Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Janji Yang Berubah


__ADS_3

Untuk menghindari kelakuan tuan Kaiden Olivia berpura-pura hendak pergi ke kamar mandi, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menjauhinya tanpa menyinggung tuan Kaiden secara langsung.


"AA... Semuanya aku permisi ke toilet sebentar." ucap Olivia meminta izin dahulu.


Semuanya mengangguk kecuali tuan Kaiden yang menawarkan untuk mengantarnya membuat Olivia membelalakkan mata dan dengan cepat dia menggelengkan kepalanya sebab merasa tidak perlu bantuan itu.


"Mau aku antar?"


"Ahhh tidak perlu tuan biar saya pergi dengan pelayan saja, lagi pula ini tidak akan lama." balas Olivia dengan wajah sedikit panik.


"Sudah ayo cepat biar aku saja yang mengantarmu, aku kan suamimu, apa salahnya." balas tuan Kaiden yang langsung bangkit berdiri dan terus menarik tangan Olivia begitu saja.


Jantung gadis yang baru berusia 20 tahun itu semakin berdetak kencang, dia dipenuhi rasa takut, cemas juga panik yang tiada henti, bagaimana bisa rencana dia untuk menghindari tuan Kaiden justru malah membawa dirinya semakin dalam bahaya seperti ini.


Hingga dia sampai di depan kamar mandi tamu, Olivia segera masuk ke dalam tapi baru saja dia hendak menutup pintunya tuan Kaiden malah menahan pintu itu dengan sebelah kakinya membuat Olivia mengerutkan kening dan menatap tajam padanya penuh kebingungan.


"Tuan apa yang anda lakukan, singkirkan kakimu aku mau menutup pintunya."


"Apa kau yakin mau masuk ke dalam sendiri, aku bisa menemanimu." balas tuan Kaiden dengan wajahnya yang nampak tersenyum licik.


Olivia semakin dibuat takut, dia dengan mendengus kesal sambil membentak tuan Kaiden lebih keras. "Tuan kau ini bicara apa sih, aku sungguh butuh ke kamar mandi sekarang jadi berhenti mempermainkan aku begini, cepat singkirkan kakimu atau aku akan membuatnya gepeng dengan pintu!" tegas Olivia yang sudah habis kesabaran.


Bukannya takut atau menuruti ucapan Olivia, tuan Kaiden malah terlihat menaikkan ujung bibirnya sedikit, dia seperti menyepelekan ucapan Olivia dan tanpa aba-aba dia langsung mendorong pintu itu, hingga dirinya masuk ke dalam bersamaan dengan Olivia yang tersentak ke dinding, rasa panik semakin menghantui Olivia apalagi tuan Kaiden menahannya ke dinding membuat dia tidak bisa bergerak sedikitpun dan hanya bisa menelan salivanya dengan kesulitan.


"Tu...tu...tuan apa yang mau kau lakukan, lepaskan aku!"


"Aku tahu kau hanya beralasan kan, kau hanya ingin menghindar dariku bukan?" tanya tuan Kaiden membuat Olivia semakin ketar ketir tak karuan.


"A...apa, maksudmu? Aku sungguh ingin ke kemar kecil, sekarang aku sudah tidak tahan lagi, cepat kau keluar!" tegas Olivia masih dengan perkataan yang gugup.


"Lakukan di hadapanku,"


"HAH? Apa kau gila?" bentak Olivia cukup kencang.

__ADS_1


"Tuan ayolah aku sungguh tidak menghindarimu aku memang ingin ke kamar mandi, sekarang aku benar-benar ingin buang air kecil, aku mohon tolong kau keluar." tambah Olivia memohon kepadanya.


Karena saat ini dia sungguh merasa ingin buang air kecil, padahal sebelumnya dia memang hanya berpura-pura saja, tapi karena gugup dan panik dia malah ingin buang air kecil benaran, hal itu membuat Olivia semakin panik dia tidak tahan lagi sedangkan tuan Kaiden masih saja berada di hadapannya, hingga akhirnya tuan Kaiden pun mengalah karena melihat Olivia yang sudah tidak tahan menahannya lagi, dia keluar dari kamar mandi sambil menatap sinis Olivia dan seperti memberikan ancaman lewat sorot matanya yang tajam.


Hingga saat Olivia keluar dia pikir tuan Kaiden mungkin sudah kembali lebih dulu namun dugaannya salah besar, tuan Kaiden ternyata menunggu dirinya di depan pintu kamar mandi dengan berdiri tegak dan kedua tangan yang di lipat di depan dadanya.


"Kau masih disini? Kenapa tidak kembali lebih dulu?" tanya Olivia sambil merapihkan pakaiannya.


"Aku ingin minta sesuatu darimu," balas tuan Kaiden membuat gadis kecil itu merasa heran.


"Hah? Apa ingin kau minta aku tidak punya uang aku tidak memiliki apapun lagi tidak ada yang bisa kau ambil dariku." balas Olivia dengan jujur.


