Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Sarapan Bersama


__ADS_3

Tapi yang mengherankan baginya, kali ini tuan Kaiden justru menahan dia dan terus menyuruh dia untuk duduk di depannya saat itu dan menyuruh Olivia untuk sarapan bersama dengannya begitu saja.


"Hei, mau kemana kau, ayo kemari." Ucapnya pada Olivia membuat gadis tersebut mengerutkan kedua alisnya dengan merasa sangat heran.


Olivia segera berbalik dan berjalan pelan dengan lesu menghampiri tuan Kaiden lagi saat itu, dia terus merotasikan matanya saking kesalnya menghadapi tuan Kaiden yang sangat menyebalkan bagi dirinya.


"Ada apa lagi, aku kan sudah menyajikan makanan untukmu tuan, aku juga sudah menuangkan air dan aku juga sudah melakukan semua yang kau perintahkan kepadaku, apa lagi yang kurang sekarang?" Tanya gadis itu dengan kesal.


"Ayo duduk di hadapanku, dan mari sarapan bersama." Ujar tuan Kaiden sambil mulai menikmati sarapannya pagi itu.


Mendengar hal tersebut langsung saja Olivia menatap dengan wajah yang sangat heran saat itu, dia juga terus mendekati tuan Kaiden karena masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja dia dengar dari tuan Kaiden barusan.


"Ee..ee..ehh apa? Kau sungguh mengijinkan aku untuk sarapan denganmu? Makan di meja yang sama dan berhadapan denganmu? Apa kau tidak salah bicara?" Tanya gadis itu dengan wajahnya yang sangat menggemaskan dan kedua mata yang terbuka sangat lebar, tuan Kaiden sendiri bahkan hampir saja tersedak karena harus menahan tawa saat melihat reaksi yang di perlihatkan oleh gadis kecil itu padanya.

__ADS_1


"Ya ampun kau ini, sampai membuat aku hampir tersedak, kalau aku sudah bilang begitu maka artinya itu benar, jadi cepat duduk dan sarapan sepuasnya, sekalian aku memberitahu kau bahwa mulai saat ini dan seterusnya, kau aku izinkan untuk sarapan denganku, di meja ini dan di waktu yang sama.


Mendengar itu semakin membuat gadis kecil tersebut semakin membelalakkan matanya dengan sangat lebar, pasalnya seseorang seperti Olivia tentu saja tidak menduga jika tuan Kaiden bisa bermurah hati kembali kepada dirinya seperti ini lagi, membuat dia merasa sangat kaget dan malah mengijinkan dia dengan begitu mudahnya seperti ini untuk sarapan dengannya, padahal jelas sekali bahwa kemarin saja tuan Kaiden melarangnya dan memberikan tatapan tajam kepada dia.


"Benarkah, jadi aku sekarang sudah bisa menikmati sarapan sepuasnya? Meski di hadapanmu?" Tanya Olivia lagi dengan wajahnya yang terlihat begitu senang.


Setelah tuan Kaiden mengangguk menjawab pertanyaan darinya, gadis 19 tahun itu langsung saja segera duduk di hadapan tuan Kaiden dan dia mengambil makanan yang cukup banyak pada piring makannya saat itu, bahkan tuan Kaiden saja sampai dibuat kaget dan terperangah sangat lebar ketika melihat porsi makan yang diambil oleh Olivia saat itu.


Sedangkan Olivia sama sekali tidak mendengar tuan Kaiden dia terus memasukkan sesuap demi sesuap nasi ke dalam mulutnya, sehingga dia harus mengunyah dan menelan semua nasi itu terlebih dahulu, sebelum dia menjawab pertanyaan dari tuan Kaiden saat itu, pipinya terlihat kembung dan membesar sebab penuh dengan makanan di dalam mulutnya saat itu.


"Tuan aku bisa menghabiskan nya karena aku sangat lapar, tapi setelah ini aku bisa tidak makan hingga nanti malam, eheh tapi kau kan bila ini sepuasnya jadi kau tidak masalah bukan?" Balas Olivia sambil tersenyum kecil dan kembali memasukkan sesuatu makanan lagi ke dalam mulutnya, sambil terus saja mengunyahnya dengan perlahan.


