Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Mencuri-curi pandang


__ADS_3

Ke esokan paginya Olivia bangun lebih awal, dia mulai mengerjapkan matanya beberapa kali sembari merasakan terpaan sinar matahari yang menyelinap lewat jendela kamar dan mengenai wajahnya.


 "Hoammm..eumm sudah pagi ya, aahh aku masih ngantuk sekali." Ucap gadis kecil tersebut sembari kembali menarik selimutnya.


Baru saja dia berniat melanjutkan tidur lagi, Olivia langsung tersadar bahwa ada yang salah dengannya, dia kembali bangun dan langsung terduduk dengan tegak sembari mengerutkan kedua alisnya dan menatap ke segala arah. "Ehh...kenapa aku bisa ada di kamar ini? Bukannya semalam aku tidur di sofa karena menunggu tuan sialan itu yang tidak kunjung pulang?" Gerutu Olivia kebingungan.


 "Siapa yang memindahkan ku? Tidak mungkin jika dia yang..... Ahhhh yang benar saja, jelas itu tidak mungkin." tambah Olivia yang mulai menduga-duga.


Dia segera bangkit dari ranjang dan berjalan cepat sembari mengikat rambut panjangnya, dia berniat pergi ke kamar tuan Kaiden untuk memastikan apakah tuan Kaiden sudah pulang atau tidak, sampai ketika berada di depan pintu kamar suaminya, tuan Kaiden muncul tiba-tiba dan hampir menabrak tubuh gadis kecil itu.


 "Bocah sedang apa kau berdiri di depan kamarku?" tanya tuan Kaiden dengan raut wajahnya yang sangat serius.


Membuat Olivia sangat gugup dan dia segera menunduk untuk menghindari tatapan yang menyeramkan itu, namun hal tersebut justru membuat tuan Kaiden semakin penasaran dan curiga karena tidak biasanya Olivia datang menemui dia sepagi ini, hingga harus berdiri di depan kamarnya seperti beberapa saat yang lalu. Tuan Kaiden pun kembali bertanya untuk memastikannya.


 "Hei kenapa kau diam saja, ayo jawab, apa yang kau lakukan di depan pintu kamarku, apa ada yang mau kau bicarakan denganku?"


 "E...e...anu itu, aku cuman mau tanya saja apa semalam kau yang memindahkan ku ke kamar?" balas gadis kecil itu dengan wajahnya yang nampak malu-malu.


Seketika tuan Kaiden tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari gadis tersebut, wajah Olivia yang malu-malu dan terus tertunduk sembari mengucek ujung pakaiannya sendiri membuat tuan Kaiden gemas melihat tingkahnya tersebut.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi tuan Kaiden langsung menyentuh kepala Olivia dan mengacak pucuk rambutnya pelan. "Aish dasar kau bocah, memangnya kenapa kalau aku yang memindahkan mu hah?" balas tuan Kaiden dengan senyuman manis di wajahnya.


Entah kenapa saat tuan Kaiden menyentuh kepalanya, itu sama sekali tidak membuat Olivia kesal, justru gadis kecil itu malah kembali teringat dengan sosok kakaknya dan dia merasa seperti dicintai oleh tuan Kaiden saat itu. Hatinya terasa sejuk dan tenang serta debar jantungnya yang seakan tiba-tiba saja berhenti, dia tidak tau pasti apa yang sebenarnya tengah dia rasakan kala itu.


Olivia hanya bisa termenung dengan mulut setengah terbuka, dia menatap dalam pada tuan Kaiden yang tersenyum kepadanya, bahkan sampai tuan Kaiden pergi melewatinya dia masih saja berdiri di tempat itu seakan masih belum sadarkan diri.


 "Oh tuhan apa yang terjadi, kenapa aku merasa senang saat manusia tua itu menyentuh kepalaku, aahh tidak tidak ini tidak boleh terjadi. Huh sadar Olivia sadar, kau dan dia hanya saling membantu dan memanfaatkan." Gumam Olivia yang berusaha menyadarkan dirinya.


 "Hei, kenapa kau masih berdiri disitu, cepat turun, kita sarapan bersama di bawah." teriak tuan Kaiden yang sudah menuruni tangga lebih dulu.


 "O..ohh iya tuan." balas gadis kecil itu segera menyusulnya.