"Aku ingin kau menjadi istriku sesungguhnya." balas tuan Kaiden benar-benar mengagetkan Olivia.


Bagaimana bisa seorang tuan Kaiden bicara seperti itu di depan kamar mandi kepada seorang wanita, semua itu nampak konyol di mata Olivia dan tentu saja Olivia berpikir bahwa itu hanyalah candaan semata, bahkan dia pikir tuan Kaiden hanya sedang mempermainkan dirinya saat itu.


"Ahaha... Tuan kau ini apa apaan sih, jangan bercanda seperti itu, ayo cepat kita harus kembali sebelum tuan Kandensus tiba." balas Olivia tidak menanggapinya dengan serius.


Malam itu tuan Kaiden bak hewan buas yang kehilangan kendali, dia terus menjajagi tubuh Olivia dan sama sekali tidak memberikan sedikit waktu untuk Olivia bicara apalagi menghentikan tindakannya itu.


"Ummm..tuan...tuann..henti...eumm," suara Olivia yang berusaha menghindari dan berontak.


Bahkan tuan Kaiden dengan sengaja meninggalkan bekas kecupannya yang begitu jelas di leher dan dada Olivia, hingga pakaian yang dikenakan gadis itu robek sedikit di bagian lehernya, membuat Olivia merasa malu dan disitulah tuan Kaiden menghentikan tindakannya. Olivia mulai menitikkan air mata sedangkan tuan Kaiden menatapnya dengan penuh rasa bersalah serta nafasnya yang menderu.


"Puas... Hah? Apa sekarang kau sudah puas, lihat apa yang kau lakukan tuan? Apa aku ini pelacur pribadimu? Kenapa kau melakukan hal seperti itu di tempat kotor seperti ini?" bentak Olivia dengan pertanyaan yang menyakitkan.


Tuan Kaiden benar-benar merasa bersalah dia langsung memeluk Olivia yang tidak berhenti menangis, dia sungguh tidak bermaksud melakukan hal seperti itu padanya, hanya saja rasa cemburu dan nafsu yang ada pada dirinya sungguh sulit untuk dia kendalikan.


"Olivia maafkan aku, sungguh aku tidak bermaksud seperti ini, tolong maafkan aku, maaf karena sudah membuatmu takut, jangan menangis lagi ku mohon." ucap tuan Kaiden sembari terus mengusap kepala Olivia dengan lembut.


Sampai beberapa saat akhirnya mereka berdamai walau Olivia masih sangat kesal, tuan Kaiden melepaskan jasnya dan memberikan jas itu pada Olivia, agar menutupi pakaiannya yang sedikit robek sekaligus menutupi bekas kecupan yang dia tinggalkan di dada dan leher istri kecilnya. Dengan wajah penuh emosi dan kekesalan terpaksa Olivia menerima jasnya sebab tidak ada apapun lagi yang bisa dia lakukan saat ini, mereka kembali ke ruang makan dan ternyata disana sudah ada tuan Kandensus beserta nyonya Asila, mereka langsung menatap tajam kepada Olivia karena datang dengan mengenakan jas milik tuan Kaiden.


Bahkan tidak hanya tuan Kandensus saja, Seno dan Risa memberikan tatapan tak kalah tajam kepadanya, membuat Olivia merasa semakin takut, hingga dia hanya bisa terus tertunduk sampai Seno menanyakan hal itu dan semakin membuat Olivia sangat gugup.

__ADS_1


"Olivia, apa kau sakit? Kenapa kau kembali dengan jas Kaiden?" tanya Seno saat itu.


Olivia tidak dapat menjawabnya dia hanya bisa termenung menatap ke arah Seno kemudian berpaling pada tuan Kaiden seakan saat itu dia meminta bantuan pada tuan Kaiden untuk membantu menjawab pertanyaan dari Seno saat itu, untunglah tuan Kaiden pengertian dia mengerti bahwa gadis kecilnya tengah gugup dan cemas, segera tuan Kaiden angkat bicara dan membuat alasan. "Ahhh tenang saja dia hanya tidak tahan dingin dan aku pikir pakaiannya terlalu terbuka, jadi aku meminta dia mengenakan jasku saja, dia mudah sakit belakangan ini." Balas tuan Kaiden menjelaskan.


"Wanita yang mudah sakit tidak pantas menjadi istri seorang pengusaha besar yang penuh kesibukan sepertimu Kaiden." ujar tuan Kandensus dengan sorot mata sinis terhadap Olivia.


Rasanya hati Olivia begitu sakit mendengar penuturan kata seperti itu, dia juga sadar bahwa dirinya tidak sepantasnya untuk membersamai pria sehebat tuan Kaiden. Dia hanya bisa diam tertunduk menahan sakit hatinya seorang diri, meski tuan Kaiden membelanya dengan cepat, tetap saja itu tidak menghapus rasa sakit di hatinya.