Tuan Kaiden benar-benar tidak bisa melakukan apapun lagi, dia hanya bisa menanggapinya dengan gelengan kepala pelan sambil memegangi keningnya yang terasa pening akibat melihat cara makan Olivia yang seperti orang kelaparan saat itu, bahkan tuan Kaiden saja sampai kehilangan mood makannya seketika, karena bagi dia melihat Olivia makan dengan sangat lahap saja, itu sudah bisa membuat dirinya kenyang dan dia merasa tidak perlu lagi melanjutkan sarapannya pagi ini.

__ADS_1


"Aishh...kau makan sangat rakus sekali, padahal badanmu kan kecil, bagaimana bisa perutmu bisa menampung makanan sebanyak itu." Celetukan tuan Kaiden yang juga tidak pikir dengan cara makan Olivia saat itu.


"Tuan walaupun aku ini kecil, tetapi aku kan juga butuh asupan energi, dan yang paling bagus adalah dengan makan sampai aku kenyang dan merasakan perutku penuh, baru aku akan selesai, lagi pula kau sendiri kan tahu aku hanya hidup sebatang kara di kota ini, tidak ada siapapun yang aku kenali selain dari dirimu dan sahabatku saja, tetapi kini aku bahkan sudah kehilangan sahabatku sendiri dan aku tidak bekerja, jadi menurutmu kepada siapa lagi aku harus menitipkan perutku saat ini?" Balas gadis cerdik itu membuat tuan Kaiden tidak bisa berkata-kata lagi untuk membalas ucapannya.


Dia pun kembali mempersilahkan Olivia untuk melanjutkan makannya saja, sementara dia mulai memeriksa ponsel di tangannya dan terus saja mulai memeriksa beberapa pesan masuk ke dalam ponselnya saat itu, hingga dia mendapat semua email dari sekretaris pribadinya yang tidak lain adalah Dep, email yang dia dapatkan adalah serangkaian kode yang hanya dapat dibaca oleh mereka berdua saja, sebagai bentuk percakapan rahasia yang mereka lakukan saat ini, agar tidak akan ada orang yang dapat menyadap email ataupun ponsel mereka, karena semuanya dirangkai dengan sedemikian rupa baiknya.


Wajah tuan Kaiden mulai berubah sangat serius, alisnya mengerut sangat kuat dan wajahnya terus saja menjadi sangat muram, dia menaruh garpu dan sendok di atas piringnya yang masih tersisa makanan cukup banyak disana, belum juga sarapannya itu habis, tuan Kaiden justru langsung bangkit berdiri mengambil tas kerjanya dan segera merapihkan kemejanya dengan cepat.


Pergi begitu saja tanpa bicara apalagi berpamitan sedikitpun kepada Olivia yang masih sarapan di meja tersebut. Olivia hanya bisa menatap punggung tuan Kaiden yang berjalan menjauh darinya hingga keluar begitu terburu-buru secepatnya.


"Eehh...bi ada apa dengannya, kenapa dia pergi begitu saja, apa dia marah karena aku menghabiskan makanannya?" Tanya gadis kecil itu menatap dengan penuh kebingungan dan terus saja bertanya kepada bibi Lil yang berdiri di ujung meja sambil menaikkan kedua pundaknya menandakan dia juga tidak mengerti dengan tuan Kaiden yang tiba-tiba saja pergi saat itu.


Tapi karena dia masih belum kenyang, dengan polosnya Olivia terus saja melanjutkan makannya tanpa perduli apapun lagi, dia terus menikmatinya dengan begitu bersemangat dan mengunyahnya dengan nikmat, berbeda dengan tuan Kaiden yang saat itu tengah di hadapkan pada pilihan dan situasi yang sangat sulit, dimana dia mendapatkan kabar dari Dep bawah Seno sudah menyabotase harga pasar yang sudah mereka prediksi sebelumnya, terlebih dia juga sudah mengambil beberapa klien yang sebelumnya sudah menandatangani kesepakatan bersama dengan tuan Kaiden untuk menjalankan suatu produk digital yang baru dan tengah di rancang oleh tuan Kaiden dan tim kreatif saat ini.

__ADS_1


__ADS_2