 "Kalau dilihat-lihat, orang tua ini tidak buruk juga, meski dia tidak menyukaiku, dan bahkan tidak mengenaliku, tapi dia sudah menampung aku sangat lama dirumahnya, memberikan tempat tinggal yang nyaman dan tidak pernah mencari kesempatan untuk melukaiku, sepertinya selama ini aku sudah salah paham dengannya." Ucap gadis kecil itu yang terus saja berpikir sendiri.


Saat itu Olivia pikir tuan Kaiden sangat sibuk dan tidak akan tau jika dia mencuri-curi pandang pada tuan Kaiden sejak lama, namun nyatanya dia salah, tuan Kaiden menyadari semua itu karena dia juga merasakan seperti ada yang memperhatikannya, hanya lewat ujung mata saja tuan Kaiden sudah bisa memergoki gadis kecil yang polos sepertinya.


 "Dasar bocah konyol, ada apa dengan dia sebenarnya? Sedari tadi tingkahnya aneh sekali." Batin tuan Kaiden yang mulai merasa heran.


Saat itu, tuan Kaiden masih membiarkan Olivia yang terus saja mencuri-curi pandang kepadanya, karena dia terlalu sibuk mengurusi beberapa urusan penting di ponselnya, hingga lama kelamaan setelah sarapannya habis dan tuan Kaiden tidak sengaja masih memergoki Olivia yang tiada henti memperhatikannya selama itu, dia pun mulai sedikit kesal. "Astaga....hei bocah ada apa denganmu, kau mencuri pandang padaku?" ungkap tuan Kaiden sembari menaruh ponselnya di meja.

__ADS_1


Sedangkan Olivia yang tengah membereskan meja makan, dia langsung terdiam dan gugup, namun walau begitu gadis kecil tersebut masih saja gengsi untuk mengakui kebenarannya. "Cih siapa juga yang mencuri pandang denganmu, apa kau tidak lihat aku sedang membereskan piring bekas makan mu," balasnya sembari menarik piring di dekat tuan Kaiden lalu menaruhnya di tempat cucian.


Tuan Kaiden paham betul bahwa Olivia hanya beralasan saja saat itu, sehingga dia hanya bisa menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan, dia tidak ingin bertanya lagi sebab sudah tahu jawaban apa yang akan dilontarkan oleh gadis kecil tersebut padanya. Tuan Kaiden bangkit dari kursi dan segera mengambil tas kerjanya, berjalan keluar mengabaikan Olivia tanpa bicara sepatah katapun.


Tentu saja hal itu membuat Olivia sangat kesal, dia mengerutkan kedua alisnya sangat kuat dan menatap kepergian tuan Kaiden sembari menggerutu tiada henti. "Hah? Apa apaan dia ini, apa dia baru saja mengabaikan aku? Dasar tidak peka, menyebalkan!" gerutu Olivia sembari terus saja menggosok piring kotor tadi dengan kuat untuk melampiaskan emosinya.


Saat Olivia tengah menggerutu kesal sembari menggosok piring kotor tadi, tiba-tiba saja sudah ada tuan Kaiden di belakangnya. "Hei bocah apa yang sudah menggangu pikiranmu?" tanya tuan Kaiden membuat Olivia langsung berbalik dengan kaget.


"Astaga...tuan kenapa kau bisa ada di sini lagi, kapan kau masuk? Bukannya tadi kau sudah keluar?" balas Olivia yang tidak habis pikir.


"Bagaimana aku bisa meninggalkan kau dalam keadaan seperti itu, ayo cepat katakan, apa yang mau kau bicarakan denganku?"


"Tidak ada, kau ini apa apaan sih, aku kan sudah bilang, tidak ada yang mau dibicarakan." balas Olivia sembari berpura-pura menyibukkan dirinya mencuci piring yang tidak seberapa banyak itu.


Dengan cepat tuan Kaiden menutup keran airnya dan menarik tangan Olivia hingga mendesaknya sampai terduduk di kursi, tuan Kaiden menahan tubuh Olivia agar tidak bisa kabur atau menghindari dirinya lagi, dengan tatapan mata yang tajam dan raut wajah serius, tuan Kaiden kembali melontarkan pertanyaan yang sama pada gadis kecil tersebut.


"Katakan atau kau akan mendapatkan hukuman." tegas tuan Kaiden padanya.


Gadis kecil itu menalan salivanya dengan sudah payah, dia merasa gugup sekaligus takut tiap kali melihat wajah serius dari tuan Kaiden, apalagi saat ini wajahnya berjarak begitu dekat dengannya, membuat Olivia bukan hanya takut tetapi sedikit salah tingkah dibuatnya.

__ADS_1


__ADS_2