"Tolong jaga ucapanmu tuan, bagaimana pun dia adalah istriku dan menantu pertamamu, apapun yang sudah aku tetapkan tidak akan bisa dirubah oleh siapapun, termasuk olehmu, karena kau tidak berhak atas keputusan hidupku sendiri!" tegas tuan Kaiden menimpalinya.


Jawaban dari tuan Kaiden sangat membutuhkan tuan Kandensus marah, dia bahkan menggebrak meja sangat kencang.


"Brak!"


"KAIDEN, rupanya kini kau semakin berani melawanku, apa kau tidak takut harta warisan ibumu akan aku jatuhkan pada Seno dibandingkan dirimu yang keras kepala dan teramat angkuh ini!" bentak tuan Kandensus mulai memberikan ancaman.


"Sekarang aku tidak takut lagi, apapun yang anda lakukan pada kenyataannya, apa yang menjadi milikku tidak akan pernah bisa di rebut oleh siapapun."


"Baiklah, mulai saat ini aku tegaskan, bahwa perusahaan pusat akan aku berikan pada Seno setelah dia menikah dengan Risa, dan kau tidak akan mendapatkan sedikitpun bantuan dana dariku, aku akan mencoretmu dari ahli waris." sebuah keputusan yang sangat tidak masuk di akal dan bertentangan dengan janji yang pernah dikatakan oleh tuan Kandensus sendiri.


Tuan Kaiden sudah menduganya jika gak seperti ini pasti aka terjadi cepat atau lambat dan dengan alasan apapun nantinya, untungnya sosok tuan Kaiden sudah siap untuk menghadapi hal seperti ini, dia masih saja terlihat tersenyum kecil dan nampak tenang disaat tuan Kandensus sudah mengatakan keputusan yang sangat tidak adil baginya, berbeda dengan Olivia yang sudah sangat panik dan dia terus menatap kebingungan kepada tuan Kaiden, rasanya dia ingin memohon pada tuan Kandensus untuk tidak melakukan semua itu, dan lebih baik dia saja yang mundur, lagi pula dia tahu bahwa hubungannya dengan tuan Kaiden hanya sebatas kerjasama.


"Apa yang dia pikirkan kenapa dia tidak melepaskan aku saja, bukankah ini hal yang bagus kini tuan besar sudah tidak memaksanya lagi untuk memiliki istri demi mendapatkan hal waris darinya, kenapa jadi rumit begini." batin Olivia penuh dengan kebingungan tidak henti.


"Kaiden kau ceraikan wanita tidak berguna ini dan menikahlah dengan Risa atau wanita lain yang lebih pantas untukmu, dan aku akan memberikan hak waris sesuai dengan apa yang kau inginkan, atau kau tidak akan mendapatkan apapun dariku." ucap tuan Kandensus kembali membuat sebuah pilihan bagi tuan Kaiden.


Risa nampak senang rencananya membujuk tuan Kandensus agar tetap menjodohkan dia dengan Kaiden telah berhasil, sedangkan Seno dan nyonya Asila kebingungan mendengar tuan Kandensus yang masih mengharapkan Risa untuk menjadi istri dari anak kandungnya sendiri. "Benar-benar pria tuan bangka yang bodoh, bagaimana bisa dia begitu buta dalam menilai Risa, wanita licik juga aku harus berhati-hati dengannya." batin nyonya Asila saat itu.


Suasana disana semakin tegang tatkala tuan Kaiden belum juga memutuskan apapun dia hanya diam dan begitu santai sambil meneguk minuman yang baru saja di sajikan oleh pelayan disana.


"Tuan besar, apa kau lupa siapa saya? Dan bagaimana saya? Saya bukan seseorang yang mudah mengubah prinsip dan mengumbar janji palsu seperti anda, bukankah kesepakatan kita sejak awal sudah cukup jelas, jika aku menikah maka seluruh hak waris akan menjadi milikku semua milik ibuku itu adalah milikku, sekarang aku sudah menikah dan memiliki istri sesuai dengan yang kau inginkan aku sudah menepati janjiku dan syarat yang kau berikan, lantas kenapa tiba-tiba saja kau mengubah syaratnya?" balas tuan Kaiden yang membuat semua orang terdiam.


Apa yang dikatakan tuan Kaiden barusan sangatlah jelas, sejak awal memang tuan Kandensus mengharapkan tuan Kaiden bersama Risa itulah kenapa dia membuat syarat seperti itu, tuan Kandensus pikir seseorang yang dingin, kaku dan kejam seperti putranya tidak akan bisa mendapatkan wanita dalam waktu yang cepat untuk bisa dia nikahi menjadi seorang istri, dan dia yakin jika Risa lah akan di pilih tuan Kaiden, itulah mengapa saat itu tuan Kandensus lupa untuk mengatakan bahwa hanya Risa yang dia inginkan sebagai menantunya.

__ADS_1


__ADS_2