan pagi ini sebelum dia berangkat ke kantor.


Tetapi sayangnya disaat tuan Kaiden berjalan menuruti tangga sambil melipatkan kemeja di tangannya, dia sama sekali tidak melirik sedikitpun kepada Olivia yang sudah berdiri di ujung tangga menunggunya sejak tadi. "Tuan apa kau tidak mau sarapan dulu di rumah?" Tanya Olivia saat itu. Tuan Kaiden langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat karena dia merasa waktunya sangat berharga sekali dan dia tidak memiliki banyak waktu untuk sarapan, dia lebih senang makan siang dan makan malam saja.


Sedangkan tuan Kaiden sendiri baru menyadari hal itu ketika dia sudah berjalan cukup jauh ke depan dia merasa ada yang berbeda saat itu sehingga langsung saja dia berhenti dan berbalik ke belakang, menatap Olivia yang membalikkan badannya dengan lesu dan terus saja masuk ke dapur, karena merasa penasaran tuan Kaiden pun mengikutinya ke dapur hingga dia dibuat kaget dengan meja makannya yang dipenuhi dengan banyak makanan pagi ini. "Wahh apa semua ini kau yang membuatnya?." Tanya tuan Kaiden saat itu, sambil berjalan dan duduk di depan meja makan.


Bibi Lil yang berdiri di samping meja dia langsung saja menjawabnya dengan cepat.


"Iya tuan, semua ini nona Olivia yang memasaknya untuk anda, silahkan di coba dulu tuan." Ucap bibi Lil sambil mempersilahkan makanan kepada tuan Kaiden saat itu.

__ADS_1


Sementara Olivia terus saja memasang wajah yang sangat kesal saat itu, disaat tuan Kaiden hendak mengambil nasi dan lauk di meja, dengan cepat Olivia langsung merampas piring di tangannya.


"Tuan kenapa kau masih disini, bukannya kau tidak punya waktu untuk sarapan? Kau juga tidak sarapan kan selama ini, jadi sebaiknya kau pergi ke kantor saja sebelum kau akan kesiangan nantinya." Ucap gadis kecil itu sambil menarik piring dengan paksa dari tangan tuan Kaiden.


Tuan Kaiden terus saja mengerutkan kedua alisnya dengan kuat dan dia terus merasa kesal kepada Olivia yang malah mengambil piringnya begitu saja seperti itu, sehingga tuan Kaiden langsung mengambil kembali piring tersebut dari tangan Olivia sampai tarik menarik diantara kedua orang itu tidak dapat dihindarkan.


"Hei, ini rumahku, kau juga memasak dengan bahan makanan yang dibeli dengan uangku, jadi tentu saja aku harus memakannya kenapa kau melarangku, siapa kau disini hah?" Ucap tuan Kaiden yang membuat Olivia tidak dapat berkata-kata lagi dibuatnya.


Langsung saja dia memberikan piring itu kepada tuan Kaiden kembali dengan wajah cemberut dan masih menyimpan kekesalan yang teramat besar dengannya.


"Nah begini kan baru betul, sekalian ambilkan dagingnya untukku, dan tuangkan airnya juga, cepat!" Bentak tuan Kaiden memerintah kepada Olivia yang membuat Olivia terus saja membelalakkan matanya sangat lebar.


"Tidak mau, disini ada banyak pelayan kenapa kau harus memerintah aku, aku ini bukan pelayanmu jadi ambil sendiri saja!" Balas Olivia sambil memalingkan pandangannya ke ke samping.


"Kau mau aku beri hukuman atau ambilkan aku makanan?" Ucap tuan Kaiden langsung mengancamnya.


Mau tidak mau tetap saja Olivia harus melakukan apapun yang diperintahkan oleh tuan Kaiden saat itu, karena dia tidak mau mendapatkan hukuman yang selalu saja tidak masuk akal dari tuan Kaiden kepada dirinya selama ini.

__ADS_1


"Iya..iya ini aku ambilkan, menyebalkan sekali sih, sedikit-sedikit mengancam terus saja begitu." Balas Olivia sambil menggerutu pelan


__ADS_2